Jumat, 22 Juni 2007

Spiderman 3

Kali ini Cuma Hiburan Semata


Sekuel superhero populer berbujet ratusan juta dollar super laris, Spiderman 3 arahan Sam Raimi akhirnya dirilis juga. Film pertama, Spiderman adalah film istimewa sementara sekuelnya, Spiderman 2 bahkan lebih baik dari sisi cerita maupun artistik. Penulis tidak pernah berpikir jika sekuel berikutnya akan bisa lebih baik dari kedua film ini dan ternyata dugaan penulis tidak salah.

Spiderman 3 diawali dengan Peter yang saat ini hidup bahagia bersama Mary Jane. Cerita berkembang ketika Peter lebih menikmati dirinya sebagai Spiderman ketimbang dirinya sendiri. Karir pertunjukan Mary Jane yang hancur hanya karena sebuah review negatif makin memperburuk hubungannya dengan Peter. Terlebih setelah Peter melakukan �ciuman pertamanya� dengan seorang gadis rekan satu lab-nya dihadapan orang banyak termasuk Mary Jane. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi setelah semua peristiwa yang terjadi di dua film sebelumnya. Peter seolah lupa ucapan pamannya, �Great power comes great responsibility!�. Apa cairan hitam berasal dari angkasa luar penyebabnya? Ternyata bukan. Cairan tersebut dijelaskan hanya baru berefek negatif setelah menyatu dengan tubuh induk semangnya. Semuanya jadi serba lucu dan kebetulan. Konflik dan segala peristiwa yang ada seperti terkesan terlalu dibuat-buat tanpa ada sedikit pun penjelasan.

Hubungan Peter dan Mary Jane juga tidak lagi sekuat di dua film pendahulu. Peter dan Mary Jane seperti kehilangan diri mereka. Bahkan karakter Harry yang dendam habis dengan Spiderman sampai benar-benar dibuat amnesia. Entah mengapa hubungan kimiawi antara Harry-Mary Jane yang berdansa twist terasa lebih kuat dari hubungan Peter-Mary Jane. Satu lagi adegan yang benar-benar konyol dan tidak lucu adalah ketika Peter berubah menjadi lebih modis (rambut dibiarkan ke depan) dan digilai banyak wanita hingga berdisko bersama pasangan barunya dihadapan Mary Jane. Tapi ok lah� kali ini Peter memang �kebetulan� memakai kostum �hitam�. Tapi semua itu untuk apa? Peter sudah tidak lagi memiliki masalah dengan dirinya.

Karakter Sandman lebih sekedar tempelan ketimbang ikut larut dalam cerita. Menghubungkan karakter Flint Marko (Sandman) dengan terbunuhnya kakek Peter sungguh ide konyol seperti penulis naskah tidak ada ide lain saja. Hal ini malah justru mementahkan cerita dua film sebelumnya yang telah dibangun demikian kuat. Siapapun tahu jika amnesia Harry kelak akan pulih di saat yang �tepat�. Karakter Bernard, pelayan Harry juga mendadak muncul di film dan seolah mengetahui segala persoalan tentang Harry, ayahnya dan Peter. Entah bagaimana ia bisa menyimpulkan luka tusukan di tubuh ayah Harry. Dan seperti sudah diduga� karakter Goblin Jr. muncul disaat kritis menolong sahabatnya� penonton pun bersorak riuh. Sungguh konyol! Amat disayangkan karakter Venom yang penuh pesona tidak muncul sejak awal dan harus menunggu hingga Peter mampu melepaskan �sifat buruk� yang ada di tubuhnya.

Bicara soal adegan aksi boleh jadi memang lebih gemerlap dan lebih �seru� dari dua film pendahulunya terutama karena adanya dua karakter musuh. Namun satu hal yang hilang tidak seperti pada dua film pendahulunya adalah unsur ketegangan. Mary Jane yang di dua film sebelumnya menjerit-jerit dan jatuh dari ketinggian kali ini melakukan hal yang sama. Siapapun tahu Mary Jane akan selamat. Sedemikian nyarisnya seorang karakter mendekati kematian tetap saja adegan tersebut tidak berarti apa-apa. Dan seperti telah diduga pula Goblin Jr. (Harry) akhirnya mati menyelamatkan nyawa sahabatnya. Tak ada kejutan maupun ketegangan sama sekali apapun bentuknya. Terlalu jauh jika membandingkan film ini dengan dua film pendahulunya namun menurut penulis bukanlah hal sulit bagi film ini untuk meraih keuntungan seperti dua film sebelumnya.

