Kamis, 16 April 2009

Identitas, �Identitas� Sinema Indonesia?


Identitas merupakan sebuah film karya sutradara Arya Kusumadewa yang sebelumnya pernah menggarap film Novel tanpa huruf "R". film ini dibintangi oleh Tio pakusadewo, Leony, Ray sahetapi, serta Titi Sjuman. Dalam ajang Festival Film Indonesia baru lalu, film ini mampu meraih piala Citra untuk film, sutradara, dan aktor terbaik.

Adam (Tio Pakusadewo) adalah seorang penjaga kamar mayat. Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita (Leony) yang kemudian diketahui ialah seorang gadis yang terpaksa menjadi pelacur karena harus membayar biaya pengobatan ayahnya. Karena simpati, Adam kemudian berniat membantu perempuan tersebut untuk mendapatkan ASKIN. Namun usahanya tersebut ternyata terbentur dengan birokrasi yang mengharuskan orang-orang yang mendapatkan ASKIN harus memiliki identitas. Hingga akhirya hanya "ketidak beruntungan" yang mereka dapatkan.

Sejak awal kita sudah sangat merasakan unsur politik yang sangat kental dalam film ini. Kritik-kritik tajam yang dikemas secara kasar dan vulgar digunakan untuk menyerang kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat merugikan rakyat miskin, seperti masalah kesehatan, hak-hak kepemilikan tanah, dan lainnya. Mungkin film ini ingin mengatakan bahwa pemerintah kita saat ini tidak bisa lagi dibenahi dengan cara halus, jadi cara kasar adalah solusi yang tepat. Namun kritik-kritik yang disajikan disini malah terkesan hanya sebagai luapan emosi semata dan tidak mendidik. Rumah sakit digambarkan sebagai tempat yang sangat tidak manusiawi. Dokter dan perawat memperlakukan para pasiennya semena-mena bak binatang. Tampak jelas sekali rumah sakit ini merupakan alegori negara kita yang tengah sakit. Film berakhir dengan kematian bagi tokoh utamanya yang menyimbolkan bahwa segala macam kebijakan yang dibuat oleh pemerintah hanya akan mendorong rakyat miskin ke jurang kematian.

Identitas yang menggunakan format digital juga tampak seperti film independen amatiran. Satu hal paling mengganjal dalam film ini adalah penggunaan teknik dubbing. Penggunaan teknik dubbing dalam film ini cenderung �mematikan� aspek-aspek teknis lain seperti sinematografi, editing, akting pemain, bahkan cerita filmnya sendiri. Sulit bagi penonton untuk larut dalam cerita filmnya karena suara dialognya terlalu artifisial. Sungguh sulit dipercaya jika aktor yang berakting dengan di-dubbing mampu meraih penghargaan aktor terbaik.

Identitas lebih jauh mungkin ingin mengatakan bahwa "kebahagiaan" di negeri ini hanya dapat dimilki oleh orang-orang yang memiliki "identitas" (orang-orang berkuasa). Namun apakah kebahagiaan hanya sebatas tentang kekuasaan? Apakah solusi bagi rakyat kecil harus pula ikut �membakar diri�? Sungguh mengherankan film ini mampu menyabet penghargaan film terbaik FFI. Apakah pesan moral yang disampaikan di film ini begitu pentingkah hingga mengabaikan pencapaian teknisnya. Film bukanlah sekedar tentang pesan moral semata namun adalah bagaimana pesan tersebut dikemas menjadi sebuah karya seni yang indah. FFI merupakan suatu ajang penghargaan film bergengsi di negeri ini yang pastinya menjadi salah satu tolak ukur para insan film di Indonesia untuk berkarya. Dilihat dari sisi manapun rasanya film ini masih jauh dari cukup untuk menjadi patokan sineas-sineas kita dalam berkarya. Penulis berharap film ini tidak lantas menjadi identitas sinema kita.

Febrian Andhika

Meraih Mimpi

Mencoba Meraih Mimpi


Meraih Mimpi merupakan film animasi musikal yang disutradarai Phil Mitchell. Film ini diadaptasi dari buku berjudul Sing to the Dawn karya Minfung Ho. Naskah filmnya sendiri ditulis ulang oleh Nia Dinata. Film ini dibintangi (pengisi suara) oleh Gita Gutawa, Patton, Surya Saputra, Indra Bekti, Cut Mini, Shanty, Ria Irawan, dan lainnya. Film berdurasi 93 menit ini merupakan jenis animasi tiga dimensi, terobosan bagi film Indonesia, khususnya film animasi.

