Jumat, 22 Juni 2007

Virgin

Film Remaja yang Bukan untuk Remaja

Sulit rasanya memberi komentar karena sebenarnya film ini tidak perlu diberi komentar. Sungguh tidak masuk akal! Film seperti ini bisa diputar di bioskop-bioskop kita, terlebih lagi ditujukan untuk penonton remaja. Tidak perlu kita bicara mengenai tema, cerita atau segi estetik film ini karena sama sekali tidak ada gunanya dan karena semua tentang film ini adalah salah!

Apakah para pembuat film ini tidak pernah berpikir bahwa film yang mereka buat ini sangat tidak patut ditonton untuk anak remaja! Menjual keperawanan di toilet Mall, seorang bapak yang menyumpahi anak gadisnya dengan kata-kata (maaf), �Anjing!�, remaja-remaja putri SMU merokok, adegan pertengkaran di kelas (tidak ada wibawa guru), siswi SMU membolos, siswi SMU di-tatto, pelacur (siswi SMU) panggilan, permainan putar botol: buka baju, lelang Marik, lusinan penggunaan kata menyumpah, �Anjing!� serta hal-hal tidak patut lainnya. Semuanya divisualisasikan dengan begitu entengnya dalam film ini.

Alangkah memprihatinkan jika yang dijadikan tolak ukur adalah pemaparan realitas. Itu semua bukan realitas melainkan suatu pembodohan! Apakah para pembuat film ini tidak pernah mendengar kata-kata bijak, �Hal-hal yang jelek lebih mudah ditiru ketimbang hal-hal yang baik�. Tidak bisakah para pembuat film ini mencontoh film-film remaja kita lainnya yang lebih santun dan mendidik. Apa mau dikata� film ini sudah terlanjur diputar di seluruh bioskop-bioskop kita. Akhir kata, dengan rilisnya film Virgin memang merefleksikan kondisi moral bangsa kita yang tengah sakit.

M. Pradipta

Heart

Sekedar Menikmati Pemandangan Alam

Heart (2006) merupakan sebuah film percintaan remaja karya sutradara Hanny R. Saputra yang dinominasikan sebagai film terbaik Festival Film Indonesia tahun ini. Heart berkisah tentang cinta segitiga antara Rachel, Farel dan Luna. Rachel dan Farel adalah dua orang sahabat yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil. Rachel sudah menyukai sahabatnya sejak kecil tanpa disadari oleh Farel. Suatu ketika Farel bertemu Luna dan langsung jatuh hati pada sang gadis. Sejak itu Farel banyak menghabiskan waktunya bersama Luna sehingga Rachel mulai merasa Kehilangan sahabatnya serta seseorang yang ia cintai. Film berakhir tragis dengan kematian Rachel yang mengorbankan �hati�nya untuk orang yang dicintainya sehingga Farel bisa hidup bahagia bersama Luna.

Cerita film mengalir dengan dihiasi latar belakang gambar-gambar pemandangan alam pegunungan yang sangat indah serta iringan lagu-lagu dan ilustrasi musik yang manis. Dengan komposisi gambar yang kuat kamera juga mampu menangkap dengan baik momen-momen penting pada tiap adegan dalam film ini. Sayangnya keindahan gambar di film ini tidak diimbangi oleh kemampuan akting dari para pemainnya. Para pemain muda ini seperti seolah sedang menghafal teks di depan kelas, tanpa jiwa, emosi dan ekspresi yang sesungguhnya. Dialog yang sebenarnya cukup baik menjadi hambar dan kehilangan maknanya yang tampak hampir di semua adegan.

