Minggu, 20 September 2009

Romansa �Kelas Dua� dalam Greenberg.

�Hurt People Hurt People� ujar Roger Greenberg selalu dalam film Greenberg (2010) asuhan Noah Baumbach (Kickin and Screaming, The Squid and The Whale), semboyan itu pula yang ia jadikan penjelasan kenapa ia tak pernah berhenti menyakiti orang disekitarnya: karena ia sendiri sudah tersakiti, dan orang yang tersakiti akan menyakiti orang disekitarnya.

Menurut saya, �Hurt People Hurt People� justru tidak penting, ia hanyalah kamuflase agar Greenberg lebih gampang diterima penonton. Greenberg sebenarnya sangat ingin menunjukkan fenomena betapa jarangnya romansa warga kelas dua ditampilkan dalam film-film Amerika Serikat belakangan ini. Yang sering kita lihat palingan hubungan sesama orang kaya, sesama kelas menengah, atau antar kelas (lelaki miskin dan gadis kaya atau sebaliknya). Sedikit menceritakan, suatu hari, keluarga Philip Greenberg akan berlibur ke Vietnam. Maka ia meninggalkan rumahnya untuk dijaga oleh asistennya, Florence Marr. Philip berpesan bahwa nanti akan datang saudaranya, Roger, dari New York. Roger bekerja sebagai tukang kayu dan ia akan membuatkan kandang untuk Mahler, anjing keluarga Philip. Rumah yang kosong dan Mahler, lalu menjadi saksi bisu mengenai apa yang terjadi antara Florence si asisten (pembantu rumah tangga), dan Roger si tukang kayu.

Posisi Florence ditegaskan dengan memberikan jarak sosial yang jelas antara dirinya dan keluarga Philip tempatnya bekerja, hal ini sangat saya sayangkan karena Baumbach seperti setengah-setengah dalam mendeskripsikan Florence meskipun nyata-nyata ia adalah pembantu rumah tangga. Florence masih punya mobil dan rumah yang bagus, saya curiga Baumbach takut dicap melenceng jauh dari terma-terma Hollywood tempatnya dibesarkan. Status �si bujang lapuk� Roger Grenberg juga ditegaskan dari kenyataan bahwa ia dulu adalah seorang musisi berbakat, ia sudah dihadapkan pada lembar kontrak rekaman ketika ia menolak tanpa alasan yang jelas, dia akhirnya berujung di rumah sakit jiwa sebelum membaik dan menjadi tukang kayu. Degradasi kelas dalam kehidupan Roger Greenberg membuatnya menjadi lebih rendah dari kelas yang dihuni saudaranya, Philip.

Jangan tanyakan bagaimana fluktuasi romansa Roger dan Florence, sebab hubungan mereka sama sekali tidak penting dalam film ini, tak ada hambatan klasik seperti yang terdapat dalam asmara-asmara lain. Mereka hanya pergi bersama ketika bermain dengan Mahler (yang secara ajaib menjadi satu-satunya neutral zone dalam film Greenberg).

Kenapa saya bisa curiga sedemikian rupa?, saya berangkat dari pengalaman menonton Fantastic Mr. Fox (Wes Anderson, 2009) dimana Baumbach juga turut menulis naskah. Dan mendapati bahwa format animasi yang diterapkan hanya kamuflase total dari sebuah ideologi (agak) kiri yang diusung oleh dua orang ini (Anderson dan Baumbach). Fantastic Mr. Fox menjadi keren karena ia bisa ditonton oleh anak-anak dengan ekspektasi jalan cerita yang konyol, tetapi juga bisa membuat orang dewasa menganga-nganga. Karena lewat animasi, secara tak terduga mereka bicara tentang metafora revolusi, lihatlah bagaimana Mr. Fox memimpin kelompoknya menjarah pabrik dan berakhir pada pesta mereka di Supermarket. Hal Ini yang ingin diulangi Baumbach dalam format lain seperti Greenberg. Sehingga frase andalan �Hurt People Hurt People� yang digaungkan disepanjang film rasanya hanya menjadi tempelan saja.

Makbul Mubarak
Penikmat Film

The Problem with Leonardo DiCaprio

WELL, tergantung Anda mengartikannya sebagai masalah atau bukan, sih.

