Senin, 15 Juni 2009

Sleepy Hollow

Kisah Horor Klasik Versi Burton


Sleepy Hollow (1999) tercatat merupakan film horor murni pertama garapan Tim Burton. Film ini merupakan adaptasi lepas dari kisah The Legend of Sleepy Hollow (1820) karangan Washington Irving. Film berbujet $80 juta ini dibintangi oleh Johnny Depp, Christina Ricci, serta beberapa aktor-aktris kawakan seperti Michael Gambon, Christopher Walken, Miranda Richardson, Ian McDiarmid, Jeffrey Jones, serta Michael Gough. Film ini meraih Oscar untuk penata artistik terbaik.



Alkisah pada tahun 1799, Ichabod Crane (Depp) adalah seorang polisi asal London yang ditugaskan untuk mengusut kasus pembunuhan misterius di sebuah desa terpencil bernama Sleepy Hollow. Di dusun ini beberapa warga ditemukan tewas dibunuh dengan sadis menyisakan jasad tanpa kepala. Rumor yang beredar mengatakan bahwa mereka tewas karena dibunuh oleh pengendara kuda tanpa kepala. Awalnya Crane tidak mempercayai ini sampai akhirnya ia bertemu langsung dengan sang pengendara kuda tanpa kepala. Selidik punya selidik ternyata kasus tersebut berkembang menjadi kasus pembunuhan dengan motif warisan. Si otak pembunuhan rupanya mampu mengendalikan sang monster yang dijadikan alat untuk menjalankan niat jahatnya.

Plot filmnya berbeda jauh dengan cerita aslinya namun masih menggunakan tokoh utama yang sama. Secara brilyan, penulis naskah mengubah ceritanya menjadi kisah detektif yang rumit, bernuansa supernatural, penuh intrik, dan kejutan. Sleepy Hollow adalah salah satu film terbaik yang mampu mengkombinasikan dengan sempurna unsur horor dengan detektif. Sungguh mengejutkan bagaimana alur plot berubah-ubah dan mampu berpadu sempurna antara unsur mistik dan non-mistik hingga akhirnya ketamakan manusia adalah jawabnya.

Kisah dan temanya yang bernuansa mistik sangat cocok berkombinasi dengan sentuhan artistik Burton. Sejak awal filmnya (opening credit) kita telah disuguhi panorama hutan yang kelam dan berkabut. Sentuhan ekspresionis tampak sekali pada pepohonan dengan bentuk yang khas, seperti �the tree of the dead� yang menjadi kuburan sang pengendara kuda. Suasana mistik juga menyelimuti pusat desa dengan rumah-rumah bergaya kolonial dengan bangunan gereja di tengah kota. Dengan pencapaian semua diatas tak heran jika film ini meraih Oscar untuk artistik terbaik.

Dalam beberapa adegan juga memperlihatkan kepiawaian Burton dalam mengolah adegan aksi yang begitu seru dan menegangkan. Sang pengendara berkuda disajikan begitu meyakinkan dan menakutkan sekalipun wujudnya tidak menyeramkan. Satu adegan aksi berkesan tampak ketika sang pengendara kuda mencari mangsanya ketika semua orang lari dan masuk ke dalam gereja. Siapa menduga sang pembunuh berhasil mendapatkan mangsanya tanpa ia harus masuk ke dalam bangunan gereja. Satu lagi adegan aksi berkesan tampak pada sekuen klimaks di kincir angin serta kejar-mengejar seru di tengah hutan yang kelam.

Satu lagi yang menjadi kekuatan filmnya adalah ilustrasi musik yang mencekam dari Danny Elfman. Dari sisi pemain, Depp bermain menawan sebagai Ichabod Crane, sosok polisi kurang percaya diri yang memiliki trauma masa cilik yang kelam. Penampilan kuat para pemain senior seperti Gambon, Richardson, McDiarmid, Jones, serta lainnya juga amat mendukung filmnya. Sleepy Hollow adalah film horor murni yang pernah digarap Burton dan rasanya juga salah satu film horor terbaik yang pernah ada.