Kelemahan lain yang juga sangat mencolok adalah banyaknya adegan yang terlalu dipaksakan untuk sekedar memotivasi adegan lain untuk muncul. Adegan-adegan seperti perahu bocor atau Rachel yang melihat Farel dan Luna berciuman sebenarnya bisa dibuat lebih wajar. Luna bisa saja terjatuh ke air ketika ia ingin mengambil bunga, juga Rachel bisa saja ia melihat Farel dan Luna ketika mereka berpelukan di kios bunga, hal ini sudah cukup untuk memicu adegan berikutnya. Momen-momen penting dalam beberapa adegan yang seolah menjadi titik balik perubahan alur cerita begitu mudahnya dimentahkan oleh adegan-adegan berikutnya. Luna seolah menerima cinta Farel dengan mengungkapkan kondisi dirinya setelah ia dikejar-kejar secara brutal oleh Rachel dengan mobil namun pada adegan selanjutnya Luna menolak untuk diajak makan malam oleh Farel. Setelah adegan brutal Rachel mengejar Farel dengan Mobilnya seolah setelahnya tidak terjadi sesuatu hal yang luar biasa padahal tindakan nekat Rachel bisa saja membunuh Farel atau orang lain disekitarnya.

Beberapa kejanggalan kecil juga tampak sedikit menganggu. Bagaimana mungkin Luna yang sakit keras (sekarat) bisa tinggal sendirian tanpa ada orang lain di rumahnya. Nyaris sepanjang film hanya menonjolkan tiga orang karakter saja sehingga suasana menjadi terasa sangat sepi, penambahan karakter seperti ayah Luna serta ibu Rachel sejak awal film sepertinya tidak terlalu menganggu jalannya cerita. Entah apa yang menyebabkan Heart bisa masuk nominasi sebagai salah satu film terbaik FFI, apakah karena pencapaian sinematografi yang begitu menawan? Apakah karena cerita dengan ending yang tragis? Apakah karena lagu soundtrack �Heart� yang manis? Entah apapun alasannya film ini masih terlampau banyak kelemahannya daripada kelebihannya. Jika dibandingkan dengan film Berbagi Suami yang tidak masuk nominasi jelas Heart bukan levelnya. Jujur saja, film ini bisa menjadi sangat baik jika didukung oleh para pemain yang cakap serta pengolahan adegan yang lebih matang. Seperti telah diungkapkan dalam tulisan sebelumnya apalah arti gambar-gambar yang sangat indah tanpa plot kuat. 


Bagus Pramutya

Lentera Merah

 Hantu Takut Hantu


Sutradara muda Hanung Bramantyo pada tahun 2006 ini kembali dengan karyanya yang memadukan tema remaja dengan horor. Film ini menceritakan suatu organisasi di suatu kampus bernama Lentera Merah yang telah dibentuk sejak lama dan untuk menjadi keanggotaannya harus melalui seleksi ketat. Diceritakan di dalam tubuh organisasi tersebut ternyata menyimpan suatu misteri pembunuhan yang dilakukan oleh para senior angkatan �65 terhadap seorang mahasiswi aktivis bernama Lisa yang terjadi pada tahun 1965. Entah kebetulan atau tidak para mahasiswa yang menjadi senior masa kini dengan calon anggota yang baru (angkatan 2006) semuanya memiliki kaitan dengan peristiwa pembunuhan tersebut termasuk diantaranya seorang gadis bernama Lisa. Dalam sebuah acara inisiasi bagi calon anggota baru,serentetan pembunuhan mulai menimpa satu demi satu para senior serta calon anggota Lentera Merah. Serangkaian pembunuhan tersebut ternyata belakangan diketahui dilakukan oleh arwah Lisa yang menuntut balas dendam atas kematiannya.

Dari sisi cerita tidak banyak dijumpai hal-hal yang baru kecuali latar belakang peristiwa pembunuhan yang terkait dengan gerakan mahasiswa pada tahun 1965 namun tampak beberapa kejangggalan-kejanggalan kecil yang dirasakan sangat menganggu. Apabila kita melihat perbedaan usia anggota Lentera Merah angkatan �65 yang sebagian merupakan orang tua dari para anggota angkatan 2006, rasanya perbedaan umur mereka terlalu jauh jika diasumsikan umur mereka sekitar 20 tahun. Hal tersebut bisa terjadi apabila para anggota Lentera Merah angkatan �65 semua menikah setidaknya di umur 40 tahun. Cerita film mungkin akan sedikit lebih masuk akal jika berlatar di tahun 90an. Juga apabila terjadi serangkaian peristiwa pembunuhan yang melibatkan suatu organisasi di lingkungan kampus apakah mungkin masih terdapat kegiatan yang berhubungan dengan organisasi tersebut tanpa ada penyelidikan lebih lanjut dari pihak kepolisian. Kita juga mungkin akan bertanya kenapa (arwah) Lisa bisa tampak di siang bolong serta takut pada bayangan hantu. Hanung mungkin bermaksud mengecoh penonton bahwa (arwah) Lisa bukanlah pembunuhnya namun terlihat menjadi sangat aneh dan janggal. Cerita mungkin akan lebih masuk akal bila seorang gadis kerasukan arwah Lisa.