Tapi, wajah Leonardo DiCaprio yang imut menggemaskan membuat kita tak bisa lupa ia sosok yang sama yang dulu membuat jutaan cewek tergila-gila di Titanic (1997). Padahal, Leo, kini 35 tahun, termasuk aktor besar di angkatannya. Ia beruntung telah bekerjasama dengan para maestro sinema seperti James Cameron, Steven Spielberg, Martin Scorsese (sudah 4 kali), Edward Zwick, Sam Mendes, dan kini Christopher Nolan lewat film barunya Inception. Koran The New York Times menganggap Leo satu dari segelintir aktor yang berhasil keluar dari status sebagai idola remaja dan jadi aktor betulan. Leo merasakan apa yang dialami Robert Pattinson sang bintang Twilight sekarang. Setiap ia pergi ke mana saja, pasti ada remaja cewek bertempik sorak. Poster wajahnya mengisi kamar-kamar cewek sejagad.

Itu terjadi terutama setelah ia bermain di Romeo+Juliet (1996) bersama Claire Danes dan Titanic bareng Kate Winslet. Saat itu, wajah imut Leo memikat cewek sejagad. Dalam gambaran mereka, wajah Leo ya seperti di dua film itu. Tidak berubah lagi, meski usianya bertambah dan film-film berikutnya begitu lain dari dua film itu. Padahal, sejak awal usai berhenti jadi pemain serial TV Growing Pains, Leo sudah meniatkan dirinya jadi aktor dengan A besar. Di film layar lebar besarnya yang pertama, Leo main jadi bocah idiot adik Johnny Depp di What�s Eating Gilbert Grape (1993). Di film itu, Leo mendapat nominasi Oscar pertamanya di usia belum genap 20 tahun.

Artinya, sejak awal, Leo sebetulnya bukan tipe aktor yang suka main film yang bakal membuatnya jadi idola remaja. Bila ditilik lebih jauh, Romeo+Juliet-nya Baz Luhrmann merupakan interpretasi kontemporer atas drama Shakespeare abad ke-16. Setting zaman renaisans diganti perang gangster. Pedang diganti pistol. Hanya Titanic yang dengan jelas diniatkan sebagai kisah cinta yang akan mengharu biru penonton.

Selepas sukses besar di Titanic, Leo mengambil haluan lain bermain film berkategori �berat� dan tidak dibuai untuk main film pengeruk uang yang hanya mengandalkan tampang imutnya. Masalahnya, tampang Leo tetap imut walau ia kini masuk kepala 3. Meski tubuhnya menggemuk, Leo masih menyisakan guratan imut yang membuat kita tak bisa lupa dengan cinta pertama kita padanya di era 1990-an.
Cara Leo lari dari bayang-bayang tampang imutnya dengan main film-film serius. Tengok saja tujuh film terakhirnya, mulai dari Shutter Island kemarin sampai The Aviator empat tahun lalu. Benar kata Ramin Setoodeh di situs Newsweek, Leo nyaris tak pernah senyum di film-film yang dibintanginya sejak 2004. Inception film ketiga Leo dapat peran sebagai pria yang ditinggal mati istri (dua lainnya Revolutionary Road dan Shutter Island). Benar juga kata Setoodeh, terakhir kali kita melihat Leo bermain ceria di Catch Me if You Can. Dan itu tahun 2002.

Sejauh ini, tampang serius Leo membuahkan dua nominasi Oscar tambahan baginya, satu lewat The Aviator (2004), saat ia jadi pengusaha yang jadi gila Howard Hughes dan Blood Diamond (2006), saat ia jadi tentara bayaran pemburu berlian di daerah konflik di Afrika.

Lalu, akankah kita melihat Leo yang ceria lagi? Sepertinya sih belum dalam waktu dekat. Film baru yang sudah pasti akan dibintanginya berjudul Hoover yang rencananya rilis 2012. Di film itu, Leo dipastikan kembali berakting serius. Ia jadi direktur pertama FBI J. Edgar Hoover. Film itu jadi kolaborasi pertama Leo dengan seorang maestro lagi, Clint Eastwood. Leo sudah memilih jalannya jadi aktor serius. Jadi, mungkin kita yang mulai sekarang harus menghapus kenangan soal dia sebagai Leo si tampang imut dan tampan tak terkira.

Ade Irwansyah 
Redaktur Tabloidbintang.com menulis buku Seandainya Saya Kritikus Film (Homerian Pustaka, 2009).

Elemen Lain itu Bernama Imaji

Mengapa banyak aktor bagus internasional tapi nama Brad Pitt dan Johny Deep mengalahkan ribuan orang berbakat dan tampan di dunia film dalam hal pamor? Ya, semua karena imaji. Tak bisa dipungkiri bahwa imajilah yang menjadi ujung tombak para produsen untuk memikat konsumennya.

Hal ini disadari betul oleh banyak pihak, terutama orang-orang yang menjadi ujung tombak kapitalis. Begitu pun yang terjadi dalam perfilman tanah air kita. Para produser film, mengemas film mereka dengan imaji pemain filmnya, yang diharapkan mampu memikat banyak penonton atas kehadiran mereka. Hanya bedanya, Brad Pitt dan Johny Depp selain memiliki dukungan fisik yang menawan juga tak kalah ciamik dalam memainkan peran, hingga akhirnya mereka memiliki imaji yang khas.

