Jumat, 01 Januari 2010

The Raid

Pemuas Penonton yang Haus Aksi Sadis dan Brutal   


Sutradara: Gareth Huw Evans
Produser: Ario Sagantoro
Penulis Naskah: Gareth huw Evans
Pemain: Iko Uwais / Yayan Ruhian / Ray Sehetapy / Donny Alamsyah
Sinematografi : Matt Flannery
Editing: Gareth Huw Evans
Ilustrasi Musik: Fajar Yuskemal / Aria Prayogi
Studio:  Merantau Films
Distributor: Celluloid Nigthmares  (world wide) /Sony Pictures Classic (US)
Durasi: 94 menit
Bujet: $ 1,1 juta


The Raid terhitung adalah film pertama kita yang sukses diputar secara luas di seluruh dunia, termasuk di Amerika. Film ini bahkan mendapat banyak pujian kritikus disana karena aksi tarungnya yang dianggap merupakan terobosan baru untuk genre ini.  Boleh saja kita berbangga namun dibalik itu apakah aksi kekerasan yang teramat sadis dan brutal seperti ini yang akan kenang sebagai film yang membawa perubahan bagi sinema kita?

          Gareth Evans bersama Iko Uwais pernah berkolaborasi dalam film aksi Merantauyang kisahnya lebih bersahaja. The Raidsama sekali tidak menawarkan cerita, aksi kekerasan semata-mata yang dijual. Plotnya yang minim mendukung agar adegan aksi bisa dieksploitasi maksimal. Kisahnya sangat sederhana, pasukan elit khusus dikirim ke sebuah apartemen kumuh berlantai 15 yang merupakan sarang para penjahat kelas kakap hingga kelas teri yang dipimpin oleh sang bos, Tama ( Ray Sehetapy). Pasukan elit yang dikomandani Jaka (Joe Taslim) menyusup secara diam-diam, targetnya Tama yang berada di lantai 15. Belum ada separuh jalan, penyusupan terbongkar, semua akses keluar ditutup, dan Tama mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menghabisi mereka. Jaka, Rama (Iko Uwais) yang menjadi jagoan kita, bersama anggota lainnya, tidak bisa lain selain bertahan hidup mati-matian.

Cerita memang bukan fokusnya, 90% isi filmnya hanya aksi, aksi, dan aksi namun bukan berarti logika bisa dikesampingkan begitu saja. Tutup semua akses dan komunikasi, kata Tama. Bagaimana cara menutup akses komunikasi? Tidak adakah satu anggota pasukan saja yang membawa handphone atau alat komunikasi lainnya untuk meminta bantuan. Mobil panser pasukan elit diberondong habis oleh para penjahat dengan senjata mesin, tak jauh dibelakang tampak berlalu-lalang kendaraan sedemikian ramai, apa suara sekeras itu tidak menarik perhatian sekitar? Di awal film ada dua penembak jitu dari gedung sebelah yang menghabisi tiap pasukan elit yang diluar gedung bahkan di dalam yang mendekati jendela, kemana mereka? Lalu bagaimana mungkin bangunan gedung berlantai 15 menggunakan lantai konstruksi kayu? Dan masih tidak terhitung lainnya.

Lalu adegan aksinya sendiri? Beberapa adegan aksi terutama tarung tangan kosong yang menggunakan gaya tarung silat memang dikoreografi dengan mengesankan. Jarak dan sudut kamera dikombinasi dengan editing mampu menghasilkan aksi tarung yang enak ditonton. Namun yang menjadi isu disini adalah kekerasan yang teramat brutal dan sadis. Adegan mematahkan leher rasanya belum pernah disajikan senyata dan sedramatik ini dalam film. Sepertinya kombinasi pencapaian teknik dan aksi brutal ini memang yang menjadi andalan dan disukai penonton dan pengamat luar. Semua tergantung Anda yang menonton filmnya. Bagi saya film ini adalah semata-semata pemuas penonton yang haus akan aksi tarung brutal dan sadis. Tidak lebih. Sungguh sangat memprihatinkan melihat banyak penonton anak-anak sewaktu saya menonton film berating Dewasa ini. (D)

