Minggu, 15 Februari 2009

Emak Ingin Naik Haji

Mengamati film Indonesia dewasa ini membuat saya sekali lagi berharap akan film berkualitas yang semakin meningkat tiap tahunnya. Adalah film "Emak Ingin Naik Haji" (EINH), film yang diangkat dari cerpen salah satu penulis islami Asma Nadia, yang ditangani sutradara Aditya Gumay, mampu mengolah cita rasa film Indonesia dengan apik dan khas.

Film yang bercerita tentang impian Emak menunaikan ibadah haji dengan menabung sebagian hasil berjualan kuenya. Diceritakan pula cinta dan ketulusan sang anak, Zein yang berusaha mewujudkan mimpi ibunya yang sempat membawanya pada usaha tidak terpuji ditambah ia sendiri pun mewarisi masalah atas kegagalan rumah tangganya. Keinginan naik haji Emak kontras dengan motivasi berbeda tokoh lain seperti juragan haji sekeluarga yang dengan mudahnya bolak-balik pergi ke tanah suci dan Pak Joko yang mengejar gelar Haji karena pencalonan dirinya sebagai caleg.

Film yang memiliki sentuhan islami dengan setting urban, orang kaya di tengah perkampungan miskin mampu di kemas secara apik, dengan gaya satir yang ringan. Sutradara mampu membuka sisi lain yang luput ditangkap banyak orang. Aditya Gumay yang dikenal sebagai pendiri sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda serta kita kenal lewat besutan anak didiknya di Lenong Bocah mampu membuat para pemain EINH bermain sangat natural. Inilah kelebihan sutradara yang berangkat dari teater. Ati Kanser (Emak) dan Reza Rahadian (Zein) memiliki chemistry yang baik sebagai ibu dan anak, piawai mengolah penonton larut dalam kisah perjuangan dan kisah pilu hidup mereka. Adapun konteks judul yang semula mampu menjadi spoiler isi cerita, namun Aditya justru membuat menjadi sebuah kejutan. Ketika penonton merasa Emak akan berangkat haji dengan cara yang manis dengan mendapatkan lucky draw, penonton mungkin sudah dibawa nyaman dengan adegan yang berjalan manis, namun disanalah Aditya "bermain" dengan pola yang semula sudah tertanam pada penonton lewat judulnya.

Di sisi lain terdapat minus dari sisi cerita. Film yang kontennya menggunakan plot yang mirip dengan film Babel ini (multiplot) menjadikan banyak tokoh lain akhirnya terpinggirkan. Panggung sebenarnya adalah milik Emak dan Zein. Unsur sensasi dari tokoh lain, seperti pejabat yang selingkuh dan ingin mendapat gelar haji semata justru menurunkan tempo alur cerita yang sudah terjaga ritmiknya lantaran porsinya yang cukup besar walau toh pada akhirnya ceritanya bertaut sebab-akibat dengan baik. Hanya tokoh-tokoh keluarga pak haji juragan kaya saja yang unsur ceritanya mampu bersinergi baik dengan kehidupan Emak dan Zein.

Sebenarnya film ini menempatkan waktu tayangnya pada momen yang tepat yaitu saat musim haji, namun sayangnya film ini muncul pada periode sama dengan film-film besar lainnya yang sudah banyak ditunggu pecinta film (2012 dan New Moon) hingga menutupi gaung filmnya. Jika kita bandingkan film-film islami sebelumnya seperti Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, film ini bukan hanya mampu membawa pesan moral yang baik. Namun lebih dari itu mampu mengupas esensi kehidupan yang terekam kontras dan dikemas bukan untuk menyimbolkan namun menyelusup dan mengetuk hati penonton, lewat cerita yang update dan dialog-dialognya yang mampu ditempatkan sang sineas hingga menjadi punch line yang menggugah.