Imaji seolah menyerupai harga mati untuk kesuksesan sebuah film. Sebut saja Jet Li yang identik dengan film aksinya, atau Stephen Chow yang identik dengan film komedi. Mereka berhasil mengimajikan diri mereka sendiri lantaran memang kepiawaian mereka untuk konsisten berperan apik.

Bahkan di negeri Gingseng, salah satu pemain film berbakatnya Choi Min Sik yang banyak mendapatkan penghargaan Internasional dalam aktingnya dalam film Old Boy, sampai tidak mempermasalahkan tawaran film yang sedikit datang padanya, dikarenakan ia mematok harga yang sangat mahal untuk bermain dalam sebuah film. Bukan semata ia memilih, faktor imaji pun mengambil bagian penting disini, bagaimana akhirnya Choi Min Sik menjadi aktor yang paling ditunggu-tunggu kemunculannya dalam dunia perfilman Korea.

Sedang aktor/aktris film dalam negeri lebih banyak mengimajikan diri mereka pada sisi penampilan semata dan juga hebohnya pemberitaan media massa tentang mereka. Walhasil produser acapkali memakai pemain film yang hanya memiliki reputasi yang tengah naik daun tanpa memandang seberapa jauh mereka mampu berperan apik atau kecocokan dengan tokoh dalam perannya (bentuk fisik, karakter suara, dam sebagainya).

Sekali lagi ini membuktikan bahwa dunia perfilman Indonesia banyak yang tidak mengindahkan faktor casting dan faktor imaji, apakah si aktor atau aktris cukup mumpuni dalam berperan atau tidak? Karena bagi mereka (produser) faktor seberapa banyak penggemarlah dan seberapa tengah bersinarnya aktor atau akrtis tersebutlah yang menjadi ukurannya, bukan lagi imaji yang mereka citrakan dalam proses kerja mereka.

Ini sekaligus menjawab kejemuan film kita. Film komedi, horor, drama sampai film dengan bumbu esek-eseknya diperankan oleh pemain yang itu-itu saja. Ini tentu saja bertendensi mengubur bakat-bakat besar pemain film lainnya yang sebenarnya bisa bermain jauh lebih baik.

Maka tidak heran ketika penonton menyaksikan Ati Kanser, seorang pekerja teater yang mengabadikan hidupnya dalam dunia peran, ketika ia mengadegankan emak dalam film Emak Ingin Naik Haji mampu membuat penonton mengeluarkan air mata lantaran aktingnya yang natural. Ati Kanser kemudian di apresiasi penghargaan Pemeran utama wanita terpuji di Festival Film Bandung 2010.

Inilah yang terjadi jika produser film kita jika membuat film hanya memikirkan untung semata tanpa memperhatikan esensi dan estetika film. Apalagi kini film Indonesia dengan tema seronok dengan beragam packaging-nya masih terus diproduksi, membuktikan jika film dengan genre tersebut memiliki nilai jual baik alias memiliki pasar yang selalu ada. Hal ini mengingatkan pada awal keterpurukan film Indonesia di era 1990-an dimana film-film dengan tema seronok merajai hampir di beberapa penayangan bioskop tanah air, dengan kemunculan ikon bomb sex dalam negeri pada saat itu.

Semoga siklus tersebut tak berulang. Jika tidak, maka bisa dijamin akan tidak sedikit para aktor dan aktris kita yang akan berlomba-lomba dalam menunjukkan sex appealing mereka dalam membentuk imaji sesuai kebutuhan industri film ketimbang menggali dasar seni peran itu sendiri. Apakah tren aktor atau aktris kita tengah menuju kesana? Jika anda pemerhati film nasional, anda tentu punya jawaban sendiri dengan jari anda yang menelunjuk.

Andrei Budiman

Kamis, 10 September 2009

Nicole Kidman

Biografi dan Film-filmnya

Nicole Mary Kidman lahir di Honolulu Hawaii, Amerika Serikat ketika sang ayah, Dr. Antony David Kidman tengah melakukan penelitian kanker di sana. Ayahnya dan ibunya, Janelle Ann adalah warga negara Australia. Pada saat Kidman berumur 4 tahun, orang tuanya kembali ke negara asalnya. Semasa kecil, Kidman sangat menyukai tari balet dan ia juga mampu bermain pantomim dan drama sama baiknya. Peran pertama Kidman adalah menjadi seekor domba dalam sebuah pertunjukan natal kala ia masih sekolah dasar. Saat beranjak remaja, saat teman-teman sebayanya lebih suka menghabiskan waktu bersenang-senang, sebaliknya Kidman justru lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuan aktingnya. Kidman lalu masuk ke Victorian College of the Arts dan bekerja di Philip Street Theater dimana ia belajar seni peran secara lebih mendalam. Kidman bahkan pernah mendapat surat pribadi dari sineas wanita kenamaan, Jane Campion yang memuji kemampuan akting Kidman. Campion memberinya dorongan yang membuat Kidman lalu memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan total mengejar impiannya menjadi seorang aktris.

