Minggu, 01 Juni 2008

Film Horor dari Masa ke Masa

..
Horor merupakan salah satu genre yang paling populer sejak puluhan tahun silam hingga kini. Tujuan utama film horor cuma satu, yaitu memberikan rasa takut yang mendalam bagi penontonnya. Bagi kebanyakan orang, film horor semakin menghibur jika mampu memberikan ketakutan, teror, mimpi buruk, serta kepanikan luar biasa. Film horor dianggap berhasil jika mampu membuat penontonnya menjerit histeris dan nuansa horornya masih terbawa hingga lama setelah selesai menonton. Hampir sepanjang film, penonton selalu disajikan adegan-adegan aksi mencekam dan menakutkan yang membuat jantung berdegup kencang setiap saat.
..
Plot film horor pada umumnya sederhana, yakni bagaimana usaha manusia untuk melawan kekuatan jahat yang sering kali berhubungan dengan dimensi supernatural dan sisi gelap manusia. Film Horor sering kali menampilkan makhluk dengan sosok menyeramkan berwujud non-manusia, seperti arwah, iblis, mayat hidup, vampir, makhluk asing (alien), dan sebagainya. Salah satu keberhasilan karakter-karakter tersebut terletak pada aspek tata rias wajah. Karakter antagonis bisa pula sosok manusia seperti, psikopat, pembunuh serial, atau seseorang dengan gangguan kejiwaan lainnya. Untuk mendukung suasana mencekam, umumnya set memakai tata cahaya cenderung gelap (low-key lighting) dan adegan aksinya banyak berlangsung pada malam hari. Unsur suara menjadi kunci keberhasilan film horor. Efek suara yang mengagetkan lazim digunakan bersama iringan musik mencekam untuk menambah ketegangan adegan demi adegannya. Elemen natural seperti hujan serta suara dan kilatan halilitar juga sering digunakan, biasanya pada adegan klimaks. Film horor juga dikenal dengan ending yang sering kali mengambang. Tak jelas apakah kekuatan jahat masih ada di sekitar kita atau tidak.
..
Awal Perkembangan Film Horor
Mungkin tidak banyak orang yang tahu jika film horor telah ada sejak awal perkembangan sinema lebih dari seratus tahun yang lalu. Film horor pertama tercatat adalah Le Manoir Du Diable (1896) karya sineas yang juga pesulap asal Perancis, George Melies dengan durasi tiga menit. Film-film awal horor monster dalam perkembangan mulai diproduksi di Amerika pada awal dekade 1910-an hingga awal 1920-an. Salah satunya yang menonjol adalah Edison Frankenstein (1910) yang diproduksi studio Edison. Dalam perkembangannya film horor mulai populer di Eropa terutama Jerman melalui Der Student von Prag (1913), serta Nachte des Grauens (1916) yang dianggap merupakan salah satu film vampir pertama.
Adalah sinema ekspresionisme Jerman yang memberikan landasan berpijak bagi perkembangan genre horor berikutnya. Aliran sinema ini diawali dengan film bernuansa horor, Cabinet of Dr. Caligary (1919) arahan Robert Wiene. Film mengetengahkan serangkaian kisah pembunuhan oleh sosok monster yang dikontrol penghipnotis bernama Dr. Caligari. Adapun film-film bertema horor lainnya yang sangat berpengaruh adalah Nosferatu (1922) karya F.W. Murnau yang diinspirasi dari novel Dracula karya Bram Stoker, legenda Der Golem (1921) arahan Paul Wagener, serta WaxWorks (1924) arahan Paul Leni. Film-film horor produksi Jerman ini dibawa ke Amerika beberapa tahun berselang dan sangat berpengaruh membentuk film-film horor konvensional Hollywood pada dekade mendatang.
Era Emas Horor Hollywood Klasik
