Sabtu, 23 Juni 2007

Sinema Neorealisme Italia

Selama hampir dua dekade sinema Italia dibawah kontrol penuh pemerintahan fasis dibawah pimpinan Benito Mussolini (1922�1945). Mussolini menyadari betul bahwa ia dapat memanfaatkan medium sinema untuk tujuan propaganda. Di tahun 1933, Mussolini membentuk Direzione Generale per la Cinematografia sebuah dewan yang bertugas menyensor semua naskah film yang akan diproduksi. Naskah-naskah film yang disetujui mendapat subsidi dari pemerintah hingga 60% dari biaya produksinya. Sementara naskah film yang bertema murni pro-fasis mendapatkan subsidi hingga 100%.

Di tahun 1935, Mussolini membentuk Ente Nazionale Industrie Cinematografiche (ENIC) yang melengkapi campur tangan pemerintah di semua aspek industri sinema melalui kontrol penuh seluruh mata rantai distribusi film di Italia. Seluruh film asing (didominasi film-film Hollywood) yang masuk harus melalui jalur ini untuk sekaligus diseleksi untuk kemudian di-dubbing bahasa Italia. Mussolini juga membentuk Centro sperimentale di cinematografia sebuah sekolah film yang masih eksis hingga kini serta studio film Cinecitta di Roma Tujuannya jelas untuk membantu para sineas lokal untuk memproduksi film-film bertema pro-fasis. Mussolini juga adalah sosok yang memprakarsai ajang Venice Film Festival yang dimulai sejak tahun 1932.

Sistem kontrol demikian ketat berakibat pada semua film-film Italia yang diproduksi adalah bertema pro-fasis dan memiliki prinsip serta ideologi kebangsaan yang kuat. Film-film yang secara terang-terangan mengusung tema propaganda diistilahkan dengan �black film�. Tujuan film ini adalah untuk mempertebal semangat rasa kesatuan dan persatuan rakyat Italia. Sementara film yang banyak diproduksi pada masa ini diistilahkan �pink film�. Film jenis ini juga menganut idealisme fasis dan lebih sekedar merupakan hiburan ringan yang mampu menutup realitas sosial yang porak-poranda akibat persengketaan politik. Salah satu jenis �pink film�, diistilahkan film �white telephone�. Film jenis ini umumnya mengadopsi film-film Hollywood dan memotret kehidupan masyarakat yang bahagia dan sejahtera.

Mendaratnya tentara sekutu di pantai Sicilia pada tanggal 10 Juli 1943 merupakan sinyal keruntuhan pemerintahan Mussolini. Di saat tentara sekutu berperang melawan Jerman di wilayah utara Italia, perlawanan separatis anti-fasis juga berlangsung di wilayah selatan. Dengan bantuan perlawanan separatis akhirnya tentara sekutu mampu menembus garis wilayah utara. Tanggal 25 April 1945 akhirnya rakyat Italia lepas dari pendudukan Jerman dan merdeka secara total. Di masa perlawanan tersebut beberapa sineas telah memproduksi beberapa film yang mengangkat kondisi serta realitas yang sesungguhnya terjadi.

Salah satu film yang menonjol berjudul Obsession (1943) arahan Luchino Visconti. Film ini mengangkat tema kemiskinan dan penderitaan akibat tekanan sosial dari rezim penguasa yang disajikan dengan pesimistik dan dingin. Obsession menandai perkembangan sebuah era sinema Italia ke arah yang baru. Awal kemunculan gerakan neorealisme ditandai melalui film Open City (1945) arahan Roberto Rossellini. Rosselini bahkan memulai produksi film ini sejak tahun 1943, ketika tentara Jerman masih menduduki kota Roma. Berbeda dengan film-film di era sebelumnya, Open City merupakan sebuah kisah tragis yang memotret perjuangan manusia melawan belenggu penjajahan. Film ini mampu menggambarkan realitas politik yang sebenarnya terjadi di balik segala keindahan yang ditampilkan pemerintahan Mussolini.