Tercatat pada masa remaja ini, penampilan pertamanya adalah dalam sebuah video musik Pat Wilson untuk lagu Bop Girl. Akhir 1983, Kidman juga bermain sebagai pemeran pembantu dalam film seri televisi, Five Mile Creek, beberapa film diantaranya BMX Bandit dan Bush Christmas. Setelahnya Kidman beberapa kali muncul di berbagai program acara televisi, diantaranya dalam opera sabun, A Country Practice lalu kemudian sebuah mini seri berjudul Vietnam (1986). Melalui mini seri ini untuk pertama kalinya Kidman mendapatkan penghargaan dari Australian Film Institute. Kidman juga bermain dalam film layar lebar, Emerald City (1988), lalu Bangkok Hilton (1989) serta beberapa kali tampil sebagai bintang tamu dalam beberapa acara televisi Australia.

Dibantu seorang agen Amerika, Kidman akhirnya memulai debut karir aktingnya di Amerika melalui film drama thriller, Dead Calm (1989) arahan sutradara Australia, Phillip Noyce. Di film ini ia beradu akting dengan aktor kawakan Sam Neill. Sekalipun filmnya tidak sukses namun talenta Kidman mulai menarik perhatian dan banyak dipuji para pengamat film di Amerika. Karir Kidman mulai melesat setelah pada tahun 1990 Kidman ikut bermain dalam film aksi Days of Thunder dimana dia beradu akting dengan bintang muda yang tengah naik daun, Tom Cruise. Film produksi pruduser kenamaan Jerry Bruckheimer ini ternyata laku keras dengan total pendapatan kotor mencapai $157 juta dan setelah ini nama Kidman pun semakin dikenal di Hollywood. Terlebih setelah Nicole dan Cruise semasa produksi ternyata saling jatuh cinta dan mereka menikah pada tahun yang sama.
Setelah bermain dalam Days of Thunder, Kidman tercatat ternyata pernah menjalani kasting untuk memerankan tokoh Molly dalam film roman supernatural super laris, Ghost, namun sayangnya peran tersebut jatuh ke aktris Demi Moore. Selanjutnya, Kidman lalu bermain bersama sahabatnya sejak remaja, Naomi Watts dalam sebuah film independen berjudul Flirting (1991). Di tahun yang sama, akting Kidman mendapatkan apresiasi tinggi setelah ia berhasil masuk nominasi untuk kategori aktris pembantu terbaik dalam ajang bergengsi Golden Globe untuk perannya dalam film gangster, Billy Bathgate (1991). Film ini merupakan arahan sineas Robert Benton dan Kidman kali ini beradu akting bersama aktor senior Dustin Hoffman.

Tahun berikutnya, Kidman bersama sang suami, Tom Cruise kembali bermain dalam film epik Irlandia, Far and Away (1992) arahan sineas kondang Ron Howard. Sekalipun Kidman bermain baik sebagai Shannon Christie, anak salah satu bangsawan di Irlandia namun faktor sukses film ini adalah nama besar sang suami. Secara menyakinkan film ini mampu meraup keuntungan $137 juta. Tahun berikutnya Kidman bermain dalam film melodrama My Life (1993) bersama aktor Michael Keaton serta dalam film thriller, Malice (1993 ) bersama Alec Baldwin.

Akting Kidman semakin diakui setelah ia bermain dalam film arahan Gus Van Sant, To Die For (1995). Film ini berkisah tentang seorang reporter ambius, Suzanne Stone yang rela melakukan apapun untuk memenuhi ambisinya. Kidman bermain sangat mengesankan hingga ia meraih penghargaan Golden Globe untuk aktris utama terbaik. Secara resmi Kidman semakin memantapkan pamornya sebagai aktris papan atas Hollywood. Peran Suzanne Stone sendiri pada awalnya akan diperankan oleh Meg Ryan, namun karena permintaan honor sang aktris terlalu tinggi, akhirnya peran ini jatuh ke Kidman. Kidman konon juga harus bersaing dengan sederet bintang-bintang top, seperti Jodie Foster, Michelle Pfeiffer, Mary-Louise Parker, Uma Thurman, hingga Bridget Fonda. Kidman juga sempat mendapat tawaran untuk memerankan tokoh Jane dalam Forest Gump, namun sayangnya tawaran tersebut ditolaknya.