Pada adegan pembuka ketika seorang laki-laki dibunuh, Hanung menggabungkan sebuah lagu dengan ilustrasi musik untuk menambah unsur ketegangan. Apakah efeknya tidak lebih dramatis jika alunan lagu Puspa Dewi dibiarkan dominan mengiringi adegan tersebut tanpa tambahan ilustrasi musik. Kejanggalan juga terlihat pada adegan ketika para calon anggota berusaha untuk mendapatkan lentera ke-2 dengan cara Menurunkan ember dengan mengisi air dari lantai atas dan anehnya hanya Lisa yang berani naik ke atas. Ketika Lisa naik ke lantai atas tak lama ia menjerit keras karena melihat sebuah bayangan namun anehnya rekan-rekannya tidak ada mendengarnya atau bergegas naik padahal jaraknya cukup dekat dan ruangan relatif terbuka. Adegan tersebut kemudian dipotong dengan adegan pembunuhan senior Lisa. Dengan asumsi Lisa sedang membunuh seniornya rekan-rekan Lisa yang sedang saling mengisi dan menurunkan ember anehnya tidak ada mencari tahu tentang keberadaan Lisa. Dan lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya secara fisik hantu kembali muncul dengan wajah yang cantik, muka pucat, rambut panjang serta menggunakan daster berwarna putih dengan gaya jalan yang terseret-seret.

Sebagai film bertema horor boleh dikatakan Lentera Merah sama sekali tidak menggigit selain alur ceritanya terlalu mudah untuk ditebak, Hanung juga tidak mampu membangun unsur-unsur ketegangan dalam setiap adegannya dengan baik. Sekalipun kita menonton film ini sendiri di tengah malam dengan mengunakan headphone dan lampu dimatikan namun tetap saja film ini sama sekali tidak menakutkan. Tema horor dan remaja saat ini memang sangat potensial untuk meraih pasar remaja yang selama ini didominasi oleh film asing. Namun seyogyanya pada pembuat film kita tidak melulu terjebak dalam tema horor sejenis yang nyaris mirip dengan gaya horor Jepang. Bangsa kita sendiri sebenarnya kaya akan legenda atau mitos tentang mahluk halus yang sangat potensial jika mampu digali lebih mendalam. Detil-detil adegan serta kejanggalan yang selama ini banyak menjadi kelemahan film-film kita seharusnya tidak perlu terjadi jika sebelumnya naskah atau skrip betul-betul ditangani oleh seorang penulis profesional. Semoga film-film kita khususnya film bertema horor dapat lebih berkembang di masa mendatang dengan kisah yang lebih orisinil. 


Bagus Pramutya

Sinema: Ilusi, Gaya dan Janji

Sebagai buah karya para santo sekaligus penyihir, sinema mengujar satu keisengan seorang pencipta sekaligus penipu. Efek-efek dramatis, jalinan cerita, konflik antar-pelaku, maupun penyelesaian, menawarkan sebuah dunia realis sekaligus ilusif. Ia bersifat nyata; ketika jalinan diapositif proyektor, berputar dan bercerita. Sisi lain, adegan demi adegan seolah memanipulasi kesadaran penonton atas situasi sekeliling (dunia). Seperti Ricoeur berujar: �Antara manusia dan narasi, tersebutlah waktu kosmis dan melalui narasilah manusia bersimpuh kepadanya�; dan ia juga yang berujar bahwa esok adalah hari ini. Ketika manusia mengembarai waktu kosmis, ia abai terhadap waktu yang terus bergulir. Persepsi ilusif yang menghujan tersebut kemudian menguasai kesadaran non-refleksif penonton.

