Jumat, 22 Juni 2007

Mendadak Dangdut, Benar-Benar "Dangdut"


Mendadak Dangdut berkisah tentang Petris (Titi Kamal), seorang penyanyi pop yang sedang naik daun, bersama kakak sekaligus manajernya, Yulia (Kinaryosih). Suatu ketika mereka ditangkap polisi karena didalam mobil yang mereka tumpangi terdapat heroin seberat 5 Kg milik pacar Yulia. Takut akan ancaman hukuman mati membuat mereka akhirnya memutuskan untuk melarikan diri. Dalam pelarian tersebut tanpa sengaja mereka bertemu dengan Rizal, seorang pemain organ tunggal yang baru saja kehilangan penyanyi dangdutnya ketika akan melakukan show disebuah kampung. Petris akhirnya naik pentas untuk bisa mengelabui polisi yang mengejarnya. Dalam perkembangan selanjutnya mereka akhirnya terpaksa tinggal bersama Rizal untuk bersembunyi menghindari kejaran polisi. Selama persembunyian, Petris menjadi penyanyi dangdut dari kampung ke kampung untuk membiayai hidup mereka. Alur cerita serta konflik pun berkembang antara Petris, Yulia, dan orang-orang disekitar mereka. Peristiwa-peristiwa yang mereka lalui pada akhirnya membuat Petris sadar kalau selama ini ia tidak pernah menghargai orang lain.

Dangdut!. Hal pertama yang terlintas dibenak penulis ketika mendengar kata tersebut adalah jenis musik dengan penyanyi bersuara pas-pasan dengan goyang erotis dan kostum yang seksi. Yang kedua adalah ide-ide tentang kalangan masyarakat bawah, kemiskinan dan kesengsaraan. Walaupun saat ini dangdut telah menjelma menjadi musik populer dan tidak lagi selalu dikonotasikan dengan ide-ide tersebut, namun sang sutradara, Rudi Soedjarwo, tetap menggambarkan dangdut seperti kedua hal tersebut dengan cukup pas. Hal ini tampak dalam pemilihan setting, kostum, dan ilustrasi musik atau lagu yang digunakan.

Namun semua hal tersebut menjadi sia-sia ketika konflik serta plot yang dibangun terasa saling bertabrakan dan tumpang tindih. Alur cerita yang tidak logis dan pemaksaan adegan membuat adegan-adegan selanjutnya menjadi tidak berarti. Bila anda mencermati ringkasan cerita pada awal tulisan ini anda pun sudah dapat melihat ketidaklogisan alur cerita, yang dapat dikatakan merupakan kelemahan utama film ini. Selanjutnya, apakah hanya sesederhana itu perlakuan polisi kepada seseorang yang kedapatan membawa 5 Kg heroin? Kenapa Petris dan Yulia harus tinggal bersama Rizal? Apakah mereka tidak memiliki siapa-siapa lagi selain keluarga mereka di Manado? Apakah orang-orang disekitar mereka tidak ada yang mengenali Petris yang notabene adalah seorang penyanyi pop terkenal ? Dan yang paling fatal adalah kenapa pacar Yulia tidak membawa heroin miliknya ketika ia keluar dari mobil ?. Tidak ada penjelasan yang tuntas dari setiap adegan membuatnya seolah terpisah satu sama lain sehingga tidak mampu membangun keseluruhan cerita dengan baik. Seperti kebanyakan film-film kita, dialog serta akting yang lemah juga masih tampak dominan dalam film ini.

Terlepas dari semua kelemahan yang ada, usaha untuk mengangkat tema menyangkut budaya lokal yang sudah mengakar kuat di masyarakat perlu kita hargai. Dengan mengangkat tema lokal membuat beberapa unsur dalam film ini berhasil �masuk� serta �diterima� berbagai lapisan penonton. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari, sebagai contoh, dijadikannya mendadak dangdut menjadi tema party ditempat hiburan kelas atas dan juga menjadi salah satu judul dan tema program acara di salah satu stasiun televisi nasional. Ilustrasi musik atau lagu yang digunakan pun cukup pas sehingga dapat membuat penulis menjentikkan jari untuk mengikuti irama-iramanya. Jablai, salah satu lagu dalam film ini, bahkan hingga saat ini menjadi lebih populer dari filmnya sendiri. Mengutip salah satu lirik dalam lagu Jablai, �Lai lai lai lai lai lai, panggil aku si jablai�� Mendadak Dangdut, benar-benar dangdut! 