Andrei Budiman

Perjaka Terakhir,

Satu Lagi Komedi Konyol


Perjaka Terakhir adalah judul yang kurang pantas untuk film garapan Arie Aziz ini. Cerita berawal dari tokoh Ramya (Aming) seorang cowok kemayu yang bertemu dengan Sigi (Fahrani), seorang gadis tomboy anggota geng Black Rose, geng rentenir kelas kakap. Cerita berkembang pada Ibu Sigi ( Nani Wijaya ) yang berniat menjodohkan anaknya dengan Ramya karena sudah tak sabar ingin menimang cucu. Karena merasa risih dengan bujukan sang ibu, Sigi pun akhirnya mau menikah dengan Ramya.

Kelucuan yang ditampilkan oleh Aming dalam tokoh Ramya cukup menghibur penonton, karena mimik wajahnya yang konyol sangat kontras dengan sikap cuek Fahrani yang sangat apik dibawakannya. Pernikahan yang tidak selayaknya membuat adegan demi adegan menjadi komedi yang menghibur. Sigi yang mendapat amanat dari Om Toro, bos besar untuk menjadi pemimpin berusaha tidak menggunakan kekerasan lagi. Mereka membuat lagu yang mencerminkan bahwa rentenir cinta kedamaian. Rupanya hal ini menjadi sebuah tantangan bagi geng Pirates karena takut kehilangan �pelanggan�. Maka geng Pirates mengajak bekerja sama dengan bos besar Black Rose.

Merasa sangat terancam karena sang ibu diculik, Sigi yang mencurigai geng Pirates segera bertatap muka dan dengan terus terang menuduh geng Pirates. Namun apa yang dilakukan geng Pirates? Mereka malah mengajak tanding bermain �bola�. Kaget karena bola diganti dengan buah durian, Sigi pun unjuk gigi kehebatannya. Sebagai film komedi, mungkin wajar saja bila banya menampilkan adegan yang tidak masuk akal seperti adegan terbang dan tendang menendang durian. Tapi ini sangat konyol terutama durian di sini jelas terlihat merupakan rekayasa digital yang kasar. Sangat tidak masuk akal dan tidak enak dipandang.

Begitu juga dengan klimaks cerita bahwa ternyata Om Toro, si Bos Besar malah membunuh ketua Geng Pirates karena memang hanya ingin memperdayainya. Ramya, Sigi, dan gengnya yang melihat kejadian itu berusaha melawan Om Toro yang juga berniat mengahabisi Sigi. Adegan-adegan aksi yang tidak seberapa, ditampilkan dengan kurang apik. Sigi dan gengnya akhirnya dipenjara selama 10 tahun. Saat bebas, Sigi kembali hidup bahagia dengan Ramya. Cerita pun selesai di atas ranjang dengan adegan mesra yang dibuat lucu.

Cerita yang dangkal, komedi yang konyol tapi berlebihan, dan adegan aksi yang tidak sedap dipandang mewarnai film ini. Film ini hanya menonjolkan karakter Ramya yang lucu dan kebanci-bancian, berlawanan dengan karakter Sigi yang tomboy dan keras. Perpaduan karakter tersebut menjadi kunci kelucuan dalam film yang alur ceritanya sederhana ini. Entah pesan apa yang hendak disampailan oleh film ini, setidaknya tersirat bahwa kekerasan tidaklah menyelesaikan masalah dengan baik. Sikap lembut dan pikiran jernih lebih dapat menyelesaikan masalah dengan baik daripada menggunakan aksi kekerasan. Perjaka Terakhir juga menyinggung isu gender dengan menonjolkan sikap Ramya sebagai suami yang lemah lembut dan tidak macho, sedangkan Sigi, istri yang cuek, tangguh dan cenderung melindungi suaminya. Tidak jelas mengapa film ini �menghalalkan� perilaku tak lazim seperti itu? Atau ini hanya sekedar sindiran saja? Setidaknya melalui Perjaka terakhir, dapat memberikan nasehat kepada penonton bahwa cara terbaik menyelesaikan masalah adalah dengan pikiran yang jernih dan sikap yang lembut bukan dengan kekerasan seperti yang sedang merajalela di negara kita saat ini.