Film ini berkisah tentang petualangan seorang gadis bernama Dana (Gita Gutawa) dan adiknya, Rai (Patton). Warga desa tempat Dana tinggal menghadapi masalah yakni rumah-rumah mereka akan digusur paksa karena akan dibangun kawasan perjudian. Keluarga Dana dan warga menerima teror dari anak buah tuan Pairot (Surya Saputra), tuan tanah yang mengklaim tanah desa tersebut miliknya. Namun suatu ketika Dana mendapat info dari seorang kakek bahwa surat wasiat tersebut palsu dan yang asli ternyata ada di sebuah tempat rahasia. Atas petunjuk dari sang kakek, Dana bersama Rai berusaha untuk mencari surat wasiat itu untuk menyelamatkan desanya.

Sebagai film musikal anak-anak, Meraih Mimpi tergolong cukup lumayan. Musik dan lagu yang menjadi penekanan filmnya mampu disajikan dengan apik dalam beberapa adegannya dalam momen yang pas. Beberapa nomor lagu pun dibawakan dengan manis oleh para tokohnya secara bergantian, tentu yang paling dominan adalah Dana (Gita Gutawa). Sayangnya, sekuen musikalnya tidak imbang antara paruh pertama dan kedua. Adapun satu nomor yang menonjol adalah yang dibawakan tuan Pairot yang berniat membangun areal perjudian yang mampu disajikan begitu atraktif dan menarik, tidak kalah dengan film-film animasi musikal luar. Satu kelemahan adalah gerak bibir dengan vocal atau kata-kata yang diucapkan seringkali tidak pas. Gerak bibir terlihat hanya sekedar membuka dan menutup mulut saja.
..
Seperti film kita kebanyakan aspek cerita kembali menjadi kelemahan filmnya. Dari sisi cerita sejak awal filmnya sudah tampak tidak fokus. Masalah sengketa tanah yang menjadi inti masalah cerita seolah justru bukan menjadi masalah besar di awal cerita. Masalah kawin paksa justru lebih ditonjolkan sekedar untuk mengulur cerita. Logika cerita juga seperti biasa juga banyak memiliki kelemahan. Berbagai masalah muncul dan solusi langsung datang begitu saja. Masalah surat wasiat palsu (atau asli), bagaimana warga bisa tahu surat itu asli atau palsu. Apa lantas cuma gara-gara omongan si kakek hal tersebut bisa dipercaya? Lalu juga si preman tangan kanan Pairot yang dominan di paruh awal cerita, sama sekali tidak tampak di sekuen klimaks.

Meraih Mimpi yang menjadi judul filmnya bisa pula dipertanyakan. Mimpi siapa? Dana? Ayahnya? Pairot? Atau semuanya? Beasiswa yang menjadi impian utama Dana justu sedikit kabur oleh masalah sengketa tanah. Belum lagi tokoh-tokoh hewan yang maunya menjadi variasi cenderung malah menganggu cerita keseluruhan. Penggunaan aksen (hewan) yang beragam dan tidak pas dengan karakternya justru malah membuat dialog sulit untuk dimengerti. Terlepas dari berbagai kelemahannya usaha Meraih Mimpi untuk melakukan terobosan bagi perkembangan film animasi di negeri ini patut kita acungi jempol.

Agustinus Dwi Nugroho

Festival Film Dokumenter 2009

Festival Film Dokumenter yang kedelapan kali ini diadakan di Taman Budaya Yogyakarta, Benteng Vredeburg, dan Rumah Budaya Tembi, mengangkat tema politik bekerja sama dengan sinema politika FFD diadakan setiap tahun bertujuan untuk memingkatkan perkembangan film dokumenter, supaya lebih bervariasi hingga nantinya dapat setara dengan film-film mainstream yang merajai dunia perfilman Box Office. 

