Kamis, 21 Januari 2010

Zero Dark Thirty

A Top Class Action Thriller


20 Februari 2013

Sutradara: Kathryn Bigelow
Produser: Mark Boal/Kathryn Bigelow
Penulis Naskah: Mark Boal
Pemain: Jessica Chastain/ Jason Clark/Joel Edgerton/Mark Strong
Sinematografi: Greig Fraser
Editing: William Goldenberg/Dylon Tichenor
Ilustrasi Musik: Marco Beltrami
Studio: Annapurna Pictures
Distributor: Columbia Pictures
Durasi: 157 menit
Bujet: $40 juta


Kolaborasi Bigelow dan Boal setelah sukses dengan Hurt Locker kali ini kembali dengan Zero Dark Thirty yang sepertinya bakal mengulang sukses yang sama di ajang Academy Awards. Mirip dengan United 93�garapan Paul Greengrass, film ini adalah kisah fiksi yang diinspirasi dari kejadian nyata dengan plot utama perburuan gembong teroris, Osama Bin Laden sejak tragedi 9-11. Tokoh sentral adalah Maya (Chastain), seorang wanita muda anggota CIA yang mendedikasikan dirinya untuk memburu segala info yang mengarah ke Osama Bin Laden. Sepanjang film kita hanya melihat bagaimana karakter ini mengejar segala info sekecil apa pun melalui sarana intelejen dan interogasi tawanan teroris serta seringkali beradu mulut dengan bosnya karena ia dianggap membuang waktu. 


Masalah besar yang dihadapi kisahnya adalah semua orang telah tahu apa yang terjadi di akhir cerita. Kekuatan cerita ada pada proses, bagaimana, dan apa yang melatarbelakangi semuanya bisa terjadi. Film ini mampu menggambarkan proses investigasi secara detil sejak awal dengan sesekali didukung fakta-fakta atau footage yang sesungguhnya. Entah semuanya benar-benar terjadi atau sekedar dramatisasi cerita but it works. It really works. Penonton disajikan sebuah aksi thriller yang sangat intens hingga klimaks yang sangat menegangkan, yang mampu membuat penonton lupa akan �ending� filmnya.

Satu lagi yang menghidupkan filmnya adalah penampilan Jessica Chastain yang sangat beruntung mendapatkan peran yang pas sebagai Maya. Chastain yang wajahnya selalu terlihat lelah hampir sepanjang film, bermain sangat baik sebagai wanita yang ambisius dan pantang menyerah melawan segala rintangan yang dihadapi. Tercatat aktor-aktor pendukung lainnya juga bermain sangat prima, Jason Clark sebagai Dan (kolega Maya), Mark Strong sebagai Patrick (Bos Maya). Mencuri perhatian juga penampilan Joel Edgerton yang bermain sebagai pimpinan tim penyergapan di klimaks film.

Zero Dark Thirty adalah bukan film �politik� namun secara sederhana sebuah film aksi thriller murni yang dikemas dengan sangat baik dan berkelas. Terlepas kisahnya benar apa tidak namun dijamin penonton disajikan sebuah tontonan bermutu yang sangat menegangkan. Nuansa politik jelas tak luput dari pandangan banyak orang karena menyangkut kebijakan politik AS melawan terorisme, seperti metode interogasi para tawanan teroris, aksi penyergapan teroris, dan lainnya. Siapa pun boleh beropini apa saja namun Zero Dark Thirty simply just a top class action thriller. Zero bakal menjadi kontender terkuat dalam ajang Academy Awards besok mendampingi Life of Pi. (A)

A Good Day to Die Hard

This is Not �Die Hard�

6 Februari 2013

Sutradara: John Moore
Produser: Alex Young
Penulis Naskah: Skip Woods
Pemain: Bruce Willis/Jai Courtney/Sebastian Koch/Cole Hauser
Sinematografi: Jonathan Sela
Editing: Dan Zimmerman
Ilustrasi Musik: Marco Beltrami
Studio: Dune Entertainment/Media Magik Entertainment/Origo film Group
Distributor: 20thCentury Fox
Durasi: 97 menit
Bujet: $125 juta




Ketika melihat trailer-nya beberapa bulan yang lalu sudah tercium kualitas filmnya yang buruk, dan dugaan tersebut ternyata tidak salah. Sejak seri 1 hingga 4, seri Die Hard menjadi salah satu film action franchiseyang paling populer dan dinanti. Plotnya yang khas, karakter John McClane yang karismatik, jaminan adegan aksinya yang wah dan menegangkan, plus sedikit bumbu humor, serta skala cerita yang semakin meluas. Wajar jika semua orang memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini. Film kelimanya kali ini dengan cerobohnya menghilangkan semua keistimewaan seri ini.