M. Pradipta

Waktu di Persimpangan


Demikian sinema menyajikan waktu yang bervariasi dalam sepanjang narasi, tentang kisah di masa lalu, masa depan juga masa kini. Semacam ada jejaring di dalamnya; yang mengupayakan si figur menandai: orang yang dikasihi, tetangga, rumah, kota dan lain sebagainya. Kisah yang dihadirkannya kemudian teracuni oleh citra-citra sepia yang hadir. Dan ia disebut kemudian alur kilas-balik; semacam upaya untuk mengelindankan citra-citra di kelampauan yang dihadirkan secara sengaja di masa kini.

Bagi Tornatore, alur kilas-balik mengujar sebuah usaha untuk mengelindankan rantai kisah yang putus; dan si figur tergugah untuk menghadirkannya kembali. Sewaktu Toto beroleh kabar; Alfredo telah meninggal dunia. Ingatannya kemudian melarat citra; semasa kecil, remaja hingga dewasa. Seorang yang kini telah berhasil dalam karirnya, terganggu lelap tidurnya begitu terucap nama: Alfredo. Dan akhir narasi �Cinema Paradiso�, Toto memandang nanap wajah-wajah serupa karib, bioskop yang ditinggalkan, alun-alun yang kini menjelma lahan parkir, dan tubuh Alfredo dalam peti mati. Juga dalam �Les Choristes�, Morhange bergegas pulang sewaktu ia beroleh kabar: ibundanya telah tiada. Melalui lisan Pepinot yang sempat bertandang ke rumahnya, sosok Matthieu akhirnya terkisahkan dengan jelas lewat buku hariannya.

Kilas-balik menyisakan sekisah gaib maupun suatu yang hadir tidak terduga; semacam ada kelindan kausal yang retak dalam waktu. Retaknya kelindan ini kemudian memberikan si figur sebentuk alasan untuk menandai citra-citra yang mungkin; apakah ia benar adanya atau hanya imajinasinya belaka. Ingatan si figur lalu meraba-raba peristiwa yang telah lewat. Upaya tersebut akhirnya menemani si figur menuju jalan bercabang; jalan yang memandunya menemukan keterserakan kisah maupun akhir pencariannya.

Upaya Toto untuk menemukan kisahnya di kelampauan hampir pungkas begitu ia berjumpa Elena, seorang yang pernah menjadi kekasihnya. Janjinya dahulu kepadanya untuk bertemu di kali terakhir sebelum mereka berpisah, tidak terwujud. Berpuluh tahun telah lewat, mereka akhirnya kembali bertemu. Usaha Alfredo untuk memisahkan keduanya terungkap sewaktu mereka saling bertukar cerita di gigir pantai. Harapannya yang pupus kemudian tergantikan oleh titipan Alfredo yang dilimpahkan kepadanya. Sehari menjelang keberangkatannya ke Roma, segulung diapositif itu kemudian diputar dan bercerita. Mengapa ia menitikkan air mata?

Gedung batu: Fond de l�Etang; rumah singgah anak-anak nakal. Tiba Clement Matthieu menjadi guru pengganti. Metode pembelajaran yang diterapkan Rachin, Aksi-Reaksi, tak mampu menjinakkan anak-anak yang liar. Berkat Matthieu yang sabar, akhirnya mereka bernyanyi. Anak-anak menjadi jinak; Rachin menanggapi sebaliknya. Iapun mengusir Matthieu. Dan anak-anak membisu sewaktu Matthieu pergi. Akhirnya dengan berat hati, Matthieupun pergi meninggalkan anak asuhannya. Semenjak ia pergi, segala telah berubah di Fond de l�Etang. Rachin ikut tersingkir dari tempat itu; sedangkan Matthieu melanjutkan impiannya: mengampu musik sepanjang hidupnya. Ingatan si figur seolah memandu narasi; namun seolah ada suatu keterputusan di dalamnya. Si figur seakan bertanya: bagaimana aku sampai di sana? Apa yang terjadi?