Mengawali tahun 1995 Kidman turut bermain dalam sekuel film superhero laris, Batman Forever, dimana ia memerankan tokoh Dr. Chase Meridian, seorang psikolog yang jatuh cinta pada Bruce Wayne. Kidman tahun berikutnya bermain dalam beberapa film antara lain, The Portrait of a Lady (1996) arahan sutradara wanita sekampung halaman, Jane Campion, lalu The Peacemaker (1997) bersama George Clooney yang juga disutradarai oleh sutradara wanita, Mimi Leder. Film ini juga merupakan pengalaman pertama Kidman bermain dalam film aksi murni. Kidman juga bermain bersama aktis top lainnya, Sandra Bullock sebagai seorang penyihir dalam film komedi fantasi Practical Magic (1998) namun filmmya gagal dipasaran.

Untuk ketiga kalinya Kidman dan suaminya, Tom Cruise bermain kembali bersama. Kali ini mereka diarahkan sutradara kenamaan, Stanley Kubrick melalui Eyes Wide Shut (1999). Film ini pun sukses secara kritik maupun komersil dengan pendapatan mencapai $160 juta di seluruh dunia. Selain sukses komersil, film ini juga tidak luput dari kontroversi karena visualisasi adegan seks eksplisitnya. Selain itu pula film ini memunculkan spekulasi publik tentang kehidupan seks mereka, yang kala itu tengah beredar rumor bahwa pernikahan mereka hanya untuk menutupi kehidupan Cruise yang sebenarnya adalah seorang homoseksual. Mereka pun akhirnya bercerai pada tahun 2001.

Semenjak bercerai dengan Cruise, peruntungan Kidman berubah. Di tahun 2002, ia untuk pertama kalinya masuk nominasi Academi Award untuk perannya dalam film musikal unik arahan sutradara Baz Luhrmann, Moulin Rouge! (2001). Kidman berperan sebagai Satine, seorang kortesan primadona di tempat hiburan malam bernama Moulin Rouge. Dalam film ini Kidman menunjukkan kemampuannya dalam hal tarik suara bersama para kasting lainnya. Kidman juga untuk kedua kalinya mampu meraih penghargaan bergengsi Golden Globe untuk kategori aktris utama terbaik. Film ini sendiri selain sukses kritik juga komersil dengan meraih pendapatan mencapai $179 juta. di seluruh dunia, membuktikan jika figur Kidman telah menjadi daya tarik penonton.

Pada tahun yang sama film Kidman yang lain juga dirilis yakni film horor psikologis arahan sutradara spanyol, Alejandro Amen�bar, The Others (2001). Dalam film ini Kidman bermain brilian sebagai Grace Stewart, seorang ibu dan kedua anaknya yang yang diteror oleh makhluk lain di rumah tinggal mereka. Ini juga merupakan pengalaman pertama Kidman bermain dalam film horor. Akting Kidman yang menawan mendapat ganjaran setimpal melalui beberapa penghargaan diraihnya. Film ini sendiri mampu meraih penghargaan Goya Awards (Spanyol) sebagai film terbaik merupakan film berbahasa Inggris pertama yang mampu meraih penghargaan tersebut. Mengikuti sukses film Kidman sebelumnya, The Others juga sukses komersil dengan meraih pendapatan $209 juta di seluruh dunia.

Tahun berikutnya merupakan tahun keemasan bagi Kidman. Perannya sebagai penulis terkenal, Virginia Woolf dalam film The Hours (2002) mendapatkannya piala Oscar untuk kategori aktris utama terbaik. Kidman tercatat sebagai aktris Australia pertama yang mampu menyabet penghargaan tersebut. Selain Oscar, untuk kategori yang sama Kidman juga mampu menyabet beberapa penghargaan bergengsi lainnya, antara lain, Golden Globe serta Bafta Awards. Selain sukses kritik film ini juga sukses komersil dengan pendapatan mencapai $108 juta.