Adithya Nugroho

Ekskul dan Ilustrasi Musik Gladiator

Seperti sudah kita ketahui bersama film Ekskul yang memenangkan penghargaan film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) banyak menuai kontroversi seputar tuduhan pelanggaran hak cipta terhadap film tersebut. Beberapa artikel harian surat kabar seperti Kompas mengatakan bahwa film ini menggunakan ilustrasi musik mirip dengan film aksi Hollywood, Gladiator serta film perang Korea, Taegukgi. Beberapa rekan-rekan yang menonton film ini juga banyak berkomentar bahwa ilustrasinya mirip film ini, film itu dan sebagainya. Para pembaca sendiri yang telah menonton filmnya mungkin juga merasakan hal yang sama. Lalu bagaimana sebenarnya ilustrasi musik film Ekskul sendiri? Apa benar film ini mengambil ilustrasi musik film lain atau di aransemen ulang? Sebelumnya perlu ditekankan bahwa tulisan ini sama sekali tidak menyudutkan pihak manapun dan tidak bertujuan apapun kecuali hanya menyajikan fakta semata. Siapapun bisa membuktikan sendiri fakta-faktanya.

Di saat film baru berjalan sekitar 10 menit saja penulis sudah beberapa kali menggelengkan kepala karena ilustrasi musiknya memang mirip dengan beberapa film. Filmnya sendiri sejak awal hingga akhir tidak memiliki ilustrasi musik yang konsisten, nyaris tiap adegan berganti selalu menggunakan ilustrasi musik yang berbeda. Bagi para penggila film, pasti tahu persis jika ilustrasi musiknya sebagian besar diambil dari beberapa film populer. Ketika selesai menonton film, setidaknya penulis langsung bisa mengenali tiga film menggunakan ilustrasi musik yang �mirip� yakni, Gladiator, Bourne Supremacy, dan Munich. Beberapa ilustrasi musik lainnya terasa akrab ditelinga namun penulis belum bisa langsung mengindentifikasinya (belakangan diketahui Taegukgi). Lebih jauh penulis meneliti satu persatu film-film bersangkutan ternyata musiknya tidak hanya mirip namun memang sama persis. Terapan ilustrasi musik Gladiator dan Munich nyaris sama yakni hanya mengambil sebagian kecil musik serta suara vokal sebagai ungkapan kesedihan atau penderitaan. Sedangkan Bourne seringkali digunakan untuk memperkuat adegan aksi.

Suara �vokal� Gladiator setidaknya digunakan beberapa kali. Seperti pada adegan menit-menit awal saat penonton diperlihatkan pertama kali suasana ruang sandera dan beberapa kali ketika Joshua selesai dipukuli teman-temannya. Suara �vokal� Munich terdengar pada adegan ketika seorang guru berkomunikasi dengan Joshua melalui HT. Sementara ilustrasi musik film aksi, Bourne Supremacy paling sering digunakan dalam film ini. Seperti misalnya ilustrasi musik menghentak pada adegan awal ketika polisi-polisi berloncatan dari truk dan berjaga-jaga di sekitar sekolah, sama persis dengan adegan klimaks dalam Bourne ketika adegan kejar-mengejar mobil di dalam terowongan. Juga ilustrasi musik ketika Joshua menyelinap masuk ke ruang guru untuk membuat surat palsu, sama persis dengan adegan awal dalam Bourne ketika dua agen rahasia terbunuh di Berlin. Serta banyak contoh lainnya yang para pembaca bisa cermati sendiri bila berminat.