Di era film bisu adalah aktor Lon Chaney yang banyak membantu menaikkan popularitas film horor pada penonton Amerika. Chaney yang memiliki julukan �pria dengan seribu wajah� tercatat sebagai bintang film horor Amerika pertama. Chaney sejak dekade 1910-an telah membintangi beberapa seri film horor bersama sutradara spesialis horor, Tod Browning. Salah satunya yang sangat populer adalah Phantom of the Opera (1925) dimana Chaney berperan sebagai �hantu� opera berwajah seram. Bersama Browning, Chaney juga membintangi film vampir Hollywood pertama, London after Midnight (1927). Pada era bisu ini, cerita klasik Dr. Jekyll and Mr. Hyde (1920) juga telah diproduksi dan dibintangi oleh John Barrymore. Setelah hijrah ke Hollywood, Paul Leni mengarahkan film �rumah hantu� pertama, The Cat and the Canary (1927).
Memasuki era 30-an, Hollywood memasuki fase baru perkembangan film horor. Studio Universal selama dua dekade ke depan sukses besar bersama ikon-ikon horor populer seperti Dracula, monster Frankenstein, mumi, werewolf bersama para bintangnya, Bela Lugosi dan Boris Karloff. Aktor asal Hungaria, Lugosi menjadi ikon vampir setelah sukses melalui Dracula (1931) arahan Browning. Sukses ini membawa Lugosi membintangi beberapa film vampir, seperti Mark of the Vampire (1935). Sementara Karloff menjadi ikon karakter monster ciptaan Dr. Frankenstein serta mumi. Karloff mengawali sukses dengan kisah klasik, Frankenstein (1931) yang diikuti pula dua sekuelnya The Bride of Frankenstein (1935) dan Son of Frankenstein (1939). Karloff tampil meyakinkan pula sebagai si mayat hidup dalam The Mummy (1932). Universal sukses pula dengan karakter horor populer lainnya seperti, The Invisible Man (1931), The Werewolf of London (1935), serta The Wolf Man (1941).
Sukses sensasional film-film horor tersebut memotivasi Universal memproduksi beberapa film yang menampilkan monster-monster tersebut dalam satu film, seperti Frankenstein Meets the Wolfman (1943), House of Frankenstein (1944), House of Dracula (1945) hingga horor komedi Abbot and Castello Meets Frankenstein (1948). Film-film horor lainnya yang menonjol pada era ini adalah Freaks (1932), Old Dark House (1932), lalu film zombie pertama The White Zombie (1932), lalu The Black Cat (1934) yang dibintangi Lugosi dan Karloff. Sementara produser studio RKO, Val Lewton memproduksi film-film horor berbujet rendah dengan pendekatan berbeda dengan Universal, seperti The Cat People (1942). Film ini boleh jadi adalah film horor pertama yang sama sekali tidak memperlihatkan sosok monsternya. Sukses ini membawa Lewton memproduksi beberapa horor-psikologis sejenis antara lain, The Sevent Victim (1943), The Curse of the Cat People (1943), Isle of the Dead (1945), Bedlamb (1945) serta Body Snacther (1945).
Horor Era Perang Dingin
Perkembangan horor Hollywood era 50-an sedikit berubah dengan munculnya isu perang nuklir serta perang dingin antara Amerika Serikat dan Soviet. Nuansa fiksi ilmiah terasa begitu kental dengan monster-monster hasil uji coba ilmiah, limpahan bahan kimia, kebocoran radio aktif, hingga invasi makhluk asing. Film-film horor tersebut juga telah menggunakan efek visual yang semakin canggih. Adapun film-film horor invasi makhluk asing yang populer antara lain, The Thing From Another World (1951) dan Invasion of Body Snatchers (1956). Film-film horor mutan hasil uji coba ilmiah dan kecelakaan radioaktif, seperti The Creature from the Black Lagoon (1954), Them! (1954), dan The Fly (1958). Pada akhir dekade ini raja �B-Movies�, Roger Corman memproduseri film-film horor berbujet rendah untuk konsumsi remaja dan drive-in theatre seperti I Was A Teenage Werewolf (1957), Attack of the Crab Monster (1957), serta The Blob (1958). Corman masih memproduksi film-film sejenis hingga satu dekade ke depan.
Horor Era Transisi