Dalam perkembangannya film-film bertema sejenis mulai bermunculan. Film-film ini secara umum menampilkan realitas politik dan sosial yang terjadi pada masyarakat Italia masa itu. Tendensi inilah yang kemudian dikenal sebagai gerakan sinema neorealisme, sebuah gerakan �new realism� atau sebuah realitas baru. Walau film-film neorealis ini umumnya kurang berhasil di pasaran namun secara kritik mereka mencapai hasil yang luar biasa. Seperti Shoeshine (1946) serta film landmark gerakan ini, The Bicycle Thief (1949) keduanya arahan Vittorio De Sica, masing-masing mendapatkan penghargaan Oscar.* Film-film neorealis lainnya yang menonjol antara lain, Paisan (1946) dan Germany Year Zero (1947) keduanya karya Rosselini, La Terra Trema (1948) karya Visconti, Bitter Rice (1949) karya Giuseppe De Santis, kemudian Miracle in Milan (1951) dan Umberto D (1951) karya De Sica.

Secara tema film neorealis umumnya mengangkat tema kemiskinan dan ketidakadilan. Sangat kontras dengan film-film berjenis �white telephone�. Karakter dan tokohnya biasanya berasal dari kalangan bawah, seperti buruh, nelayan, petani, pekerja kasar, bahkan pengangguran. Semua film-film neorealis menekankan pada aspek emosional ketimbang ide-ide yang bersifat abstrak, selalu menghindari dan melakukan perlawanan terhadap bentuk naratif konvensional. Tragedi selalu menjadi menu utama dalam film-film neorealis. Umumnya mereka selalu memiliki akhir menggantung, tragis, penuh penyesalan dan ketidakbahagiaan.

Secara estetik film-film neorealis memiliki ciri-ciri unik yakni melakukan syuting di lokasi sesungguhnya seperti di jalanan kota atau desa, pemukiman, pasar serta ruang-ruang publik lainnya. Ciri utama lainnya adalah penggunaan pemain non-aktor sehingga mampu memperbesar efek realisme serta orisinalitas tiap adegannya. Film-film neorealis umumnya menggunakan teknik dubbing serta menggunakan bahasa sehari-hari dan menghindari pemakaian bahasa formal. Dengan pengambilan gambar di lokasi sesungguhnya serta penggunaan dubbing menyebabkan pergerakan karakter serta kamera menjadi lebih leluasa. Secara umum film-film neorealis bentuknya sangat sederhana dan jarang sekali menggunakan efek kamera.
..
Faktor politik, ekonomi dan budaya yang memicu gerakan neorealisme timbul namun faktor tersebut jugalah yang membuat gerakan tersebut memudar. Kondisi perekonomian yang membaik dan rakyat Italia yang mulai sejahtera membuat pemerintah kurang menyukai film-film yang menyorot masalah kemiskinan. Beberapa kebijakan pemerintah mulai menghambat gerakan neorealis hingga para sineas tidak lagi memperoleh kebebasan. Gerakan sinema neorealisme boleh dibilang bukan merupakan gerakan sinema yang sifatnya inovatif secara sinematik. Namun merupakan sebuah gerakan sinema yang mampu merubah sinema secara sosial, politik maupun sejarah. Elemen-elemen estetik neorealis sendiri masih selanjutnya masih tampak dalam karya-karya sutradara besar Italia lainnya seperti, Federico Fellini dan Michelangelo Antonioni; lalu film-film karya sutradara besar India, Satyajit Ray; serta film-film gerakan New Wave Perancis.

Himawan Pratista

The Bicycle Thieves


Potret Kemiskinan Rakyat Italia




The Bicycle Thief (Ladri di biciclette, 1949) merupakan film paling populer dari gerakan neorealisme. Film ini sukses mendapatkan predikat film berbahasa asing terbaik dalam ajang Academy Awards di tahun 1949 serta beberapa ajang bergengsi lainnya. Film ini seringkali dianggap banyak pengamat sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Film arahan sutradara Vittorio De Sica ini mengetengahkan tema seputar masalah sosial dan kemiskinan di kalangan masyarakat perkotaan Italia pasca perang dunia kedua.