Sangat disayangkan kenapa kasus ini baru muncul setelah film ini dinyatakan sebagai pemenang FFI. Sekalipun film ini tidak dinominasikan dalam ajang FFI mestinya �pelanggaran� ini oleh pihak yang berwenang telah diklarifikasi terlebih dahulu terkait ijin hak cipta serta ketentuan hukum lainnya. Sangat aneh jika kesalahan mendasar seperti ini bisa dibiarkan terjadi (atau barangkali memang tidak terdeteksi sebelumnya). Tidak hanya film Ekskul saja, sebenarnya kasus serupa juga beberapa kali tampak pada film-film lainnya. Apapun alasannya hal ini jelas menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam industri perfilman kita. Biarlah film Ekskul kita jadikan pengalaman untuk seluruh pelaku industri film agar tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Setidaknya kita mampu menghargai hasil karya cipta orang lain jika ingin hasil karya cipta kita dihargai oleh orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa mengirimkan pesan cinta jika kita sendiri tidak mengerti apa arti cinta.

Himawan Pratista

Tentang Gaya dalam Sinema

Soalnya tentang gaya. Begitulah kita beroleh cara bertutur; sebuah konsep yang tegak namun labil dari cakrawala orang kedua. Kepemilikannya tertentu. Hanya individu saja yang simpati padanya. Seturut dengan Nietszche, ia bersifat menaik juga menurun. Apa yang seorang tutur kemudian bersifat majemuk: entah sebuah pesan atau seklumit pertanyaan. Ada keterserakan pada suatu yang si fulan sampaikan. Entah ia mengacu pada suatu keutuhan maksud atau pembicaraan. Kita lalu mengujar: ia mengutuh atau bertumpangtindih dalam keterserakan.

Katakanlah sinema itu hampir secarik teks atau suatu yang ingin melampaui teks: serupa bahasa atau arca batu yang bercerita. Ada keberjarakan sewaktu kita berupaya mengurai maksud atau pesannya. Dan sineas membentangkannya telanjang di hadapan pemirsa. Apakah pemahaman si pemirsa atas sinema berakhir pada sinema itu sendiri? Lalu kita bilang: �Sineas telah mati�. �Je est un autre�!, sambut penyair Rimbaud. �Soi-m�me comme un autre�: �Saya serupa orang lain�, ucap Ricoeur. Lantas sineas hanya mengujar keberpihakan semu; sinema hanya milik pemirsa. Laiknya sekeping cermin, keutuhan maksud itu didapat dari jangkauan si pemirsa antara sinema dan dirinya. Sineas lantas terabukan; hanya ada tanda-tanda yang kita tafsir pada karyanya yang posthume.

Tanda dan sewenang-wenang bertubuh. Cukup kita jumpai hadirnya pada adegan-adegan lambat dalam sinema yang terserak. Tanda-tanda yang mengada tidak berujar suatu yang kita anut secara umum: misal sekuntum bunga untuk cinta, sebuah gitar untuk penggambaran tubuh yang sempurna. Dan puisi surealis Desnos hanya mengujar pesona wanita terletak pada giginya. Penggambaran tersebut begitu meleset ketika Man Ray mengadaptasikannya ke dalam �L��toile de Mer�(1928). Apakah pesona wanita terujar pada betisnya yang jenjang? Dan apa yang ia maksud dengan bintang laut, senada dengan judul di atas? Hanya kita beroleh tanda dimaksud serupa kepingan acak. Lantas kita sempat berpaling. Apa yang ingin mereka sampaikan? Hanya kita jumpai kemudian seklumit peristiwa remeh dan banal.

Mari kita sebut sinema yang melantun sumbang itu mosaik. Ada semacam keniskalaan sewaktu kita mencapai lembah maknanya. Makna yang ingin tersampaikan tidak terlekat pada kulit terluar; namun ia bertubuh pada sinema dan sineas yang bergerak semakin menjauh. Dan pemirsa kemudian menempatkan posisinya. Pemaknaan pemirsa atas sinema diawali penundaan membaca atasnya. Ia dihadirkan secara sengaja. Model perselingkuhan itu dilanjutkan kemudian dengan proses mengelindankan sinema atas dunia sekelilingnya, dirinya. Kemungkinan diciptakan untuk memaknai suatu yang masih samar. Dan sinema yang kita bicarakan bisa kita jumpai pada �400 Coups�-nya Truffaut juga �Contes de Quatre Saisons�-nya Rohmer. Ketakjuban kita berpihak pada apa yang ingin mereka sampaikan. Dan perjalanan kita memahaminya masih berlanjut?