Genre horor berkembang semakin kompleks di era 60-an sejalan dengan dihapusnya lembaga sensor di Amerika pada dekade ini. Tidak seperti film horor konvensional di era 30-an, genre horor berkembang semakin realistik dengan mengambil latar yang nyata. Master thriller, Alfred Hitchcock memproduksi horor-thriller berpengaruh Psycho (1960) berkisah tentang seorang pembunuh psikopat di motel Bates. Film ini dianggap banyak pengamat sebagai lompatan jauh yang mengubah genre horor setelahnya. Hitchcock melanjutkannya dengan film horor-bencana, The Birds (1963), yang berkisah tentang invasi burung-burung liar di sebuah kota. Sutradara Polandia, Roman Polanski memproduksi film horor sukses, Rosemary Baby (1968) berkisah tentang ibu muda yang mengandung anak iblis. Dan pada akhir dekade, sineas spesialis horor, George Romero mengawali debutnya dengan film zombie fenomenal, Nigth of the Living Dead (1969) yang diproduksi dengan bujet rendah. Film inilah yang nantinya banyak mempengaruhi film-film horor bertema zombie selanjutnya hingga kini.
Kejayaan Kembali Horor di Era 70-an.
Setelah era emas beberapa dekade silam, periode ini dapat pula dikatakan era kejayaan kembali genre horor. Horor berkembang semakin jauh dengan munculnya sistem rating yang memberi kebebasan penuh bagi para sineas untuk berkreasi. Film-film horor semakin berani mengumbar adegan aksi kekerasan dan seks yang lebih vulgar. Tercatat pula film-film horor supernatural sangat sukses pada dekade ini. Sukses fenomenal dicapai The Exorcist (1973) arahan William Friedkin. Sebuah film kontroversial yang berkisah tentang seorang gadis muda yang kerasukan iblis. Pada masanya film ini sempat menjadi film terlaris sepanjang masa serta dianggap sebagai film horor terbaik. Sukses film ini diikuti beberapa film bertema supernatural sejenis yang juga populer, seperti The Omen (1976) dan The Amitville Horor (1979). Di akhir dekade, sutradara kenamaan Stanley Kubrick juga memproduksi film horor berpengaruh bertema sejenis, yakni Shining (1980) yang merupakan adaptasi lepas dari novel karya Stephen King.
Beberapa film horor remaja berpengaruh juga diproduksi pada era ini. Karakter antagonis umumnya adalah psikopat atau orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Pertengahan dekade tercatat dua film jenis ini yang sukses, yaitu It�s Alive (1974) dan The Texas Chainshaw Massacre (1974). Sukses fenomenal juga dicapai John Carpenter melalui Hallowen (1978) yang untuk pertama kalinya memperkenalkan karakter Michael Myers. Brian De Palma ikut meramaikan melalui tiga film horornya, yaitu Sisters (1973), Carrie (1976), dan Dressed to Kill (1980). Spesialis horor Wes Craven memulai karirnya dengan Last House on the Left (1972) dan The Hills Have Eyes (1977). Sineas muda berbakat, Steven Spielberg mengawali debut dengan horor-thriller, Duel (1972) serta sukses besar dengan film bertema hiu pembunuh, Jaws (1974). Sineas muda berbakat lainnya Ridley Scott mengarahkan awal seri horor-triller populer, Alien (1979). Patut dicatat pula film aneh, The Rocky Horror Picture Show (1975) mampu menarik sensasi melalui perpaduan berbagai genre sekaligus yakni, horor, komedi, musikal, roman, serta fiksi-ilmiah.
Sukses Horor Sekuel serta Remake Era 80-an dan 90-an
Era 70-an ternyata telah memberikan landasan yang lebih dari cukup bagi perkembangan genre horor beberapa dekade ke depan. Horor orientasi remaja rupanya masih menjadi pilihan dengan beberapa sekuel bahkan hingga belasan jumlahnya. Tipikal jenis filmnya adalah si penjagal yang meneror muda-mudi, lengkap dengan adegan kekerasan penuh darah. Dimulai dengan seri horor populer, Friday The 13th (1980) dengan karakter antagonis yang kini menjadi landmark, yakni Jason. Sukses film ini diikuti kemudian oleh belasan sekuelnya. Wes Craven kembali sukses besar dengan karakter fenomenal, Freddie Krueger melalui A Nighmare on Elm Street (1984) bersama setengah lusin sekuelnya. Craven pada era 90-an sukses pula melalui Scream (1996) dengan dua sekuelnya. Sukses Scream mengilhami film-film sejenis, seperti I Know What U Did Last Summer (1997) dan Urban Legend (1998). Sementara si boneka pembunuh, Chucky memulai debut suksesnya melalui Child Play (1988).