Alkisah seorang pengangguran bernama Antonio Ricci (Lamberto Maggiorani) akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai tukang tempel poster. Ricci membutuhkan sepeda untuk syarat pekerjaan tersebut hingga istrinya harus menggadaikan selimut untuk menebus sepeda yang telah ia gadaikan. Keesokan harinya dengan berbekal semangat baru Ricci memulai pekerjaannya. Namun naas ketika ia sedang menempel poster pertamanya seseorang mengambil sepedanya. Ricci berusaha mengejarnya namun usahanya sia-sia. Sisa cerita memperlihatkan bagaimana usaha Ricci bersama anaknya, Bruno berkeliling kota untuk mencari sepedanya yang hilang.

Maggiorani bermain sangat sempurna menghidupkan perannya sebagai Antonio Ricci. Maggiorani sendiri adalah bukan seorang aktor dan ia adalah benar-benar seorang buruh pabrik. �Dari cara dia berjalan... dari cara dia duduk ...dan segala sikapnya dari seorang pekerja bukan seorang aktor ...semuanya sempurna� kata De Sica. Wajah Maggiorani adalah juga wajah Ricci yang selalu tampak bingung dan cemas hampir sepanjang film. Enzo Stoila yang juga bermain sempurna sebagai sang bocah, Bruno, juga ditemukan seorang kru film di jalan ketika sedang mencari lokasi untuk syuting.

Dari perjalanan Ricci dan Bruno, De Sica mampu menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat bawah Italia yang memang sedang dalam masa sulit. Tampak dari orang-orang yang mengantri air, antrian bis yang panjang, tempat pegadaian yang ramai dikunjungi warga hingga apartemen yang padat, kecil dan sempit. Sekilas disingung pula masyarakat Italia yang sangat religius, percaya pada ramalan serta begitu fanatik dengan olahraga favorit mereka, yaitu sepakbola. Dalam sebuah adegan tampak Ricci dan Bruno bersantap di sebuah restoran mewah. De Sica secara brilyan mampu menunjukkan betapa jauhnya kesenjangan ekonomi. Seolah mereka (kalangan atas) hidup di dunia yang berbeda dengan dunia Ricci dan Bruno yang diperlihatkan pada kita.

Bagi Ricci sepeda miliknya merupakan harapan untuk bisa membawa kehidupan keluarganya menjadi lebih sejahtera. Ketika sepeda tersebut hilang maka harapannya pun turut sirna. Ricci tidak hanya kehilangan sepeda namun juga kehilangan segalanya termasuk harga dirinya. Di dalam gereja yang dipenuhi jemaat, Ricci memaki-maki dengan suara keras seseorang yang dianggapnya mengetahui orang yang telah mencuri sepedanya. Di sebuah pemukiman Ricci mengancam dan menuduh seorang warga telah mencuri sepedanya. Paling hina adalah ketika Ricci yang frustasi akhirnya memutuskan untuk mencuri sebuah sepeda. Sang anak berlinang air mata melihat ayahnya (si pencuri sepeda) dikejar-kejar belasan orang hingga akhirnya tertangkap. Film diakhiri dengan gambar Ricci dan Bruno yang bergandengan tangan berjalan menjauhi kamera. Sepeda (harapan) Ricci masih hilang dan selamanya mungkin tidak akan pernah mereka temukan. Tidak jelas nasib mereka esok atau hari-hari berikutnya. Sebuah kondisi mirip realitas sosial dan ekonomi yang dialami masyarakat Italia kala itu. 