Persepsi atas citra di kelampauan lalu bersifat statis. Ia diberikan jangkauan dinamis oleh si figur guna mencapai keutuhan citra satu dengan citra lainnya. Ia menjelmakan sebentuk aksi sewaktu si figur berupaya menautkannya dengan citra optik juga akustik yang mewarnai kisah di kelampauan tadi. Citra serta deskripsi kemudian bersamaan hadir sebagai reaksi. Pun, pemaknaan atasnya kerap menjumpai jalan buntu; jalan di mana kehadiran keduanya berhenti hanya sebagai citra (akustik juga optik). Begitu ketertarikan si figur atas kesemua hal tersebut tereduksi hingga hampir pupus, akhirnya citra-citra tersebut dapat terbahasakan olehnya. Citra tersebut akhirnya terkenali oleh si figur: ia berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Persepsi kemudian terbedakan dari ingatan: ia hanya menyanjung sebentuk obyek yang hadir berkat munculnya intuisi. Ia bersifat reaktif atas suatu aksi; serupa persepsi seseorang atas sebuah lagu yang muncul begitu ia mendengar senandung sumbang maupun kata yang diucapkan lamat oleh seseorang. Persepsi Toto dalam �Cinema Paradiso� muncul begitu teman tidurnya menyebut nama �Alfredo� di gigir gagang telepon. Begitupun persepsi Morhange hadir sewaktu Pepinot menyebut nama �Matthieu� sewaktu album foto dikenali isinya. Ingatan kemudian hadir bersama-sama persepsi; namun ingatan berujar sebaliknya. Ia berupaya menghadirkan obyek yang telah pupus tadi dengan jalan merekam kembali peristiwa yang telah bersedimentasi dalam pikiran. Cerita masa lalu yang unik kemudian tersuai lewat ingatan Toto dalam �Cinema Paradiso�; juga kisah �Fond de l�Etang� terlihat nyata melalui ingatan Morhange dan Pepinot.

Ingatan dan persepsi meniru dualisme antara roh dan tubuh. Persepsi menjadikan ingatan sebagai karib dalam pencariannya atas seklumit citra di kelampauan; namun ingatan tetap berada di sana sekalipun persepsi telah memisahkan dirinya lewat kematian. Guna menapis meruyaknya kejadian yang telah terekam oleh ingatan, pikiran kemudian berperan sebagai penyeleksi. Ia hanya memilih kejadian yang unik maupun penting. Tidak semua kejadian lalu diingatnya kembali. Ingatan yang dimaksud persepsi adalah ingatan yang murni dan tak teracuni (le souvenir pur); ingatan atas seklumit citra intim dan unik di masa lalu.

Titipan yang dialamatkan Alfredo kepadanya, turut mencukupkan pencarian Toto atas masa lalunya. Surga yang ia kenal adalah tempat yang paling dekat; tempat yang mewadahi ingatannya yang paling murni. Ia menyatukan segala kisah-kisahnya lewat adegan intim yang basi; bibir demi bibir saling memagut pasi. Begitulah kepergian Matthieu disambut oleh Pepinot sebagai sebentuk harapan untuk mengajaknya pergi. Sekalipun dengan berat hati, Matthieu akhirnya mengajaknya ikut serta dan menjadikannya anak angkat di kemudian hari. Harapan Pepinot untuk bertemu orang tuanya pada hari Sabtu akhirnya terkabul. Hari itulah kepergiannya dengan Matthieu.