Beberapa film horor sukses melalui remake ikon-ikon horor konvensional era 30-an dengan gaya berbeda. Sosok monster tampak lebih meyakinkan dan bergerak lebih cepat dengan dukungan efek visual modern. Werewolf muncul dalam An American Werewolf in London (1981), The Howling (1981), dan Wolf (1994). Karakter vampir tercatat paling sering muncul seperti, Bram Stoker�s Dracula (1992), Interview with the Vampire (1994), From Dusk Till Dawn (1996), dan Vampire (1998). Monster frankenstein muncul dalam Mary Shelley�s Frankenstein (1994) dan mumi sukses besar melalui horor aksi-petualangan, The Mummy (1999).
Beberapa film horor lain sukses pula dengan tema sangat variatif. Horor konsumsi keluarga sukses besar melalui Poltergeist (1982), Ghostbuster (1984), dan Gremlins (1984). Horor-psikopat sukses melalui Misery (1990), Cape Fear (1991), serta The Silince of the Lamb (1991) yang meraih Oscar untuk film terbaik. Beberapa sineas memiliki keunikan melalui film-film horor mereka seperti Tim Burton, Beetlejuice (1988) dan Sleepy Hollow (1999); Sam Raimi, seri Evil Dead (1983); serta David Cronenberg, The Dead Zone (1983), Videodrome (1983), serta The Fly (1986). Akhir milenium ditutup dengan sukses fenomenal dua horor-supernatural, yakni The Sixth Sense (1999) karya M. Night Shyamalan serta The Blair Wicth Project (1999). Blair dengan gaya dokumenternya diproduksi dengan bujet sangat rendah, tercatat sebagai film dengan prosentase keuntugan terbesar sepanjang sejarah sinema. Di lain tempat, horor Jepang, Ringu (1998) menawarkan jenis horor baru yang unik.
Horor Era Milenium Baru
Pada era milenium baru genre horor tidak mengalami perkembangan yang berarti. Tren masih mengikuti dekade sebelumnya, yakni demam sekuel dan remake, dominasi efek visual, dan lebih berani menampilkan adegan-adegan sadis secara eksplisit. Dalam banyak kasus, batasan genre horor dan aksi juga semakin tipis. Karakter horor konvensional rupanya masih menjadi favorit, vampir, mumi, werewolf, zombie dengan beragam variasi, seperti Underworld (2000), The Mummy Returns (2001), Blade II (2002), Resident Evil (2002), 28 Days Later (2002), Van Helsing (2004), Dawn of the Dead (2004), hingga I Am Legend (2007). Beberapa prekuel, sekuel, serta remake seri populer masih juga diproduksi seperti, The Texas Chainshaw Masacre (2003), Freddie vs Jason (2003), Exorcist: The Beginning (2004), The Amitville Horor (2005), The Fog (2005), serta The Omen (2006). Film-film horor lainnya yang cukup unik antara lain, Final Destination (2000) dengan dua sekuelnya, serta horor supernatural, 13 Ghosts (2000) dan The Others (2001).
Beberapa sentuhan baru mewarnai genre horor pada dekade ini. Horor Jepang yang memiliki karakter supernatural khas mengalami masa-masa jayanya melalui remake The Ring (2002), The Grudge (2004), serta Dark Water (2005). Dua film pertama bahkan sempat dibuat sekuelnya. Horor juga masuk dalam tahapan yang lebih jauh melalui film-film horor sadistik dengan aksi kekerasan-penyiksaan eksplisit, seperti tampak dalam Fear Dot Com (2002), Saw (2004), Hostel (2005), serta The Devils Reject (2005). Sukses Saw bahkan memicu produksi sekuelnya hingga beberapa seri. Lantas bagaimana perkembangan genre horor setelah ini? Sepertinya tren horor di awal milenium ini akan terus berlanjut hingga tahun-tahun mendatang dan nyaris mustahil rasanya mencari bentuk-bentuk horor yang orisinil. (hp)