Keberlimpahan makna tidak secara harfiah kita jumpai dalam ungkapan verbal, seperti tutur opera sabun kita. Apakah sinema religius selalu menyaran pekatnya peci hitam, sesusun manik-manik berwarna pelangi, atau kibaran sarung bermotif jalang? Lalu kesedihan ditunjukkan oleh rembihnya tetes-tetes asin di sela pelupuk mata? Bahagianya bercinta selalu merujuk pada perjumpaan sepasang kekasih di gigir telaga? Tentu semua bermuara pada sebuah cara bertutur; yang tak berujung pada sebuah pembuktian � la Cartesian. Sebuah dunia di atas menawarkan keterserakan. Sinema semacam ini mesti enggan dijuluki sebagai guru, seorang yang ingin digugu atau ditiru. Ia serupa sebuah lukisan. Dan kita memaknainya? �Hypocrite lecteur, mon semblable, mon fr�re!�: wahai pembaca munafik, sesamaku, saudaraku.

F. Taftazani

Sejarah French New Wave

Pada sekitar pertengahan abad 20 muncul beberapa gerakan sinema yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri film di dunia. Salah satu gerakan sinema yang terbesar dan paling berpengaruh pada masa itu adalah French New Wave. French New Wave dipelopori oleh nama-nama seperti, Fran�ois Truffaut, Jean-Luc Godard, Claude Chabrol, Eric Rohmer dan Jacques Rivette. Tidak seperti gerakan sinema lainnya, French New Wave awalnya muncul dari para kritikus muda yang gemar menulis pada sebuah jurnal sinema berpengaruh di Paris bernama, Cahiers du Cinema. Truffaut dan rekan-rekannya banyak mengulas karya-karya sutradara besar seperti, Alfred Hitchcock, John Ford, Orson Welles, Jean Renoir, Roberto Rosselini serta menjuluki mereka sebagai auteur. Mereka sangat mengagumi auteur karena masing-masing memiliki visi personal sehingga film-film mereka memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Para kritikus muda ini juga gemar melakukan kritik film-film mainstream Perancis pada masa itu yang mereka anggap terlalu menekankan pada alur cerita tanpa sedikitpun memiliki visi sinematik.

Tidak puas dengan sekedar melakukan kritik mereka akhirnya terpancing juga untuk memproduksi film. Mereka saling membantu satu sama lain dengan meminjamkan uang, kamera dan peralatan, saling bertukar skrip dan mulai membuat film-film pendek di lokasi sekitar mereka. Dengan berbekal pengetahuan sinema yang mereka miliki tanpa diduga akhirnya mereka mampu menghasilkan karya -karya unik yang dianggap merupakan terobosan baru dalam sejarah sinema. Film-film seperti The 400 Blows (Truffaut), Les Cousins (Chabrol) dan Breathless (Godard) menandai munculnya sebuah gerakan sinema baru yang dinamakan French New Wave. Film-film tersebut tidak hanya sukses secara komersil namun juga sukses mendapatkan berbagai pengakuan internasional hingga gerakan ini tidak hanya berpengaruh di Perancis namun juga menyebar ke seluruh Eropa hingga seluruh penjuru dunia. Film-film French New Wave secara umum memiliki karakteristik yang khas seperti, penggunaan kamera tangan ala dokumenter, bujet produksi yang minim, menggunakan skrip kasar, kru film berjumlah kecil, penggunaan aktor non profesional atau amatir, mengambil lokasi syuting di lokasi sesungguhnya (non studio) dan mereka bekerja di luar industri film mainstream.