                Cerita kali ini ada di tanah Rusia, dimana puteranya terlibat plot membingungkan yang melibatkan seorang tokoh penting, Komarov. McClane terlibat dalam situasi rumit ini di waktu yang salah. Hasilnya McClane terlibat perburuan dog & mouse yang tak jelas dan perkembangan cerita yang serba membingungkan pula. Motif cerita menjadi hal terlemah dalam kisah filmnya karena aspek inilah yang menggerakkan aksi. Motif cerita yang lemah menjadikan adegan aksi menjadi hambar dengan ketegangan cerita yang sama sekali nol. Kita tidak mampu bersimpati maupun peduli apapun dengan karakternya. Singkat kata, kisahnya sangat memaksa. Sub plot bapak dan anak malah terasa sedikit menyentuh, itu pun karena kita telah mengenal karakter McClane sejak lama.

                Satu yang paling disesalkan adalah adegan aksinya yang brutal. Di seri Die Hard terdahulu, McClane adalah sosok polisi yang nekat tapi tidak ngawur dan ia selalu memiliki alasan atau motif yang kuat untuk melakukan sebuah tindakan atas aksinya. Satu alasan utamanya adalah jiwanya terancam (semua seri), orang-orang terdekatnya terancam nyawanya (seri 1, 2, dan 4), dan sesuatu hal yang bisa mengancam jiwa banyak orang (seri 1, 2, 3, dan 4). Kali ini McClane bukan sosok McClane yang sebenarnya tapi sosok yang sangat ceroboh dan ngawur. Sekuen aksi kejar mengejar mobil di kota adalah satu contoh sempurna. Hanya untuk menyelamatkan anaknya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia bisa membunuh puluhan banyak orang di jalanan. Lalu ada satu aksi memukul seorang pemilik mobil yang tak bersalah. What the hell? This is not John McClane.

                Die Hard 5 atau A Good Day to Die Hard (judul paling konyol dari semua seri) dari segala sisi bukan seri Die Hardseperti lazimnya. Plot, karakter, adegan aksi, terlebih unsur thriller, semua adalah salah. This is no Die Hard. Fans sejati Die Hard boleh jadi kecewa berat. I Hope this is the last time. John McClane is too old for this. (F)

The Last Stand


Film Aksi Medioker dan Kembalinya Schwarzenegger

30 Januari 2013

Sutradara: Kim Ji-woon
Produser: Lorenzo di Bonaventura
Penulis Naskah: Andrew Knauer
Pemain: Arnold Schwarzenegger/Forest Whitaker/Johnny Knoxville/Luiz Guzman
Sinematografi: Kim Ji-yong
Editing: Steven Kemper
Ilustrasi Musik: Mowg
Studio: di Bonaventura Pictures
Distributor: Lionsgate
Durasi: 107 menit
Bujet: $30-45 juta

Ada dua hal yang menarik di film ini. Pertama adalah kembalinya superstar aksi era 80-90-an, Arnold Schwarzenegger. Terakhir kita melihat Schwarzenegger bermain film adalah Terminator 3, satu dekade silam, dan walau pada saat itu ia sudah berumur namun karismanya tetap tampak. Kedua adalah keterlibatan sineas Korea berbakat, Kim Ji-woon yang memproduksi film-film Korea berkualitas macam A Tale of Two Sister, A BitterSweet Life, serta I Saw the Devil. Bahkan sinematografernya pun asal Korea, Kim Ji-Yong. Dengan bujet relatif rendah untuk aktor sekelas Schwarzenegger, Kim Ji-woon mampu meramu sebuah film aksi yang lumayan menghibur.

Plot filmnya sangat sederhana. Seorang tawanan khusus FBI yakni gembong narkotik internasional, Gabriel Cortez berhasil lepas dari kawalan. Cortez dengan ego dan kepercayaan diri nya yang tinggi mengendarai mobil super cepat untuk melewati perbatasan US-Mexico tentunya dengan dukungan anak buahnya. Satu persatu barikade tiap kota lewati tanpa perlawanan berarti hingga ia harus melewati satu kota kecil bernama Sommerton. Sebagai kota perbatasan terakhir, Sheriff Ray Owens (Schwarzenegger) dengan segala keterbatasan mencoba untuk menghentikan Cortez dan anteknya.