The Exorcist, Film Horor Terbaik Sepanjang Masa?

The Exorcist (1974) arahan sineas William Friedkin merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya William Peter Blatty. Film ini tercatat merupakan film horor pertama yang sukses secara komersil maupun kritik. Pada masanya film ini sempat menjadi film terlaris sepanjang masa dan merupakan film horor pertama yang mampu meraih nominasi Oscar untuk film terbaik. Film ini sukses meraih dua Oscar dari sepuluh yang dinominasikan, yakni untuk naskah adaptasi serta suara terbaik. Film ini juga mengundang kontroversi karena beberapa aksi vulgar serta sumpah serapah yang diucapkan seorang gadis cilik.

Filmnya sendiri berkisah tentang seorang gadis cilik yang kerasukan iblis yang konon diinsipirasi dari kisah nyata. Alkisah Chris (Ellen Burstyn) adalah seorang aktris dan ibu muda yang baru saja bercerai dan tinggal bersama putrinya, Regan (Linda Blair) yang berusia 12 tahun. Suatu ketika sang putri mengalami perubahan sifat menjadi lebih agresif. Awalnya Regan diduga mengalami gangguan psikis akibat perceraian orang tuanya, namun kondisinya justru semakin memburuk. Wajah dan suara Regan berubah, kekuatannya berlipat, seolah ada makhluk lain yang merasukinya. Pihak dokter akhirnya menyerah dan Chris meminta bantuan seorang pendeta muda, Damien Karras (Jason Miller). Sang pendeta yang tengah dilanda krisis kepercayaan akibat ibunya yang sekarat juga tidak mampu berbuat banyak. Ia akhirnya ditemani pendeta senior berpengalaman, Lankester Merrin (Max Von Sydow) untuk mengusir iblis di tubuh Regan.

The Exorcist seperti lazimnya film horor menggunakan plot kebaikan versus kejahatan. Namun tidak seperti pada umumnya, film ini memiliki tempo cerita yang lambat. Lebih dari separuh cerita dituturkan secara paralel antara kisah Chris/Regan dengan Damien. Cerita juga lebih mengedepankan logika ketimbang hal-hal mistik. Gangguan �kejiwaan� yang dialami Regan mengalami tahapan-tahapan uji-coba medis yang lama, sebelum akhirnya ia divonis �kesurupun�. Film telah berjalan hampir � durasi total ketika Damien pertama kali bertemu Regan. Tidak ada unsur ketegangan yang berarti karena kita tahu persis jika sang iblis selalu berada dalam kamar. Istimewanya justru horor tidak tercipta dari sosok fisik iblis, namun lebih menganggu kita secara psikologis. Ucapan serta tindak-tanduk sang iblis mampu memperdaya kita dengan mengaburkan makna kejahatan dan kebaikan.

Tidak seperti film horor pada umumnya, film ini tidak didominasi tata cahaya yang gelap. Iblis rupanya bekerja tidak mengenal waktu. Ketika �Regan� menyerang ibunya dengan kekuatan supernaturalnya, terjadi di siang bolong, dan hanya pada adegan klimaks terjadi di waktu malam. Film menampilkan efek-efek visual yang begitu meyakinkan seperti kepala Regan yang berputar 360�, tubuh sang iblis yang melayang, tempat tidur yang bergoyang-goyang, hingga perabot rumah yang bergerak. Agar set tampak meyakinkan konon sineas mengambil gambar di ruang pendingin pada adegan klimaks agar hembusan nafas terlihat oleh kamera. Sosok iblis makin sempurna dengan tata rias wajah yang begitu meyakinkan serta suara �serak� sang iblis yang khas. Dua aktor debutan, Blair dan Miller bermain sangat baik hingga keduanya diganjar nominasi Oscar. Film ditutup dengan akhir �manis� yang merupakan solusi dari dilema Damien, ketika sang iblis masuk ke tubuhnya, dan ia lalu mengorbankan dirinya. Pada eranya film ini memang istimewa, namun sekarang, kami serahkan Anda yang menilai. 

