Montase kali ini masih melanjutkan seri sutradara besar berpengaruh. Kali ini kami akan membahas tentang James Cameron yang kini tengah heboh dengan filmnya, Avatar. Pembahasan sang sineas lengkap dengan biografi serta film-film Cameron, serta kupasan Terminator 1 & 2. Kami juga meliput ajang festival film dokumenter yang baru lalu berlangsung di Kota Jogja. Beberapa film kita yang kita ulas adalah Identitas yang meraih piala Citra baru lalu serta Meraih Mimpi.Kamis, 16 April 2009
Dari mOntase
.
Montase kali ini masih melanjutkan seri sutradara besar berpengaruh. Kali ini kami akan membahas tentang James Cameron yang kini tengah heboh dengan filmnya, Avatar. Pembahasan sang sineas lengkap dengan biografi serta film-film Cameron, serta kupasan Terminator 1 & 2. Kami juga meliput ajang festival film dokumenter yang baru lalu berlangsung di Kota Jogja. Beberapa film kita yang kita ulas adalah Identitas yang meraih piala Citra baru lalu serta Meraih Mimpi.
Montase kali ini masih melanjutkan seri sutradara besar berpengaruh. Kali ini kami akan membahas tentang James Cameron yang kini tengah heboh dengan filmnya, Avatar. Pembahasan sang sineas lengkap dengan biografi serta film-film Cameron, serta kupasan Terminator 1 & 2. Kami juga meliput ajang festival film dokumenter yang baru lalu berlangsung di Kota Jogja. Beberapa film kita yang kita ulas adalah Identitas yang meraih piala Citra baru lalu serta Meraih Mimpi.James Cameron

James Francis Cameron lahir pada tanggal 16 Agustus 1954 di Kapuskasing, Ontario, Kanada. Ayahnya Phillip Cameron adalah seorang insinyur elektro sementara ibunya, Shirley Cameron adalah seorang artis. Cameron besar di Chippawa sebuah kota kecil di dekat Niagara Falls hingga keluarganya akhirnya pindah ke Fullerton, California, AS. Sejak kecil Cameron adalah seorang penggemar novel fiksi ilmiah. Sewaktu umur 15 tahun ia menonton 2001: Space Oddysey garapan Stanley Kubrick hingga beberapa kali yang menginspirasinya untuk menjadi pembuat film. Tidak hanya itu namun ia juga suka menulis cerita fiksi ilmiah. Semasa ia kuliah fisika dan literatur Inggris, Cameron selalu menyempatkan waktunya mengunjungi perpustakaan film di University of Southern California.
Setelah drop out kuliah, Cameron mengambil beberapa pekerjaan di antaranya bekerja di toko mesin, supir bis sekolah, hingga pengemudi truk namun pada malam hari ia masih menyempatkan untuk menulis cerita. Tahun 1977 merupakan lompatan penting bagi karir Cameron, setelah melihat film Star Wars, ia keluar dari pekerjaannya dan memutuskan untuk masuk dalam industri film. Pada saat yang sama, Cameron bersama dua temannya juga mencoba untuk memproduksi film fiksi ilmiah pendek yang berjudul Xenogenesis.
Karir pertama Cameron di dunia film adalah pembuat miniatur di studio milik sineas kawakan, Roger Corman, yang sering memproduksi film-film fiksi ilmiah kelas B. Cameron yang mampu bekerja efektif dan efisien menjadikan karirnya semakin meningkat hingga terlibat dalam produksi film-film fiksi ilmiah besar. Pada masa ini Cameron menjadi penata artistik dalam film Battle Beyond the Stars (1980), merancang efek khusus untuk Escape from New York (1981), film aksi futuristik garapan John Carpenter, juga menjadi konsultan desainer untuk Android (1980), serta perancang produksi untuk Galaxy of Terror (1981).
Cameron akhirnya mendapatkan kesempatan menjadi sutradara dalam film Piranha II: The Spawning (1981) setelah ditinggalkan oleh sutradara aslinya. Banyak masalah selama produksi menyebabkan hasil filmnya sangat buruk. Dikabarkan selama produksi, produsernya terus menekan Cameron hingga ia sakit keras. Konon sewaktu sakit ia bermimpi sebuah robot dari masa depan dikirim ke masa kini untuk membunuhnya. Terinsipirasi dari mimpinya ini ia menulis naskah film yang kelak akan mendongkrak namanya.
Setelah naskah The Terminator selesai, Cameron berusaha mencari studio yang mau membeli naskahnya sekaligus menyutradarainya. Di saat yang sama Cameron juga sempat menulis naskah Rambo: First Blood Part 2 serta Aliens yang keduanya merupakan sekuel dari dua film sukses. Sementara itu beberapa studio berminat pada naskah The Terminator namun mereka keberatan jika Cameron yang menyutradarainya. Akhirnya sebuah studio independen, Hamdale Pictures berminat membeli naskah film ini hanya dengan harga $1 namun imbalannya Cameron mendapat kursi sutradara dan mendapatkan kebebasan dalam produksi sesuai dengan visinya.