Demikian juga persepsi serta ingatan serupa karib dalam benak si pencerita dalam seklumit episode �Du C�t� de Chez Swann�-nya Proust; bagaimana mengelindankan rasa dan waktu? Syahdan, si pencerita beroleh rasa sedemikian nikmat sewaktu kue Madelaine lunak menggayut di langit-langit mulut juga guyuran teh terjungkal di tubir tenggorokan? Dan ia terus bertanya-tanya: apakah rasa itu memang ada atau hanya igauan basi? Upaya si pencerita untuk menemukan suatu yang hadir dalam pencarian atasnya dari Combray hingga ke ajal menjemput dalam �Le Temps Retrouv��, menuai suatu yang berharga atau upaya yang sia-sia? Dunia yang dikembarai si pencerita semacam ini menyaran pada dunia partikular; sebuah dunia tertutup. Hanya ia yang memiliki? Dan kembara si pencerita akhirnya pungkas: �Sewaktu peristiwa di kelampauan tidak lagi dapat dipertautkan, setelah tiadanya makhluk, setelah pupusnya semua benda: aroma juga bau, tetap berada di sana�. Mereka yang telah mengarunginya sendirian seakan berkata: �Mengapa kita terlanjur bahagia?�

F. Taftazani

Sinema Ekspresionisme Jerman

Selama perkembangan era film bisu terdapat beberapa gerakan sinema yang sangat berpengaruh di dunia, salah satunya adalah aliran ekspresionisme di Jerman. Ekspresionisme sendiri bermula dari istilah seni lukis dan puisi sebelum berkembang ke seni literatur, seni pertunjukan, seni bangunan hingga akhirnya seni film. Ekspresionisme merupakan sebuah aliran yang mengekspresikan pikiran manusia secara abstrak; aliran yang menekankan pada emosi serta reaksi personal seorang seniman; berbeda dengan aliran realisme yang mengutamakan hasil karya persis seperti wujud aslinya.

Bermula pada awal Perang Dunia Pertama ketika industri film Jerman mulai disokong oleh pemerintah akibat minimnya produksi film mereka. Hasilnya produktivitas meningkat tajam dan studio-studio baru pun mulai bermunculan. Untuk mengontrol produksi serta distribusi film-film Jerman, pemerintah lalu membentuk perusahaan film yang bernama UFA (Universelfilm Aktiengesellschaft) pada tahun 1917. Produktivitas film pun semakin bertambah dan film-film Jerman bahkan mulai dikenal di dunia internasional. Persaingan yang semakin hebat terutama dari film-film Hollywood, memaksa industri film Jerman berpikir keras untuk menghasilkan karya-karya baru yang mampu bersaing dengan produksi luar.

Pada tahun 1919, sebuah studio kecil bernama Decla merekrut dua penulis, Carl Meyer dan Hans Janowitz yang memiliki sebuah naskah film yang unik. Mereka menginginkan film tersebut diproduksi dengan gaya yang berbeda. Penata artistik, Hermann Warm, Walter Reinman, dan Walter Rohrig lalu mengusulkan film tersebut dibuat dengan gaya ekspresionisme. Akhirnya film berjudul, Cabinet of Dr. Caligary (1919) arahan sutradara Robert Wiene diproduksi dengan bujet murah. Film ini ternyata sukses di seluruh Eropa bahkan hingga ke Amerika. Sukses Caligary membuat banyak para pelaku industri film Jerman meniru gaya yang sama dalam produksi film-film mereka. Gaya ekspresionisme lalu menjadi sebuah tren sinema yang bertahan hingga beberapa tahun.
..
Tidak kurang sutradara besar Jerman masa itu seperti Friedrich Wilhelm Murnau serta Fritz Lang ikut memproduksi film-film dengan gaya ekspresionisme. Murnau memproduksi, The Haunted Castle (1921) lalu film horor berpengaruh, Nosferatu (1922) serta Faust (1926); Lang bahkan memproduksi film berskala besar, sebuah epik historis, Die Nibelungen (1923) serta film monumental berlatar futuristik, Metropolis (1927). Sutradara lain seperti Carl Boese dan Paul Wegener memproduksi film horor The Golem (1921) diikuti Paul Leni melalui Waxworks (1923). Secara seporadik pengaruh gaya ekspresionisme bahkan sampai ke Perancis dan Rusia pada periode yang sama, seperti pada film-film, L�inhumaine (1924) dan The Cloak (1926).