M. Pradipta

Alice in Wonderland,

Kali Ini Bukan Film Anak-Anak


Alice in Wonderland adalah film fantasi petualangan garapan teranyar Tim Burton. Film ini merupakan lanjutan dari kisah novel klasik anak-anak, Alice�s Adventure in Wonderland karya Lewiss Caroll. Film ini dirilis dalam format 3D dan 2D yang merupakan pertama kali bagi Burton. Film berbujet $150 juta ini dibintangi kolaborator tetap Burton yakni Johnny Depp serta Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, serta aktris muda pendatang baru, Mia Wasikowska sebagai Alice.

Alice Kingsley (Wasikowska) adalah seorang gadis remaja 19 tahun yang masih ragu dalam mengambil sikap. Suatu ketika di sebuah pesta, Alice melihat seekor kelinci yang menggunakan baju dan membawa jam saku. Saat tunangan Alice akan meminangnya, di luar dugaan Alice malah mengikuti kemana sang kelinci pergi. Alice lalu jatuh ke dalam lubang kelinci dan masuk ke sebuah dunia bernama Wonderland. Alice bertemu beberapa karakter aneh seperti Mad Hatter (Depp), Chesire Cat, Caterpillar, serta lainya. Misi Alice adalah membantu White Queen (Hathaway) dari teror Jabberwocky milik Red Queen (Carter) untuk membawa kedamaian di Wonderland.

Kembali Burton mengubah cerita aslinya menjadi versinya sendiri. Versi Burton ini bisa dibilang lanjutan dari kisah aslinya yang merupakan cerita anak-anak. Cerita filmnya jauh dari cerita anak-anak yang ringan dan sederhana, namun cenderung suram dan membingungkan. Satu adegan dengan adegan lain terkesan terpisah dan dipaksakan, tidak menyatu satu sama lain. Alur plotnya pun cenderung mengulur waktu dengan penyelesaian masalah yang terlalu mudah. Kunci cerita sebenarnya adalah tokoh Alice namun beberapa karakter �tak penting�, Mad Hatter misalnya, malah ditonjolkan (kita sudah tahu mengapa). Hal ini mengakibatkan hubungan batin antara Alice dengan Wonderland menjadi lemah. Tak ada motif yang kuat mengapa Alice harus mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah dunia yang sudah ia lupakan.

Alur plotnya yang selalu berpindah-pindah di alam fantasi Wonderland memungkinkan Burton bermain-main dengan sentuhan artistiknya terutama unsur setting. Seperti lazimnya film-film Burton, unsur setting, kostum, dan make-up, semua pencapaiannya luar biasa. Setting-nya memang istimewa namun entah mengapa tampak terlalu artifisial untuk ukuran film-film Burton sebelumnya. Boleh jadi ini karena tuntutan format 3D. Seperti ketika Alice jatuh ke dalam lubang kelinci tampak sekali Burton berlama-lama dengan adegan ini, satu hal yang rasanya tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Setidaknya Burton masih tetap konsisten menjaga sentuhan ekspresionis pada filmnya kali ini.

Dari sisi pemain, selain Wasikowska, Depp dan Carter adalah yang paling menonjol. Sementara Depp bermain layaknya �Willy Wonka�, Carter bermain lugas sebagai Red Queen yang nyaris berteriak setiap saat. Ilustrasi musik Danny Elfman kali ini juga kurang memiliki �jiwa� seperti film-film Burton sebelumnya. Klimaks filmnya yang penuh sajian visual menawan tampak hambar karena ending-nya sangat mudah kita duga. Versi adaptasi Burton kali ini bukan terbilang gagal, tetapi memang gaya sang sineas seperti ini. Burton bisa dibilang kali ini kebablasan. Setidaknya seperti halnya Chocolate Factory yang masih bisa dinikmati penonton anak-anak, Alice in Wonderland mestinya juga sama karena spirit filmnya adalah untuk penonton anak-anak. Ibaratnya, Burton mencoba untuk membuat makanan orang dewasa dari bahan makanan bayi. It just won�t works!