Himawan Pratista

Jumat, 22 Juni 2007

Seikat Kata dari Perjalanan ke Prancis

Berangkat dari undangan rekan saya yang bergerak di bidang pemberdayaan budaya di Eropa sekaligus pengamat budaya di Asia, saya berkesempatan mengunjungi negara Prancis untuk mengamati sekaligus mendapatkan pembelajaran tentang bidang seni yang kini tengah saya geluti, yaitu bidang sinematografi. Pembelajaran (workshop) yang saya dapatkan bersama dengan rekan lain dari berbagai negara di Universit� de Lumi�re Lyon II tersebut, membuka banyak wacana kontemporer tentang sinema yang selama ini saya enyam di dunia pendidikan di Indonesia. Impian saya dalam workshop ini terutama tentang ranah produksi tampaknya masih jauh dari angan semata; karena workshop kali ini lebih menekankan aspek sejarah dan nilai yang terkandung dalam dalam sebuah sinema; berbalut Estetika maupun Tema.

�Cinema is born at France�(Cin�ma est n� en France), demikian ungkapan Fran�ois Tailandier salah satu pemberi materi workshop, sembari menggerakkan jarinya seperti mengutip. Bisa ditebak selanjutnya, hari-hari workshop selalu dimeriahkan oleh diskusi-diskusi panjang (saya menyebutnya sebagai brain-washing day). Terlepas dari bentuk kekecewaan adanya produksi film bersama, akhirnya saya merasakan antusiasme atau mungkin bentuk euforia dalam keseharian saya membahas sejarah sinema Perancis. Pembahasan dimulai dari gerakan New Wave (Nouvelle Vague) yang terbagi dalam dua periode. Periode awal (1958) mengedepankan beberapa nama-nama sebagai Bart Director yang banyak menentang garis-garis penekanan estetik film pada masa itu. Mereka juga masih menekankan pada aspek naratif yang kental, di satu sisi. Mereka adalah Jean-Luc Goddard, Fran�ois Truffaut, Claude Chabrol, Eric Rohmer, dan Jacques Rivette yang membalut sinemanya dengan estetika �baru�: estetika kedalaman dalam mise en sc�ne dan penolakan akan estetika naratif yang terlalu teratur.

Bahkan beberapa pengajar dan mahasiswa film di sanapun mengapresiasikan berlebihan pada sosok Goddard sebagai Santo. Saya mulai mengingat gelombang New Wave kedua (Pemberontakan Mahasiswa) di Paris dan sekitarnya pada tahun 1968 yang pada akhirnya mengubah tatanan maupun ranah sosial, budaya, juga industri. Fenomena sosial tersebut juga memberikan ruang kebebasan sinematik bagi para sineas yang akhirnya bermuara pada kebijakan maupun inisiatif pemerintah Prancis untuk memberikan subsidi silang bagi sineas pemula dalam bentuk (regeneration program). Inisiatif pemerintah tersebut juga memberikan kontribusi dalam pengembangan film-film artistik. Dan kesemuanya berlandaskan pada asas kebebasan berekspresi. Sisi lain, Goddard dan beberapa sineas pada masa itu lebih menekankan aspek estetika mereka pada own style, gaya bertutur masing-masing personal sutradara (theorie de l�auteur) yang secara tidak langsung bersifat konservatif (one man show).

Terlepas dari adanya sesuatu maupun situasi paradoksal tersebut, saya mencoba mengaca pada sejarah perfilman Indonesia yang tentunya bukan pada skala periodisasi. Dan tentunya banyak orang mengerti benar akan kebangkitan dan mati surinya perfilman kita. Melihat sejenak aspek kualitas sinema Indonesia (bukan kuantitas), ada banyak ketidaksesuaian atau kesalahpahaman estetika, atau sekedar meminjam istilah bahasa Prancis, mise en sc�ne dalam sebuah karya atau sinema yang dibuat. Pengerucutannya terjadi pada Festival Film Indonesia (FFI) 2006. Dan dipandang ada ketidakpuasan terhadap penjurian maupun keputusan juri yang terlihat kasak-kusuk (istilah tersebut untuk menghindari sarkasme semacam perang kata atau adu mulut). Semua hal yang menjadi permasalahan adalah pada aspek estetika dan tematika yang sayangnya tidak ada kesepahaman antara satu sama lain. Adakah yang bisa menjelaskan pada saya absolutnya Estetika juga ranah Tema yang menjadi standar penjurian?