Gaya ekspresionisme biasanya tampak pada film bertema fiksi, fantasi, dan horor. Secara estetik, gaya ini tampak pada aspek mis� en scene*, yakni latar atau setting, perabot, kostum, pencahayaan hingga karakternya yang wujudnya tidak realistik. Latar seringkali digambarkan tidak lazim, bentuknya tidak beraturan serta surealistik. Sebuah jendela rumah misalnya, bisa digambarkan berbentuk lingkaran, segitiga atau bahkan tidak beraturan. Rumah, pepohonan, jalan, jembatan dan lainnya digambarkan unik seolah latarnya menyerupai lukisan. Permainan gelap-terang sangat dominan dan kerap kali menggunakan efek bayangan. Karakter utama seringkali menggunakan kostum yang unik, ber-make up tebal, serta bergerak atau berjalan tidak seperti manusia umumnya.

Inflasi yang melanda Jerman di awal 20-an sedikit banyak mempengaruhi perkembangan gerakan ini. Biaya untuk memproduksi film-film ekspresionis menjadi lebih mahal. Film-film ekspresionis berbujet besar seperti Faust dan Metropolis ternyata juga gagal di pasaran, sehingga studio tidak lagi mau berjudi dengan memproduksi film-film sejenis. Situasi politik di Jerman yang tidak lagi kondusif juga menyebabkan para pelaku industri Jerman sebagian besar hijrah ke Eropa dan Amerika, termasuk Murnau dan Lang. Mulai tahun 1927, gerakan ekspresionisme dinyatakan telah berakhir; Cabinet of Dr. Caligary (1919) adalah film yang pertama dan Metropolis (1927) adalah film yang terakhir. Walaupun gerakan ini secara formal sudah berakhir namun pengaruh ekspresionisme tidak pernah hilang hingga kini.

Pengaruh Aliran Ekspresionisme

Walaupun gaya ekspresionisme hanya berumur tujuh tahun namun pengaruhnya begitu besar bagi perkembangan industri film di dunia. Banyaknya pelaku industri Jeman yang pindah ke Amerika kala itu juga membuat film-film Hollywood terpengaruh gaya ekspresionisme. Gaya ini terutama mempengaruhi film-film horor produksi Universal di era 30-an tampak pada latar dan karakter monsternya; film noir* di era 40-an tampak pada pengaturan tata cahaya serta penggunaan bayangan; serta film-film karya Orson Welles. Di Jerman sendiri pengaruh gaya ini masih tampak hingga awal 30-an, seperti M (1931) dan Testament Dr. Mabuse (1932), keduanya karya Lang.
.
Hingga kini pengaruh ekspresionis masih tampak dalam beberapa film, dan biasanya hanya terbatas pada jenis film fiksi atau fanstasi. Diantaranya film-film fiksi populer seperti, Brazil (1985), 12 Monkey (1995), Dark City (1998), Lemony Snicket�s A series of Unfortunate Events (2004), serta yang terbaru Pan�s Labyrinth (2007). Namun hingga kini tercatat hanya satu sineas yang nyaris seluruh karyanya loyal memakai gaya ekspresionis, yakni Tim Burton. Burton menggunakan semua elemen estetik ekspresionis nyaris sama seperti film-film ekspresionis aslinya, baik setting, kostum, karakter hingga tata cahayanya. Bahkan bisa dibilang ia melebihi para pendahulunya karena tidak hanya elemen visual semata namun Burton juga menggunakan ilustrasi musik yang khas dalam semua filmnya oleh komposer Danny Elfman. Film-filmnya antara lain, Beetle Juice (1987), Batman (1989), Edward Scisscorhands (1990), Sleepy Hollow (1999), Planet of the Apes (2001), Big Fish (2003), serta Charlie and the Chocolate Factory (2005).


Himawan Pratista

Pan's Labyrinth

 Antara Fantasi dan Realitas

Pans�s Labyrinth sejauh ini boleh dibilang adalah film berbahasa asing bergaya ekspresionis yang paling sukses secara kritik. Dalam ajang Academy Awards tahun ini, Labyrinth sukses mendapatkan enam nominasi Oscar dan menjadi kandidat kuat peraih film berbahasa asing terbaik. Dalam puluhan ajang bergengsi lainya termasuk diantaranya, Golden Globe dan Cannes, Labyrinth sukses mendapatkan total lebih dari 30 buah penghargaan. Sejak sukses film ekspresionis pertama Cabinet of Dr. Caligary (1919) hingga sukses Pan�s Labyrinth (2006) telah membuktikan bahwa gaya ekspresionis tidak pernah surut bahkan semakin matang. Boleh jadi kita masih akan melihat karya-karya bergaya ekspresionis yang lebih baik lagi di masa datang; atau mungkin ada sineas kita yang berminat menggunakan gaya ini dalam produksi filmnya.

