Kamis, 01 Mei 2008

Perkembangan Film Noir

Film Noir, Genre atau Gaya?

Istilah noir [noa:] kerap kali digunakan untuk menyebut suatu jenis film tertentu. Entah film noir atau neo-noirs. Apa sebenarnya film noir? Kata noir sendiri berasal dari bahasa Perancis yang bermakna gelap, hitam atau suram. Istilah film noir pertama kali digunakan oleh kritikus asal Perancis untuk mengistilahkan film-film kriminal-detektif produksi Amerika yang membanjiri bioskop-bioskop Perancis selepas Perang Dunia Kedua. Dalam perkembangannya film noir kerap kali diperdebatkan antara sebuah genre ataukah gaya. Jika dibandingkan dengan genre lainnya film noir memang lebih memiliki karakter tema serta gaya yang unik dalam membangun mood-nya. Film noir disebut genre bisa jadi lebih karena popularitasnya ketimbang unsur estetiknya. Film noir sendiri sebenarnya merupakan turunan dari genre kriminal-gangster yang sangat populer di Amerika pada era 30-an.

Lahirnya Film Noir serta Perkembangannya

Dalam perkembangan beberapa faktor internal dan eksternal banyak memotivasi lahirnya film noir. Pengaruh paling kuat adalah munculnya novel-novel detektif Amerika pada akhir era 20-an. Para penulis seperti Dashiell Hammet, Raymond Chandler, James M. Cain serta W.S. Burnett memberikan warna baru bagi novel bertema detektif menjadi lebih keras dan sinikal. Novel-novel mereka kelak banyak diadaptasi ke layar lebar. Sementara unsur estetik film noir terutama banyak dipengaruhi oleh sinema ekspresionisme yang dibawa oleh sineas-sineas Jerman yang hijrah ke Amerika. Bahkan hingga sutradara ekspresionis ternama sekelas Fritz Lang pun nantinya memproduksi film noir. Pengaruh gaya ekspresionis kelak tampak pada tata cahaya terutama penggunaan bayangan serta kontras antara gelap-terang. Suasana ketidakpastian dan pesimisme menjelang Perang Dunia Kedua ditambah faktor-faktor sosial di Amerika kala itu seperti, korupsi di kepolisian, mafia politik, perdagangan obat terlarang, protistusi, hingga munculnya gang-gang kriminal turut mempercepat munculnya film noir.

Awal kemunculan film noir pertama dianggap oleh beberapa kalangan adalah film kelas dua, Stranger on The Third Floor (1940) arahan Boris Ingster. Namun adalah The Maltese Falcon (1941) arahan John Huston yang secara tema dan estetik dianggap secara utuh memakai semua elemen film noir. Film ini diadaptasi dari novel detektif berjudul sama karya Dashiell Hammet. Humprey Bogart yang bermain prima sebagai detektif Sam Spade semakin mengukuhkan namanya menjadi salah satu bintang papan atas Hollywood. Setelah sukses Falcon, film-film noir pun membanjiri pasaran. Namun studio-studio besar Hollywood pada awalnya masih belum berani mengambil resiko. Produksi film noir pada awalnya termasuk Falcon, menggunakan standar bujet yang rendah. Hal ini tampak melalui banyaknya syuting dalam studio, jumlah karakter serta figuran yang kecil, serta menggunakan sutradara belum dikenal. Dalam perkembangan sejumlah bintang dan sutradara besar ikut meramaikan produksi film noir selama hampir dua dekade ke depan.

Sutradara-sutradara imigran asal Jerman menjadi motor perkembangan film noir. Mereka banyak memproduksi film noir berpengaruh, seperti Fritz Lang melalui Woman in the Window (1944) dan Scarlett Street (1945), Otto Preminger memproduksi Laura (1944), Billy Wilder mengarahkan Double Indemnity (1944), serta Robert Siodmak melalui Phantom Lady (1944), The Suspect (1944) dan The Killers (1945). Adapun nama-nama besar lainnya yang turut berpartisipasi antara lain, Howard Hawks melalui filmnya The Big Sleep (1944), Orson Welles melalui The Lady from Shanghay (1948), Michael Curtiz melalui Mildred Pierce (1945), Alfred Hitchcock melalui Shadow of Doubt (1943) dan Notorious (1945), serta John Huston melalui Asphalt Jungle (1950). Sementara film-film noir berpengaruh lainnya, This Gun For Hire (1942) arahan Frank Tuttle, Out of the Past (1947) arahan Jacques Tourneur, Detour (1945) arahan Edgar G. Ulmer, Gilda (1946) arahan Charles Vidor, serta The Third Man (1949) arahan Carol Reed.