Himawan Pratista

Hafalan Shalat Delisa


Mencoba untuk Mengharu Biru




Produksi : Kharisma Starvision Plus  
Sutradara : Sony Gaokasak
Produser : Chand Parwes Servia  
Pemain : Reza Rahadian / Nirina Zubir / Chantiq Schagerl / Mike Lewis / Fathir Muchtar  
Sinematografi : Bambang Supriadi   
Naskah : Armantono  
Musik : Tya Subiakto  
Editing : Cesa David Lukmansyah  
Durasi : 106 menit





         Hafalan Shalat Delisa merupakan film yang diangkat dari novel best seller berjudul sama karya Tere Liye. Film ini diproduksi untuk mengenang tujuh tahun tragedi tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Alkisah Delisa (Chantiq Schagerl) adalah gadis kecil yang periang, hidup penuh kasih di daerah Lhok Nga bersama Ubi Usman (Reza Rahadian) yang bekerja di kapal minyak milik perusahaan luar negeri. Bersamanya pula Ummi Salamah (Nirina Zubir), serta kakak-kakaknya Fatimah, si kembar Zahra dan Aisyah. Ummi Salamah selalu memberikan hadiah kepada anak-anaknya saat sudah hafal bacaan shalat berupa kalung. Hanya si bungsu Delisa yang belum mendapatkan hadiah karena belum hafal bacaan shalat. Tanggal 26 Desember,  Delisa bersiap untuk ujian hafalan shalatnya dengan Ustad Rahman. Namun tak disangka-sangka bencana hebat terjadi meluluhlantahkan segalanya.

      Film ini adalah kali kedua Sony Gaokasak menjadi sutradara setelah film debutnya, Tentang Cinta (2007). Sutradara yang seharusnya memiliki pengalaman lebih untuk menghasilkan film drama menguras air mata ini. Seperti film kita kebanyakan, Delisa masih juga memiliki kelemahan yang sama dari sisi cerita seperti kurang rincinya penjelasan cerita sehingga beberapa adegan terlihat dipaksakan. Pendalaman karakter juga masih jauh dari cukup. Namun sepertinya untuk penonton anak-anak (jika memang ini yang menjadi target pasarnya) film ini sudah lebih dari cukup. Secara keseluruhan, film ini tak jauh beda dari film-film kita yang sekarang sedang mencoba untuk menguras paksa airmata penonton.

     Hafalan Shalat Delisa diakui mampu menguras airmata para penonton di beberapa adegan. Ini juga berkat kepiawaian para pemainnya. Reza Rahadian, peraih Piala Citra Pemeran Pria Terbaik 2010 ini berakting total dan memukau dan Nirina Zubir serta Fathir Muchtar mampu mengimbangi. Chantiq Schagerl dalam penampilan akting debutnya mampu menghidupkan peran Delia yang periang dan optimis yang menjadi pusat perhatian. Meskipun begitu, Mike Lewis dan Loide Christina Teixeira harus diasah lebih dulu kemampuan aktingnya agar tidak canggung dan mampu membaur dengan kemampuan pemeran lainnya. Kelemahan lain adalah kasting. Delisa dan kakak-kakaknya tampak seperti bukan saudara kandung. Pemeran juga tidak dipersiapkan dengan matang untuk dapat benar-benar fasih dalam dialek Aceh, ini tentu menggangu performa dan otentitas lokasi cerita.