Himawan Pratista

Bahwa Cinta Itu Ada

Bahwa Cinta itu Ada yang rilis 4 maret 2010 lalu disutradarai oleh seorang seniman yang lebih kita kenal sebagai penyanyi dan dalang, yaitu Sujiwo Tejo. Ini kali pertamanya ia menyutradarai sebuah film layar lebar yang berdurasi 90 menit. Film ini dibintang oleh aktor aktris pendatang baru seperti Ario Wahab, Risky Hanggono, Eva Asmarani, Alex Abbad, dan Denis Adishwara. Selain itu juga dibintangi aktor aktris senior seperti Slamet Raharjo dan Ninik L.Karim yang juga ikut meramaikan film ini.

Alkisah lima orang pemuda bernama Fuad (Alex Abbad), Slamet (Ario Wahab), Gugun (Dennis Adishwara), Poltak (Restu Sinaga), Benny (Risky Hanggono), dan seorang pemudi, Ria (Eva Asmarani), mereka datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu di ITB Bandung. Secara kebetulan mereka mulai bertemu sejak pendaftaran mahasiswa baru kemudian saling mengenal dan membentuk sebuah geng. Hubungan mereka berlima sangat akrab, setiap kegiatan dan tugas kampus mereka selalu mengerjakan bersama-sama. Kedekatan di antara mereka memicu cinta segitiga antara Benny, Ria, dan Slamet. Benny selalu merayu Ria namun selalu gagal. Sementara Slamet cenderung memendam perasaannya terhadap Ria.
Cerita bertutur secara kilas balik pada awal dan akhir cerita saja. Cerita juga dibagi dalam dua periode waktu yaitu, tahun 1980-an dan tahun 2009. Tahun 1980-an mengisahkan ketika mereka masih menjadi mahasiswa dan tahun 2009 mengisahkan semasa mereka sudah bekerja. Yang menjadi masalah utama dalam film ini adalah alur cerita yang tidak fokus dan kurang nyaman untuk diikuti. Sepanjang filmya kita disuguhi alur cerita yang terpotong-potong. Penekanan cerita pada enam tokoh utama nampaknya masih jauh jika dikatakan menggunakan alur cerita multi plot.

Film ini mencoba mengangkat konflik tiap tokohnya namun sayangnya konflik tersebut masih kurang tergali dan terlalu dangkal. Dari keenam tokoh yang ada, Slamet, Ria, dan Benny cenderung dominan ketimbang yang lain. Cerita yang disampaikan secara sepotong-potong membuat penonton sulit untuk bersimpati pada tiap tokohnya karena sifatnya hanya informatif belaka. Seperti cerita keluarga Fuad di kampung yang rumahnya kebakaran, lalu kisah ayah Benny yang sakit, dan kisah perselingkuhan Gugun dengan wanita Australia. Ada pula cerita yang tidak masuk akal dan cenderung dipaksakan. Seperti contohnya Slamet yang tiba-tiba meninggalkan pacarnya di kota demi menikahi gadis pilihan ibunya. Juga Ria yang tiba-tiba menaruh harapan pada seorang laki-laki yang baru ia temui di kantornya. Tak ada motif yang jelas dan kuat untuk memperjelas ceritanya.

Masalah setting dan kostum juga agak janggal. Tidak ada perbedaan yang berarti antara setting dan kostum tahun 1980-an dan tahun 2009, gaya rambut maupun gaya berpakaian pada kedua zaman tersebut tidak ada bedanya. Satu hal yang tergolong orisinil dalam film ini adalah penggunaan narasi yang menggunakan alunan tembang jawa layaknya seorang dalang. Dalam konteks cerita filmnya tampaknya sulit pula dijelaskan (seperti judulnya) bahwa cinta benar-benar ada. Sang sutradara yang baru pertama kali membuat film, harus belajar banyak dulu bagaimana mengemas realita-realita kehidupan yang dekat dengan kita untuk bisa dikemas melalui medium film dengan baik.

