Senin, 15 Juni 2009

Catatan 82nd Academy Awards 2010


Tidak seperti biasanya, acara tahunan 82nd Academy Awards yang berlangsung tanggal 7 Maret lalu di Kodak Theatre, Hollywood, Los Angeles, California, menggunakan dua pembawa acara sekaligus, yakni Steve Martin dan Alec Baldwin. Acara yang disiarkan langsung oleh stasiun ABC ini berdurasi sekitar setengah jam dan ditonton lebih dari 40 juta orang di seluruh dunia.

Beberapa hal baru juga mewarnai perhelatan Academy Awards kali ini. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1943, nominasi untuk kategori Best Picture yang sebelumnya hanya terdiri dari lima nominasi, kali ini bertambah menjadi sepuluh nominasi. Avatar dan Up adalah film berformat tiga dimensi pertama yang dinominasikan sebagai film terbaik. Untuk pertama kalinya pula dua film fiksi ilmiah, Avatar dan District 9 mampu masuk nominasi sebagai film terbaik. Up adalah film animasi CGI pertama yang meraih dua nominasi, yakni untuk film animasi terbaik dan film terbaik. Film drama Precious: Based on the Novel �Push� by Sapphire merupakan film yang diarahkan oleh sineas kulit hitam pertama yang mampu meraih nominasi film terbaik. Untuk pertama kalinya pula, pada saat diumumkan lima nominasi film terbaik di antara sepuluh nominasi, adalah film-film yang sukses komersil meraih penghasilan kotor di atas $100 juta.

Persaingan Academy Awards kali ini dimotori oleh dua film, yakni Avatar dan The Hurt Locker. Dua film ini yang bersaing keras dalam tiap ajang bergengsi tahun ini, masing-masing meraih sembilan nominasi Oscar. Film perang unik arahan Quentin Tarantino, Inglourious Basterds meraih delapan nominasi. Dua film drama, Precious: Based on the Novel �Push� by Sapphire dan Up in the Air masing-masing meraih enam nominasi. Film animasi produksi Pixar, Up meraih nominasi lima Oscar. Sementara dua film fiksi ilmiah, District 9 dan Star Trek, serta film musikal, Nine masing-masing meraih empat nominasi.

Hasilnya setelah pengumuman, film perang garapan Kathryn Bigelow, The Hurt Locker merajai Academy Awards kali ini. The Hurt Locker total meraih enam nominasi Oscar, yakni untuk film terbaik, sutradara terbaik, skenario asli terbaik, editing suara terbaik, dan sound mixing suara terbaik. Bigelow tercatat sebagai sineas wanita pertama yang mampu meraih Oscar untuk sutradara terbaik. Avatar hanya meraih tiga Oscar untuk sinematografi, tata artistik, dan efek visual terbaik. Sementara Up, Crazy Heart, dan Precious: Based on the Novel �Push� by Sapphire masing-masing meraih dua Oscar.

Selain penghargaan utama, beberapa penghargaan khusus juga diberikan dalam acara ini. Honorary Academy Awards diberikan untuk aktris Lauren Bacall, lalu sineas Roger Corman, dan Gordon Willis. Penghargaan Irving G. Thalberg Memorial diberikan untuk John Calley. Selain itu Academy Awards kali ini juga memberikan tribute khusus kepada mendiang sineas John Hughes serta beberapa insan perfilman telah meninggalkan kita tahun lalu. Secara keseluruhan acara perhelatan tahun ini terbilang sukses dan kita menunggu acara yang sama tahun depan dengan film-film yang lebih berkualitas tentunya.

FILM TERBAIK
The Hurt Locker

SUTRADARA TERBAIK
Kathryn Bigelow (The Hurt Locker)

AKTOR TERBAIK
Jeff Bridges (Crazy Heart)

AKTRIS TERBAIK
Sandra Bullock (The Blind Side)

AKTOR PENDUKUNG TERBAIK
Christoph Waltz (Inglourious Basterds)

AKTOR PENDUKUNG TERBAIK
Mo'Nique (Precious: Based on the Novel Push by Sapphire)

NASKAH ASLI TERBAIK
The Hurt Locker: Mark Boal

NASKAH ADAPTASI TERBAIK
Precious: Based on the Novel Push by Sapphire": Geoffrey Fletcher

ANIMASI TERBAIK
Up: Pete Docter

FILM BERBAHASA ASING TERBAIK
El secreto de sus ojos (Argentina)