FFD 2009 hadir dengan berbagai sajian program pemutaran yang terbagi dalam pemutaran film kompetisi, non-kompetisi, perspektif dan spectrum, program masterclass, diskusi, dan temu komunitas. Program Spektrum masih menyediakan galeri karya-karya dokumenter dunia dengan keragaman bentuk, pendekatan, dan tema. Kali ini, untuk ketiga kalinya FFD mengadakan program masterclass. Acara ini sengaja dirancang sebagai labolatorium kreatif dan ruang refleksi perkembangan film dokumenter Indonesia teraktual. Acara ini diselenggarakan pada tang gal 4 sampai dengan 9 Desember 2009 di Rumah Budaya Tembi dan Taman Budaya Yogyakarta dengan pemateri Mariana Yarovskaya, seorang film maker yang bekerja sebagai produser dan senior editor di Discovery channel, National Geographic, History Channel, Head Of Research dari film pemenang An Inconvinient Truth. dan Petr Lom. Beliau adalah seorang sutradara dan poduser film dokumenter independent yang belajar secara otodidak, bergelar PH.D. Filsafat politik dari Harvard University.

Ada 71 judul film yang ikut dalam program kompetisi yang terdiri atas 16 film kategori pelajar, 47 film kategori dokumenter pendek dan 8 film kategori dokumenter panjang. Para peserta berasal dari beberapa daerah seperti Jakarta, Purbalingga, Balikpapan, Malang, Solo, Surabaya, Yogyakarta dan lainnya. Sebelumnya film-film para peserta tersebut melewati beberapa tahap seleksi seperti administrasi, penjurian madya, dan penjurian final serta penjurian komunal pelajar SMU. Program Kompetisi merupakan program yang dirancang untuk memberi apresiasi dan penghargaan bagi karya-karya terbaik. Program ini diharapkan menjadi barometer dalam penyelenggaraan festival sejenis dengan menghadirkan sejumlah juri yang berasal dari berbagai latar belakang dan keahlian, yaitu para professional, akademisi, dan praktisi dunia perfilman dokumenter, baik dalam maupun luar negeri. Juri Final Kategori Pelajar adalah Zam-zam Fauzanafi, Ifa Isfansyah, Lulu Ratna. Juri Final Kategori Pendek adalah Tonny Trimarsanto, Marianna Yarovskaya, Novi Kurnia. Sedangkan, untuk Juri Final Kategori Panjang adalah G. Budi Sunabar, Seno Gumira Ajidarma, dan Eric Sasono.

Program School Doc, memasuki tahun keempat, diadakan pada tanggal 24 November 2009 di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta, kemudian dilanjutkan pada tanggal 26 November di SMA Kolase De Britto. Acara ini bertujuan untuk lebih mengenalkan dan mengapresiasi film dokumnenter di kalangan pelajar dan memberikan wacana �media literacy�.

FFD juga menyediakan program-program pendukung acara yaitu, Pameran foto Cerita �Nyala Kendeng Untuk Bumi Manusia� oleh Komunitas Omah Gendeng (omah kendeng? Atau omah gendeng?) pada tanggal 6 sampai 9 Desember 2009 di Kompleks Taman Budaya Yogyakarta. Kemudian juga diselenggarakan diskusi yang bertema Documentary as a ( Political ) Media, yang membahas tentang bentuk visual video dan dokumenter sebagai media (media apa niihh??). Diskusi ini menghadirkan pembicara seorang pelaku video advokasi berbasis komunitas, Video for Democracy Competition dan seorang pengamat media. Acara ini diadakan pada 9 Desember 2009 dengan pembicara Aren Zwartjes, Assistant Cultural Attache, Sobirin, dan Komunitas Omah Kendeng Pengamat Media.

Progam Co Production : How To. Adalah workshop singkat bagaimana komunitas pendokumenter Indonesia mencari dana untuk film-filmnya dari kantong sendiri dan national donor ( baca : NGO ). Acara ini diisi oleh pembicara Marianna Yarovskaya, pada 11 Desember 2009 di Gedung F Benteng Vredeburg. Program Philiphine Documentary Today, tahun ini program SEA DOC, program khusus untuk dokumenter di Asia Tenggara fokus kepada Filipina. Perbincangan seru terjadi melibatkan beberapa sutradara muda documenter dari Filipina akan hadir dan berbincang dengan sutradara documenter kita. Pada 7 Desember 2009 di Societet TBY.