Karakteristik Film Noir

Sesuai dengan maknanya, gelap atau suram, film noir menggunakan tema serta aspek estetik yang mendukung mood tersebut. Mood film noir terbentuk dari rasa sinis, pesimis, keraguan serta aspek sisi gelap manusia lainnya. Tema umumnya tidak lepas dari misteri dan teka-teki. Alur cerita biasanya kompleks serta membingungkan. Cerita bisa berubah arah kapan saja tanpa bisa kita tebak. Film noir umumnya tidak lepas dari tindak kriminal, seperti pembunuhan, korupsi, pemerasan, serta pula upaya penyelidikan dari pihak tertentu, seperti polisi, detektif, petugas asuransi, veteran dan lainnya. Karakter pria umumnya sinis, keras, obsesif serta delusionis seperti figur aktor Robert Mitchum, Fred MacMurray dan Humphrey Bogart. Sementara karakter wanita [diistilahkan: femme fatale] umumnya berpenampilan menarik, berambut pirang, manipulatif, bermuka dua, serta misterius seperti sosok Mary Astor, Veronica Lake, Jane Greer, Barbara Stanwyck, dan Lana Turner. Kisah umumnya berakhir non happy ending serta terkadang tidak jelas (ambigu). Film noir juga kerap kali menggunakan narasi untuk menuntun alur cerita serta sering menggunakan kilas balik.

Secara teknis film noir banyak menggunakan unsur setting, tata cahaya, serta sinematografi untuk membangun mood �suram�-nya. Setting film noir umumnya di kota besar dan paling dominan adalah malam hari. Baik setting eksterior maupun interior menggunakan tata cahaya temaram yang kontras antara gelap-terang (low-key lighting). Penggunaan efek bayangan tampak begitu dominan. Setting eksterior yang menjadi ciri khas film noir adalah gang-gang gelap, jalanan (aspal) yang licin dan basah lengkap dengan cahaya neon yang berkedip-kedip. Sementara setting interior umumnya mengambil lokasi di kamar hotel, kantor, bar, apartemen, atau gudang. Setting interior kerap kali dipenuhi asap rokok yang tebal. Unsur sinematografi diwakili oleh penggunaan teknik deep-focus (fokus yang tajam pada foreground maupun background), sudut kamera high-angle serta low-angle, serta komposisi yang tidak seimbang.

Akhir Era Film Noir serta Pengaruhnya

Film noir sangat populer terutama pada dekade 40-an di masa dan pasca Perang Dunia Kedua. Hollywood mampu merespon sinisme masyarakat Amerika pada era ini secara efektif melalui film noir. Pamor film noir mulai menurun menjelang akhir dekade 50-an. Namun beberapa film noir berkualitas berhasil diproduksi diantaranya, Angel Face (1952) arahan Otto Preminger, The Big Heat (1955) arahan Fritz Lang, serta Kiss Me Deadly (1955) arahan Robert Aldrich. Beberapa faktor menjadi penyebab popularitas film noir mulai menurun pada dekade 50-an ini, yakni munculnya televisi, era emas genre fiksi-ilmiah, akhir era sistem studio, serta semakin sejahteranya masyarakat Amerika sehingga memilih hiburan yang lebih ringan. Banyak pengamat menganggap akhir era film noir ditandai melalui salah satu karya terbaik Orson Welles, Touch of Evils (1958). Pada dekade-dekade mendatang beberapa pembuat film mencoba menghidupkan kembali jiwa film noir dan beberapa diantara mereka berhasil. Semangat film noir juga dianggap banyak kalangan sangat mempengaruhi karakteristik film independen yang mulai berkembang pada era ini.