The Terminator (1984) berkisah tentang robot pembunuh dari masa depan yang berusaha membunuh seorang wanita yang kelak putranya akan menjadi pemimpin pemberontak umat manusia terhadap kaum robot. Bermain dalam film ini adalah binaragawan asal Austria, Arnold Schwarzenegger, kemudian Michael Biehn, Linda Connor, serta Lance Henrickson. Film hanya diproduksi dengan bujet tergolong kecil yakni, $6,5 juta. Dengan segala keterbatasan ini Cameron ternyata mampu menunjukkan bakatnya terutama dalam mengemas adegan aksi. Pihak distributor yang semula meremehkan film ini sontak terkejut dengan raihan film ini yakni sebesar $38 juta di Amerika saja, kemudian $78 di seluruh dunia. Seiring berjalannya waktu film ini semakin mendapat pujian dan kemudian sekuelnya dibuat hingga tiga film. Keberhasilan tersebut tidak hanya menaikkan reputasi Cameron sebagai sineas dan penulis naskah namun juga meroketkan nama sang megabintang baru, Arnold Schwarzenegger.Cameron yang sangat mengagumi film thriller - fiksi ilmiah Alien (1979) garapan Ridley Scott, sangat tertarik untuk membuat sekuelnya. Selama produksi Terminator, Cameron sempat menulis naskah Aliens. Sekalipun naskahnya belum selesai namun pihak studio 20th Century Fox sangat tertarik untuk memproduksinya. Jika ternyata Terminator sukses, Fox berminat memproduksinya dengan Cameron sebagai sutradara. Alhasil sukses Terminator membuat Aliens akhirnya diproduksi. Cameron juga membawa partnernya, yang juga produser film Terminator, Gale Ann Hurd untuk terlibat dalam produksi film ini.
Aliens (1986) memiliki konsep yang berbeda dengan film aslinya dengan lebih dominan memasukkan unsur aksi ketimbang horor. Aliens versi Cameron adalah benar-benar film aksi murni. Aktris Sigourney Weaver yang bermain dalam film pertamanya kembali bermain dalam film ini. Michael Biehn, Lance Henricksen, serta Bill Paxton yang bermain dalam Terminator juga ikut bermain. Aliens diproduksi dengan bujet $18 juta. Film ini penuh dengan efek visual, setting futuristik yang megah lengkap dengan peralatan, perlengkapan, dan kendaraan perang masa depan. Sekali lagi Cameron menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah adegan aksi hingga menjadi sebuah tontonan berkualitas sekaligus menghibur. Diluar dugaan film ini meraih hasil luar biasa, yakni $130 juta hanya dalam peredaran domestik saja. Film ini secara mengejutkan juga meraih tujuh nominasi Oscar dan meraih dua diantaranya, yakni untuk efek visual dan efek suara terbaik. Weaver juga mendapat nominasi aktris terbaik yang merupakan peristiwa langka karena sebelumnya belum pernah film fiksi ilmiah mendapatkan nominasi seperti ini.Sukses Aliens dan Terminator sangat mengangkat reputasi Cameron. Siapa saja di Hollywood kini ingin bekerja bersama Cameron. Namun Cameron justru menampik banyak tawaran dengan membuat proyek filmnya sendiri, The Abyss. Ide film ini sebenarnya telah ia tulis dalam cerita pendek sewaktu ia masih remaja. Cameron teringat tulisannya ini ketika ia melihat sebuah program National Geographic di dasar samudera, semasa produksi Aliens. Cameron lalu menulis naskahnya dan dengan reputasinya tersebut tidak sulit baginya untuk membuat studio Fox tertarik memproduksi film ini.
The Abyss (1989) adalah film fiksi ilmiah tentang sekelompok peneliti dasar samudera yang secara tidak sengaja bertemu mahkluk asing. Produksi filmnya sangat sulit dilakukan mengingat nyaris separuh cerita film tersebut diambil di bawah air dan membutuhkan waktu sekitar 18 bulan untuk merampungkannya. Cameron membangun set bawah air yang konon tercatat paling besar yang pernah ada. Dengan bujet produksi yang mencapai $70 juta menjadikan film ini sebagai salah satu film termahal saat itu. Namun sayangnya film ini secara komersil tidak sesukses dua film Cameron sebelumnya. Namun dari sisi pencapaian artistik film ini mendapat ganjaran setimpal dengan meraih empat nominasi Oscar dan meraih satu diantaranya untuk efek visual terbaik.Pembicaraan mengenai sekuel Terminator sudah lama muncul sejak film tersebut sukses di pasaran. Sekalipun Cameron telah memiliki ide cerita lanjutannya namun siapa pemegang hak cerita sekuelnya masih diperdebatkan. Dalam perkembangannya produser ternama spesialis film-film aksi, Mario Kassar (Carolco Pictures) akhirnya membeli hak sekuelnya di akhir 80-an. Sekuel Terminator yang berjudul Terminator 2: The Judgement Day (T2) diproduksi dengan Cameron sebagai sutradaranya. Pada masa-masa ini, Cameron juga mendirikan perusahaan filmnya sendiri yang ia namakan Lightstorm Entertaintment. T2 adalah film pertama yang diproduksi studio ini dan Cameron sendiri juga menjadi produsernya.
T2 (1991) mengambil setting cerita beberapa tahun setelah peristiwa yang terjadi dalam film pertama. Bedanya kini, robot pembunuh yang dulu berperan sebagai antagonis kini berubah menjadi protagonis. Cameron juga masih mengkasting beberapa bintang yang sama, yakni Arnold Schwarzenegger dan Linda Hamilton. Film yang pada masanya tercatat berbujet paling besar ini, yakni lebih dari $100 juta, menggunakan efek visual (Computer Generated Imagery) yang jauh melampaui jamannya. Karakter T-1000 yang mampu mencair dan berubah diri menjadi bentuk apapun mampu divisualisasikan dengan sangat meyakinkan. Dengan efek visual terkini plus aksi seru tanpa henti, tidak mengherankan jika film ini sukses menghasilkan $500 juta di seluruh dunia. Seperti film-film Cameron sebelumnya, film ini juga sukses besar meraih empat piala Oscar dari enam yang dinominasikan, yakni untuk makeup, suara, editing suara, dan efek visual terbaik.