Sekembalinya dari workshop tersebut (baca: cuci otak), saya tidak lagi merasakan gairah yang menggebu dalam memproduksi sebuah sinema. Dan hal tersebut bukan berarti sikap pesimis; namun hanyalah kemalasan yang timbul jika sekedar kembali menjadi cetakan-cetakan yang sama atau pekerja-pekerja baru sinema dan bukan menjadi pemikir-pemikir baru (pioneer) atas apa yang dibuatnya. Rekan saya pernah mengatakan film Indonesia akan dikenal dan berjaya jika saja ada satu film yang masuk nominasi Oscar (at this moment, I just wish a falling star, please).

Saat ini, setelah mengikuti perhelatan Festival Sinema Prancis 2007, hal yang menyenangkan sebagai pelajar di bidang bersangkutan, adalah keikutsertaan saya dalam rangkaian program festival tersebut dan press-release yang saya tulis ini (but, wait!). Terlepas dari gairah menonton film-film di festival di tahun ini, lagi-lagi membuat saya bertanya: mengapa harus ada penilaian dari insan perfilman kita? Artis kita? Mungkin saja saya yang terlalu bodoh dan tidak memberikan sedikit kesempatan kepada mereka untuk memberikan penilaian; lalu menentukan apa dan siapa: film terbaik, artis terbaik, dst.

Tahun ini, artis-artis muda kita duduk sebagai juri dan mereka ikut serta dalam pemilihan artis terbaik. Ben..hmm ada Joshua, Ardina Rasty dan Olga Lidya yang barangkali memiliki kompetensi atau kemampuan dalam menentukan aktor-aktris berkelas macam Audrey Tatou yang hors de prix (priceless) dan aktris besar Perancis lainnya. How come? �Anyway, let it flows as earth is dying.

P.S. :
Rekan saya nyaris mengamuk ketika saya tiba. Tugas kampus yang disodorkan mengharuskan saya dan rekan lain membuat sebuah film. Sebelum terjadi brain-storming besar-besaran dan euforia yang membakar semangat, pada masa pra produksi saat itu saya akhirnya membukanya dengan kalimat: �Nah teman, sepertinya kita sudah siap kembali �beronani�, bukan?�

Andrei Budiman

Nagabonar Jadi 2

Menggugah Rasa Kebangsaan


Ketika ingin menonton film Nagabonar jadi 2 ada sedikit rasa khawatir dalam diri saya. Pertama, saya belum menonton film Nagabonar (1986) arahan Asrul Sani. Kedua, saya masih pesimis dengan mutu film kita, apakah menonton film ini sepadan dengan kepuasan setelah menonton. Ternyata semua hal tersebut tidak terbukti. Saya keluar dari bioskop dengan perasaan amat terpuaskan. Tokoh Nagabonar adalah rekaan Asrul Sani, seorang pencopet yang kemudian mengangkat dirinya menjadi jenderal pada masa perang kemerdekaan. Tokoh Nagabonar diperankah oleh Deddy Mizwar yang kala itu meraih Piala Citra sebagai aktor terbaik. Dalam film Nagabonar Jadi 2 dikisahkan Nagabonar (Mizwar) masih hidup di kebun kelapa sawitnya di Medan, setia mengunjungi makam emak-nya, istri dan sahabatnya, Bujang setiap harinya. Kisah berkembang ketika putranya, Bonaga (Tora Sudiro) mengundangnya ke Jakarta dimana putranya sekarang telah menjadi seorang eksmud, lulusan Inggris. Selama di ibukota Nagabonar terlibat dalam beberapa petualangan lucu dan haru yang mengusik rasa kebangsaannya.