Pada tahun 2003, Kidman membintangi tiga film yang sangat berbeda. Film pertama adalah film unik bergaya teater arahan sutradara Lars von Trier, Dogville (2003), dimana Kidman bermain sebagai Grace Margaret Mulligan dan mendapat pujian dari banyak pengamat. Film kedua adalah film drama The Human Stain (2003) dimana Kidman berkesempatan beradu akting dengan aktor senior Anthony Hopkins. Kedua film tersebut sekalipun dipuji banyak pengamat namun gagal di pasaran. Film ketiga adalah drama perang, Cold Mountain (2003) arahan sutradara Anthony Minghella. Kidman berperan sebagai Ada Monroe, seorang istri yang berpisah dengan suaminya yang menjadi relawan perang. Di film ini Kidman beradu akting dengan Jude law dan Ren�e Zellweger. Film ini mendapat pujian dimana-mana sekaligus sukses komersil mengeruk pendapatan mencapai $173 juta. Akting menawan Kidman dalam film ini mendapat ganjaran nominasi aktris terbaik dalam ajang Golden Globe.

Dua film Kidman di tahun 2005 yang pertama adalah The Interpreter arahan sutradara kawakan, Sydney Pollack. Di film thriller ini Kidman berperan sebagai Silvia Broome, seorang penterjemah yang bekerja di PBB berurusan dengan berbagai intrik politik. Disini Kidman mendapatkan kesempatan bermain bersama aktor kawakan Sean Penn. Seperti tren film-film Kidman sebelumnya, film ini kembali sukses komersil dengan meraih pendapatan $162 juta. Film kedua adalah film komedy fantasi arahan Nora Ephron, Bewitched yang merupakan adaptasi dari serial televisi. Seperti halnya The Interpreter, film ini mampu mengeruk keuntungan diatas seratus juta dollar Amerika, dengan total pendapatan $131 juta.

Tahun berikutnya Kidman bermain dalam sebuah film drama biografi berjudul Fur: An Imaginary Portrait of Diane Arbus (2006) dimana ia memerankan tokoh Diane Arbus, seorang wanita yang menjalin hubungan dengan tetangganya yang mengidap penyakit hipertrikosis. Sekalipun tidak sesukses film-film sebelumnya namun film ini mendapat banyak pujian dari para pengamat. Di tahun yang sama, Kidman juga bermain dalam film animasi garapan George Miller, Warren Coleman, dan Judy Morris, Happy Feet (2006). Di film ini ia menjadi pengisi suara karakter sang ibu penguin, Norma Jean. Film ini sukses luar biasa dengan raihan pendapatan di seluruh dunia mencapai $384 juta.

Kidman pada tahun berikutnya bermain dalam film thriller fiksi-ilmiah arahan sutradara Oliver Hirschbiegel, The Invasion (2007) yang merupakan pengalaman pertamanya bermain dalam film bergenre ini. Konon Kidman mendapat bayaran mencapai $26 juta namun sayangnya film ini gagal secara komersil maupun kritik. Di tahun yang sama bersama Jennifer Jason Leigh dan Jack Black, Kidman bermain dalam film drama, Margot at the Wedding (2007). Kidman berperan sebagai Margot, seorang ibu pecandu yang menghabiskan akhir pekan untuk mengunjungi adiknya. Sekalipun gagak secara komersil namun film ini meraih banyak banyak pujian dengan meraih banyak penghargaan di beberapa ajang festival di dunia. Uniknya, pada awalnya film ini berjudul Nicole at the Beach namun kemudian diubah ketika Kidman bermain di film ini.

Kidman kali ini bermain dalam film fantasi berbujet besar arahan sutradara Chris Weitz The Golden Compass (2007) bersama Daniel Craig, Dakota Blue Richards, dan Freddie Highmore. Tidak seperti biasanya, Kidman kali ini memerankan tokoh antagonis, Marisa Coulter, seorang sosok wanita yang ambisius. Konon awalnya, Kidman tidak ingin bermain dalam film ini karena ia tidak mau bermain sebagai karakter antagonis namun setelah mendapat surat pribadi dari penulis novelnya, Philip Pullman, ia akhirnya bersedia. Film berbujet sekitar sekitar $200 juta meraih pendapatan kotor mencapai $372 juta . Film ini juga meraih penghargaan Oscar untuk efek visual terbaik serta beberapa penghargaan lainya.

Pada tahun 2008, Kidman bereuni kembali bersama sutradara Baz Luhrmann melalui film epik petualangan, Australia. Dalam film ini Kidman bermain sebagai Lady Sarah Ashley. Perannya kali ini menuntut stamina serta fisik yang prima karena ia berperan sebagai wanita pengiring ternak yang didampingi oleh aktor top asal Australia lainnya, Hugh Jackman. Australia konon merupakan film produksi Australia termahal kedua sepanjang masa dengan bujet mencapai $130 juta. Demi menghayati perannya dan mempelajari seluk-beluk dunia ternak, Kidman konon menghabiskan waktu sebulan tinggal di sebuah peternakan di Australia. Film ini sukses komersil dengan meraih $211 juta di seluruh dunia. Pada masa ini Kidman sebenarnya juga dijadwalkan bermain dalam film drama berlatar Perang Dunia Kedua, yakni The Reader namun karena hamil, ia terpaksa mundur dari proyek film ini. Aktris Inggris, Kate Winslet menggantikan posisi Kidman dan kelak ia berhasil meraih Oscar untuk perannya di film ini.