Seperti halnya karya sastra yang merupakan representasi dari dunia (mimesis), sinema mengandaikan hal serupa; namun perbedaan keduanya terletak pada sifatnya: langsung atau tak langsung. Ujaran dalam sinema bersifat dinamis; keberlanjutan ceritanya mengalir. Ujaran terhambat tersebut bersenyawa dengan proses yang disebut (di�g�sis). Citra yang terhambat seperti dalam pungkas film �400 Coups�-nya Truffaut�ketika si Doinel menatap ufuk di gigir pantai, lalu menghadap ke arah kamera�mengandaikan adanya sebuah ujaran (�nonc�) yang terhambat. Apa yang ia ingin ujar?

Kelindan sinematografi dan fotografi nampak pada tataran realisme ontologis; sebuah sudut pandang yang berpangkal dari tataran mengada. Secarik foto tak bisa dijadikan sumber utama untuk sebuah film; sebab citra bisunya mengisolasikan dirinya sendiri dari dunia. Secarik foto yang menggambarkan sekumpul anak muda, serak batu, gedung DPR, dan spanduk penuh slogan, hanya menceritakan satu momen waktu dalam sejarah; namun kelanjutan momen tersebut tak terungkap; sebab waktu bersifat linear. Secarik foto hanya bisa menjadi sebuah inspirasi awal untuk sebuah film; namun satu sisi, sinemalah yang menguasai keberlanjutan momen tersebut.

Mempersamakan sinema dengan seni lukis atau fotografi, adalah satu hal; namun lain hal, jika sinema adalah foto atau lukisan yang sedang bercerita. Ia seni yang hidup. Dari tataran Chaos ke kosmos; sinema mengujar narasi. Narasi tidak lain pengalaman manusia atas dunia; pengalaman yang kemudian teralihsuai ke dalam citra-citra realis-ilusif dan yang berlimpah makna. Kategorisasi atas seni, seperti pendefinisian sinema sebagai seni ketujuh, menggulirkan pelbagai pertanyaan baru. Apakah sinema itu seni? Atau hanya sebuah produk budaya massa?

Soalnya tentang gaya. Begitulah seorang bertutur; semacam pengetahuan yang tegak namun labil dari cakrawala orang kedua. Kepemilikannya tertentu. Hanya individu saja yang simpati padanya. Sebagaimana dunia dipandang bukan sebagai sebuah identitas atau totalitas; namun ia serupa suatu yang dialektis yang terpermanai dari pelbagai segi dan tidak utuh. Seturut dengan Nietszche, gaya bersifat menaik juga menurun. Apa yang seorang tutur kemudian bermaksud majemuk: entah sebuah pesan atau seklumit pertanyaan. Ada keterserakan pada suatu yang si fulan sampaikan. Kita lalu mengujar: ia ingin mengutuh atau bertumpangtindih dalam sebuah perbincangan.

Katakanlah sinema meniru secarik teks atau suatu yang ingin melampau teks: serupa arca yang berbicara dan yang ingin hidup. Ada keberjarakan sewaktu kita berupaya mengurai maksud atau pesannya. Dan sineas membentangkannya bugil di hadapan pemirsa. Apakah pemahaman si pemirsa atas sinema berakhir pada sinema itu sendiri? Lalu kita bilang: �Sineas telah mati�. �Je est un autre�!, sambut penyair Rimbaud. �Soi-m�me comme un autre�: �Saya serupa orang lain�, ucap Ricoeur. Lantas sineas serupa abai terhadap karyanya; ia menawarkannya pada pemirsa. Sineas lantas terabukan; hanya ada tanda-tanda yang kita tafsir pada karyanya yang posthume.