Sebelum rilis T2, Schwarzenegger sempat memberikan ide cerita pada Cameron untuk me-remake film komedi produksi Perancis berjudul La totale! (1991). Setelahnya, Cameron mengembangkan kisahnya menjadi sebuah film aksi komedi spionase unik berjudul True Lies (1994). Schwarzenegger mendapat tempat utama dalam barisan kasting bersama Jamie Le Curtis, Tom Arnold, serta Bill Paxton. Film ini pada masanya juga merupakan film termahal yang pernah diproduksi dengan bujet lebih dari $110 juta. Sekalipun berbeda genre dari film-film sebelumnya namun secara teknis tidak mengurangi kepiawaian Cameron dalam mengolah adegan aksi. Film ini sukses komersil dengan meraih lebih dari $359 juta di seluruh dunia dan mendapatkan piala Oscar untuk efek visual. Film ini juga merupakan film pertama yang berkolaborasi dengan Digital Domain, yakni studio efek visual khusus yang juga didirikan oleh Cameron.Sudah sejak lama Cameron telah tertarik dengan eksplorasi bangkai kapal di dasar samudera. Dan yang menjadi obsesinya adalah bangkai kapal RMS Titanic yang legendaris. Cameron juga telah menulis ide cerita tentang ini. Ketika Cameron melihat sebuah film dokumenter tentang bangkai kapal Titanic terlintas dibenaknya untuk benar-benar membuat film tentang ini sehingga ia bisa melakukan ekspedisi bawah laut. Ia mendatangi eksekutif Fox dan berhasil meyakinkan mereka untuk membuat film tentang tenggelamnya kapal Titanic. Produksi filmnya dimulai tahun 1995, termasuk proses risetnya Cameron menghabiskan waktu sekitar dua tahun. Bujet filmnya mencapai angka fantastis terbesar saat itu, yakni $200 juta termasuk untuk pembuatan set eksterior dan interior kapal yang sangat detil dan megah.
Titanic (1997) merupakan film drama roman yang dikemas dalam tragedi bencana tenggelamnya kapal Titanic. Film ini dibintangi bintang-bintang muda, yakni Leonardo DiCaprio serta Kate Winslet. Film ini banyak dipuji karena Cameron mampu menyajikan tragedi naas tersebut dengan sangat mengagumkan termasuk pula kisah romannya yang menyentuh. Awalnya banyak pihak meragukan kesuksesan film ini namun faktanya Titanic menjadi film terlaris sepanjang masa hingga kini dengan meraih pendapatan fantastis $1,8 bilyun di seluruh dunia. Tidak sampai disini, Titanic juga menyapu sebelas piala Oscar dari empat belas yang dinominasikan, termasuk film terbaik, sutradara, sinematografi, serta efek visual terbaik. Sukses ini menasbihkan Cameron sebagai salah satu sutradara paling berpengaruh di dunia.Sukses Titanic merupakan awal dari cuti panjang Cameron memproduksi film cerita panjang. Pada masa-masa vakum tersebut Cameron mengisinya dengan memproduksi serial televisi dan film-film dokumenter. Dark Angel (2000�2002) merupakan seri fiksi ilmiah yang berkisah tentang �superhero� wanita di era futuristik yang dibintangi oleh Jessica Alba. Sayangnya, serial ini hanya bertahan hingga dua musim karena menurunnya jumlah pemirsa secara drastis pada musim kedua. Pada masa-masa ini Cameron juga memproduksi film-film dokumenter tentang ekspedisi bawah laut, yakni Expedition: Bismarck (2002), Ghost of the Abyss (2003), dan Aliens in the Deep (2005). Dua film yang disebut terakhir dibuat menggunakan teknologi tiga dimensi (3D). Sejak Ghost of the Abyss, Cameron mengatakan bahwa selanjutnya ia akan selalu menggunakan teknologi 3D untuk memproduksi film-filmnya kelak.
Sudah sejak tahun 1994, konsep cerita Avatar telah digarap Cameron. Ia bahkan telah merencanakan untuk memproduksi film ini setelah merampungkan Titanic. Namun akhirnya Cameron membatalkan niatnya karena dirasa teknologi kala itu belum memadai untuk mencapai hasil maksimal. Barulah pada tahun 2006, Cameron merampungkan naskah film Avatar. Selama ini Cameron ternyata telah berupaya keras mengembangkan kamera khusus 3D. Ia mengembangkan teknologi motion-capture yang sangat canggih sehingga mampu memadukan live action dengan gambar animasi secara langsung secara bersamaan, berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. Cameron juga mengembangkan teknologi motion-capture yang lebih mendetil sehingga mampu merekam mimik wajah aktor dengan sempurna. Teknologi baru ini ternyata tidak murah, untuk merampungkan Avatar, Cameron menghabiskan biaya produksi hingga $237 juta, itu pun belum termasuk biaya promosi filmnya.
Gaya dan Karakter Film-film Cameron
Film-film Cameron tidak pernah lepas dari genre fiksi ilmiah dan aksi. Cameron sejak kecil memang menyukai cerita dan film-film fiksi ilmiah yang tampaknya sangat mempengaruhi seleranya hingga kini. Nyaris semua film-film garapannya, seperti seri Terminator, Aliens, The Abyss, serta Avatar adalah film bergenre aksi - fiksi ilmiah murni. Sementara True Lies dan Titanic walau berbeda genre namun tetap mengandung unsur aksi yang dominan. Cameron juga dikenal sebagai penulis naskah yang handal dan selalu menulis semua naskah filmnya dengan ide ceritanya sendiri tanpa mengambil dari sumber lain. Durasi cerita filmnya pun umumnya berdurasi sangat panjang.