Di tahun 2009, Kidman kembali bermain dalam film musikal arahan Rob Marshall, Nine bersama bintang-bintang kenamaan seperti Daniel Day-Lewis, Pen�lope Cruz, Judi Dench, Sophia Loren, Kate Hudson, dan Marion Cotillard. Film ini terinspirasi dari film semiautobiografi sutradara kenamaan Italia, Federico Fellini, 81/2. Nine sendiri sekalipun kurang sukses komersil namun dalam ajang Academy Awards baru lalu, Nine meraih nominasi Oscar untuk empat kategori. Saat ini Kidman tengah merampungkan dua film terbarunya Rabbit Hole dan Just Go with It. Selain sebagai aktris film, Kidman juga dikenal sebagai seorang penyanyi, dan model. Satu hits yang dibawakan Kidman bersama dengan penyanyi Inggris, Robbie Williams adalah Something Stupid yang mampu bertahan di puncak tangga selama tiga minggu di Inggris. Kidman juga menjadi duta untuk UNICEF Australia sejak tahun 1994.

Kidman dalam Film-filmnya

Sepanjang karirnya Kidman lebih banyak terlibat produksi film yang menekankan pada sisi dramatik dan akting. Kidman tergolong artis serba bisa yang banyak bermain dalam film-film dengan berbagai variasi genre. Genre drama adalah film-film yang paling sering dibintanginya seperti Far and Away, To Die For, The Portrait of a Lady, Eyes Wide Shut, The Hours, Dogville, serta Cold Mountain. Film bergenre horor atau thriller pernah pula ia bintangi seperti Dead Calm, The Others, The Interpreters, hingga The Invasion. Aksi dan petualangan seperti The Peacemaker dan Australia. Film musikal seperti Moulin Rogue! dan Nine, serta superhero/fantasi, Batman Forever serta The Golden Compass, hingga meminjam suaranya untuk film animasi anak-anak, Happy Feet.

Kidman seringkali memerankan karakter wanita independen dengan karakter yang berpribadian keras, kuat, dan dominan. seperti tampak perannya dalam To Die For, The Others, hingga Australia. Dalam film-film bergenre aksi, fantasi, hingga superhero sekalipun, seperti The Peacemaker, Batman Forever, serta The Golden Compass, Kidman masih saja memerankan karakter wanita yang bertipikal keras. Dalam beberapa filmnya juga Kidman sering memerankan karakter wanita yang tertekan, depresi, serta paranoid seperti pada perannya dalam film The Others, The Hours, dan The Invasion.

Kidman juga tercatat telah diarahkan oleh banyak sutradara papan atas dunia. Tercatat dua kali film yang dibintanginya digarap sutradara yang sama, yakni sineas asal Australia, Baz Luhrmann (Moulin Rouge! dan Ausralia). Adapun sineas-sineas besar dunia yang pernah berkolaborasi dengan Kidman antara lain, Stanley Kubrick (Eyes Wide Shut), Sidney Pollack (The Interpreter), Lars von Triers (Dogville), Gus Van Sant (To Die For), Anthony Minghela (Cold Mountain), Alejandro Amenabar (The Others), serta Stephen Daldry (The Hours).

Kidman juga tercatat pernah bermain dengan aktor-aktris besar lainnya. Mantan suaminya, Tom Cruise tercatat paling sering bermain dengan Kidman, dalam Days of Thunder, Far and Away, dan Eyes Wide Shut. Sementara Daniel Craig tercatat pernah dua kali bermain dengan Kidman, yakni The Invasion dan The Golden Compass. Lalu aktor-aktor besar lainnya antara lain Dustin Hoffman (Billy Bathgate), Sean Pean (The Interpreter), Anthony Hopkins (Human Stain), Robert Downey Jr. (Fur), Hugh Jackman (Australia) hingga Daniel Day-Lewis (Nine). Sementara aktris-aktris besar yang pernah beradu akting dengan Kidman, antara lain Jennifer Jason Leigh (Margot at the Wedding), Sandra Bullock (Practical Magic), Renee Zellweeger (Cold Mountain), serta Lauren Bacall (Birth).