Setelah berakhirnya era film noir, film-film yang bertendensi memakai tema serta gaya yang sama diistilahkan pengamat sebagai film post-noirs atau neo-noirs. Karakteristik film noir tampak kembali dalam The Naked Kiss (1966) arahan Sam Fuller, The Long Goodbye (1973) arahan Robert Altman, serta yang dinilai terbaik adalah Chinatown (1974) arahan Roman Polansky. Film-film neo-noirs yang menonjol pada dekade selanjutnya diantaranya, Body Heat (1981), The Blue Velvet (1986), The Grifters (1990), The Millers Crossing (1990), The Usual Suspect (1995), L.A Confidential (1997), The Man Who Wasn�t There (2001), serta Mulholland Dr. (2001), serta Black Dahlia (2007). David Lynch serta Coen Bersaudara tercatat sebagai sutradara yang kerap kali memproduksi film berjenis ini. Dalam perkembangan, karakter film noir juga tampak pada genre fiksi-ilmiah, seperti Alien (1979), Blade Runner (1982), The Terminator (1984), Johny Mnemonic (1995), Dark City (1998), hingga The Matrix (1999). Film adaptasi komik karya Frank Miller, Sin City (2005) karya Robert Rodriguez merupakan kombinasi antara neo-noirs dengan komputer grafis yang sangat unik. Film ini memakai hampir seluruh elemen tema maupun estetik film noir orisinilnya. 

Himawan Pratista

The Maltese Falcon, Pelopor Film Noir



The Maltese Falcon (1941) banyak dianggap pengamat sebagai titik lahirnya film noir. Lebih dari itu film ini juga menjadi standar bagi film detektif swasta kelak. Film ini sukses mendapatkan tiga nominasi Oscar termasuk film terbaik dan naskah terbaik. Film ini juga kerap kali dinilai sebagai salah satu film terbaik produksi Hollywood. Falcon dianggap sebagai pembuka jalan (pelopor) karena dinilai telah menggunakan seluruh elemen yang menjadi ciri film noir. Tulisan ini membahas sejauh mana karakteristik tema dan estetik film noir digunakan dalam The Maltese Falcon.

The Maltese Falcon merupakan debut karir sutradara John Huston yang diadaptasi dari novel detektif berjudul sama karya Dashiell Hammet. Film produksi Warner Brothers ini dibintangi secara menawan oleh Humprey Bogart, Mary Astor, Sidney Greenstreet, serta Peter Lorre. Kisah film ini pada awalnya tampak begitu sederhana. Seorang wanita cantik bernama Mrs. Wonderly (Astor) datang ke kantor detektif swasta, Spade & Archer. Sang wanita menuturkan masalahnya pada Sam Spade (Bogart) dan meminta pertolongan untuk mencari adiknya yang mengaku dibawa seorang bernama Flyod Thurbsy. Spade menerima kasus tersebut dan sang partner, Miles Archer menjalankan tugasnya. Pada titik inilah cerita berkembang semakin rumit. Malamnya, Archer tewas tertembak dan juga tak lama diikuti Thursby. Polisi malah menuduh Spade membunuh Thursby karena ingin membalas dendam partnernya. Spade lalu mengetahui jika kliennya ternyata berbohong tentang adiknya dan nama asli sang wanita ternyata adalah Brigid O'Shaughnessy. Belum selesai masalah, Spade bertemu dengan seseorang bernama Joel Cairo (Lorre) yang memaksanya untuk menyerahkan sebuah patung yang ia pikir ada pada Spade. Belakangan Spade mengetahui jika Brigid, Cairo, dan seorang pria misterius bernama Kasper Gutman (Greenstreet) adalah sekawanan gembong internasional yang menginginkan sebuah patung bernilai tinggi berbentuk burung Falcon.

Sesuai dengan mood kisahnya yang gelap dan misterius. Kisah film sebagian besar mengambil setting indoor dengan tata cahaya yang minim. Nyaris semua ruangan seperti, kantor serta apartemen Spade, Brigid dan Kasper hanya menggunakan cahaya lampu meja atau tembok. Setting eksterior tampak pada beberapa adegan saja dan selalu diambil pada malam hari dengan tata cahaya yang suram pula. Hampir semua adegan menggunakan arah kamera low-angle (dari arah bawah) dan beberapa adegan kerap kali menggunakan teknik deep focus. Pengunaan efek bayangan begitu mengesankan tercatat pada adegan awal serta shot penutup film.