Cameron juga dikenal tidak tanggung-tanggung dalam produksi filmnya. Tercatat setelah memproduksi Terminator, Cameron selalu memproduksi film dengan bujet di atas rata-rata produksi film kebanyakan. The Abyss, T2, True Lies, dan Titanic tercatat sebagai film termahal yang pernah diproduksi pada masanya. Biaya sebesar itu biasanya ia gunakan untuk menciptakan setting yang megah serta efek visual yang spektakuler. Seperti dalam, The Abbys, Cameron menggunakan set bawah laut yang besar untuk syuting bawah airnya. Pada produksi Titanic misalnya, Cameron merekonstruksi ulang kapal besar dalam skala kurang lebih sama lengkap dengan setting interiornya. Sementara untuk efek visual semua film-film Cameron sangat dominan menggunakan teknologi CGI. Tercatat lima filmnya meraih piala Oscar untuk efek visual terbaik.
Tema film-film Cameron seringkali bersinggungan dengan teknologi versus manusia. Bagaimana teknologi mampu membantu manusia atau justru menghancurkan umat manusia. Dalam seri Terminator, tampak bagaimana teknologi mampu membawa petaka bagi umat manusia, namun di sisi lain juga menolong keberlangsungan hidup manusia. Dalam Aliens, tampak bagaimana teknologi yang sedemikian canggih tidak mampu menghadapi makhluk asing yang tergolong sangat primitif. Dalam Titanic, kapal maha besar yang diyakini tidak mampu karam ternyata tenggelam dalam pelayaran pertamanya. Tema serupa juga tampak dalam The Abyss serta Avatar. Masih pula terkait teknologi, dalam banyak filmnya, Cameron juga selalu menampilkan ledakan nuklir dalam skala besar, seperti dalam Aliens, T2, hingga True Lies. Eksplorasi bawah laut dengan teknologi canggih juga muncul dalam The Abyss, Titanic, serta beberapa film dokumenter bawah lautnya.
Satu ciri lain yang tampak dominan dalam film-film Cameron adalah aspek feminisme yang kental. Tokoh utama wanita dalam film-filmnya lazimnya memiliki kepribadian kuat, berani, maskulin, keras, serta independen. Ellen Ripley (Aliens), Sarah Connor (T2), Neytiri (Avatar) merupakan contoh sempurna tokoh wanita tipikal Cameron. Walau tidak seekstrem di atas, namun tokoh-tokoh wanita seperti, Lindsey Brigman (The Abyss), Helen Tasker (True Lies), Rose (Titanic), hingga Max (seri Dark Angel), juga memiliki kepribadian karakter yang nyaris senada.
Cameron juga dikenal sangat piawai dalam membuat adegan-adegan aksi kelas satu yang dikenang sepanjang masa. Adegan kejar-mengejar seru dan menegangkan seringkali muncul dalam film-filmnya. Baik moda transportasi dan setting yang digunakan pun beragam dan jarang kita lihat dalam film-film aksi lainnya. Satu yang paling dikenang adalah adegan-adegan aksi dalam T2 yang memperlihatkan kejar-mengejar antara motor dengan truk besar, mobil polisi dengan helikopter, dan lainnya. Dalam True Lies memperlihatkan adegan aksi kejar mengejar antara motor dengan kuda, dan bahkan pada satu sekuen aksi menggunakan pesawat tempur di tengah kota. Dalam Aliens, Ripley menggunakan robot yang dikontrol manual untuk melawan si ratu alien pada sekuen klimaks.
Dalam membangun sekuen aksinya untuk menambah unsur ketegangan, Cameron sangat menyukai penggunaan teknik crosscutting. Shot seringkali berpindah-pindah menunjukkan pihak pengejar (pemburu) dan pihak yang dikejar (buruannya), seperti pada dua seri Terminator serta Aliens. Cameron juga menyukai pergerakan dan sudut kamera yang dinamis, seperti pada adegan aksi ia seringkali menggunakan tracking shot. Dalam momen-momen tertentu untuk menambah unsur dramatik sebuah adegan, Cameron juga menyukai penggunaan teknik slow-motion. Ilustrasi musik juga merupakan salah satu kekuatan film-film Cameron dalam membangun semua adegannya seperti musik tema Terminator dan Titanic yang melegenda.
Mungkin ini terlihat sepele namun film-film Cameron selalu dikenang melalui �memorable lines� yang sangat jarang sekali dilakukan sineas lainnya dalam semua filmnya. Ungkapan atau kata-kata melegenda tersebut seringkali dipakai dalam film-film lain setelahnya. Seri Terminator termasuk film yang paling banyak menyumbang �memorable lines�. �I�ll be back�, kata-kata yang diucapkan oleh sang robot pembunuh (Schwarzenegger) menjadi salah satu �memorable lines� paling melegenda sepanjang sejarah sinema. Belum lagi kata-kata seperti �Hasta la vista baby�, �Come with me if you want to live� dan lainnya. Sementara film-film lainnya, �Get away from her u b***h� adalah �memorable lines� dalam Aliens, kemudian �I�m the King of the World� dalam Titanic serta masih banyak lainnya.
Sepanjang karirnya Cameron juga sering berkolaborasi dengan pemain dan kru yang sama. Arnold Schwarzenegger, Bill Paxton, serta Michael Biehn tercatat adalah para pemain yang paling sering bermain dalam film-film Cameron. Untuk ilustrasi musiknya, Cameron juga sering berkolaborasi bersama Brad Friedel dan James Horner. Kemudian produser yang juga istrinya selama beberapa periode, yakni Gale Ann Hurd. Lalu editor Conrad Buff serta Richard A. Harris, sinematografer Russel Carpenter, serta tata make-up khusus Stan Winston.