Nicole Kidman adalah satu sosok aktris yang berdedikasi tinggi pada profesi. Mengutip pidato kemenangan Kidman pada saat ia meraih Oscar aktris terbaik dalam film The Hours yang masa itu tengah dalam masa perang, �Why do you come to the Academy Awards when the world is in such turmoil? Because art is important. And because you believe in what you do and you want to honour that, and it is a tradition that needs to be upheld�. Kidman yang juga memiliki dua kewarganegaraan (AS dan Australia) dan mendapatkan gelar kehormatan dari pemerintah Australia atas jasa-jasanya di bidang seni dan kemanusiaan. Kidman juga pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 25 orang paling menarik di dunia oleh majalah People. Kidman kini adalah salah satu aktris terbaik di dunia yang pernah ada dan sekaligus adalah aktris termahal di dunia. Dengan kepopuleran dan ketenaran yang diraih Kidman saat ini, rasanya, ia mampu menunjukan pada kita bahwa dengan kerja keras dan totalitas, apapun yang kita iimpikan dapat diraih.

Febrian Andhika & Himawan Pratista

To Die For,

Tidak Sehebat Akting Kidman

To Die For (1995) merupakan film drama komedi arahan Gus Van Sant. Filmnya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Joyce Maynard. Film ini dibintangi Nicole Kidman, Matt Dillon, serta Joaquin Phoenix. Untuk akting memukaunya dalam film ini Kidman meraih piala Golden Globe untuk kategori aktris terbaik.

Suzanne Stone (Kidman) adalah seorang gadis muda ambisius yang bercita-cita menjadi seorang pembawa berita ternama. Untuk memuluskan karirnya ia menikahi Larry Moretti (Dillon) yang ayahnya adalah seorang pemilik restoran serta mafia berpengaruh di kota kecil tersebut. Setelah menikah Susan memulai karirnya di sebuah stasiun televisi lokal. Susan lalu mendapat ide untuk membuat sebuah dokumentasi bertema remaja yang ia harapkan dapat menjadi batu lompatan karirnya. Susan yang lebih mementingkan karir mulai terganggu dengan suaminya yang meminta meluangkan waktu lebih untuknya. Susan kemudian memanfaatkan Emmet (Phoenix), salah satu remaja obyek dokumentasinya untuk menyingkirkan sang suami.

Sineas mengemas kisah wanita muda ambisius ini dengan unik menggunakan kombinasi beberapa variasi teknik serta gaya. Filmnya ini sendiri sebenarnya merupakan serangkaian wawancara beberapa orang yang pernah dekat dengan Susan setelah semua cerita di film ini terjadi. Wawancara disisipi kilas-balik untuk lebih menjelaskan karakter yang bersangkutan serta hubungannya dengan Susan. Film ini sendiri juga berisi dialog monolog Susan yang juga disisipi kilas-balik. Singkatnya, cerita film berjalan mengikuti serangkaian kilas-balik tersebut. Ini tentunya sebuah pencapaian teknik yang tidak mudah dan sineas mampu mengemasnya dengan menawan.

Di luar cara bertuturnya yang unik, satu pencapaian film ini yang paling dominan adalah akting Nicole Kidman. Kidman mampu membawakan sosok wanita muda cantik yang ambisius, genit, manipulatif, dan licik tersebut dengan amat sangat menawan. Sorot mata serta ekspresi wajahnya jauh lebih berbicara ketimbang dialog. Entah disengaja atau tidak, sosok Kidman sendiri tampak lebih cerdas daripada karakter yang semestinya ia perankan. Suzanne bukanlah seorang wanita yang cerdas seperti yang kita pikir. Entah apakah ini bisa dianggap sebagai kelemahan namun setidaknya film ini telah mampu menunjukkan betapa istimewa talenta sang aktris.

Kisah filmnya sendiri tidak sebesar yang kita pikir (tanggung). Sejak awal film menggambarkan sosok Suzanne yang rela berbuat apa saja untuk karirnya. Penonton seperti diarahkan ke sebuah skala cerita film yang semakin membesar dan luas namun nyatanya tidak. Karir Suzanne tidak lebih dari seorang jurnalis televisi amatiran berskala lokal. Satu adegan berkesan ketika Suzanne berhasil menyingkirkan sang suami, diiringi lagu kebangsaan Amerika, ia berjalan menyongsong para wartawan di halaman muka rumahnya, seakan ia mendapat jalan baru mencari popularitas dengan cara singkat. Cerita seolah akan berubah drastis setelah adegan ini namun nyatanya tidak. Satu pencapaian lain yang menonjol adalah Joaquin Phoenix yang bermain sangat baik sebagai remaja yang sangat terobsesi Suzanne. Lalu ilustrasi musik gubahan Danny Elfman juga mampu memberikan sentuhan �fantasi� dalam filmnya. Sebagai penutup, diluar cara bertuturnya yang unik film ini tidaklah sehebat akting Kidman.

M. Pradipta