Debby Dwi Elsha

Marahkah Anda Bila Saya Bilang �This is It� Hanya Film (Gladi Resik) Konser Semata?

Pertama, yang sudah terang: film ini, This is It (2009) dipasarkan dengan jitu. Semula Sony Pictures, pemilik Columbia, ngebet minta filmnya rilis tepat saat Sang Raja Pop ultah, 29 Agustus. Kenny Ortega, sahabat Michael Jackson yang juga pengarah panggung konsernya, menolak saat diminta menyutradarai film ini. Ya, tidak gampang mengedit rekaman 120 jam jadi film berdurasi 111 menit. Pihak Sony manut.

Namun kemudian mereka datang dengan strategi jitu lain: merilis filmnya hanya dalam tempo 2 pekan. Ini pasti membuat orang begitu ngebet menontonnya, mengiranya akan kehabisan tiket, lalu melewatkan momen bersejarah ini.

Tanpa diembel-embeli kiat pemasaran itu, orang pasti bakal berduyun-duyun menonton film ini. Ini Michael �gitu, loh! Tapi Hollywood memang selalu saja ada akalnya.
Kedua, filmnya. Bila Anda bukan fans Michael atau Anda terlalu sinis, Anda pasti akan menganggap ini sekadar film gladi resik konser semata. Untungnya saya fans Michael dan sedang tak ingin terlalu sinis. Saya tak sedang ingin membuat Anda marah. Jadi, film ini jelas bukan semata film gladi resik konser yang tak jadi. Ini mungkin film dokumenter paling jujur tentang Michael dari yang pernah ada.

Ya, sudah berkali-kali media meliput Michael, mewawancarainya di Neverland, mengulasnya sebagai pedofil, megalomania uzur, pria bangkrut yang berutang segunung, atau meledeknya �from Jacko to wacko�. Sebuah dokumenter tentangnya berjudul �Living with Michael� berhasil mendapat pengakuan dari mulutnya kalau ia biasa tidur ditemani bocah-bocah. Media memang pernah begitu kejam padanya. Sampai saat ia muncul dan berniat menggelar konser akbarnya di London, media menganggap ini semata upaya Michael mencari uang buat menuttup utangnya.

Tidak sepenuhnya salah. Utangnya memang betul menggunung (sekitar 300-500 juta dollar). Tapi ia tak hendak mengecewakan setiap fans yang membeli tiket konsernya. Ya, andai konsernya betul digelar sesuai rencana, fans yang sudah beli tiiet dipastikan tidak akan kecewa. Michael tak sekadar sedang menyiapkan diri menyanyi dan berjoged di depan fansnya. Ia tengah menyiapkan sebuah tontonan terbaik sekali seumur hidup bagi mereka. Inilah dia. This is it. There is no other.

Di sini diperlihatkan Michael menyiapkan betul konsernya sematang mungkin. Sebuah panggung disiapkan di Los Angeles, dekat dai rumahnya, agar ia bisa setiap hari datang berlatih vokal dan menari. Film-film berteknologi 3D disiapkan untuk mengiringi sejumlah lagunya. Pedansa terbaik dari seluruh dunia diaudisi dari ribuan orang untuk dapat yang terbaik menemaninya menari di panggung.

Filmnya hanya disusun dari potongan gambar Jacko berlatih nyanyi dari satu lagu ke lagu (semuannya favorit, meski �Heal the world� dan �Childhood� tidak muncul). Andai Anda melihatnya semata sebagai film konser, anda mungkin akan melihatnya sambil ikut berdendang atau bertepuk tangan usai lagunya kelar kayak di konser betulan. Tapi tontonlah dengan seksama lagi. Lihat betapa ia tetaplah dewa bagi pemujanya, begitu dihormati tapi juga tetap rendah hati (Michael tak terlihat marah-marah bila tak setuju atau ada hal yang menurutnya kurang pas), terlalu kurus untuk usia 50 tapi tetap energik. Ah, mungkin inilah Michael sesungguhnya, dan bukan yang didengung-dengungkan media selama ini.