Tanda dan sewenang-wenang bertubuh. Cukup kita jumpai hadirnya pada komposisi yang terserak acak atau utuh. Kerap tanda yang hadir tidak berujar suatu yang kita anut secara umum: misal sekuntum bunga untuk cinta, sebuah gitar untuk penggambaran tubuh yang sempurna. Puisi surealis Desnos hanya mengujar pesona wanita terletak pada giginya. Penggambaran tersebut begitu luput ketika Man Ray mengadaptasikannya ke dalam �l��toile de Mer�(1928).* Apakah pesona wanita terlekat pada betisnya yang jenjang? Lantas kita sempat berpaling dan pusing. Apa yang ingin mereka sampaikan? Hanya kita jumpai kemudian sepotong kisah yang tak berujung-pangkal dan banal.

Ada sinema berwujud serupa kepingan saja. Mari kita sebut sinema yang melantun lambat itu mosaik. Makna yang ingin tersampaikan rupanya tidak terlekat pada kulit terluar; namun ia bertubuh pada sinema dan sineas yang bergerak menirus. Dan pemirsa kemudian menempatkan posisi. Pemaknaan pemirsa atas sinema diawali penundaan membaca atasnya. Ia dihadirkan secara sengaja. Model pembacaan ini dilanjutkan kemudian dengan proses mengelindankan sinema atas dunia sekeliling, dirinya. Kemungkinan diciptakan untuk memaknai suatu yang masih samar. �400 Coups�-nya Truffaut juga �Contes de Quatre Saisons�-nya Rohmer, hanyalah sepenggal kisah sederhana, tidak sulit dan rumit. Tema tidak berujar sekumpul jargon demonstrasi atau suatu hal definitif. Mesti ada pada seklumit kisah tersebut suatu yang dihayati? Barangkali. Sinema di atas enggan dijuluki seorang guru, yang digugu dan ditiru. Ia serupa sebingkai lukisan, hanya sekumpul mosaik bermotif pelangi.

Keberlimpahan maksud barangkali tidak serta merta kita jumpai dalam ungkapan verbal, seperti tutur opera sabun kita. Judulnya barangkali membikin tubuh kita gemetar dan gigil. Apakah sinema religius selalu menyaran lekatnya peci hitam, kibaran sarung bermotif pelangi, atau sesusun manik-manik berwarna? Lalu kesedihan ditunjukkan oleh rembihnya tetes-tetes asin di sela pelupuk mata? Bahagianya bercinta selalu merujuk pada perjumpaan sepasang kekasih di gigir telaga? Bisa jadi. Dan soalnya hanya tentang gaya; suatu yang tak berpangkal pada sebuah pembuktian � la Cartesian. Rupanya sineas dan sinema bukan seorang nun jauh; datang lalu menawarkan sabda. Ia hanya menawarkan sepenggal kisah remeh dan sederhana. Lalu, mari kita duduk di satu meja kemudian berbicara. 
* ubu.com

F. Taftazani

Kamis, 21 September 2000

Chronicle

5 Februari 2012

Sutradara: Josh Trank 
Produser: John Davis / Adam Schroeder 
Penulis Naskah: Max Landis 
Pemain: Dane DeHaan / Michael B. Jordan / Alex Russel / Michael Kelly 
Sinematografi : Matthew Jensen 
 Editing: Elliot Greenberg 
 Ilustrasi Musik: - 
 Studio: Davis Entertainment 
 Distributor: 20th Century Fox 
Durasi: 83 menit 
Bujet: $15 juta