SINEMATOGRAFI TERBAIK
Avatar: Mauro Fiore

PENYUNTING TERBAIK
The Hurt Locker: Bob Murawski, Chris Innis

PENATA ARTISTIK TERBAIK
Avatar: Rick Carter, Robert Stromberg, Kim Sinclair

PENATA KOSTUM TERBAIK
The Young Victoria: Sandy Powell

PENATA RIAS TERBAIK
Star Trek: Barney Burman, Mindy Hall, Joel Harlow

ARANSEMEN MUSIK TERBAIK
Up: Michael Giacchino

LAGU TERBAIK
The Weary Kind (Crazy Heart, T-Bone Burnett, Ryan Bingham)

PENATA SUARA TERBAIK
The Hurt Locker: Paul N.J. Ottosson, Ray Beckett

PENYUNTING SUARA TERBAIK
The Hurt Locker: Paul N.J. Ottosson

EFEK VISUAL TERBAIK
Avatar: Joe Letteri, Stephen Rosenbaum, Richard Baneham, Andy Jones

FILM DOKUMENTER TERBAIK
The Cove: Louie Psihoyos and Fisher Stevens

FILM DOKUMENTER PENDEK TERBAIK
Music by Prudence: Roger Ross Williams, Elinor Burkett

FILM PENDEK TERBAIK
The New Tenants: Joachim Back, Tivi Magnusson

FILM ANIMASI PENDEK TERBAIK
Logorama: Nicolas Schmerkin


Debby Dwi Elsha

The Hurt Locker, Antara Fiktif dan Realistik

The Hurt Locker merupakan film perang garapan sineas wanita, Kathryn Bigelow. Film ini ditasbihkan sebagai film terbaik dalam ajang Academy Awards baru lalu serta puluhan penghargaan lainnya di berbagai ajang festival film di dunia. Film independen berbujet $15 juta ini dibintangi oleh aktor-aktor belum ternama, yakni Jeremy Renner, Anthony Mackie, dan Brian Geraghty. Beberapa nama besar mendapat peran kecil dalam film ini yakni, Guy Pearce, David Morse, dan Ralph Fiennes.

Cerita filmnya berlatar pasca Amerika menginvasi Irak di tahun 2004. Alkisah Sersan William James (Renner) mendapat perintah menjadi kepala tim gegana (EOD: Explosive Ordnance Disposal) menggantikan Sersan Thompson (Pearce) yang tewas dalam sebuah insiden. James mendapat dua asisten lapangan mantan bawahan Thompson yakni, Sersan J.T. Sanborn (Mackie) serta seorang specialis Owen Eldridge (Geraghty). Selang beberapa waktu beberapa kasus mereka tangani, Sanborn dan Eldridge merasa terganggu dengan cara kerja James yang mereka nilai terlalu sembrono. Keberanian James memang bisa diacungi jempol namun ia tidak pernah mengindahkan prosedur standar operasional yang ada.

Salah satu nilai lebih film ini adalah naskah yang orisinil tentang aksi para penjinak bom di Perang Irak. Naskahnya sendiri ditulis oleh Mark Boal, seorang jurnalis yang pernah terjun langsung bersama tim gegana di Irak. Plotnya berubah arah setiap waktu tanpa tujuan yang jelas seperti dinamika perang yang selalu berubah-ubah. Keseharian para penjinak bom juga mampu disajikan begitu nyata dan natural. Namun film fiksi hanyalah film fiksi belaka. Seperti film Amerika lazimnya, jagoan tetap saja jagoan. Sifat James yang tak takut mati dan tidak mengindahkan prosedur jelas tak masuk akal dari sisi realistik. Unsur realistiknya memang masih bisa kita perdebatkan namun sebagai tontonan, film ini sangat menghibur utamanya karena sajian aksi dengan ketegangan yang tinggi.

Unsur realisme pun juga didukung aspek teknisnya. Penggunaan teknik handheld camera serta editing yang kasar menjadikan film ini layaknya sebuah tayangan langsung di televisi. Dua teknik ini juga semakin menambah unsur ketegangan dalam setiap sekuen aksinya. Satu yang menjadi kekuatan film ini adalah permainan menawan dari Jeremy Renner. Renner yang awalnya seolah kita pandang sebelah mata lambat laun mampu menarik simpati penonton. Renner bermain brilyan di satu sisi sebagai sosok prajurit tak takut mati di sisi lain ia ternyata hanyalah manusia biasa yang masih memiliki nurani. Beberapa aktor ternama yang muncul sekilas dan tak terduga juga mampu memberi kejutan, terutama Ralph Fiennes yang tampil apik sebagai pimpinan serdadu swasta.