Film ini ditutup dengan Michael, Kenny Ortega dan kru lain berpegangan tangan, berdoa agar konsernya nanti lancar. Filmnya tak memperlihatkan bagaimana Kenny, para penari, atau kru lain menanggapi kematian Michael yang mendadak. Kenny menutup filmnya seolah konsernnya memang betulan jadi. Memang tidak di London sesuai rencana, tapi di seluruh dunia dalam keremangan bioskop dengan kita, fansnya, berseru: we love you, Michael! ***

Ade Irwansyah
Editor Tabloid Bintang

Liputan Festival Film Animasi Indonesia 2009

Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) secara rutin telah diselenggarakan setiap dua tahun selama lima tahundalam satu dekade terakhir. Sebelumnya FFAI dilangsungkan berturut-turut di Jakarta dan terakhir di Jambi. Festival Film Animasi IndonesiaFFAI (FFAI) yang ke lima kali ini diselenggarakan di wilayah Magelang, Jawa Tengah, yang berpusat di desa Grabag, yaitu di sStudio tTelevisi kKomunitas Grabag TV serta aAula Kecamatan Grabag. Selain di dua tempat tersebut ada beberapa tempat yang dipilih sebagai lokasi kegiatan, seperti Desa Sorobayan (Kec. Grabag), SMK YP 17 Magelang, dan Universitas Tidar Magelang. Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut dari tanggal 27 Oktober 2009 hingga 31 oktober 2009 diselenggarakan dan didukung oleh FFTV-IKJ (Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta), ASIFA Indonesia, GRABAG TV, serta Yayasan Seni Visual Indonesia. Kegiatan festival ini sangat padat dan beragam, di antaranya pemutaran film animasi produksi lokal dan internasional yang secara rutin dilakukan selama lima hari berturut-turut di beberapa tempat tersebut di atas, workshop film animasi, sarasehan, diskusi film animasi, serta puncaknya adalah penjurian film animasi lokal.

Acara dibuka pertama kali di aula Kecamatan Grabag sekitar pukul 15.30 WIB yang oleh Dekan FFTV_IKJ, Gotot Prakosa. Pada pembukaan tersebut turut hadir beberapa tamu undangan di antaranya Camat Grabag dan peserta Workshop dari beberapa kota. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran beberapa film animasi, di antaranya film produksi lokal, Keluarga Bajuri Tanggap Flu Burung, film animasi pendek karya Maureen Selwood, serta film animasi panjang dari Prancis yang berjudul The Tale Of Despereaux. Acara pembukaan selesai sekitar pukul 18.00 WIB.

Pagi harinya bertempat di Studio TV Grabag, diadakan workshop animasi televisi. Peserta berasal dari beberapa SMK dan SMU di Jawa Tengah serta beberapa komunitas film dari Jogjakarta. Workshop tersebut dipandu oleh praktisi animasi lokal dan internasional, yakni Bernice Helena, MA., Rachmat Rizal, Kuntep Tarawa, serta Gotot Prakosa. Kegiatan ini juga dibantu oleh tim dari Institut Kesenian Jakarta. Workshop animasi yang kegiatannya sangat padat ini diadakan selama tiga hari, yakni sejak rabu, 28 Oktober 2009 hingga Jumat, 30 Oktober 2009. Inti dari workshop tersebut adalah pelatihan produksi film animasi berupa video klip animasi yang sederhana. Peserta workshop hanya dibatasi sekitar dua puluh orang saja dan diharapkan mereka kelak dapat membagi pengalamannya pada rekan-rekan mereka di daerahnya masing-masing.