Program Launching Depot Video : �Video Komunitas Keliling�. Depot ini bertujuan untuk memperluas akses video komunitas agar publik dapat mengetahui realitas lain diluar apa yang disodorkan oleh media mainstream selama ini. Progam ini terselenggara atas kerjasama FFD dan Kampung Halaman dengan didukung oleh The Ford Foundation, pada tang gal 7 Desember 2009 di Lobby Gedung Societet Militaire TBY, kemudian dilanjutkan dengan Program Temu Komunitas pada tanggal 8 Desember 2009 di Rumah Budaya Tembi.

FFD 2009 juga bekerjasama dengan Rumah Budaya Tembi, Jan Vrijman Fund, dan lain-lain. Dana yang didapatkan berasal dari sponsor dan pihak-pihak yang bekerjasama. Menurut Kurnia Yudha, yang berperan sebagai festival coordinator, sekitar 5 bulan sebelum acara kesempatan bagi publik untuk mengikuti festival telah diumumkan. Acara ini juga membuka kesempatan untuk para volunteer. Beberapa film jempolan yang mengundang decak kagum adalah The Bicycle : Fighting AIDS with Community Medicine, Good Morning Kandahar, A Dream of Kabul, Holy Warriors, Indonesia Bukan Negara Islam dan masih banyak lagi.

Pengumuman award berlangsung pada 12 Desember 2009 dan diakhiri dengan acara penutupan yang meriah di Benteng Vredeburg.

Para pemenang FFD 2009 adalah :

Film Terbaik Kategori Pelajar adalah Indonesia Bukan Negara Islam, Karya Jason Iskandar.
Film Dokumenter Terbaik Kategori Pendek adalah Gorila dari Gang Buntu, Karya Bambang Rahkmanto dan Ryo Hadindra Permana.
� Film Terbaik Panjang adalah Pertaruhan, Karya Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, Ani Ema S, Iwan Setiawan dan M. Iksan
� Film Dokumenter Favorit Pilihan Juri Komunal adalah Ngundal Piwulang Wandu ( Dalang Waria ) Karya: Kuncoro Indra Kurniawan, Kukuh Yudha Karnanta

Debby Dwi Elsha

Feminisme ala James Cameron

Menonton Avatar, tak heran bila perhatian utama kita tertuju pada �pameran� teknologi yang disuguhkan sutradaranya, James Cameron. Kita dibuat kagum atas khayalannya tentang sebuah planet (tepatnya bulan) Pandora yang berisi makhluk biru setinggi 10 kaki berekor, gunung melayang, binatang-binatang aneh yang mirip kuda, serigala, burung phoenix, dan entah apa lagi. Saat menontonnya di bioskop 3D, kita makin tambah kagum lantaran betapa nyatanya daya khayal Cameron terwujud di depan mata. Ia telah menggunakan setiap sen bujet maha besarnya (sampai AS $ 300 juta) dengan bijak.

Usai mengagumi imajinasi sang sineas, kita lantas memaknai kisahnya dalam kehidupan umat manusia di dunia nyata. Film ini punya pesan supaya manusia di bumi lebih mencintai lingkungan, menghargai komunitas lokal dan suku terasing, serta jangan menghancurkan alam demi kepentingan korporasi. Manusia, seperti kita lihat dalam District 9, menjadi antagonis di sini karena keserakahannya. Film ini jadi otokritik Cameron pada pemerintah di negaranya yang melakukan pre-emtive attack (menyerang lebih dulu) sebuah negeri. Penggambaran keruntuhan pohon besar tempat para Na�vi, penduduk Pandora tinggal, mengingatkan kita pada runtuhnya menara kembar WTC tahun 2001 silam. Ada kengerian, kesedihan, keputusasaan, dan kebingungan di wajah-wajah para Na�vi.