Tema film-film French New Wave banyak dipengaruhi film-film atau sutradara yang menjadi favorit mereka. Seperti Chabrol banyak terinsipirasi dari film-film karya Hitchcock sedangkan Godard banyak terinspirasi dari film-film gangster klasik Hollywood. Namun keistimewaan French New Wave bukanlah terlihat dari sisi tema melainkan lebih ke aspek teknis. Beberapa pengamat pernah berkomentar tentang film The 400 Blows yang temanya dianggap bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Godard membela rekannya, bukan materi (tema) yang membuat film tersebut istimewa namun bagaimana materi tersebut diperlakukan atau dengan kata lain bukan isinya yang terpenting namun menekankan pada bagaimana cara mengemas isinya. Dalam Breathless, Godard memakai tema kriminal sederhana dengan mengambil lokasi syuting di jalanan, kafe dan apartemen di kota Paris. Godard hanya menggunakan pencahayaan seadanya yang terdapat pada lokasi syuting. Ia juga terkadang membiarkan para pemainnya untuk berimprovisasi dengan dialognya. Terakhir Godard menggunakan gaya editing khasnya, jump cut hingga membuat Breathless menjadi film yang sangat unik dan menjadi bahan perbincangan pengamat sinema di mana-mana.

Pengaruh French New Wave hingga kini tidak pernah hilang. Bisa dibilang setiap film independen yang ada diseluruh dunia sedikit banyak dipengaruhi oleh gerakan ini. Hal ini terbukti dengan munculnya gerakan sinema independen di Amerika, Inggris, Jerman dan lainnya hanya beberapa tahun setelah gerakan French New Wave muncul. Sutradara-sutradara besar masa kini seperti, Martin Scorcese, Robert Altman, Steven Soderberg, hingga Quentin Tarantino seringkali menggunakan elemen-elemen yang tampak dalam film-film French New Wave. Gerakan French New Wave tidak hanya menawarkan karya seni film yang bernilai serta orisinil namun lebih dari itu mampu menunjukkan bahwa pembaruan dan perkembangan di bidang industri film dapat pula dilakukan oleh pemuda-pemuda berani dan berbakat yang hanya dilandasi dari kecintaan mereka terhadap sinema. Godard suatu ketika pernah berkata, �Kita semua adalah kritikus sebelum membuat film, .Dan saya mencintai semua jenis filmSinemalah yang membuat kami atau paling tidak saya berkeinginan membuat film. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kehidupan kecuali melalui sinema�. 


Himawan Pratista

Indonesian "New Wave"?

Industri film Indonesia telah mengalami pasang surut dalam sejarah perkembangannya. Setelah mengalami masa puncak pada dekade 70-an hingga 80-an, mulai awal dekade 90-an industri perfilman Indonesia dianggap banyak para pengamat mengalami mati suri terbukti dengan dibekukannya Festival Film Indonesia setelah tahun 1992. Pada awal dekade ini industri film Indonesia kembali bangkit dipicu oleh beberapa film yang sukses menyedot ratusan ribu penonton. Ada dua film yang sangat menonjol mengawali dekade ini yakni, Jelangkung (2001) dan Ada Apa dengan Cinta? (2002). Setelah sukses komersil luar biasa dua film tersebut dalam jangka waktu yang tidak lama muncul film-film yang memakai tema sejenis, yakni tema remaja dan horor. Terlepas dari segala pencapaian estetik yang dicapai film-film tersebut dari titik inilah kami menyebut momen ini dengan istilah Indonesian New Wave. Sebuah gerakan, semangat serta gairah baru bagi industri perfilman Indonesia yang bisa kita katakan masih berlangsung hingga kini.