Cameron dikenal sebagai sutradara yang temperamental dan perfeksionis. Banyak kru dan pemain seringkali mengeluhkan Cameron yang memimpin layaknya diktator hingga sering membuat mereka frustasi. Film-film yang diproduksinya nyaris seluruhnya over schedule serta over budget. Namun reputasi besarnya membuat para eksekutif studio-studio besar justru seringkali mengalah padanya. Terlepas dari hal tersebut, Cameron terbukti telah memproduksi karya-karya film yang berkualitas serta sukses secara komersil. Belasan penghargaan Oscar serta bilyunan juta dollar yang telah diraihnya menjadi bukti nyata keberhasilan dirinya menjadi salah satu sutradara besar di dunia saat ini serta sutradara paling sukses di Hollywood.
Himawan Pratista
Terminator 1 & 2, Kemenangan Cameron, Arnold, dan Efek Visual.
�..the final battle would not be fought in the future. It would be fought here, in our present. Tonight...�
Seri Terminator merupakan salah satu diantara seri film fiksi ilmiah terlaris yang pernah ada. Sejak The Terminator (1984), tiga sekuelnya telah dibuat yakni, Terminator 2: The Judgement Day (1991), lalu Terminator 3: The Rise of the Machine (2003) dan Terminator Salvation (2009). Sayangnya, James Cameron hanya menggarap sekuel kedua. Kualitas dua sekuel yang terakhir jauh dibawah dua film pertamanya. T2 bahkan dianggap sebagai salah satu film aksi terbaik yang hingga kini pun masih sulit dicari tandingannya.
The Terminator mengambil kisah sang robot pembunuh (Arnold Schwarzenegger) dari masa depan dikirim ke masa kini hanya untuk satu tujuan, yakni melenyapkan Sarah Connor (Linda Hamilton), ibu kandung dari pimpinan pejuang umat manusia kelak melawan Skynet (mesin). Sebagai pelindung dikirim Letnan Kyle Reese (Michael Biehn) yang tugasnya hanya satu yakni, menyelamatkan Sarah. Nyaris sepanjang film menggambarkan bagaimana Sarah dan Kyle berusaha lari dari kejaran Terminator. Di situasi serba sulit yang penuh dengan ketidakpastian, Sarah dan Kyle justru saling jatuh hati.
Sementara T2 mengambil kisah sebelas tahun setelah peristiwa film pertama. Sarah kini telah memiliki bocah berusia sepuluh tahun, John Connor (Edward Furlong), hasil buah hatinya bersama Kyle. Skynet kembali mengirim robot pembunuh super canggih tipe T-1000 (Robert Patrick) untuk membunuh John. Namun kali ini sebagai penolong John adalah robot tipe T-800 (tipe robot dalam film pertama) yang diprogram ulang kali ini untuk melindungi dirinya. Seperti film pertama, hampir sepanjang film mengisahkan bagaimana mereka bertiga harus lari dari kejaran T-1000. Di lain pihak, Sarah mengincar Miles Dyson (Joe Morton), seorang ilmuwan yang mengembangkan teknologi berintelegensia tinggi, cikal bakal dari Skynet.
Dari sisi cerita, satu hal yang menjadi nilai lebih The Terminator adalah ide cerita yang orisinil. Dua sosok dari masa depan dengan level kekuatan yang berbeda (manusia vs robot) harus saling berkonfrontasi fisik di masa kini. Kita semua tahu jika tidak ada satu pun manusia di masa kini yang akan mampu melawan sang Terminator. Tentunya ini menjanjikan sebuah sajian aksi sangat seru, menegangkan, sekaligus menakutkan layaknya film horor. Anda bisa bayangkan, sang robot berjalan masuk sendirian tanpa rasa takut membantai habis satu kantor polisi hanya untuk mencari buruannya. Rasa penasaran penonton sepanjang film pasti akan terusik, bagaimana cara sang robot bisa terbunuh?
Dalam T2, Cameron masih menggunakan formula cerita yang sama dengan film pertamanya, lalu apa istimewanya? Seperti sekuel kebanyakan kini Cameron seolah telah mampu mengerti apa yang diinginkan penonton. More action! Untuk mendukung ini dua sosok dari masa depan masih dengan level kekuatan yang berbeda dibuat jauh lebih superior dari film pertamanya. Satu robot dan satu lagi robot super canggih. Lagi, tentunya ini menjanjikan sebuah aksi super seru dan menegangkan. Dan nyatanya memang begitu. Hampir sepanjang film, cerita film berjalan sangat menegangkan dan penuh dengan adegan aksi gila-gilaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Seri Terminator merupakan salah satu diantara seri film fiksi ilmiah terlaris yang pernah ada. Sejak The Terminator (1984), tiga sekuelnya telah dibuat yakni, Terminator 2: The Judgement Day (1991), lalu Terminator 3: The Rise of the Machine (2003) dan Terminator Salvation (2009). Sayangnya, James Cameron hanya menggarap sekuel kedua. Kualitas dua sekuel yang terakhir jauh dibawah dua film pertamanya. T2 bahkan dianggap sebagai salah satu film aksi terbaik yang hingga kini pun masih sulit dicari tandingannya.The Terminator mengambil kisah sang robot pembunuh (Arnold Schwarzenegger) dari masa depan dikirim ke masa kini hanya untuk satu tujuan, yakni melenyapkan Sarah Connor (Linda Hamilton), ibu kandung dari pimpinan pejuang umat manusia kelak melawan Skynet (mesin). Sebagai pelindung dikirim Letnan Kyle Reese (Michael Biehn) yang tugasnya hanya satu yakni, menyelamatkan Sarah. Nyaris sepanjang film menggambarkan bagaimana Sarah dan Kyle berusaha lari dari kejaran Terminator. Di situasi serba sulit yang penuh dengan ketidakpastian, Sarah dan Kyle justru saling jatuh hati.