The Hurt Locker semata-mata hanyalah film perang dengan kemasan ala dokumenter seperti banyak film-film perang buatan Hollywood lainnya. Keunggulan film ini jelas ada pada kekuatan naskahnya yang belum pernah tergali sebelumnya. Film perang lazimnya juga memiliki pesan anti perang serta memiliki agenda politik yang kuat namun film ini rasanya tidak mengarah kesana. �War is Drug�. James adalah sosok manusia yang lebih mencintai menjadi penjinak bom melebihi apapun di muka bumi. Tidak salah jika ada seorang pengamat yang mengatakan jika film ini merupakan kendaraan yang sangat efektif untuk mengajak warga Amerika bergabung masuk militer.

Himawan Pratista

Sekilas tentang Eagle Awards

Setiap satu tahun sekali, pastinya kita pernah mendengar tentang salah satu kompetisi film dokumenter yang sudah cukup dikenal bagi masyarakat Indonesia. Ajang yang satu ini dapat dikatakan cukup menarik perhatian, karena dari kompetisi ini sering melahirkan documentary film maker yang berkualitas. Kompetisi ini dikenal dengan Eagle Awards Documentary Competition.

Eagle Awards Documentary Competition ini tertuju pada program pelatihan, produksi dan kompetisi dokumenter yang ditujukan bagi pemula pada khususnya. Salah satu tujuan diadakannya kompetisi ini adalah untuk mendorong kemajuan industri film dokumenter Indonesia dengan menghasilkan sineas muda dokumenter.

Yang dibutuhkan untuk kompetisi ini adalah kreatifitas dalam mengkolaborasi sebuah tema menjadi sebuah ide cerita yang fokus, mempunyai sudut pandang yang unik dan tegas, serta mampu memberikan isnpirasi yang konstrukstif kepada masyarakat luas. Untuk itu, sebelum mengelaborasi tema ini menjadi sebuah ide cerita yang fokus maka dilakukanlah riset yang menghasilkan sebuah data dan fakta yang valid. Data dan fakta yang mendukung kebutuhan ide cerita. Harus diingat pula, bahwa "nyawa" dalam pembuatan film dokumenter adalah data dan fakta bukan asumsi.

Setelah film Eagle Awards selesai diproduksi dan diperlombakan maka bukan berarti Eagle Awards selesai. MetroTV sebagai pihak penyelenggara mempunyai komitmen dalam mendistribusikan film yang telah selesai ini keberbagai festival nasional dan internasional. Untuk nasional, salah satu film dari Eagle Awards yang sudah dikenal yaitu �Gorila dari Gang Buntu� mendapat kategori Film Dokumenter Pendek terbaik di Festival Film Dokumenter 2009.
Dan salah satu festival internasional yang diikuti oleh Eagle Awards adalah Balinale Internasional Film Festival 2008. Dalam festival ini diputar 5 film Eagle Awards produksi tahun 2007 dan 2008 yaitu Kepala Sekolahku Pemulung, Buah Yang Menunggu Mati, Helper Hongkong Ngampus, Pulau Bangka Menangis dan Prahara Tsunami Bertabur Bakau.

Setelah film Eagle Awards diputar maka diadakan diskusi yang menghadiri pembuat film internasional diantaranya adalah Claude theretz (Perancis), Richard Todd (Australia), Dean Allan Thothurst (Australia) dan Tino Saroengallo (Indonesia).Dalam diskusi ini terungkap apresiasi yang cukup baik dari pembuat film dokumenter ini. Bahkan Calude Theretz berencana untuk mempreview film ini di negaranya agar film ini dapat diputar secara nasional di salah satu televisi Perancis.

Mereka sangat tersentuh dengan tema-tema yang diangkat oleh setiap film. walaupun harus diakui secara teknis internasional masih banyak kekurangan. Namun pemilihan tema dalam film Eagle Awards sangat unik dan mempunyai sudut pandang yang tegas. Dan ini bukanlah hal yang mudah dalam dokumenter.