Tidak banyak film kita saat ini yang mengangkat tema kebangsaan. Film mengajak kita untuk menghargai jerih payah para pahlawan yang berkorban jiwa dan raga untuk kemerdekaan kita. Nagabonar jadi 2 menyindir kehidupan kita saat ini yang tidak lagi memahami makna dan hakekat kemerdekaan. Sang sutradara mampu menampilkannya dengan cerdas dan wajar tanpa berkesan menggurui serta memojokkan masyarakat modern. Seperti ketika Nagabonar bersama tukang bajaj bernama Umar keliling kota Jakarta. Nagabonar minta diantar ke makam Jenderal Sudirman (pada detik ini saya sempat bertanya, �memangnya makamnya di jakarta ya?�). Umar pun menjawab bahwa makam sang jenderal berada di Jogja namun ia berinisatif mengajaknya ke Patung Jenderal Sudirman di Tosari. Dalam perjalanan mereka dihentikan oleh polisi yang melarang memasuki kawasan bebas bajaj. Nagabonar berceloteh mengapa ada peraturan yang melarang bajaj masuk, seperti Belanda (penjajah) saja sambungnya.

Di tempat ini Nagabonar tertegun melihat patung sang jenderal yang memberi hormat pada kendaraan yang lalu lalang. Nagabonar bertanya, �Siapa yang kau beri hormat Jenderal, apakah mobil-mobil tersebut karena mereka beroda empat, Turunkan tanganmu Jenderal! Nagabonar memaksa untuk menurunkan tangan patung sang jenderal. Saya menangis pada adegan ini dan untuk pertama kalinya rasa kebangsaan saya terusik Saya tidak mengenal Nagabonar namun saya bisa merasakan apa yang ia rasakan. Entah karena larangan bajaj yang tidak boleh memasuki jalan tersebut dan sang patung malah menghormati kendaraan yang lewat atau haru melihat Nagabonar yang telah berjuang agar kita bisa merasakan kemerdekaan namun ia (saya) melihat bahwa kini kemerdekaan itu sudah tidak ada.

Adegan lain yang membuat saya haru adalah ketika Bonaga mengajak ayahnya ke tempat para eksmud berkumpul. Tokoh Bonaga dan ketiga rekannya mewakili karakter pemuda kota yang cerdas, kaya, sukses, serta single. Orang-orang yang berusaha keras mencapai kedudukannya tidak seperti Umar yang dianggap Bonaga sebagai orang yang kurang berusaha. Tempat tersebut ternyata dugem di mana Bonaga dan ketiga kawannya bersuka-ria sepanjang malam. Saya tersentuh melihat Nagabonar kecewa melihat bagaimana anak-anak muda bersuka-ria yang dianggapnya merupakan tindakan salah untuk menikmati kemerdekaan ini.

Nagabonar bukanlah sosok seorang pahlawan. Ia hanya sosok orang tua yang sederhana, keras, humoris, dan suka bermain bola. Namun ia mampu menunjukkan pada kita apa arti pahlawan dan bagaimana kebebasan hasil perjuangan para pahlawan di masa lalu tidak mampu kita gunakan dengan semestinya. Nagabonar jadi 2 mengingatkan pada kita sifat kebangsaan yang saat ini mulai luntur dimana individualitas dan keberhasilan personal menjadi ukuran terpenting.