Mood setting yang suram hanya merupakan pendukung semata sementara kunci kekuatan film ini sebenarnya ada pada akting para pemainnya. Bogart bermain brilian sebagai Sam Spade yang berwatak keras, sensitif, cerdas sekaligus sulit ditebak. Sementara Astor bermain menawan sebagai femme fatale yang licik, manipulatif serta cenderung ingin memanfaatkan Spade. Aktor gaek debutan, Greenstreet bermain dingin sebagai fat-man dan akting primanya membawanya meraih nominasi Oscar untuk aktor pembantu terbaik. Alur cerita yang sulit ditebak semakin lengkap dengan penutup yang non happy ending (?). Tak jelas apakah Spade benar-benar menyukai Brigid. Di akhir film, Spade ditanya sang inspektur perihal patung falcon (palsu) yang ada di mejanya, �It�s heavy� what is it?�. Spade menjawab, � The stuff that dream are made off�. 


Himawan Pratista

Kala, Film Noir yang Tanggung


Film karya Joko Anwar ini menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan film-film kita lainnya. Film ini memiliki karakter tema dan estetik bergaya film noir dan dibumbui dengan sedikit unsur horor. Cerita film diawali seorang detektif bernama Eros (Ario Bayu) dan seorang jurnalis bernama Janus (Fachri Albar) yang secara terpisah menyelidiki kematian lima laki-laki yang tewas mengenaskan. Dikisahkan Janus adalah seorang penderita narkolepsi (mendadak pingsan jika merasa tertekan) yang diambang perceraian dengan istrinya, Sari (Shanty). Suatu ketika dalam penyelidikannya Janus tanpa sengaja merekam pembicaraan misterius istri dari seorang lelaki yang tewas. Tidak seberapa lama wanita tersebut tewas mengenaskan di depan mata Janus. Setiap kali orang lain mengetahui pembicaraan tersebut, orang tersebut juga tewas mengenaskan dibunuh sosok misterius. Penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang wanita muda bernama Ranti (Fahrani) yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang tewas sebelumnya. Janus dan Eros lebih jauh ternyata terlibat pada pencarian sebuah harta karun terpendam yang juga melibatkan sekelompok orang-orang pemerintah.

Secara tema Kala mengusung cerita penuh misteri. Namun tidak seperti film noir lazimnya, alur ceritanya terlalu sederhana dan mudah ditebak sekalipun kesimpulan cerita disajikan pada akhir filmnya. Nuansa misteri serta intrik tidak mampu dibangun dengan rapi dan matang. Tokoh-tokohnya sejak awal cerita tidak beranjak dari orang-orang yang sama dan kemunculan tokoh-tokoh baru pun mudah untuk diduga. Informasi baru yang diharapkan mampu �membingungkan� penontonnya justru langsung terjawab begitu saja tak lama setelahnya. Misteri sekaligus kunci jawaban lebih banyak terlontar dari dialog ketimbang bahasa visual. Hal inilah yang menjadi kelemahan utama film ini. Munculnya femme fatale (Sari) juga hanya tempelan belaka tanpa intrik berkepanjangan serta motif yang jelas. Aneh, untuk apa Sari menanyakan motif lokasi tersebut jika sejak awal ia hanya menginginkan uang. Beberapa hal juga tampak belum jelas seperti bagaimana kutukan ini bermula dan darimana asalnya makhluk gaib serta data-data mengenai harta karun yang tersedia begitu lengkap di perpustakaan.

Terlepas dari kelemahan dari segi cerita, pencapaian estetik film ini patut mendapatkan pujian. Karakteristik film noir begitu kental terutama terutama dari aspek tata cahaya serta pemilihan set. Penggunaan area gelap-terang (low-key lighting) tampak sangat dominan dan kombinasi dengan set bangunan kolonial semakin menambah nuansa misteri serta mistis film ini. Amat disayangkan potensi set yang sedemikian megah tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk efek bayangan. Penggunaan asap rokok digunakan cukup baik dalam banyak adegannya walau terkadang agak berlebihan. Dari sisi sinematografi, penggunaan low-angle serta high-angle yang menjadi satu ciri film noir juga seringkali digunakan dengan pas. Sayang sekali memang, pencapaian estetik yang demikian baik tidak didukung cerita yang matang. Setidaknya Kala telah memberi warna yang berbeda pada film-film produksi kita. Satu hal lagi, Kala juga sarat dengan pertanda munculnya sosok Ratu Adil di akhir jaman. Terlalu naif rasanya jika lantas sosok sang penidur adalah orang yang �suka tidur� (narkolepsi) serta sosok Ratu Adil adalah laki-laki �wanita� (homoseksual). 