        Hal lain yang patut mendapat pujian adalah setting. Walau tragedi Tsunami telah berlangsung beberapa tahun silam dan masih menyisakan puing-puing disana-sini namun pilihan-pilihan lokasinya cukup meyakinkan serta mampu menggambarkan betapa luas dan dahsyatnya wilayah bencana yang terjadi. Sekalipun efek khususnya tidak bisa kita bandingkan dengan film barat namun visualisasi Tsunami di film ini sudah cukup baik walau tampak sedikit kasar di beberapa bagian. Film ini juga tertolong oleh ilustrasi musik yang digawangi Tya Subiakto, mampu mendukung suasana dan memberikan kesan haru yang dramatis. Setidaknya walaupun merasa mengambang, penonton akhirnya terseret arus kesedihan yang menyentuh hati. 

Debby Dwi Elsha

Sang Penari

Antara Trauma, Pengorbanan, dan Cinta





Produksi: Salto Film
Sutradara : Ifa Isfansyah
Produser : Shanty Harmayn
Penulis Naskah : Salman Aristo / Ifa Isfansyah / Shanty Harmayn
Pemain : Prisia Nasution / Oka Antara / Slamet Raharjo
Ilustrasi Musik : Titi Sjuman / Aksan
Sinematografi : Yadi Sugandi
Durasi : 111 menit

         Film ini bercerita tentang sebuah desa yang berada di daerah terpencil bernama Dukuh Paruk pada masa 1950-1960an. Dukuh Paruk terkenal dengan ronggeng-nya, yakni sebuah kesenian berupa tarian yang muncul untuk menghormati almarhum sesepuh dukuh, Ki Secamenggala. Seorang ronggeng adalah seorang gadis terpilih tidak hanya bisa menari namun juga menarik secara fisik. Selain menari, seorang ronggeng harus mau �membuka kelambu� artinya berhubungan intim dengan laki-laki di dukuh tersebut apabila ada yang sanggup membayar. Kebanggaan bagi pria di dukuh tersebut bagi yang mampu meniduri sang ronggeng. Srintil (Prisia Nasution), sangat terobsesi menjadi ronggeng (Penari) utamanya karena alasan masa lalunya yang pahit sekaligus membayar kesalahan orang tuanya. Srintil mengalami dilema yang sulit karena mencintai Rasus (Oka Antara) namun ia harus menyerahkan kehormatannya jika ia menjadi ronggeng.

Kisah film Sang Penari terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ceritanya memang unik jika dibandingkan dengan film-film kita kebanyakan. Sejak awal hingga pertengahan film, teknik flashback digunakan dengan baik dan menarik, seperti ketika Rasus kembali ke kampung dan mengingat kejadian-kejadian yang telah ia lalui bersama warga kampung sebelum warga kampung dievakuasi. Dari sisi cerita ada beberapa informasi cerita yang kurang disajikan dengan baik yang membuat penonton bertanya-tanya. Seperti misalnya, apa yang membuat masyarakat Dukuh Paruk begitu memuja ki Secamenggala, dalam filmnya tidak begitu jelas latar belakangnya. Dalam film juga kurang begitu diterangkan mengapa Srintil yang tadinya tidak dianggap sebagai Ronggeng oleh sang dukun tiba-tiba bisa menjadi Ronggeng setelah menemukan keris milik Ronggeng yang terdahulu?

Secara teknis film ini terlihat matang, seperti film-film sang sineas sebelumnya. Penggunaan setting cukup baik menggambarkan suasana tahun 1950-1960-an, hanya nuansa mistis ketika ronggeng menari kurang begitu kentara. Akting pemain pun cukup lumayan. Penampilan akting Prisia dan Oka cukup pas bermain sebagai Srintil dan Rasus. Ilustrasi musiknya pun juga menyatu dengan adegan-adegannya. Shot akhir filmnya yang cukup istimewa, menegaskan bahwa Srintil telah memilih jalan hidupnya sebagai ronggeng, dan jalan panjang telah menantinya. Secara umum film cukup baik serta membawa warna sendiri bagi perfilman kita. Film ini mampu menggambarkan kisah romantika di sebuah desa terpencil pada masa 60-an yang kental dengan nuansa politik yang tengah panas-panasnya kala itu. Film ini dengan berani menggambarkan latar belakang sebagian masyarakat kita yang pada masa itu relatif masih terbelakang serta jauh dari beradab. Mungkin ini pesan moral yang ingin disampaikan sang pembuat film pada generasi muda kita sekarang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Agustinus Dwi Nugroho