Agustinus Dwi Nugroho

Rumah Dara,

Film Horor-Thriller Indonesia Terbaik


Rumah Dara, Film horor-thriller yang berjudul alias Macabre ini disutradarai oleh Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers). Ini adalah debut film panjang mereka setelah memproduksi film-film pendek seperti Sendiri (2003) dan film slasher Dara (2007). Selama 95 menit penonton dibawa dalam suasana mencekam berlumuran darah. Film slasher ini konon menghabiskan 11 galon darah hewan dan darah sintetis.

Suatu malam satu rombongan muda-mudi bertolak dari sebuah bar di Bandung menuju ke Jakarta, yakni Adjie (Ario Bayu), istrinya Astrid (Sigi Wimala), adiknya Ladya (Julia Estelle), serta tiga sahabatnya, Jimi, Eko, dan Adam. Sesaat setelah meninggalkan bar tersebut, mobil mereka nyaris menabrak seorang gadis muda. Gadis tersebut bernama Maya, ia tampak shock dan mengaku telah dirampok. Karena kasihan, Maya akhirnya diantar pulang oleh mereka menuju sebuah daerah terpencil di tengah hutan. Sampailah mereka di sebuah sebuah rumah tua milik sosok wanita misterius bernama Dara (Shareefa Danish). Sebagai rasa terima kasih Dara menawarkan mereka untuk menginap di rumah tersebut. Mereka sama sekali tidak menyadari bahaya besar yang akan menimpa mereka malam itu.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari plot Rumah Dara. Good versus evil. Tipikal slasher. Tidak ada pola baru yang dihadirkan. Plotnya pun biasa saja seperti film-film slasher lazimnya namun Mo Brothers mampu menyajikannya dengan apik. Adegan demi adegan disuguhkan sangat menegangkan, aksi-aksi sadis dan keji yang mencekam membuat penonton akan sering menutup mata. Jalan cerita tidak membosankan sekalipun hanya mengambil tempat 90 persen di sekitar rumah tua tersebut. Seperti biasa, logika cerita banyak menjadi masalah. Begitu banyak pintu di rumah tua ini. Pintu utama pada awal cerita sudah jelas-jelas digembok agar Ladya dan kawan-kawannya tidak bisa keluar, namun para polisi dan Aming bisa masuk dari depan dengan mudahnya. Karakter Aming mampu memberikan sensasi yang berbeda ketika suasana mencekam dialihkan menjadi komedi.

Namanya juga film slasher. Aksi sadis dan keji penuh darah menjadi nilai lebih filmnya meskipun kadang terlihat berlebihan. Beberapa adegan bahkan kelihatan sekali di-cut karena mungkin kelewat brutal. Adegan-adegan aksi berdarahnya terasa sangat nyata. Make-up tampak meyakinkan dan para pemain tidak selalu tampak cantik seperti kebanyakan film kita. Adegan Dara beraksi ketika ia menggunakan gergaji mesin untuk membunuh korban merupakan satu adegan yang paling seru dan menarik. Begitu juga saat pisau yang dibawa Adam menusuk tangan Astrid dari balik pintu. Rumah dan propertinya cukup layak untuk setting film ini, mengingat Dara dan keluarga adalah produk tahun 1800-an. Sayang ilustrasi musiknya tergolong biasa saja.

Bicara akting pemain, akting Shareefa Danish yang misterius dengan suara tegas memperkuat karakternya dan menambah serius suasana filmnya. Dialog juga disajikan secukupnya, tidak mengobral omongan dan basa basi. Para pemain juga bermain natural dan tampak sudah cukup matang mendalaminya. Film ini juga tidak mengumbar adegan-adegan mesum seperti film kita kebanyakan. Rumah Dara bisa saja menjadi sebuah pelopor dalam dunia perfilman Indonesia. Film ini mampu menyajikan sebuah aksi berdarah yang nyata, make-up meyakinkan, set dan properti yang mendukung, akting yang baik, serta cerita yang tidak berlebihan. Meskipun film ini tidak bisa ditonton oleh semua usia tapi menonton film lokal yang bermutu memang enak.