M. Pradipta

Opera Jawa Memang Beda

Boleh jadi film Opera Jawa (2006) karya Garin Nugroho kurang sukses di negeri sendiri namun justru mampu meraih penghargaan di beberapa ajang Festival Film Internasional. Salah satu prestasi yang paling sukses adalah dalam ajang Hong Kong Film Festival, Opera Jawa mendapatkan penghargaan untuk ilustrasi musik terbaik serta nominasi untuk film terbaik. Kisah Opera Jawa mengambil inspirasi dari salah satu segmen kisah Ramayana, yakni �Penculikan Sinta�. Seperti judulnya, seluruh dialog disajikan dalam bentuk �musikal� atau lebih tepatnya tembang. Filmnya berkisah tentang Siti (Artika Sari Devi), seorang penari cantik yang dipersunting pengusaha tembikar bernama Setio (Martinus Miroto). Kehidupan perkawinan mereka berjalan langgeng namun ketika situasi dagang semakin sulit, Siti mulai merasa dijauhi  suaminya. Anak pengusaha kaya, Ludiro (Eko Supriyanto) yang sejak dulu menyukai Siti mulai mencoba merayunya.

Satu hal yang menjadi nilai lebih Opera Jawa adalah perpaduan antara berbagai seni seperti, seni tari, seni pertunjukan, seni musik, seni instalasi, seni rupa, dan seni sinematografi. Film ini banyak berisi musik dan tarian tradisional maupun kontemporer. Nuansa jawa begitu kental dalam setting, ilustrasi musik, serta penggunaan bahasa Jawa dalam �dialog�nya. Falsafah Jawa sangat terasa melalui tempo filmnya yang lambat. Pada adegan ramai-ramainya (perang) justru tempo semakin melambat, digambarkan dengan alunan gamelan Jawa yang mengiringi tari Bedoyo. Seni instalasi menjadi latar abstrak yang sangat mengesankan seperti labirin kelapa, patung dan lilin merah, ratusan lilin dalam ruangan, televisi batu, bentangan kain merah, serta tenda kain pada akhir adegan. Opera Jawa penuh dengan simbol-simbol visual yang kuat namun tidak sulit untuk kita cerna, yaitu dalam adegan asmara antara Siti dan Setio di kamar tidur, pada waktu sang suami menutup wajahnya dengan kaos, Ludiro yang merayu Siti di ruang penuh �lilin� maupun di rumahnya (adegan kain merah), Ludiro yang ingin kembali ke rahim ibunya, serta adegan Setio membunuh Siti. Terakhir, para pemain juga bermain sangat baik, terutama Eko Supriyanto yang mampu menarik perhatian melalui gerak tubuhnya yang lentur.

Beberapa hal yang menjadi kelemahan film ini justru terdapat pada keunikannya. Penggunaan beberapa seni instalasi dengan karakter yang berbeda membuat film ini seperti kehilangan totalitas. Tampak tidak ada ikatan �visual� yang kuat antar adegannya sehingga membuat satu adegan dengan adegan lain seolah terpisah. Film menjadi lebih enak dinikmati dan diikuti adegan per adegan ketimbang menyeluruh. Penggunaan dialog Jawa (krama) juga menjadi masalah tersendiri. Entah mengapa pada adegan ber�dialog� menjadi sulit untuk dinikmati, karena setiap saat mata kita harus melihat teks terjemahannya. Penggunaan tembang yang temponya lambat senantiasa membuat kita menunggu teksnya. Orang yang memahami bahasa Jawa mungkin bisa menikmati film ini lebih baik. Di luar hal-hal tersebut pencapaian artistik yang dicapai Opera Jawa patutlah kita puji. Garin terbukti telah membawa nama bangsa kita di bidang seni film menuju ke level yang lebih tinggi. Sejauh ini Opera Jawa menurut penulis adalah film terbaik produksi kita dalam satu dekade terakhir. 