Pans�s Labyrinth merupakan perpaduan antara tema fiksi dan drama berlatar era fasisme masa perang dunia kedua di Spanyol. Film ini merupakan arahan sutradara besar Meksiko, Guillermo del Toro. Filmnya berkisah tentang seorang gadis cilik bernama Ofelia yang konon merupakan titisan putri Moanna yang lari dari sebuah kerajaan antah berantah di dalam perut bumi. Diceritakan Ofelia dan ibunya yang hamil tua pindah untuk tinggal bersama ayah tirinya, Capit�n Vidal yang merupakan seorang pemimpin pasukan militer di garis depan melawan pasukan pemberontak. Vidal merupakan sosok yang ditakuti anak buahnya, sadistik, ambisius dan kejam. Di tempat tinggal barunya, Ofelia kemudian dituntun oleh seekor �peri� masuk ke sebuah labirin hingga bertemu sosok makhluk aneh bernama Faun. Faun memberikan tiga buah ujian pada Ofelia yang harus diselesaikannya sebelum bulan purnama agar sang gadis dapat kembali ke tempat asalnya. Tanpa disadari Ofelia, tiga hambatan yang dihadapinya ternyata berdampak besar pada kehidupan nyata.

Labyrinth merupakan kisah bertema unik yang sejauh pengamatan penulis belum pernah diangkat sebelumnya. Sejak awal kita dibawa ke dunia dongeng yang seolah mengisyaratkan bahwa film ini adalah untuk anak-anak. Namun adegan sadistik yang diperlihatkan Vidal pada awal film membuang jauh-jauh isyarat tersebut. Del Toro yang telah berpengalaman memproduksi film-film bernuansa horor seperti Devil�s Backbone, Blade II dan HellBoy tampak jauh lebih matang dalam menangani Labyrinth. Dari awal hingga klimaks Del Toro mampu menjaga keseimbangan serta ketegangan alur cerita dengan sempurna antara dunia Ofelia (mimpi) dan dunia Vidal (nyata). Pengaruh gaya ekpresionis hanya tampak pada dunia Ofelia dari setting hingga karakter-karakter unik, seperti faun, katak raksasa serta monster dengan mata di kedua telapak tangannya. Salah satu kekuatan film ini adalah permainan akting yang kuat dari Sergi Lopez sebagai sosok Capit�n Vidal yang terjebak dalam ambisinya. Aktris belia, Ivana Baquero yang berperan sebagai Ofelia bermain tidak kalah menawannya. Wajah sendunya mampu menampakkan kesedihan Ofelia yang begitu mendalam namun di saat yang bersamaan ia bisa tersenyum menampakkan mimpi dan harapannya.

Dunia Ofelia yang ekspresionistik sangat jauh berbeda dengan dunia Vidal yang realistik. Ofelia terjebak dalam labirin fantasinya seperti juga Vidal terjebak dalam labirin ambisinya. Suatu ketika Faun muncul dan Ofelia yang baru saja kehilangan ibunya langsung memeluk erat mahluk bersosok seram tersebut, begitu pula Vidal yang menembak Ofelia pada klimaks film, menunjukkan betapa kuat upaya mereka untuk mempertahankan mimpi dan ambisinya masing-masing. Ofelia dan Vidal hidup di dunia yang saling berlawanan. Ofelia merupakan simbol cinta, kepolosan, kemurnian jiwa, mimpi, dan harapan yang dimiliki tiap manusia. Sementara Capit�n Vidal merupakan simbol kebencian, ambisi berlebihan, ketamakan, serta sisi gelap yang dimiliki tiap manusia. Semua yang dialami Ofelia adalah realitas baginya namun bagi kita segala hal yang terlihat bisa jadi cuma ilusi belaka, persis seperti apa yang kita lihat melalui mata Capit�n Vidal, hanya kebencian semata. Cinta memang hanya bisa tampak bagi orang yang mampu menemukannya; jika tidak seseorang akan selamanya terjebak dalam labirin yang ada pada dirinya.