Sementara itu kegiatan pemutaran film diadakan secara rutin setiap siang dan malam. Pemutaran film diselenggarakan di aula Kecamatan Grabag. Penonton yang kebanyakan anak-anak dan remaja begitu antusias menonton film-film animasi yang diputar. Film-film yang diputar antara lain adalah film-film animasi produksi lokal seperti Jungle Forever, dan beberapa film animasi luar produksi Pixar serta lainnya. Selain bertempat di Kecamatan Grabag, pemutaran film juga diadakan di Desa Sorobayan, sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk hadir dalam acara ini hingga satu ruangan terisi penuh penonton. Film-film yang diputar antara lain berjudul Velveteen Rabbit karya Robin Cook serta beberapa film animasi pendek dari Indonesia. Selain di kedua tempat tersebut pemutaran film juga diadakan didi SMK YP 17 Magelang dan Universitas Tidar Magelang.

Kegiatan di Universitas Tidar tidak kalah meriah. Jumlah penonton yang menghadiri pemutaran, penjurian dan diskusi film tidak kurang dari 150 orang. Tampak hadir juga Rektor Universitas Tidar, Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd., dan jajarannya, Ketua Dewan Kesenian Magelang, Drs. Budiono beserta anggotanya, beberapa tokoh masyarakat-budayawan Magelang. Kegiatan diawali dengan pemutaran film animasi pendek Indonesia, Rusia, Jerman, dan Korea. Acara diskusi juga berlangsung meriah. Dalam diskusi terbuka ini ada beberapa hal yang menarik disampaikan oleh peserta. Rektor Universitas Tidar, Cahyo Yusuf, menyampaikan bahwa kalangan civitas akademika Universitas Tidar menyambut gembira dengan adanya FFAI 2009 yang diselenggarakan di Magelang. Melalui festival ini menambah perbendaharaan kegiatan kreatif bagi masyarakat Magelang secara umum, dan Universitas Tidar secara khusus.

Selain kegiatan workshop dan pemutaran film, pada hari Jumat diadakan pula penjurian terhadap film animasi lokal yang sebelumnya telah masuk ke meja panitia yang berasal dari berbagai wilayah di Inodenesia. Penjurian dilakukan di dua lokasi berbeda, yakni aula Kecamatan Grabag dan Universitas Tidar Magelang yang berlangsung dengan suasana meriah. Sistem penjuriannya adalah menggunakan sistem voting dari seluruh penonton yang hadir dengan pemenangnya adalah film animasi pendek dari Magelang berjudul Balada si Budi karya Sugeng Budi Saptian.

Penutupan acara FFAI ini dilaksanakan pada hari Sabtu pukul 19.30 WIB di aula Kecamatan Grabag. Acara penutupan ini ditutup dengan pemutaran film behind the scene pembuatan film animasi sederhana dan pemutaran filmvideo klip animasi hasil karya salah satu peserta workshop yang bertema Lebaran. Pada acara ini juga diumumkan pemenang FFAI 2009 dari hasil penjurian yang dilakukan hari sebelumnya. Sebagai acara pamungkas adalah pagelaran Wayang Kulit yang berakhir pada pukul 23.00 WIB. FFAI secara resmi telah selesai dan rencananya diselenggarakan lagi tahun depan lokasi kegiatan masih belum diketahui.

Festival Film Animasi Indonesia yang kelima kali ini berlangsung sangat sederhana sekali tampak ddari pilihan lokasi yang berpusat di wilayah pepinggirandesaan yang cukup jauh dari kota besar. Namun justru antusiasme warga dan masyarakat sangat tinggi., khususnya para remaja dan anak-anak. Selain pemutaran film animasi asing, diputar pula beberapa film animasi produksi kita. Ini menunjukan bahwa film-film animasi kita mulai berkembang. Salah satu tujuan utama diadakannya Festival Film Animasi tersebutini adalah ikut mengembangkan film animasi di Indonesia serta memotivasi animator-animator muda kita untuk terus mengembangkan kreatifitas di bidang animasi. Hal penting yang menjadi substansi adalah bahwa dengan menonton karyakarya dari berbagai negara dengan beragam tema, penonton FFAI 2009 diharapkan memetik pesan yang baik untuk diolah menjadi pemikiran, sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai lokal setempat, sekaligus tidak gagap dengan nilai-nilai universal.