Himawan Pratista

Nagabonar Versus Nagabonar Jadi 2

Film drama komedi, Nagabonar Jadi 2 arahan Deddy Mizwar yang diputar beberapa waktu lalu sukses luar biasa di bioskop-bioskop tanah air. Namun tidak banyak pononton kita sekarang yang berkesempatan menonton film aslinya, Nagabonar (1986) yang konon pada masanya juga laris manis. Beruntung penulis berkesempatan menonton film ini pada sebuah acara Festival Film Internasional beberapa waktu lalu di Jogjakarta. Bahkan sang sutradara sendiri juga berkesempatan hadir pada acara tersebut.

Film Nagabonar disutradarai oleh MT. Risyaf yang menceritakan seorang pemuda bernama Nagabonar yang juga diperankan oleh Deddy Mizwar. Tidak seperti sekuelnya, film ini berlatar jauh kebelakang tepatnya pada era kemerdekaan Indonesia. Dikisahkan Nagabonar, seorang pemuda mantan tukang copet tidak berpendidikan yang memiliki sifat naif, jujur, setia kawan, patuh pada orang tua, namun juga nekat. Melihat bangsanya yang tertindas, Nagabonar lalu mengangkat dirinya menjadi seorang jendral untuk berjuang melawan Belanda. �Kalau tidak ada yang jadi jendral biar aku sajalah yang jadi jendralnya�, ungkap Nagabonar. Film menuturkan aksi-aksi kocak sang jendral yang disuguhkan dengan wajar tanpa dilebih-lebihkan. Cerita juga menyinggung kisah cinta Nagabonar dengan Kirana (Nurul Arifin), putri seorang dokter yang memihak Belanda, serta persahabatannya dengan Bujang.

Jika kita bandingkan Nagabonar dengan Nagabonar Jadi 2 terdapat beberapa kejanggalan cerita pada film sekuelnya. Pertama adalah masalah perbedaan waktu dan usia. Film Nagabonar berlatar cerita sekitar era masa kemerdekaan yakni, antara tahun 1940 -1950 dan umur sang tokoh sendiri kira-kira berusia 20 tahunan. Sementara dalam sekuelnya, film Nagabonar Jadi 2 berlatar cerita masa kini, kita sebut saja tahun produksi filmnya, yakni tahun 2007. Jika usia sang jendral dalam film aslinya kita anggap saja berusia 20 tahun pada tahun 1950, maka usia Nagabonar pada film sekuelnya adalah 77 tahun. Apa usia Nagabonar pada film sekuelnya tampak berumur sekian? Jika misalnya Nagabonar dan Kirana melahirkan putra mereka, Bonaga, 5 tahun kemudian (1955) maka umur sang putra setidaknya kini adalah 52 tahun. Apakah Bonaga tampak berumur 52 tahun?

Hal lain yang agak menggangu adalah sosok Nagabonar yang penggila sepak bola pada film sekuelnya. Dalam cerita film aslinya sama sekali tidak mengindikasikan jika sang jendral muda suka bermain bola. Zaman memang telah berubah namun sifat Nagabonar jelas tidak berubah. Hal-hal di atas memang berkesan sepele namun sineas tidak dapat mengindahkannya begitu saja. Setidaknya menjadi masukan bagi para sineas kita jika logika cerita sekuel berhubungan erat dengan film aslinya. Hal yang menarik dalam kedua cerita film ini adalah moto, � Apa kata dunia?� yang menunjukkan prinsip serta jiwa sang jendral (dan sang putra) yang keras. Kedua film tersebut sama-sama mampu menggugah rasa kebangsaan kita, mencintai bangsa serta sesama dengan sepenuh hati. Kedua film tersebut masih sangat relevan dengan kondisi bangsa kita yang masih saja terjajah baik jiwa maupun raga. Entah kapan akan muncul seseorang anak bangsa yang berani berkata dengan sepenuh hati, �Kalau tidak ada yang jadi jendral biar aku sajalah yang jadi jendralnya!� 

Antonius Rah Utomo