Sementara T2 mengambil kisah sebelas tahun setelah peristiwa film pertama. Sarah kini telah memiliki bocah berusia sepuluh tahun, John Connor (Edward Furlong), hasil buah hatinya bersama Kyle. Skynet kembali mengirim robot pembunuh super canggih tipe T-1000 (Robert Patrick) untuk membunuh John. Namun kali ini sebagai penolong John adalah robot tipe T-800 (tipe robot dalam film pertama) yang diprogram ulang kali ini untuk melindungi dirinya. Seperti film pertama, hampir sepanjang film mengisahkan bagaimana mereka bertiga harus lari dari kejaran T-1000. Di lain pihak, Sarah mengincar Miles Dyson (Joe Morton), seorang ilmuwan yang mengembangkan teknologi berintelegensia tinggi, cikal bakal dari Skynet.
Dari sisi cerita, satu hal yang menjadi nilai lebih The Terminator adalah ide cerita yang orisinil. Dua sosok dari masa depan dengan level kekuatan yang berbeda (manusia vs robot) harus saling berkonfrontasi fisik di masa kini. Kita semua tahu jika tidak ada satu pun manusia di masa kini yang akan mampu melawan sang Terminator. Tentunya ini menjanjikan sebuah sajian aksi sangat seru, menegangkan, sekaligus menakutkan layaknya film horor. Anda bisa bayangkan, sang robot berjalan masuk sendirian tanpa rasa takut membantai habis satu kantor polisi hanya untuk mencari buruannya. Rasa penasaran penonton sepanjang film pasti akan terusik, bagaimana cara sang robot bisa terbunuh?
Dalam T2, Cameron masih menggunakan formula cerita yang sama dengan film pertamanya, lalu apa istimewanya? Seperti sekuel kebanyakan kini Cameron seolah telah mampu mengerti apa yang diinginkan penonton. More action! Untuk mendukung ini dua sosok dari masa depan masih dengan level kekuatan yang berbeda dibuat jauh lebih superior dari film pertamanya. Satu robot dan satu lagi robot super canggih. Lagi, tentunya ini menjanjikan sebuah aksi super seru dan menegangkan. Dan nyatanya memang begitu. Hampir sepanjang film, cerita film berjalan sangat menegangkan dan penuh dengan adegan aksi gila-gilaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Walau tidak sehebat T2 namun unsur aksi dalam Terminator telah menunjukkan talenta Cameron sekalipun dengan bujet yang minim. Sekuen aksi masa datang yang menampilkan perang laser menggunakan tank dan pesawat skynet sudah tampak sangat meyakinkan untuk masanya. Lalu juga kejar-mengejar mobil yang sangat menegangkan di pertengahan dan menjelang akhir film. Namun satu adegan aksi yang paling dikenang (baca: shock) adalah ketika sang terminator menyerang ke kantor polisi dan menghabisi semua yang ada disana secara membabi buta. Menghibur jelas tidak namun adegan ini terasa begitu menegangkan sekaligus menakutkan.
Bicara soal unsur aksi dalam T2 sudah tidak perlu banyak komentar. Sekuen-sekuen aksi dalam film ini tercatat sebagai yang terbaik yang pernah ada. Bujet produksi yang besar kali ini sangat mendukung Cameron untuk membuat aksi-aksi yang gila dan heboh dengan menggunakan beragam kendaraan dari motor, mobil polisi, truk besar, hingga helikoper. Aksi kejar-mengejar sangat seru di saluran (kanal) kota Los Angeles hingga kini pun masih sulit dicari tandingannya. Dengan kepiawaiannya Cameron mampu memanfaatkan setting yang terbatas tersebut dengan sempurna melalui pergerakan dan sudut kamera, teknik editing, serta posisi pemain (kendaraan). Sekuen aksi yang lain pun tidak jauh beda. Hanya satu kata untuk memberi komentar, superior!
Dari sisi efek visual, Terminator tergolong sangat sederhana. Sang robot dalam bentuk aslinya di klimaks film tampak sekali menggunakan teknik stop-motion. Sekalipun begitu namun tetap tidak mengurangi unsur ketegangan karena mampu disajikan cukup meyakinkan. Sementara efek visual dalam T2 hingga kini pun tidak tampak jauh tertinggal. Satu pencapaian yang mengagumkan adalah karakter T-1000 yang mampu mencair dan merubah diri menjadi bentuk masif apapun. Seperti contohnya, dalam sebuah adegan di penjara, ketika T-1000 berubah menjadi lantai bermotif catur dan secara perlahan-lahan berubah menjadi penjaga penjara mampu divisualisasikan begitu mengagumkan seolah benar-benar nyata!
Satu lagi yang menjadi kekuatan dua film ini adalah ilustrasi musik yang dikomposisi Brad Fiedel. Tema musik Terminator yang menghentak dan begitu kuat mampu terbawa lama dalam ingatan jauh setelah menonton filmnya. Dalam Terminator, seperti film kelas B lazimnya, Fiedel hanya menggunakan instrumen yang sederhana namun mampu menambah nuansa ketegangan terutama sewaktu adegan aksi. Dalam T2, dengan bujet yang lebih besar, Fiedel menggunakan satu orkestra penuh untuk ilustrasi musiknya. Hasilnya, musik tema jauh lebih membahana dan megah dari sebelumnya. Adegan demi adegan khususnya aksi semakin bertambah dramatik dan menegangkan.