Berbeda dengan gerakan New Wave Perancis, gerakan sinema kita tidak memiliki karakter estetik yang khas. Tendensi yang tampak dalam gerakan sinema kita adalah yang tampak dalam gerakan sinema kita adalah memakai tema roman atau horor yang terorientasi untuk kalangan penonton remaja atau kaum muda. Fokus pada penonton remaja seolah menjadi suatu keharusan karena merekalah yang mendominasi penonton bioskop kita sehingga menjadi jaminan sukses tidaknya suatu film. Suatu film dibuat semata-mata bertujuan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya memang sah-sah saja namun bagaimana sebenarnya tingkat pencapaian sinema kita. Apakah memang film-film kita sudah layak bersaing dengan film-film asing? Anda bisa menjawabnya sendiri. Memang fakta bahwa beberapa film-film kita laris di kalangan penonton domestik namun apakah film kita bisa sukses secara komersil di negara luar serta apakah film-film kita sebenarnya sudah mampu berbicara di level Oscar, misalnya.
.
Kelemahan mendasar yang sering terlihat dalam film-film kita adalah motivasi plot yang sangat lemah. Seringkali kita tidak mampu melihat rangkaian hubungan sebab akibat yang kuat serta konsistensi dalam sebuah alur cerita. Plot lemah juga seringkali semakin diperburuk dengan dialog yang lemah dan tidak berguna. Memang beberapa film-film kita telah memiliki pencapaian sinematografi yang cukup baik dengan menyajikan komposisi serta gambar yang kuat. Namun apalah arti sebuah gambar yang indah jika film tersebut tidak memiliki plot yang kuat. Beberapa film kita juga tampak sudah mencoba untuk bermain-main dengan bahasa visual dan hasilnya memang terlihat baik (baca:keren) namun seringkali mereka masih memakai teknik tersebut dalam konteks dan momen yang tidak tepat. Dialog yang lemah secara tidak langsung juga mempengaruhi pencapaian akting dari para pemainnya sekaliber apapun dia. Beruntung film-film kita seringkali banyak tertolong oleh lagu soundtrack manis yang kebetulan memang pas dengan cerita serta tema filmnya.

Dari beberapa kelemahan diatas rasanya masih sulit jika film-film kita harus bersaing dengan film-film asing secara komersil apalagi untuk bisa berbicara di level internasional. Salah satu penyebab utama adalah karena industri film kita belum memiliki instrumen yang mampu mengontrol kualitas film dengan baik. Kontrol kualitas tersebut umumnya dilakukanoleh para kritikus film yang sudah mengakar di negara-negara luar. Tanpa adanya kritikus film yang berpengalaman selamanya sinema Indonesia tidak akan berkembang dan selalu akan berjalan di titik yang sama. Di sebuah harian nasional seorang kritikus lokal pernah mengomentari sebuah film kita yang dianggapnya terlalu monoton karena selalu mengambil gambar yang statis. Apakah dengan gambar yang dinamis film sudah pasti tidak monoton? Apakah dengan hanya menggunakan gambar yang statis lantas sebuah film tidak bisa dikatakan istimewa? Semuanya sangat relatif dan sejarah juga telah membuktikan bahwa film-film dengan tema dan teknis sederhana yang berkualitas tinggi jumlahnya tidak sedikit.

Festival Film Indonesia sejak dua tahun belakangan juga sudah mulai muncul kembali. Hal ini tentu saja sangat positif bagi perkembangan sinema kita hanya saja perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas dari seluruh para pelaku industri jika kita ingin berbicara di level yang lebih tinggi. Para pelaku industri film kita tidak perlu terlalu besar kepala dengan hasil yang telah kita capai karena kita memang belumlah apa-apa. Yang perlu kita lakukan sekarang tidak lain adalah belajar� belajar dan belajar untuk bisa sama-sama memajukan sinema kita. Bagaimana mungkin kita bisa menghasilkan suatu karya yang baik jika kita tidak memahami apa dan bagaimana karya yang baik itu. Kita bisa mengambil teladan dari Truffaut dan kawan-kawannya sebelum mereka menjadi sutradara ternama. Mereka telah memiliki pengetahuan yang luas tentang film baik bentuk, gaya, tema, teknik dan segala jenis film dari ribuan film yang mereka tonton. Mereka tidak menjadi sutradara karena tekanan dari siapapun namun lebih disebabkan karena kecintaan mereka pada film. Film telah menjadi bagian dari hidup mereka. Jika para pelaku industri kita tidak memiliki kecintaan yang sama terhadap film maka semua akan sia-sia karena selamanya film akan menjadi barang dagangan semata. Mengutip kata-kata Godard yang ditujukan untuk para sutradara mainstream di Paris kala itu, �Pergerakan kameramu sangat buruk karena subyeknya buruk, para pemainmu berakting sangat buruk karena dialognya tidak bermakna, dalam satu kalimat, kalian tidak bisa menciptakan film karena kalian sudah tidak tahu lagi apa itu film...�. 


Himawan Pratista