Kekaguman pada efek khusus dan pesan besar dalam narasi Cameron membuat kita sedikit melupakan aspek lain yang selalu muncul di setiap film-filmnya, termasuk Avatar, yakni: perempuan. Ya, perempuan selalu mendapat tempat tersendiri di film-film Cameron. Seperti dicatat Rebecca Keagan, di situs Vanity Fair, di film Avatar kita melihat sosok-sosok perempuan hebat. Salah satu tokoh utamanya, Neytiri (Zoe Salanda) digambarkan cerdas, gesit, piawai memanah, dan menguasai bahasa manusia. Ia adalah Pocahontas dari makhluk Na�vi. Ada pula Grace Augustine yang diperankan Sigourney Weaver, ilmuwan idealis yang memimpin program avatar, menempatkan manusia ke dalam tubuh makhluk Na�vi untuk bisa berkomunikasi dan hidup dengan mereka. Di film ini, ia adalah sisi manusiawi dari korporasi yang tujuannya mencari untung semata. Sikap keras kepala dan kecintaannya pada Na�vi melemahkan sekaligus membahayakan kepentingan korporasi dan militer. Selain itu, di antara para tentara yang terdiri dari laki-laki kekar yang berjejalan mengendarai robot atau helikopter, ada Trudy (Michele Rodriguez), perempuan perkasa pengendara helikopter yang tak kalah kuat dari para laki-laki saat menenteng senjata. Kemudian ada ibunda Neytiri, Mo�at, dukun para Na�vi. Pada siapa ia menyembah? Di Pandora, bahkan dewa memiliki kata ganti �she� dan dinamai Eywa.

Karakter para perempuan perkasa dalam film Avatar adalah tradisi Cameron yang terus berlanjut sejak film-filmnya terdahulu, Terminator (1984) hinga saat ini. Sosok Sarah Connor (Linda Hamilton) di film Terminator pertama secara kasat mata terlihat selalu meminta perlindungan pada kaum laki-laki, namun di film ini Cameron memberi alasan Sarah pantas dilindungi karena dari rahimnya kelak lahir penyelamat manusia di masa depan. Plot yang ia pinjam dari kisah mesiah (penyelamat) di agama-agama besar ini menempatkan Sarah bak ibu suci yang harus dilindungi.

Film berikutnya, Aliens (1986) adalah tafsir ulang Cameron pada film yang sebelumnya dibuat Ridley Scott pada 1979 (Alien). Di film sekuel ini, Cameron tak hanya menampilkan alien lebih banyak sesuai judulnya, tapi juga membawa kisahnya pada pencapaian lebih jauh daripada yang dilakukan Scott. Film pertama yang dibuat Scott dianggap sebagai film horor bersetting ruang angkasa. Dengan demikian sosok Ripley (diperankan Sigourney Weaver) tak lebih sebagai orang yang kebetulan selamat dari kebuasan alien. Namun, tafsir Cameron di film keduanya membawa karakter Ripley lebih jauh. Ripley tak hanya kebetulan selamat, ia selamat karena ia perempuan perkasa yang bisa mengalahkan alien. Pertarungan Ripley, mengendarai robot, melawan alien di klimaks film kedua adalah bukti nyata untuk itu.

Yang membuat Cameron istimewa, adalah hal yang dilakukannya itu�menempatkan perempuan sebagai jagoan atau tokoh maha penting�bukanlah hal yang lazim dilakukan oleh sineas di ranah film arus-utama pada 1980-an. Pada tahun-tahun itu perempuan lebih sering digambarkan sebagai pelengkap penderita, penghibur sang pria jagoan, atau makhluk lemah yang harus dilindungi.

Cameron membuktikan bahwa dia tak sekadar bereksperimen menciptakan karakter perempuan jagoan. Film-film Cameron berikutnya juga menempatkan perempuan pada posisi penting. Di The Abyss (1986), dongeng tentang alien yang hidup di bawah laut, menampilkan sosok perempuan di antara ilmuwan laki-laki. Dalam True Lies (1994) ia lagi-lagi membuat karakter perempuan (Helen Tasker diperankan Jamie Lee Curtis) yang tak kalah hebatnya dengan laki-laki, berjumpalitan bak james Bond, dan menjadi model bagi Angelina Jolie untuk film Mr. & Mrs. Smith. Sedangkan dalam Terminator 2: Judgment Day (1991) Cameron menampilkan lagi Sarah Connor bukan sebagai sosok yang selalu harus dilindungi kaum laki-laki, tapi juga mampu mengangkat senjata dan ikut berperang. Sarah kabur dari rumah sakit jiwa dengan melukai penjaga demi menyelamatkan anaknya dan umat manusia. Ini sebuah metafora Cameron tentang peran ibu sebagai orangtua tunggal yang harus membesarkan anak sendirian.