Himawan Pratista

I Am Legend, Legenda yang Tidak Akan Melegenda

I Am legend kisahnya diangkat dari novel karya Richard Matheson yang digarap oleh sutradara Francis Lawrence. I Am legend merupakan film horor-fiksi ilmiah adaptasi ketiga setelah The Last Man on Earth (1964) dan The Omega Man (1971). Dalam dua film sebelumnya tokoh utama masing-masing diperankan oleh Vincent Prize serta Charles Heston, dan kini diperankan Will Smith. Sejauh ini I Am Legend tercatat sebagai film �zombie� terlaris sepanjang masa dengan total pemasukan kotor lebih dari $450 juta dari rilisnya di seluruh dunia.


Cerita film dibuka dengan sebuah tayangan televisi berisi wawancara seorang ilmuwan yang meyakini berhasil menyembuhkan penyakit kanker melalui virus yang telah ia reka-genetik. Cerita mendadak melompat tiga tahun berselang, menggambarkan kota New York yang telah berubah menjadi kota mati. Virus diceritakan gagal dan menyebar melalui udara serta menginfeksi umat manusia menjadi monster ganas yang memangsa manusia lainnya. Satu-satunya orang yang tidak terinfeksi di kota ini adalah Robert Neville. Kesehariannya Neville ditemani anjingnya Sam, berkeliling kota mencari persediaan makanan, menyapu wilayah dari satu blok ke blok lain, serta mengirimkan pesan melalui radio untuk mencari orang lain yang selamat. Pada malam harinya barulah para monster keluar dari sarangnya dan Neville pun menutup rumahnya rapat-rapat. Sementara di laboratorium kecilnya, ia beruji-coba keras mencari antivirus menggunakan darah imunnya. Suatu hari Sam mengejar seekor Rusa hingga masuk ke dalam sebuah bangunan dan dari sinilah semua masalah bermula.

Kisah �zombie� sejenis sebelumnya telah banyak diproduksi, dan I Am Legend sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Alur cerita relatif lambat dan separuh durasi awal terasa sedikit membosankan karena minimnya aksi. Kisah filmnya sendiri memiliki banyak kejanggalan. Dikisahkan para monster adalah sosok yang telah kehilangan rasa kemanusiaannya dan tentu saja juga kehilangan akal serta logika. Kejanggalan pertama, dalam film ini tidak jelas bagaimana sang monster dapat mengenali Fred, boneka (manekin) �rekan� Neville yang digunakan sebagai umpan. Apakah hanya kebetulan belaka? Kedua, bagaimana ceritanya sang monster dapat memperhitungkan jebakan untuk Neville dengan begitu sabar, detil, dan cermat. Apakah hanya secara kebetulan atau mungkin saja sang monster mempelajarinya dari Neville ketika menjebak rekannya sebelumnya? Namun jika sang monster memang secerdas itu kenapa tidak langsung saja ia mencari tempat tinggal Neville?, atau mungkin sekalian saja menantang dengan menjawab sinyal radio Neville? Sungguh tidak masuk akal!

Kekuatan film ini sedikit banyak tertolong oleh sosok Will Smith serta set-nya. Kematangan akting Smith mampu mengubah nuansa film yang kosong menjadi lebih humanis melalui rasa keterasingannya, rasa takutnya ketika ribuan monster keluar pada malam hari, kedekatannya dengan Sam, memori tentang istri dan putrinya, hingga bagaimana ia masih bisa menikmati alunan lagu Bob Marley. Sementara set kota mati bukanlah hal yang baru, seperti dapat kita jumpai pada film �zombie� lainnya, 28 Days Later yang mampu mengosongkan kota London. Film ini berhasil menggambarkan kota New York yang kosong dengan sangat meyakinkan yaitu dengan memperlihatkan beberapa landmark kota yang tampak telah lama terbengkalai. Namun amat disayangkan sosok monster hingga binatang dalam film ini seluruhnya diciptakan menggunakan rekayasa komputer. Seperti dalam film-film sejenis, sosok �zombie� diartikan sebagai simbol sifat binatang yang ada dalam diri manusia.