Agustinus Dwi Nugroho

Film, Yahudi, dan Kita

Suatu hari di akhir tahun lalu, Joel Stein, kolumnis berdarah Yahudi berang. Ia tak puas dengan hasil polling yang dikeluarkan The Anti-Defamation League (Liga Anti Pemfitnahan) November 2008. Polling itu mengatakan, sekarang hanya 22 persen orang Amerika Serikat yang percaya "industri televisi dan film dikuasai Yahudi". Angkanya turun jauh dari 50 persen di survey tahun 1964.

Ia berang karena merasa kenyataannya tak begitu. Polling itu, katanya, menandakan betapa bodohnya orang Amerika. "Yahudi sungguh menguasai Hollywood," tegasnya di koran Los Angeles Times edisi 19 Desember 2008 lalu. Ia mengambil iklan satu halaman penuh yang isinya petisi yang ditandatangani para petinggi industri hiburan di sana sebagai contoh.

Di iklan itu, beber Stein, ada nama: President News Corp. Peter Chernin (Yahudi), Chairman Paramount Pictures Brad Grey (Yahudi), Chief Executive Walt Disney Co. Robert Iger (Yahudi), Chairman Sony Pictures Michael Lynton (Yahudi Belanda), Chairman Warner Bros. Barry Meyer (Yahudi), Chief Executive CBS Corp. Leslie Moonves (terlalu Yahudi, paman buyutnya perdana menteri Israel pertama), Chairman MGM Harry Sloan (Yahudi) dan Chief Executive NBC Universal Jeff Zucker (Yahudi). Dengan atau tanpa bos Miramax Weinstein bersaudara yang juga Yahudi, jika orang-orang ini bersepakat menutup tempat kerja mereka, Hollywood dipastikan runtuh seketika. Selain petinggi studio dan stasiun TV, pekerja kreatif Hollywood juga banyak berdarah Yahudi. Dari jejeran sutradara ikonnya adalah Steven Spielberg.

Itu fakta tak terbantahkan. Makanya, selalu muncul anggapan kalau film-film bikinan Hollywood sedikit-banyak mengandung propaganda Yahudi. Film Hollywood, di negeri Muslim, seringkali dipandang curiga. Ujungnya film Hollywood yang terang-terangan berkisah soal kaum Yahudi dilarang beredar di negeri Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim.

Contoh paling terang untuk ini adalah saat Schindler�s List (1993) karya Spielberg dilarang beredar pada 1994 di negeri ini. MUI waktu itu menganjurkan film itu ditolak. Kala itu kehadiran film yang berkisah peristiwa Holocaust (pembasmian Yahudi oleh Nazi Jerman saat Perang Dunia II) ini mengundang debat publik. Timbul pro-kontra di masyarakat apa sebaiknya film itu dibolehkan beredar atau dilarang. Yang setuju beredar mengatakan filmnya berisi pesan universal meski kisahnya soal Yahudi. Yang tak setuju beranggapan ini film propaganda Yahudi semata. Pemerintah lewat Badan Sensor Film lalu mengetukkan palu menolak film itu beredar.

Melihat fenomena sekarang apa yang terjadi di tahun 1994 itu rasanya seperti terjadi sudah lama sekali. Tengok saja jadwal bioskop hari-hari ini. Ada film berkisah soal Yahudi yang diputar luas dan tanpa protes siapa pun. Film itu, Inglorious Basterds (2009), karya Quentin Tarantino, bertema sejarah bohong-bohongan saat kaum Yahudi membalas dendam kekejaman Hitler (termasuk membunuhnya). Beberapa bulan lalu juga beredar film Defiance (2008, Edward Zwick) yang berkisah tentang kaum Yahudi yang lari ke hutan menghindari kejaran Nazi. Sementara itu, meski tak beredar di bioskop, telah rilis VCD resmi film Don�t Mess with the Zohan (2008). Film komedi yang dibintangi Adam Sandler itu berkisah soal prajurit pasukan elit Israel yang membuka salon di Amerika.