Debby Dwi Elsha

My Name is Khan,

Film Romantis Bernuansa Politis


My Name is Khan adalah film drama arahan Karan Johar yang kita kenal pernah meraih sukses dengan Kuch Kuch Hota Hay (1998) dan Kabbi Khushi Khabir Gham (2001). Untuk kesekian kalinya Karan bereuni kembali dengan Shah Rukh Khan dan Kajol. Film produksi patungan AS dan India ini telah memecahkan rekor sebagai film India dengan pendapatan terbanyak di Amerika Utara. My Name is Khan juga menjadi perbincangan para pengamat dan sempat diprediksi bakal masuk nominasi Oscar.

Seorang anak Muslim yang mengidap sindrom Asperger, Rizwan Khan (Tanay Chheda), hidup bersama ibunya (Zarina Wahab) di wilayah Borivali di Mumbai. Saat dewasa (Shahrukh Khan), Rizwan pindah ke San Fransisko dan hidup bersama adik dan iparnya. Selama disana, ia jatuh cinta kepada seorang penata rambut kelahiran India, Mandira (Kajol Devgan). Mereka kemudian menikah dan memulai usaha disana. Peristiwa 9/11 adalah kejadian penuh arti dan berimbas pada kehidupan Muslim di Amerika khususnya. Rizvan dan Mandira mulai menghadapi beberapa kesulitan. Dimulai dari sebuah tragedi, mereka berpisah. Karena ingin kembali memenangkan hati istrinya, Rizvan melewati sejumlah petualangan di berbagai negara bagian di Amerika untuk bisa bertemu dengan Presiden Amerika. hanya untuk mengatakan �My name is Khan and i am not a terrorist�.

Plot filmnya secara umum dibagi menjadi dua bagian. Separuh awal film menceritakan kisah romantis antara Rizvan dan Mandira. Adegan-adegannya sangat menyentuh dan dibumbui kelucuan khas film-film India. Paruh kedua film adalah pasca 9/11 yang menunjukkan realita bagaimana kaum Muslim diperlakukan tidak adil oleh masyarakat Amerika yang berimbas pada kehidupan Rizvan dan Mandira. Karan Johar rupanya tidak hanya mampu membuat film romantis semata namun juga drama roman bernuansa politik yang memiliki sisi humanis tinggi. Separuh awal kisah yang disajikan begitu manis menjadi latar belakang mengapa Rizvan melakukan ini semua. Akhirnya kisahnya tidak sulit diduga, namun seperti film-film India kebanyakan tetap saja mampu menguras emosi penonton.

Uniknya, tontonan yang dikemas dalam durasi 162 menit disajikan tanpa tarian ala film India pada lazimnya. Lagu dan musiknya tersaji namun para pemain tidak ikut berdendang atau ikut menari. Lagu dan musiknya begitu enak dinikmati sehingga menambah emosi yang keluar dalam tiap adegannya. Sentuhan barat dan timur juga begitu kental tampak dalam lagu We Shall Overcome yang dialihbahasakan ke bahasa India. Pencapaian sinematografi dan editing nyaris tidak ada bedanya dengan film-film mapan produksi Hollywood. Aspek sinematografi khususnya tampak melalui komposisi serta sudut-sudut kamera yang tertata sangat rapi. Aspek editing terutama tampak melalui beberapa sekuen lagunya yang menggambarkan serangkaian peristiwa dari waktu ke waktu. Dari sisi pemain Shah Rukh Khan mampu menampilkan sosok Rizvan dengan amat baik, mulai dari tatapan mata hingga gerakan-gerakan abnormal hingga emosi yang ditampakkan. Jelas tidak mudah memerankan seorang penderita autis.

Tema yang diangkat cukup serius, yakni sentimen anti-Islam pasca tragedi 9/11 di Amerika Serikat, mengingat semakin terpuruknya kaum Muslim atas serangan-serangan dan tuduhan Amerika dan seluruh dunia. Pesan moral yang ingin disampaikan film ini sangat sederhana, seperti yang dikatakan ibunda Rizvan pada sang anak bahwa di dunia hanya ada dua jenis manusia, yakni manusia baik dan manusia buruk. Hanya itu yang membedakan manusia, tidak dilihat dari status, agama, ideologi, atau materi melainkan pada kebaikan dan keburukan sikapnya.

Debby Dwi Elsha