Plot film yang sederhana dengan tempo yang sedang memang memaksimalkan aksi dengan tambahan bumbu komedi. Adegan aksinya cukup lumayan khususnya aksi kejar- mengejar di jalan raya plus adegan standar tembak-menembak khas Schwarzenegger dengan senapan mesin besar. Tak ada yang istimewa namun juga tidak buruk-buruk amat. Bumbu komedi justru malah yang membuat filmnya menjadi tidak membosankan. Salah satunya karakter Deputi �Figgy� (Guzman) dengan polah dan celotehannya yang mampu membuat suasana bioskop menjadi penuh gelak tawa.  

The Last Stand menjadi pembuktian bagi Schwarzenegger bahwa ia ternyata masih mampu bermain dalam adegan-adegan aksi fisik yang menantang. Walau tak seagresif dulu namun setidaknya film ini cukup mengobati rasa rindu para fans sang superstar. Sementara bagi Kim Ji-woon film ini menjadi ajang pembuktian jika sineas Korea ternyata mampu membuat film aksi menghibur tak kalah dengan sineas Hollywood lainnya. Namun film ini sendiri masih belum bisa menyamai kualitas film-film lokal garapannya. Bagi Schwarzenegger, The Last Stand bisa menjadi titik awal kembalinya sang aktor untuk ke depan bisa bermain di film-film aksi yang lebih berkualitas. (C) 

The Last Stand

Film Aksi Medioker dan Kembalinya Schwarzenegger


30 Januari 2013

Sutradara: Kim Ji-woon
Produser: Lorenzo di Bonaventura
Penulis Naskah: Andrew Knauer
Pemain: Arnold Schwarzenegger/Forest Whitaker/Johnny Knoxville/Luiz Guzman
Sinematografi: Kim Ji-yong
Editing: Steven Kemper
Ilustrasi Musik: Mowg
Studio: di Bonaventura Pictures
Distributor: Lionsgate
Durasi: 107 menit
Bujet: $30-45 juta

Ada dua hal yang menarik di film ini. Pertama adalah kembalinya superstar aksi era 80-90-an, Arnold Schwarzenegger. Terakhir kita melihat Schwarzenegger bermain film adalah Terminator 3, satu dekade silam, dan walau pada saat itu ia sudah berumur namun karismanya tetap tampak. Kedua adalah keterlibatan sineas Korea berbakat, Kim Ji-woon yang memproduksi film-film Korea berkualitas macam A Tale of Two Sister, A BitterSweet Life, serta I Saw the Devil. Bahkan sinematografernya pun asal Korea, Kim Ji-Yong. Dengan bujet relatif rendah untuk aktor sekelas Schwarzenegger, Kim Ji-woon mampu meramu sebuah film aksi yang lumayan menghibur.


Plot filmnya sangat sederhana. Seorang tawanan khusus FBI yakni gembong narkotik internasional, Gabriel Cortez berhasil lepas dari kawalan. Cortez dengan ego dan kepercayaan diri nya yang tinggi mengendarai mobil super cepat untuk melewati perbatasan US-Mexico tentunya dengan dukungan anak buahnya. Satu persatu barikade tiap kota lewati tanpa perlawanan berarti hingga ia harus melewati satu kota kecil bernama Sommerton. Sebagai kota perbatasan terakhir, Sheriff Ray Owens (Schwarzenegger) dengan segala keterbatasan mencoba untuk menghentikan Cortez dan anteknya.

Plot film yang sederhana dengan tempo yang sedang memang memaksimalkan aksi dengan tambahan bumbu komedi. Adegan aksinya cukup lumayan khususnya aksi kejar- mengejar di jalan raya plus adegan standar tembak-menembak khas Schwarzenegger dengan senapan mesin besar. Tak ada yang istimewa namun juga tidak buruk-buruk amat. Bumbu komedi justru malah yang membuat filmnya menjadi tidak membosankan. Salah satunya karakter Deputi �Figgy� (Guzman) dengan polah dan celotehannya yang mampu membuat suasana bioskop menjadi penuh gelak tawa.  

The Last Stand menjadi pembuktian bagi Schwarzenegger bahwa ia ternyata masih mampu bermain dalam adegan-adegan aksi fisik yang menantang. Walau tak seagresif dulu namun setidaknya film ini cukup mengobati rasa rindu para fans sang superstar. Sementara bagi Kim Ji-woon film ini menjadi ajang pembuktian jika sineas Korea ternyata mampu membuat film aksi menghibur tak kalah dengan sineas Hollywood lainnya. Namun film ini sendiri masih belum bisa menyamai kualitas film-film lokal garapannya. Bagi Schwarzenegger, The Last Stand bisa menjadi titik awal kembalinya sang aktor untuk ke depan bisa bermain di film-film aksi yang lebih berkualitas. (C) 