Himawan Pratista

Kuntilanak Versi Baru


Kisah Kuntilanak diawali oleh mimpi buruk yang tiap kali menghantui Sam (Julie Estelle). Sam lalu pindah dari rumahnya dan mendapatkan kost di sebuah rumah kuno disamping areal pekuburan. Sejak pindah ke rumah tersebut Sam mengalami kejadian-kejadian aneh yang berhubungan dengan mimpinya. Sam berulang kali seperti kerasukan mahluk halus jika ia disakiti oleh seseorang dan orang tersebut tak lama tewas dengan kondisi mengenaskan. Perilaku Sam bertambah aneh dan bahkan ia mulai menyakiti pacarnya, Agung (Evan Sanders) serta membunuh rekan satu kostnya, Dinda (Ratu Felisha) yang sama sekali tidak bersalah. Belakangan diketahui jika sang pemilik rumah ternyata memelihara Kuntilanak untuk pesugihan dan anak-anak kost merupakan tumbalnya. Sam yang ternyata juga memiliki wangsit untuk memanggil Kuntilanak harus berhadapan sang pemilik rumah untuk menyelamatkan Agung.

Apa yang terbayang ketika mendengar kata, Kuntilanak. Menurut mitos awam, Kuntilanak merupakan sosok gaib yang berwujud wanita berambut panjang, berpakaian putih dan suara �tertawa� yang khas. Namun sosok Kuntilanak dalam film ini sangat berbeda jauh. Sang sutradara, Rizal Mantovani menggambarkan Kuntilanak sebagai mahluk gaib yang memiliki wujud separuh wanita separuh kuda. Diceritakan Kuntilanak setelah dipanggil masuk ke alam manusia melalui perantara sebuah cermin khusus. Cara memanggilnya pun cukup unik yakni dengan mendendangkan tembang Durmo. Patut dihargai usaha sang sutradara untuk menggali mitos-mitos mahluk gaib lokal seperti telah dilakukan sebelumnya lewat Jelangkung. Namun ada hal-hal yang sedikit kurang jelas seperti fungsi tanda yang ada di pundak belakang Sam; mengapa Agung tidak mati setelah ia �dikutuk� oleh Sam; serta motif membunuh Dinda yang dirasakan kurang beralasan.

Salah satu nilai lebih film ini adalah keberhasilan sang sutradara membangun atmosfir yang mencekam serta penuh misteri melalui latar rumah kuno peninggalan Belanda yang suram dengan dukungan ilustrasi musik mistikal dari Andi Rianto. Perabotan antik seperti lemari, ranjang, kursi serta cermin cukup mendukung suasana. Hanya saja yang menjadi pertanyaan sekarang, orang waras mana yang mau tinggal atau indekost di sebuah rumah kuno besar yang tidak terawat di sebelah areal pekuburan pula. Alasan biaya kost murah tidak bisa lantas begitu saja dijadikan alasan utama mereka mau tinggal disana. Terlebih lagi para penghuni kost juga digambarkan sebagai orang-orang yang penakut. Kalau mereka memang calon tumbal yang sudah sejak awal �ditarik� untuk tinggal disana, mengapa tidak semua melainkan hanya tiga orang penghuni saja yang tewas.

Setting serta ilustrasi yang telah mendukung sayangnya tidak mampu diimbangi oleh unsur-unsur ketegangan yang dibangun. Ketegangan justru menurun drastis ketika sang pemilik rumah muncul menjelaskan semuanya; kucing-kucingan antara Sam dengan Kuntilanak yang ingin keluar lewat cermin juga terlihat tampak konyol; juga tidak jelas apa yang selama ini merasuki Sam padahal Kuntilanak masih ada dalam �cermin�. Untuk film bertema horor, Kuntilanak relatif tidak menakutkan dan mungkin akan lebih pas jika disebut sebagai film misteri. Sekali lagi usaha untuk menggali potensi mahluk gaib yang telah membumi pada masyarakat kita perlu diacungi jempol. Setidaknya sejauh ini Kuntilanak boleh dibilang secara tema dan estetik lebih baik dan matang daripada film-film horor kita sebelumnya.

Goegi Poerwono