The Perfect House

Film Thriller Menarik


Tahun Rilis: 2011
Sutradara : Affandi Abdul Rachman
Produser : Vera Lasut
Penulis : Alim Sudio / Affandi Abdul Rahman / Vera Lasut
Pemeran : Cathy Sharon / Bella Esperance / Endy Arfian / Mike Lucock / Wanda Nizar
Sinematografi : Faozan Rizal

         
         

           Julie (Cathy Sharon) adalah seorang guru privat anak-anak dengan kebutuhan khusus. Setelah mengajar Angie, muridnya yang autis ringan, Julie ingin istirahat sejenak untuk menjernihkan pikiran dan berlibur. Namun, Nyonya Rita (Bella Esperance), meminta Julie untuk memberikan pelajaran les privat kepada cucunya, Januar (Endy Arfian). Guru sebelumnya telah hilang dan tidak ada yang mngetahui jejaknya. Julie merasa empati dan setuju untuk menjadi guru Januar ketika Nyonya Rita memberitahu bahwa orang tua Januar juga tewas karena kecelakaan, sama dengan kedua orang tua Julie. Julie pun menahan diri dari rencana liburannya. Namun, apa yang Julie alami di rumah tersebut menjadi jauh dari yang ia bayangkan. Sebuah rahasia yang sangat gelap tersembunyi di dalam rumah itu. Kehidupan Julie pun terancam selamanya.

            Ditengah film Indonesia yang monoton, muncul satu lagi film thriller yang menarik perhatian setelah Rumah Dara beberapa tahun lalu. Film besutan Affandi Abdul Rachman bahkan juga ikut dalam Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan). Mengusung tema thriller psikologis, film ini memang tidak sesadis film Rumah Dara garapan Mo Brothers. The Perfect House beralur lambat memaksa penonton untuk bersabar namun adegan demi adegan ditampilkan cukup menarik. Tampaknya sang sineas berusaha untuk memberikan atmosfer yang mencekam di sejak awal namun sayangnya, setting rumah Belanda tua yang memiliki peran besar dalam film ini tidak memiliki penjelasan yang memadai. Seperti kebanyakan film kita, cerita filmnya mudah ditebak walau terlihat upaya untuk memberikan bumbu agar terlihat lebih misterius. Rasa penasaran penonton menurun drastis saat Nyonya Rita berkata pada Julie, �Kamu sama sekali belum mengenal cucu saya dengan baik� atau gamblang lagi saat seorang karakter diperlihatkan berbicara sendiri. Kunci cerita filmnya sudah bisa ditebak dari sini. Fase ini terlalu cepat sehingga greget penonton menjadi berkurang.

           Kenikmatan emosional dari film ini dibantu dengan tata sinematografi karya Faozan Rizal yang mampu menghadirkan setiap momen dari jalan cerita film ini. Hal lain yang cukup mengesankan adalah kehadiran tata musik arahan duo Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang menambah rasa deg-degan penonton sehingga tidak terasa bosan di separuh awal film. Dari segi kualitas akting para pemainnya, tidak ada yang begitu menarik perhatian. Fans slasher terlanjur telah menikmati akting Shareefa Danish dalam Rumah Dara terlebih dahulu, sehingga kekuatan karakter Madam Rita.

            The Perfect House adalah sebuah pencerahan bagi harapan penikmat film Indonesia, ditengah maraknya film-film horor yang terlalu banyak menampilkan karakter hantu dengan kualitas rendah disertai sentuhan seks murahan. The Perfect House membuktikan bahwa tidak sulit untuk memberikan suguhan yang bermutu walaupun film ini jauh jika dibandingkan dengan film thiller asing. Paling tidak, The Perfect House adalah film yang patut kita hargai karena tampak niat yang kuat dalam penggarapannya. Hasil kerja keras terbukti dengan banyaknya pujian dari distributor Eropa. Para distributor mengaku terkejut dengan kualitas film Indonesia yang tidak kalah dengan film-film produksi Eropa dan Amerika. Mereka memuji kualitas sinematografi, tata kamera, setting, dan juga detil dari film ini.