The Hobbit: An Unexpected Journey

Mencoba Mengulang Sukses Trilogi �LOTR� 


14 Desember 2012

Sutradara: Peter Jackson
Produser: Peter Jackson
Penulis Naskah: Fran Walsh/Peter Jackson/ J.R.R. Tolkien (Novel)
Pemain: Ian McKellen/Martin Freeman/Andy Serkis/Cate Blanchett
Sinematografi: Andrew Lesnie
Editing: Jabez Olssen
Ilustrasi Musik: Howard Shore
Studio: New Line Cinema/MGM/WingNut Films
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 169 menit
Bujet: $ - juta

Setelah penampilan gemilang trilogi LOTR (The Lord of the Rings) rasanya tidak ada sesuatu lagi yang bisa disisakan untuk The Hobbit. Trilogi ini adalah bisa dibilang adalah salah satu pencapaian tak ternilai sepanjang sejarah sinema dalam konteks skala produksi, aspek setting, efek visual, kedalaman cerita, serta banyak aspek lainnya. Jackson telah membuat sesuatu mahakarya yang nyaris tak mungkin divisualkan secara live action. The Hobbit: An Unexpected Journey diambil pula dari novel karya Tolkien yang berlatar kisah 60 tahun sebelum peristiwa LOTR. The Hobbit juga direncanakan menjadi sebuah trilogi yang dirilis berurutan dalam tiga tahun. Uniknya, awal filmnya dimulai dengan adegan kecil sesaat sebelum kisah LOTR dimulai, menampilkan karakter Frodo (Elijah Woods). Tokoh utamanya adalah Bilbo Baggins (Freeman) yang diperdaya Gandalf untuk mengikuti rombongan Dwarf pimpinan Thorin untuk merebut kembali kampung halaman mereka yang hilang. Sepanjang perjalanan mereka menemui banyak rintangan dan masalah hingga akhirnya Bilbo secara tak sengaja bertemu dengan Gollum (Serkis) yang memiliki cincin ajaib milik Sauron.


Struktur kisahnya tak berbeda banyak dengan LOTR namun lebih sederhana yang hanya diisi dengan perjalanan dan aksi perang secara repetitif. Berbeda dengan trilogi LOTR yang masing-masing diadaptasi dari tiga novel, satu novel The Hobbit dipecah menjadi tiga film. Hasilnya? Sebuah kisah yang sangat lambat, sangat detil, dan sangat membosankan. Kisahnya berlama-lama dan sama seperti menonton DVD extended version seri LOTR. It�s very frustrating menonton di layar bioskop. Momen-momen menarik hanyalah nuansa �nostalgia� bertemu kembali dengan karakter-karakter LOTR, seperti Gandalf, Saruman, Galadriel, Elrond, Frodo, hingga Gollum. Sangat menyenangkan melihat Gandalf, Saruman, Elrond, Galadriel (empat aktor senior) duduk berdiskusi dalam satu meja, hal yang tak pernah ada dalam LOTR. Namun momen yang paling menarik adalah ketika karakter fenomenal, Gollum, muncul. Adegan bermain teka-teki antara Gollum dan Bilbo adalah satu-satunya scene paling menarik sepanjang film ini. Gollum benar-benar mencuri perhatian.

Bicara soal 3D, jujur saja, The Hobbit adalah pencapaian terbaik yang pernah saya lihat. Gambar-gambar jauh maupun dekat mampu ditampilkan secara sempurna, dan seolah gambar mencuat dari layar sepanjang filmnya. Pencapaian efek visual (CGI) juga tak perlu lagi diragukan karena ini yang menjadi salah satu andalan filmnya. Jackson menggunakan 48fps (lazimnya 24fps) berakibat pada efek gerakan gambar yang sangat halus namun efek gambarnya menjadi aneh, layaknya gambar format video, dan kita sama sekali tidak seperti menonton film. Entah mungkin jika menonton IMAX 3D gambarnya tidak seperti ini namun dari apa yang saya tonton, gambarnya sungguh sangat tidak nyaman, dan menjauhkan kita untuk bisa larut dalam filmnya.  

The Hobbit: An Unexpected Journeyadalah semata-mata hanya usaha untuk mengulangi sukses trilogi LOTR yang fenomenal. Kisah filmnya yang dipecah menjadi tiga jelas terlalu panjang untuk adaptasi satu novelnya dan murni strategi marketing untuk menghasilkan banyak keuntungan.  Para fans LOTR bisa suka, atau tidak suka dengan The Hobbit, namun faktanya trilogi LOTR masih terlalu superior. It�s really an unexpected journey for me.. (C+)