Arnold Schwarzenegger sebagai sang terminator tidak bisa dipungkiri merupakan salah satu ikon sinema paling populer dalam sejarah sinema. Nilai jual terbesar dua film ini, khususnya T2 adalah sosok Arnold. Bisa jadi tidak ada aktor lain yang mampu menggantikan sosok Arnold untuk berperan sebagai robot pembunuh yang dingin. Arnold memang seperti terlahir untuk peran ini tanpa berakting sekalipun tubuh fisik serta mimiknya sudah cukup berbicara. Rasanya karena faktor inilah sang aktor sampai bermain dalam tiga film Terminator.
Terminator 1 & 2 adalah bukti kepiawaian Cameron dalam mengolah naskah serta mengemasnya menjadi sajian film aksi fiksi-ilmiah yang sangat menghibur. Cameron adalah sineas yang tahu persis bagaimana mengemas dan apa yang diinginkan penonton. Bujet yang besar sebanding dengan tontonan aksi berkualitas yang disajikan. Hanya bermodal dua film ini saja, Cameron rasanya sudah cukup mendapat predikat salah sineas terbaik di dunia.
Sang Pemimpi, Mimpi Sang Sineas Menembus Pasar Internasional

Sang Pemimpi adalah sebuah film yang diadaptasi dari novel berjudul sama (karangan Andrea Hirata). Juga merupakan lanjutan/sekuel dari film Laskar Pelangi yang sangat sukses sebelumnya, yang ditonton lebih dari empat juta penonton, tercatat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa. Bedanya, di sekuelnya kali ini, para tokoh utamanya sudah beranjak remaja.
Garis sentral cerita ini tentu saja tentang impian, mimpi anak-anak Belitong yang bercita-cita untuk kuliah di Jakarta, dan mendapatkan beasiswa ke Perancis. Cita-cita yang tidak mudah digapai bagi Ikal dan Arai terlebih melihat kondisi sosio dan kultur mereka, belum lagi pengaruh �ajaran� Melayu yang konon memandang sinis terhadap mimpi yang terlalu tinggi, dan menerima kenyataan untuk bersikap realistis. Juga bagaimana setelah itu Arai dan Ikal dibantu sahabatnya Jimbron yang terus berjuang merealisasikan impian mereka di tengah cobaan dan kenyataan pahit dalam hidup mereka hingga nanti mereka mencapai apa yang diimpikan, disinilah letak inspirasi Sang Pemimpi yang ditawarkan oleh sutradara muda berbakat Riri Riza.
..
..
Dimulai dari Ikal dewasa yang diperankan oleh Lukman Sardi yang menjalani kesehariannya sebagai pegawai pos di kota Bogor dan lalu flash back ke tahun 1980an saat Ikal menjalani kehidupan masa remajanya, saat dimana ia memiliki cita-cita besarnya. Kali ini film Sang Pemimpi banyak mengambil lokasi di Manggar berbeda dengan sekuel sebelumnya yang menceritakan masa kecilnya saat di Gantong. Mira Lesmana selaku produser film ini mengaku menghabiskan dana tidak kurang dari 11 Milyar untuk memproduksinya.
Sekali lagi Riri Riza dituntut memuaskan keinginan pembaca novel Sang Pemimpi dalam memvisualisasikannya ke layar lebar. Memang nyatanya sineas cukup banyak melakukan kompromi. Seperti nama dari penokohan, pelaut melayu bernama Mualim yang berganti menjadi bang Rokib. Adegan Zakiah Nurmala yang melambai melepas kepergian Arai ke Jakarta, seolah menasbihkan hubungan keduanya yang memiliki cinta yang sejalan, padahal sampai sekuel berikutnya dalam buku Edensor, cinta Arai masih bertepuk sebelah tangan karena Zakiah belum luruh hatinya terhadap Arai. Adegan lain yang dikompromikan terutama ketika Ikal marah kepada Jimbron yang terus mengoceh soal kuda. Di novelnya, Ikal meminta maaf pada Jimbron namun di film justru terlihat sebaliknya, dan momen ini dipakai untuk menjadi titik klimaks Ikal dalam keputusasaannya mengejar cita-citanya, sayang penggambaran dramatisasi Ikal terlalu lama disini, menurunkan tempo film.
Sebaliknya pada saat penceritaan tokoh Ikal dan Arai dewasa, alur cerita dikemas dalam tempo yang cepat hingga menjadi anti klimaks ketika cita-cita mereka tercapai (ketika Arai dan Ikal akhirnya mendapatkan beasiswa untuk meraih gelar masternya). Apalagi penonton harus beradaptasi dulu dengan tokoh baru, sosok Arai dewasa, berbeda dengan Lukman Sardi, sebagai Ikal yang sudah diperkenalkan pada sekuel sebelumnya dan awal cerita film ini.
Nazril Ilham alias Ariel seorang vokalis salah satu band nomer satu itu berperan sebagai Arai, karakter penting dalam cerita. Setelah karakter Arai remajanya diperankan oleh aktor baru yang "bersih" dari image yang melekat sebelumnya hingga penjelmaan karakterpun menjadi real tanpa tedensi. Tidak heran ketika karakter Arai dewasa yang diperankan Ariel bagi penonton akan tampak susah menilainya sebagai Arai, bukan kehadirannya sebagai Ariel, terlebih mengingat aktingnya yang tidak maksimal dan kaku ditambah porsi adegannya yang tidak banyak. Dinilai Mira sosok Ariel dipilih lantaran memiliki garis wajah yang sama pada transformasi karakter Arai kecil dan Arai muda, selain tentu saja meningkatkan nilai jual film ini, dikarenakan ariel sebagai salah satu idola remaja masa kini.