Bahkan lewat film Titanic (1994) yang sejatinya adalah kisah cinta si kaya dengan si miskin di kapal yang akan tenggelam, Cameron memberi aura �keperkasaan� pada sosok Rose yang diperankan Kate Winslet. Rose digambarkan sebagai perempuan pemberontak untuk ukuran zamannya. Para pengkritik Cameron yang mengerti sejarah mengatakan perempuan pada saat itu (awal abad ke-20) belum jamak menghisap rokok selayaknya laki-laki�bahkan bila hal itu dianggap sebagai perlawanan kaum perempuan.Bisa jadi Cameron dalam hal ini sengaja tak otentik. Ia ingin sosok Rose jadi pemberontak atas kemapanan dan kemunafikan di era akhir zaman Victoria.

Lantas, dengan sederetan karakter perempuan perkasa tersebut, apakah film-film Cameron dapat disebut sebagai film perempuan dan menganjurkan feminisme?

Well, tak sesederhana itu. Film perempuan adalah, seperti dikatakan Nia DiNata pada Femina, film yang tokoh utama protagonisnya adalah perempuan, bercerita tentang masalah perempuan, dan tidak mengeksploitasi seksualitas atau keindahan perempuan secara terpaksa. Film-film Cameron bukanlah film perempuan meski ia selalu menempatkan tokoh perempuan sebagai protagonis. Tema film-filmnya tak pernah berkisar tentang masalah perempuan. Perempuan hanya ia tempatkan dengan terhormat dalam sebuah narasi besar yang lain (perang melawan mesin, kebuasan alien, berkomunikasi dengan makhluk asing bawah laut, atau menangkap teroris). Titanic juga bukan film perempuan meski pasar utamanya perempuan (terutama yang kesengsem pada ketampanan Leonardo DiCaprio). Titanic hanya film romantis tentang keabadian cinta. Lain tidak.

Film-film Cameron juga bukan film feminis. Feminisme mempunyai bermacam-macam arti. Tapi intinya, seperti kata Gibson J. Williams (1991), feminisme mengarahkan fokusnya pada penindasan laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki dalam hal ini tak selamanya individu, tapi juga tradisi, atau lebih luas lagi, kebudayaan yang telah begitu lama didominasi (dan menguntungkan) laki-laki. Narasi besar film-film Cameron tak hendak menggugat itu. Para perempuan perkasa di film-filmnya kelihatan sudah perkasa dari sananya. Mungkin, dalam fantasi Cameron di masa depan, persoalan gender sudah tamat. Pada akhirnya di masa depan perempuan dan laki-laki hidup setara. Perempuan bisa sama atau lebih perkasa dari laki-laki. Makanya, di Avatar yang bersetting tentang masa depan, kehadiran perempuan sebagai pilot helikopter tak lagi dipandang dengan takjub atau heran, karena itu sudah keniscayaan di masa depan nanti.

Cameron, sebagaimana dikatakannya pada Rebecca Keegan, hanya ingin membuat sesuatu yang lain dari yang kebanyakan orang buat. Ia seakan membalikkan sebuah mitos bahwa film yang menampilkan perempuan jagoan akan diemohi penonton laki-laki, sedang penonton perempuan tak suka film yang lebih banyak memamerkan teknologi dan aksi. Bukti bahwa film-filmnya laris manis ditonton jutaan orang pertanda penontonnya datang dari dua jenis kelamin berbeda, laki-laki dan perempuan.