Viantari

The Victim, Sebuah Realitas di Balik Realitas


Tidak banyak film-film horor Asia yang diputar di bioskop-bioskop kita. Beruntung salah satu dari kru kami, yang kebetulan berada di Bandung, sempat menonton film horor produksi Thailand berjudul, The Victim (Phii khon pen). Film horor-thriller ini diarahkan oleh sutradara lokal, Monthon Arayangkoon. Konsep filmnya konon diinsipirasi dari teknik reka-ulang adegan kriminal yang dilakukan pihak kepolisian setempat yang diliput luas media setempat. Peran korban biasanya diperankan oleh seorang aktor atau aktris, sementara peran pelaku kriminal diperankan sendiri oleh pelaku sesungguhnya.

Alkisah Ting (Pitchannart Sakakorn) adalah seorang aktris muda yang suatu ketika mendapat tawaran dari pihak kepolisian untuk berperan sebagai para korban dalam reka-ulang adegan kriminal. Ting lambat laun mulai menyukai pekerjaannya dan namanya pun semakin populer. Suatu ketika Ting mengambil peran sebagai Meen, seorang selebriti yang tewas dan diduga telah dibunuh oleh suaminya sendiri. Kejadian-kejadian aneh menerpa Ting setelahnya, sebelum akhirnya ia mengetahui jika Meen sebenarnya dibunuh oleh rekan wanitanya, Fay. Fay berusaha membunuh Ting namun di saat genting seorang polisi menembaknya lebih dulu. Mendadak cut! Semua ini ternyata hanyalah sebuah produksi film belaka. Cerita sesungguhnya bermula di sini, ketika satu persatu kru film tewas mengenaskan oleh sosok arwah penasaran. Ting yang ternyata diperankan seorang aktris populer bernama May menjadi target akhir sang arwah.

Arayangkoon mampu mengemas filmnya dengan alur cerita yang unik dengan nuansa lokal yang demikian kental. Hampir separuh durasi film, kita tidak menyadari jika semua yang kita tonton hanyalah sebuah film. Sebuah realitas di dalam realitas lainnya. Setelah separuh durasi cerita kita baru memahami jika ternyata selama produksi film telah terjadi peristiwa-peristiwa gaib yang menimpa May (kesurupan). Ceritanya sendiri cukup membingungkan karena hingga akhir cerita kita baru memahami motif sesungguhnya dari sang arwah. Tidak jelas mengapa sang arwah mesti repot-repot membunuh para kru film jika sejak awal bisa langsung �masuk� ke tubuh May. Amat disayangkan sekali, kisah Ting di awal film yang sebenarnya menarik untuk digali lebih dalam ternyata hanya merupakan pengantar menuju cerita sesungguhnya. Sang �victim� (Ting) akhirnya menjadi victim sungguhan (May).

Tidak berbeda dengan film-film horor sejenis, The Victim sarat dengan adegan-adegan mencekam yang membuat jantung kita berdebar setiap saat. Efek suara dan musik sangat dominan dalam mendukung nuansa horornya. Entah mengapa paruh pertama film terasa jauh lebih baik daripada paruh cerita kedua dalam membangun nuansa mistiknya. Seperti sosok arwah-arwah penasaran yang didoakan oleh Ting, serta adegan ketika Ting dipandu menari oleh arwah Meen. Pada paruh kedua aksi yang relative menonjol hanya pada munculnya sosok bayangan penari Thai yang disajikan cukup unik dengan gerakan patah-patah sebelum membunuh korbannya. Satu hal lagi yang membuat film ini berhasil adalah penampilan meyakinkan dari sang aktris, Sakakorn, terutama perannya sebagai Ting. Secara teknis film ini memang tidak jauh berbeda dengan film-film horor kita, namun secara keseluruhan The Victim masih setingkat lebih baik. Satu saran dari kami, jangan menonton film ini pada malam hari. 