Secara akting tokoh-tokoh yang berperan memainkan karakter bisa dibilang pas. Selain Mathias Muchus yang berperan sebagai Ayah Ikal yang pendiam juga Landung Simatupang sebagai Pak Mustar. Tokoh Arai Remaja yang diperankan Rendy Ahmad mampu diperankan sangat apik seolah karakter Arai remaja melompat ke luar buku dan berperan lincah dalam film. Yang paling mencuri perhatian tentu saja si musikus jalanan, yang diperankan Jay Widjajanto berperan dalam porsi menghibur yang baik, terlebih sineas memberikan "tempat" khusus pada tokoh ini yang hanya ialah yang melakukan kontak mata pada kamera, kepada penonton. Menegaskan kehadiran khasnya sebagai tokoh yang tak terikat pada linkungan sosio-kultur masyarakat tersebut. Sebagai Sang harta karun lelaki Melayu, penyelamat kisah cinta Arai remaja.
..
..
Terlepas dari adanya bloopers atau kesalahan dalam filmnya yakni kehadiran mobil-mobil mewah yang tidak sesuai jamannya. Ketika mereka sampai di Bogor, terlihat bayangan mobil Avanza di jalan raya, dan ketika Ikal selesai mendaftar di gedung Uni Eropa juga terlihat mobil Teranno dan Taruna, padahal settingnya tahun 90-an. Namun kita patut berbangga dengan adanya film Indonesia yang memiliki nilai mutu yang bagus secara moral maupun estetikanya. Sang Pemimpi telah terpilih sebagai film pembuka dalam Jakarta International Film Festival (JIFFEST) 2009 yang digelar pada tanggal 4 Desember 2009. Sang Pemimpi menjadi film Indonesia pertama yang menjadi film pembuka pada ajang festival film internasional ini dalam sebelas tahun penyelenggaraannya. Semoga saja lebih banyak film-film Indonesia seperti ini yang bermunculan, yang mengangkat dan merepresentasikan budaya Indonesia. Beginilah film Indonesia seharusnya, berangkat dari akar tradisi yang murni dan memotivasi.
Andrei Budiman
Andrei Budiman
Identitas, �Identitas� Sinema Indonesia?

Identitas merupakan sebuah film karya sutradara Arya Kusumadewa yang sebelumnya pernah menggarap film Novel tanpa huruf "R". film ini dibintangi oleh Tio pakusadewo, Leony, Ray sahetapi, serta Titi Sjuman. Dalam ajang Festival Film Indonesia baru lalu, film ini mampu meraih piala Citra untuk film, sutradara, dan aktor terbaik.
Adam (Tio Pakusadewo) adalah seorang penjaga kamar mayat. Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita (Leony) yang kemudian diketahui ialah seorang gadis yang terpaksa menjadi pelacur karena harus membayar biaya pengobatan ayahnya. Karena simpati, Adam kemudian berniat membantu perempuan tersebut untuk mendapatkan ASKIN. Namun usahanya tersebut ternyata terbentur dengan birokrasi yang mengharuskan orang-orang yang mendapatkan ASKIN harus memiliki identitas. Hingga akhirya hanya "ketidak beruntungan" yang mereka dapatkan.
Sejak awal kita sudah sangat merasakan unsur politik yang sangat kental dalam film ini. Kritik-kritik tajam yang dikemas secara kasar dan vulgar digunakan untuk menyerang kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat merugikan rakyat miskin, seperti masalah kesehatan, hak-hak kepemilikan tanah, dan lainnya. Mungkin film ini ingin mengatakan bahwa pemerintah kita saat ini tidak bisa lagi dibenahi dengan cara halus, jadi cara kasar adalah solusi yang tepat. Namun kritik-kritik yang disajikan disini malah terkesan hanya sebagai luapan emosi semata dan tidak mendidik. Rumah sakit digambarkan sebagai tempat yang sangat tidak manusiawi. Dokter dan perawat memperlakukan para pasiennya semena-mena bak binatang. Tampak jelas sekali rumah sakit ini merupakan alegori negara kita yang tengah sakit. Film berakhir dengan kematian bagi tokoh utamanya yang menyimbolkan bahwa segala macam kebijakan yang dibuat oleh pemerintah hanya akan mendorong rakyat miskin ke jurang kematian.
Identitas yang menggunakan format digital juga tampak seperti film independen amatiran. Satu hal paling mengganjal dalam film ini adalah penggunaan teknik dubbing. Penggunaan teknik dubbing dalam film ini cenderung �mematikan� aspek-aspek teknis lain seperti sinematografi, editing, akting pemain, bahkan cerita filmnya sendiri. Sulit bagi penonton untuk larut dalam cerita filmnya karena suara dialognya terlalu artifisial. Sungguh sulit dipercaya jika aktor yang berakting dengan di-dubbing mampu meraih penghargaan aktor terbaik.
Identitas lebih jauh mungkin ingin mengatakan bahwa "kebahagiaan" di negeri ini hanya dapat dimilki oleh orang-orang yang memiliki "identitas" (orang-orang berkuasa). Namun apakah kebahagiaan hanya sebatas tentang kekuasaan? Apakah solusi bagi rakyat kecil harus pula ikut �membakar diri�? Sungguh mengherankan film ini mampu menyabet penghargaan film terbaik FFI. Apakah pesan moral yang disampaikan di film ini begitu pentingkah hingga mengabaikan pencapaian teknisnya. Film bukanlah sekedar tentang pesan moral semata namun adalah bagaimana pesan tersebut dikemas menjadi sebuah karya seni yang indah. FFI merupakan suatu ajang penghargaan film bergengsi di negeri ini yang pastinya menjadi salah satu tolak ukur para insan film di Indonesia untuk berkarya. Dilihat dari sisi manapun rasanya film ini masih jauh dari cukup untuk menjadi patokan sineas-sineas kita dalam berkarya. Penulis berharap film ini tidak lantas menjadi identitas sinema kita.
Febrian Andhika
Langganan:
Postingan (Atom)