Untuk itu, khususnya yang mempunyai minat terhadap film dokumenter dapat segera mencoba mengikuti kompetisi ini. Dengan adanya ajang ini maka makin terbuka lebar kesempatan bagi semua individu untuk belajar film dokumenter dan menjadi pembuat film dokumenter melalui Eagle Awards Documentary Competition.

Anton Sugito

Film Hollywood Klasik, Hitam Putih tetapi Menarik dan Hangat

Perkembangan film Hollywood yang begitu bombastis saat ini tak lepas dari kesuksesan film-film klasik pada masanya yang telah ada sejak awal 1900-an. Film-film berkualitas era Hollywood klasik sebagian besar masih dibuat hitam putih alias tidak berwarna. Siapa bilang menonton film hitam-putih membuat mata jenuh?

Awalnya sempat terbesit, apa enaknya menonton film yang variasi warnanya tak ada sama sekali, hanya ada hitam dan putih, terkesan datar dan tidak dinamis. Setelah mencoba menonton, semua paradigma tadi terpatahkan. Film klasik hitam-putih mampu memberikan kesan lain, sangat berbeda dengan film era modern saat ini. Ceritanya orisinil dan membangun moral. Hampir semua film klasik tidak ada adegan vulgar menantang, semua sopan, rapi dan apa adanya baik dari sisi tingkah laku maupun bahasa.

Walaupun tekniknya masih sederhana, para pembuat film masa itu mampu mengemas film garapan mereka dengan baik menjadi film yang berkualitas dan menarik untuk ditonton. Seperti misalnya film drama berlatar perang, Casablanca (1942) arahan Michael Curtis. Film ini mengingatkan kita pada arti pengorbanan sesungguhnya dalam situasi yang rumit. Michael Curtis mampu membangun suasana cemas, haru, syahdu, dan bahagia melalui editing gambar, pemilihan musik, dan rangkaian adegan yang dikemas secara apik.

Tidak adanya adegan vulgar dalam film juga sama sekali tidak mengurangi kemenarikan dari kisah cinta yang terjalin di dalamnya. Justru ini mengisyaratkan bahwa cinta adalah bersih. Seperti misalnya, The Best Years of Our Lives (1946) karya William Wyler yang memenangkan piala Oscar untuk film terbaik pada masanya. Film ini juga berlatar perang dengan tiga kisah roman yang sangat menguras air mata. Tak ada adegan vulgar di film ini, semua adegan dirancang dengan sopan dan apa adanya, sekalipun begitu film ini mampu memberikan kesan yang mendalam bagi penontonnya.

Ada lagi karya hebat lainnya seperti It Happened One Night (1934) karya Frank Capra. Film komedi roman yang berisi kisah cinta antara pria dan wanita yang berbeda status ini mampu membawa kita ke dalam perasaan emosional yang kuat. Tak jauh berbeda dengan It Happened One Night adalah Roman Holiday (1950) besutan William Wyler, juga merupakan kisah roman berbeda status yang disajikan dengan manis hingga mampu membuat kita menitikkan air mata. Kedua film ini sama-sama menampilkan adegan dimana tokoh utama lelaki dan wanita tidur dalam satu kamar. Adegan seperti ini di film-film sekarang berpotensi menimbulkan adegan percumbuan hingga adegan ranjang namun nyatanya di kedua film ini tak ada sama sekali aksi vulgar yang muncul.

Semua adegan dalam film-film klasik dibuat sopan sehingga aman untuk ditonton para remaja sekalipun. Saat menonton film-film klasik kita serasa kembali ke masa lalu, nyaman dan hangat. Warna hitam putih tak lantas membuat film-film klasik tidak menarik, justru sebaliknya. Sayang sekali, karya-karya masterpiece seperti ini justru dipandang sebelah mata oleh penonton masa kini. Kebanyakan penonton kini hanya peduli pada film-film baru yang ceritanya heboh dan kaya efek visual, padahal semua ini berangkat dari sukses film-film pada era klasik. Apa salahnya kembali menilik sejarah, yang jelas menonton film klasik akan memberikan Anda sensasi berbeda.