Debby Dwi Elsha

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta


Wacana Hubungan Kasih Beda Agama 





Mamma yang tercinta, 
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

�dari puisi �Suratkepada Bunda: Tentang Calon Menantunya� karya WS Rendra�  
PUISI itu diucapkan dengan syahdu oleh tokoh kita Rosid (Reza Rahadian) pada ibundanya (Henidar Amroe). Sang bunda terharu, menitikkan air mata. Puisi itu isinya memang bikin sedih, soal minta ijin untuk menjemput jodoh pada ibunda dan pergi menemui jodohnya.

Masalahnya, jodoh yang akan dijemput Rosid ini bukan perempuan yang akan disetujui orang tuanya. Rosid telah menetapkan hatinya pada Delia (Laura Basuki). Padahal ada tembok besar yang menghalangi cinta mereka. Rosid dan Delia mengucap nama Tuhan dengan cara berbeda. Rosid, Islam. Delia, Katolik. Persoalan cinta beda agama tahun lalu sudah disentil dengan amat baik oleh film Cin[T]a(2009). Di situ seorang perempuan Jawa Muslim berpacaran dengan seorang Cina Medan beragama Katolik. Namun, dengan jenius, sineas Cin[T]a tak menggiring kisah filmnya tentang dua sejoli yang dimabuk cinta tapi terbentur masalah beda keyakinan. Melainkan, digiring ke persoalan tentang Tuhan, agama, teror atas nama Tuhan, dan semacamnya.

Nah, film arahan Benni Setiawan ini mengambil tikungan berbeda. Benni, yang menulis kisahnya dari dua novel (Da Peci Code dan Rosid & Delia), mengambil jalan ke inti persoalan: seperti apa problema yang akan ditemukan bila dua sejoli beda agama memadu kasih? Rosid, seorang seniman pengagum WS Rendra, datang dari keluarga keturunan Arab yang masih memegang tradisi kolot. Ayahnya (Rasyid Karim) ingin Rosid memotong rambut kribo sarang tawon lalu pakai peci. Tapi, Rosid berdalih peci putih hanya tradisi,  bukan persis ajaran agama.

Soal rambut kribo ini kemudian lama-lama tenggelam diganti persoalan lebih besar: Rosid punya pacar Delia yang beda agama. Tentu orang tua masing-masing menentang. Rosid dikenalkan gadis cantik keturunan Arab juga yang suka puisi-puisinya (Arumi Bachsin). Sementara Delia diminta sekolah ke Amerika oleh ayahnya. Rosid dan Delia sempat gamang, bingung bagaimana melanjutkan hubungan mereka.

Tanpa tedeng aling-aling, film ini memaparkan apa jadinya bila dua sejoli beda agama menjalin cinta. Hebatnya, film ini tak mencoba memberi putusan bahwa hal itu dilarang (atau juga dibolehkan). Sebaliknya, film ini menyajikan serangkaian hal untuk direnungkan penonton usai menonton. Misalnya, ada dialog soal persoalan nikah beda agama akan meninggalkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Di tanya bagaimana sebaiknya, malah dijawab dengan tawa. Kemudian, ada dialog, dari sudut Islam, ada pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Tapi, dengan bijak, film ini tak menganjurkan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan hal itu, melainkan taati agama dengan baik dulu, baru pahami betul-betul sebelum akhirnya ikut pendapat yang mana.
Kita memang akhirnya diberitahu apa jalan yang diambil Rosid dan Delia. Tapi, kita juga tahu keputusan itu datang dari hasil pemikiran mendalam, bukan nafsu apalagi emosi.  

Ade Irwansyah, redaktur Tabloidbintang.com.