M. Pradipta

Kuntilanak 2, Sekuel yang Tidak Perlu Ada

Sukses Kuntilanak rupanya berbuntut pada produksi film sekuelnya, Kuntilanak 2 (K2). Kuntilanak sendiri adalah film horor yang tidak begitu buruk. Setidaknya Kuntilanak menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film horor lainnya. K2 masih menampilkan dua bintang utamanya, Julie Estelle serta Evan Sanders. Sutradaranya pun masih sama, yakni Rizal Mantovani. Jika kita bandingkan dengan film pertamanya, K2 mengalami kemunduran dua langkah dari sisi mana pun.

Alkisah Samantha (Estelle) setelah pindah dari rumah kosnya yang lama semakin menikmati hobi barunya bersama �peliharaan�nya, yakni, membunuh orang-orang yang bermasalah dengannya. Sopir taksi dan rekan pacarnya tidak luput jadi korban. Di lain pihak, pacar Sam, Agung (Sanders) yang masih trauma karena kejadian silam mulai berani menghadapi rasa takutnya dan mencari Sam. Sementara sekte sesat bernama Mangkujiwo (dedengkotnya dibunuh Sam pada film pertama) merasa terancam karena hanya Sam yang kini memiliki wangsit untuk memanggil Kuntilanak. Perkembangan cerita selanjutnya berputar-putar sekitar konflik batin Sam serta usahanya bersama Agung untuk lepas dari ancaman sekte Mangkujiwo.
..
K2 adalah satu contoh bagus bagaimana sebuah sekuel bisa diproduksi dengan begitu buruk. Kelebihan pada film pertamanya, seperti set dan mood-nya sudah tidak lagi tampak. Mengapa set bangunan kos tua pada seri pertama tidak lagi dipakai? Pada ending film pertama, Sam tampak nyaman tinggal di rumah tersebut, tak jelas mengapa ia pergi. Satu-satunya benda yang dibawa Sam dari rumah kos lama adalah cermin kuno yang fungsinya kini tak jelas (dulu menjadi �pintu� keluar Kuntilanak). Lucunya, tempat kos Sam yang baru, sebuah ruko (toko elektronik) milik keluarga Tionghoa suasananya justru dibuat remang-remang. Juga ilustrasi musik yang pada seri pertama banyak mendukung adegannya, kini hanya menonjol pada opening title-nya saja.

Beberapa hal yang menjadi kelemahan mendasar film ini terutama tampak pada dialog serta banyak adegan yang tidak perlu (kelemahan umum film kita). Satu contoh sederhana adalah dialog pada adegan rapat sekte Mangkujiwo di awal film. Dialog yang bergulir dipaksakan �digilir� satu persatu oleh semua anggota. Dialog satu karakter hanya menyambung dialog karakter lain dengan begitu kaku. Kualitas dialog yang begitu buruk juga semakin diperparah dengan kualitas akting yang sangat rendah. Sementara adegan yang tak jelas fungsinya jumlahnya bisa lusinan lebih. Satu contoh sempurna adalah adegan pembuka film yang memperlihatkan tiga anak bermain petak-umpet di dalam bangunan kos lama. Pada akhir adegan memperlihatkan bagaimana mereka akhirnya terjebak dalam cermin bersama Kuntilanak. Lantas apa hubungan adegan ini dengan rangkaian cerita keseluruhan? Justru adegan pembunuhan sopir taksi di awal film rasanya lebih pantas menjadi pembuka film. Hampir sepanjang film kemunculan adegan satu dengan adegan lain terasa begitu ganjil karena hubungan sebab akibat yang lemah. Di akhir film, muncul seorang karakter baru yang membuka peluang bagi sekuel berikutnya. For heaven sake! Please no�

M. Pradipta