Jika film-film itu bisa rilis resmi tanpa protes di sini, negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia, timbul pertanyaan: apakah kini kita semakin toleran pada Yahudi? Jawabannya tak sesederhana pertanyaannya. Indonesia banyak berubah sejak Schindler�s List ditolak beredar dulu. Indonesia sudah berganti presiden empat kali sejak 1994. Begitupun masyarakatnya. Kita�tanpa pemerintah bisa membendungnya�kini bisa menikmati tontonan berbau Yahudi dengan bebas.

Ya, sejak marak VCD /DVD bajakan dan alat pemutarnya yang dijual murah, ribuan judul film bisa dinikmati penonton Indonesia. Semuanya tanpa sensor pemerintah. Di antara judul-judul itu terselip film-film lawas yang dulu dilarang/tidak beredar di sini. Termasuk Schindler�s List-nya Spielberg. Banyak pula judul lain macam dokumenter The Last Days (1998), Jakob the Liar (1999), The Pianist (2002), hingga The Boy in the Striped Pyjamas (2008) yang semuanya berkisah soal Holocaust ataupun The Prince of Egypt (2000) film animasi tentang kisah Nabi Musa versi Yahudi.

Tidak bisa dilacak ada berapa orang Indonesia yang sudah menonton film-film soal Yahudi dari VCD/DVD bajakan. Yang pasti, sensor pemerintah tak bisa membendung kemajuan teknologi. Begitu pun sensor dari masyarakat.

Padahal, buat pemerintah dan badan sensornya (kini bernama Lembaga Sensor Film, LSF) tekanan masyarakat ini yang kerap membuat kalang kabut. Perhatikan saja, film Buruan Cium Gue (2004) ditarik dari bioskop setelah diprotes Aa Gym. Begitu juga Paku Kuntilanak yang dituding porno tempo hari. Setelah melewati meja sensor dan beredar, filmnya kemudian ditarik karena diprotes. Schindler�s List resmi dilarang lebih karena kuatnya tekanan dari masyarakat. Pemerintah tak ingin polemik berlanjut jadi protes dan demo di mana-mana.
Sekarang, saat Inglorious Basterds rilis, kita malah tengah ribut menolak Maria Ozawa alias Miyabi. Front Pembela Islam dalam demonya mengatakan Miyabi lebih berbahaya dari teroris. FPI luput memprotes Quentin Tarantino dan filmnya.

Sikap pemerintah yang tak pernah tegas (hanya jadi keras begitu ada protes) pertanda sikap hipokrit. Kita tak mau terima kenyataan kalau nilai budaya apapun dan dari manapun sudah bukan saatnya lagi disensor atau dibendung. Sebab di zaman Internet begini, perbuatan itu sia-sia belaka. Masyarakat kita sesungguhnya sudah dewasa. Walau sudah disuguhi tontonan Yahudi bertahun-tahun, tak lantas membuat kita membela Israel. Kita tetap mengecam penjajahan mereka di Palestina.

Saya juga tak menganjurkan Inglorious Basterds dilarang atau ditarik dari peredaran. Karena itu takkan efektif. Versi bajakannya sudah beredar saat filmnya belum tayang di bioskop. Membolehkan filmnya tayang di bioskop malah membuat negara untung karena dapat uang dari pajak tontonan.

Sebab, beda dengan pemerintah yang sering plin-plan, sikap para pembajak film jelas dan tegas. Mereka tak punya beban moral mensensor diri. Sepanjang ada permintaan, barang apapun dijual. Entah film soal Yahudi macam Schindler�s List atau film porno Miyabi. Tinggal kita sendiri yang memilih dan memilah. Pilihan kita dan sikap kita pada apa yang kita pilih adalah bukti kedewasaan diri. ***

Ade Irwansyah
Editor Tablid Bintang