Kisah tentang awal muasal sosok superhero bukan hal yang baru lagi. Rata-rata plot film superhero menyajikan latar belakang yang cukup dari bagaimana sang tokoh mendapatkan kekuatan supernya hingga menjadi pembela umat manusia. Batman Begins serta X-Men: First Class mencoba berbeda dengan memperdalam latar belakang tokoh-tokoh utamanya ke level yang belum pernah disentuh sebelumnya. Chronicle walau bisa dibilang idenya tak fresh namun mencoba sesuatu ke wilayah yang baru bagi genre superhero. Chronicle dari beberapa sisi bisa saja belum disebut sebagai genre superhero dan lebih mengacu ke genre fiksi ilmiah, namun kisahnya juga bisa mengindikasikan tentang asal muasal seorang superhero. Sepertinya sub genre superhero lebih tepatnya. Kisah film ini juga menggunakan pendekatan psikologis bagaimana sisi gelap manusia lebih berkuasa ketika emosi tak terkontrol, terlebih jika ia memiliki kekuatan fisik dan mental di atas rata-rata manusia. Great powers comes great responsibilities. Kisah filmnya secara detil dan sabar mampu mendeskripsikan semua aspek ini sejak Andrew, Matt, dan Steve mendapatkan kekuatan super hingga tuntutan bersikap dewasa serta bagaimana mereka mengontrol kekuatan mereka untuk kepentingan orang banyak serta melawan ego dan jiwa muda mereka sendiri.



Dengan menggunakan pendekatan gaya dokumenter ala The Blair Witch Project (editan dari video) film ini cenderung memisahkan jarak antara film dengan penonton. Kita seolah menonton film dokumenter dengan komposisi gambar seadanya dan gerak kamera yang kasar sering membuat mata lelah. Namun kisahnya yang menarik serta efek visual yang meyakinkan membuat kita sebentar saja larut dalam filmnya. Film ini juga konsisten menggunakan Point of view shot melalui sudut pandang kamera. Entah itu kamera milik Andrew, kamera orang lain, handphone, cctv, serta lainnya. Dengan hanya melalui sudut pandang kamera-kamera ini saja mampu dibangun rangkaian cerita yang dramatik serta mampu membangun ketegangan konflik yang semakin tinggi hingga klimaks cerita.

Dengan bujet yang sangat minim tentu film ini tak mampu meyajikan efek visual yang wah seperti layaknya film-film superhero lazimnya. Namun justru dengan pendekatan gaya dokumenter yang digunakan mampu menghasilkan efek visual yang sangat realistik, seperti District 9 berhasil melakukan hal yang sama pula. Efek-efek visual supernatural, seperti menggerakkan benda-benda berukuran kecil hingga mobil benar-benar tampak seperti sungguhan. Satu lagi yang paling mengagumkan adalah ketika para tokohnya terbang di angkasa, kita seperti layaknya terbang sungguh di angkasa. Di klimaks filmnya, aksi sejenis mungkin pernah kita lihat di film-film X-Men, Iron Man,serta Hancock namun nuansa nyata disini benar-benar tak tertandingi.

Satu lagi yang tak bisa diremehkan adalah akting para pemain mudanya. Tiga tokoh utamanya bermain natural khususnya Dane DeHaan bermain ekspresif sebagai Andrew Detmer. DeHaan yang terbiasa bermain di seri televisi ternyata tidak canggung bermain di layar lebar. Andrew yang cenderung pendiam dan emosional menjadi kunci karena konflik filmnya ada di karakter ini. DeHaan mampu bermain sangat baik sebagai karakter Andrew yang �semi psikopat� terhitung sulit diperankan. Sementara Alex Russel dan Michael B. Jordan yang bermain sebagai Matt dan Steve mampu mengimbangi dengan baik.

Chronicle merupakan satu turning point lagi bagi genre superhero, setelah The Dark Knight dan Kick Ass. Pendekatan gaya dokumenter yang dipakai juga tak lazim untuk genre ini namun efek nuansa nyatanya sungguh luar biasa dan mampu menyatu sempurna dengan kisahnya walau tanpa ilustrasi musik. Dari sisi cerita, film ini menawarkan pendekatan psikologis yang lebih dari film-film superhero lainnya. Film ini banyak mengingatkan pada film perang Vietnam, The Deer Hunter, yang menggunakan pendekatan psikologis sejenis. Sejauh apa manusia bisa bertahan dalam tekanan psikologis yang begitu dahsyat. Dalam Chronicle tekanan psikologis adalah lingkungan, kekuatan super, dan ego mereka sendiri. Setelah semua pencapaian luar biasa diatas, muncul satu pertanyaan yang sangat mengganjal saat filmnya berakhir. Siapa orang yang mengedit potongan-potongan film ini? (A)