Ade Irwansyah
Editor Tabloid Bintang
*menulis buku Seandainya Saya Kritikus Film: Pengantar Menulis Kritik Film (Homerian Pustaka, Desember 2009) dan blog http://adeirwansyah.multiply.com/)

The Left Bank Cinema

Dalam sejarah sinema Perancis, kita tak boleh melupakan bagaimana Gerakan New Wave melakukan �pemberontakan estetis� terhadap tradisi Cinema Du Papa yang menjadi mainstream di era sebelumnya. Para auteurs New Wave yang berangkat dari jurnal Cahiers Du Cinema ini kemudian menjadi salah satu gerakan sinema terbesar sepanjang Sejarah. Namun, euforia gerakan New Wave ini terkadang menutupi gerakan lain yang tak kalah pentingnya: Left Bank Cinema. Oleh para kritikus, Left Bank Cinema terkadang dicampur adukkan dengan New Wave dikarenakan keduanya memiliki concern yang, sedikit banyak, politis. Namun sebenarnya keduanya tidaklah sama, Left Bank Cinema adalah entitas yang sama sekali terpisah dari Gerakan New Wave. James Monaco, seorang teoritisi film menyebutkan bahwa setidaknya ada empat orang Sineas core dari Left Bank Cinema ini: Agnes Varda, Alain Resnais, Jacques Demy dan Chris Marker. Beberapa sineas lain juga sering diasosiasikan dengan Left Bank Cinema antara lain Georges Franju, Henri Colpi, dan William Klein.

Apa sebenarnya yang membedakan Left Bank Cinema dengan New Wave?. Richard Neupert mengklaim bahwa para Auteurs Left Bank memiliki kecenderungan untuk terlibat lebih jauh (bahkan terkadang beresiko) dalam eksperimentasi estetis, mereka lebih senang dengan genre dokumenter (atau menggunakan imaji dokumenter dalam genre fiksi), ini mungkin dikarenakan bentuk dokumenter cenderung memiliki kesan yang lebih valid mengingat isu yang kerap mereka angkat adalah isu-isu sosial dan politik yang sarat kontradiksi. Sementara teoritisi film lain, Claire Clouzot, berpendapat bahwa Left Bank Cinema sebenarnya terinspirasi oleh eklektisisme estetika, mereka tidak pernah berpegang pada satu paradigma estetika tertentu melainkan menggabungkan atau bahkan mengubah suatu paradigma secara radikal, hal ini tidak menjadi masalah besar sebab fokus mereka sebenarnya tidaklah terletak pada cinephilic fanaticism, melainkan pada fluktuasi proses mental dimana penggalian isu-isu sosial- politis bisa disampaikan secara komprehensif kepada audiens.

Orang takkan melewatkan Breathless (Jean-Luc Godard, 1959) atu The 400 Blows (Francois Truffaut, 1959) ketika berbicara tentang New Wave. Sejalan dengan itu, Left Bank Cinema-pun memiliki karya-karya yang sampai sekarang kadang masih menjadi ikon yang dikultuskan. Hiroshima Mon Amour (1959) dan Last Year at Marienbad (1962), keduanya karya Alain Resnais dan dianggap menjadi karya-karya Left Bank yang terkemuka. Agnes Varda mengembangkan konsep cin�criture yang ia derivasikan dari konsepsi Alexandre Astruc tentang camera-stylo. Cin�criture adalah konsep dimana seorang sutradara berperan seperti penulis. Dialah yang mengarahkan, menulis, mengedit, sampai pada memilih lokasi. Eksperimentasi ini selangkah lebih jauh dari konsep auteur yang dipopulerkan gerakan New Wave. Karya Varda yang signifikan antara lain Cleo from 5 to 7 (1961), L�Op�ra mouffe (1958) dan Du c�t� de la c�te (1958). Sementara Chris Marker, sutradara yang paling produktif diantara ketiga sineas core tersebut memproduksi hampir semua karyanya dalam bentuk dokumenter, seperti Letter from Siberia, A Grin Without a Cat, dan Sans Soleil. Satu-satunya karya non-dokumenternya adalah La Jetee (1962), film berdurasi setengah jam dengan narasi dystopian yang dirangkai oleh shot-shot nakal dan editing yang radikal.

Bagi generasi sekarang, terkadang tak mudah untuk mendapatkan film-film Left Bank dalam bentuk DVD, sebab para filmmaker ini kerap membuat film-film mereka dalam format seadanya dan tidak di-convert dalam format DVD. Namun terlepas dari ke-tak-tersediaan teknis tersebut, Left Bank Cinema sangat tak patut untuk kita lupakan dari uraian panjang benang sejarah sinema Perancis, dan oleh karena itu, Dunia.

Makbul Mubarak
Mahasiswa FISIPOL UMY