Audina Furi Nirukti

Cinta Pertama

Hanya Mengejar Romantisme



Cinta Pertama bercerita tentang kisah cinta Alia (Bunga Citra Lestari) yang dituliskan dalam buku hariannya. Setelah hari pertunangannya dengan Abi mendadak Alia jatuh koma akibat stroke. Selama Alia koma, Abi membaca buku harian yang ditulis tunangannya sejak ia masih SMU. Abi lalu menemukan sesuatu yang selama ini disembunyikan Alia, terutama rahasia tentang teman dekatnya semasa SMU, Sunny, yang juga cinta pertamanya, cintanya yang ia pendam, serta cintanya yang hilang. Rentetan kilas balik Alia semasa SMU bergulir kembali hingga suatu saat Alia harus merelakan cintanya yang hilang untuk pergi dan hilang kembali untuk kedua kalinya. Penonton remaja yang sentimentil mungkin akan berkaca-kaca selama menyaksikan film ini. Pemilihan tema �cinta pertama� pada masa SMU juga pas mendukung penonton remaja untuk lebih jauh menyelami dan menghayati film ini. Cinta Pertama bisa jadi akan membawa penonton mengingat memori-memori manis semasa SMU, cinta pertama anda mungkin, serta ide-ide liar lainnya di seputar hal ini. Dari sisi cerita, film ini bisa dibilang cukup berhasil membidik penonton remaja sebagai sasarannya.

Selain cerita yang menguras air mata penontonnya, elemen-elemen lain seperti setting romantis, akting dan dialog penuh kata-kata mesra, alunan musik romantis, teknik slow-motion hingga pencahayaan temaram digunakan secara intensif untuk memperkuat karakter film ini. Latar indah penuh dengan warna-warni bunga, dedaunan, burung dara putih serta serbuk bunga (kapas) berterbangan ditiup angin. Penggunaan elemen air seperti hujan (gerimis), kebetulan merupakan satu hal yang disukai Alia juga ikut mendukung suasana romantis, haru, sedih, dan tragis. Nyaris semua adegan diambil dengan pergerakan kamera yang lambat dan seringkali dipadukan dengan teknik slow-motion untuk menambah kesan dramatik. Bahkan hingga semua pemain utamanya pun di-setel untuk berakting sedih, haru, datar, gerak tubuh lambat serta ekspresi kosong.

Satu hal yang sangat mengganggu adalah penggunaan elemen-elemen pendukung diatas yang seringkali terlalu berlebihan. Latar indah bak mimpi ala film drama romantis Korea muncul tidak hanya pada kilas balik �dunia mimpi� semasa SMU namun juga terjadi juga pada dunia kini. Seperti adegan pembicaraan antara Abi dan Rena, di halaman rumah sakit, suasananya nyaris sama �romantis�-nya dengan dialog antara Alia dengan Sunny ketika mereka berduaan. Ada pula beberapa adegan yang tidak terlalu berarti dimasukkan hanya untuk sekedar menambah unsur romantisme dan haru. Pergerakan kamera pun beberapa kali tampak agak berlebihan. Akting dan dialog yang tidak ber-�jiwa� dan kaku (seperti biasa) masih menjadi kelemahan utama. Namun satu hal yang perlu disyukuri setidaknya kali ini Nayato, sang sutradara, menggunakan ilustrasi musik asli yang penggarapannya diserahkan Addie MS. Lagu dan ilustrasi musiknya sendiri juga cukup pas mendukung suasana yang dibangun. Hal ini patut mendapatkan pujian tersendiri mengingat kesalahan yang dilakukan sutradara pada film sebelumnya.

Cinta pertama tidak memberikan pesan moral apapun bagi penontonnya selain romantisme belaka. Inti cerita pun tidak jauh berbeda dari roman-roman umumnya yang kisahnya memang pas untuk penonton remaja. Berbicara soal moral, justru sebaliknya kunci utama kesalahan film ini terletak pada Abi ketika ia mulai membaca buku harian Alia. Seluruh konflik cerita dipicu oleh tindakan ini. Apapun alasannya sebenarnya ia tidak berhak membaca buku harian tersebut. Dan jika memang harus dilakukan pun mestinya ada penjelasan moral untuk memperkuat hal tersebut, setidaknya untuk menjawab, �mengapa buku harian tersebut harus dibaca?�. Mengapa pula Abi harus menanggapi dengan sikap berlebihan. Bukankah mestinya cinta saja cukup untuk menjawabnya. �Tuh kan, berarti belum semuanya tentang aku kamu tau� kata Bunga pada Abi.

Adithya Nugroho & Audina Furi Nirukti