Luluk Nihayati
Mahasiswi Fakultas Budaya UGM

On The Third Cinema

Sudah tidak dipungkiri lagi, masyarakat saat ini memandang sinema bukan lagi sebagai hiburan dan komoditas ekonomi semata, melainkan juga sebagai refleksi sosial dari sebuah fenomena yang terjadi. Dari konteks ini, banyak pakar yang membagi sinema menjadi tiga bagian berdasarkan pada kategori reflektifitas disamping juga ciri khas estetisnya. Sinema yang muncul di Amerika Serikat misalnya, biasanya ditujukan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar, sehingga muncul istilah yang kita kenal sebagai industri film, dikenal dengan istilah Sinema Pertama. Sinema yang muncul di Eropa, dengan pendekatan estetik yang lebih bebas dan baru (avant-garde), seringkali disebut sebagai sinema kedua. Kedua bentuk sinema inilah yang selama ini mendominasi konsumsi sinema secara global. Tentu saja kita lebih akrab dengan film-film Amerika Serikat dibanding dengan film-film, sebut saja, Afrika Selatan. Kita tentu saja lebih akrab dengan gaya sinema Anthony Minghella dari Inggris dibanding dengan gaya sinema Yasmin Ahmad dari Malaysia. Dengan mekanisme konsumsi semacam ini, otomatis refleksi sosial yang sering ditampilkan di depan mata kita adalah refleksi sosial masyarakat barat, dan itu tidak sama dengan kondisi sosial di wilayah lain, khususnya dunia ketiga.

Kondisi ini memompa munculnya sebuah komitmen politis via sinema untuk menyerap kondisi sosial wilayah tertentu, untuk disesuaikan dengan selera penonton di wilayah yang bersangkutan, kemudian disajikan dengan kebiasaan estetis masyarakat setempat. Oleh banyak pakar sinema, komitmen ini disebut dengan Third Cinema (Sinema Ketiga). Banyak yang mengartikan Sinema Ketiga sebagai sinema yang muncul di dunia ketiga, selain karena latar belakang teoritisnya yang banyak terbantu oleh paradigma Poskolonialisme, sebagian besar gerakan sinema ketiga memang muncul di dunia ketiga.

Pandangan semacam ini tentu saja bermasalah. Apakah film-film (contoh) Nayato Fio Nuala dan Hanung Bramantyo sudah memenuhi kriteria Third Cinema?, apakah film-film mereka yang bersetting lokal itu sudah mumpuni dalam merefleksikan kondisi sosial dan menyampaikannya dalam gaya berbasis konvensi estetika lokal?. Tentu bermasalah. Itulah kenapa, hanya sedikit saja sineas dan karya-karya yang dinilai memiliki komitmen politik sebagai bagian dari counter-domination gaya sinema yang dituturkan dalam Sinema Pertama dan Kedua. Sebagai pemahaman mendasar, Ousmane Sembene dari Senegal, Glauber Rocha dari Brazil, dan Francesco Solanas dari Argentina banyak dinilai sebagai authors yang memang berkomitmen penuh terhadap Sinema Ketiga. Terdapat juga beberapa karya yang banyak dinilai sebagai representasi sinema ketiga meskipun sutradaranya bukan sutradara Third Cinema, seperti The Travelling Players (Theo Angelopoulos, 1975) dan Yellow Earth (Chen Kaige, 1983).

Secara visual, sinema ketiga memiliki metodologi tersendiri untuk membentuk sinema yang memang benar-benar reflektif. Ousmane Sembene misalnya, menempatkan credit title ditengah-tengah film dikarenakan kebiasaan penonton di Senegal yang sangat suka mengobrol saat film sedang diputar sehingga mereka punya cukup waktu untuk itu. Karakteristik sinema Glauber Rocha, meskipun diderivasikan dari Neorealisme, ia kolaborasikan dengan kondisi kepenontonan orang-orang Brazil dengan cara mengangkat kebiasaan sehari-hari mereka, alih-alih mencari situasi diluar kebiasaan seperti yang biasa dilakukan oleh Sinema Pertama dan Kedua. Dengan demikian, independensi Sinema Ketiga bisa semakin didekati atau dalam istilah Teshome Gabriel , berhasil memasuki Combative Phase sebagai fase final dimana sinema ketiga bisa bersaing dengan sinema lainnya. Dan untuk mencapai fase itu, setiap gerakan politis via Sinema haruslah melewati dua fase terdahulu: The unqualified assimilation (seperti apa yang terjadi di Indonesia) dan The Remembrance Phase (Fase transisional menuju Fase kombatif), author Sinema Ketiga tulen seperti Ousmane Sembene pun pernah melalu fase ini, seperti bisa kita lihat dalam film awalnya: Mandabi.

Makbul Mubarak
Mahasiswa Fisipol UMY