Tampilkan postingan dengan label Edisi 09 Film Dokumenter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 09 Film Dokumenter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2008

Dari Redaksi mOntase

Tak terasa Montase kini telah menginjak tahun ke-4 sejak pertama kali dirilis akhir tahun 2006 lalu. Di awal tahun ini kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan rekan-rekan pembaca hingga Montase masih eksis hingga kini. Semoga di masa-masa mendatang Montase dapat lebih meningkat dengan menambah jumlah halaman serta terbit satu-dua bulan sekali. Pada edisi kali ini kami mengangkat tema Film Dokumenter. Selain mengulas singkat sejarah perfilman dokumenter kami juga mengulas film dokumenter peraih Oscar Bowling For Columbine arahan Michael Moore, serta film dokumenter produksi kita, yakni The Conductors yang baru lalu meraih Piala Citra. Kami juga mengulas beberapa film yang baru lalu dirilis, yakni Under the Tree serta Generasi Biru.

Sejarah Film Dokumenter

Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi (cerita) merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh terjadi. Definisi �dokumenter� sendiri selalu berubah sejalan dengan perkembangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi perkembangan film dokumenter. Sejak awalnya film dokumenter hanya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjutnya berkembang hingga kini menggunakan format video (digital). Berikut adalah ulasan singkat mengenai perkembangan sejarah film dokumenter dari masa ke masa.

Era Film Bisu

Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lumiere Bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang bekerja, dan lain sebagainya. Bentuknya masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan �actuality films�. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, seperti South (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi ke Antartika.

Tonggak awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui oleh sejarawan adalah film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty. Filmnya menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook di wilayah Kutub Utara. Flaherty menghabiskan waktu hingga enam belas bulan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan putranya, seperti berburu, makan, tidur, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah �documentary�, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai �Bapak Film Dokumenter�.

Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation's Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam (Thailand). Eksotisme film-film tersebut kelak sangat mempengaruhi produksi film (fiksi) fenomenal produksi Cooper, yaitu King Kong (1933). Di Eropa, beberapa sineas dokumenter berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori �kino eye�. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek, Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin - Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les Heures.

Era Menjelang dan Masa Perang Dunia

Film dokumenter berkembang semakin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the Will (1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi. Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui teknik editing dan kamera yang brilyan, atlit-atlit Jerman sebagai simbol bangsa Aria diperlihatkan lebih superior ketimbang atlit-atlit negara lain.

Di Amerika, era depresi besar memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar-belakang penyebab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia mengawali dengan The Plow that Broke the Plains (1936), dan sukses film ini membuat Lorentz kembali dipercaya memproduksi film dokumenter berpengaruh lainnya, The River (1937). Kesuksesan film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film dokumenter. Dukungan ini kelak semakin intensif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.

Perang Dunia Kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah Amerika bahkan meminta bantuan industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pendek yang diputar secara reguler di teater-teater. Beberapa sineas papan atas Hollywood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen animasinya. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.

Era Pasca Perang Dunia

Pada era setelah pasca Perang Dunia Kedua, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan yang cukup signifikan. Film dokumenter makin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional. Satu tendensi yang terlihat adalah film-film dokumenter makin personal dan dengan teknologi kamera yang semakin canggih membantu mereka melakukan berbagai inovasi teknik. Tema dokumenter pun makin meluas dan lebih khusus, seperti observasi sosial, ekspedisi dan eksplorasi, liputan even penting, etnografi, seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Sineas Swedia, Arne Sucksdorff menggunakan lensa telefoto dan kamera tersembunyi untuk merekam kehidupan satwa liar dalam The Great Adventure (1954); Oceanografer Jeacques Cousteau memproduksi beberapa seri film dokumenter kehidupan bawah laut, seperti The Silent World (1954); Observasi kota tampak melalui karya Frank Stauffacher, Sausalito (1948) serta Francis Thompson, N.Y., N.Y. (1957). Mengikuti gaya eksotis Flaherty, John Marshall memproduksi The Hunters (1956) mengambil lokasi di gurun Kalihari di Afrika. Lalu Robert Gardner memproduksi salah satu film antropologis penting, Dead Birds (1963) yang menggambarkan suku Dani di Indonesia dengan ritual perangnya. Di Perancis, beberapa sineas berpengaruh seperti Alan Resnais, Georges Franju, serta Chris Marker lebih terfokus pada masalah seni dan budaya. Resnais mencuat namanya setelah filmnya, Van Gogh (1948) meraih penghargaan di Venice dan Academy Award. Franju memproduksi beberapa film dokumenter berpengaruh seperti Blood of the Beast (1948) dan Hotel des invalides (1951). Sementara Marker memproduksi Sunday in Peking (1956) dan Letter from Siberia (1958).

Direct Cinema

Pada akhir 50-an hingga pertengahan 60-an perkembangan film dokumenter mengalami perubahan besar. Dalam produksinya, sineas mulai menggunakan kamera yang lebih ringan dan mobil, jumlah kru yang sedikit, serta penolakan terhadap konsep naskah dan struktur tradisional. Mereka lebih spontan dalam merekam gambar (tanpa diatur), minim penggunaan narasi dengan membiarkan obyeknya berbicara untuk mereka sendiri (interview). Pendekatan ini dikenal dengan banyak istilah, seperti �candid� cinema, �uncontrolled� cinema, hingga cin�ma v�rit� (di Perancis), namun secara umum dikenal dengan istilah Direct Cinema. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya tren ini, yakni gerakan Neorealisme Italia yang menyajikan keseharian yang realistik, inovasi teknologi kamera 16mm yang lebih kecil dan ringan, inovasi perekam suara portable, serta pengisi acara televisi yang popularitasnya semakin tinggi. Pendekatan Direct Cinema terutama banyak digunakan sineas asal Amerika, Kanada, dan Perancis.

Di Amerika, pengusung Direct Cinema yang paling berpengaruh adalah Robert Drew, seorang produser yang juga jurnalis foto. Drew membawahi beberapa sineas dokumenter berpengalaman seperti, Richard Leacock, Don Pannebaker, serta David dan Albert Maysles. Drew memproduksi film-film dokumenter yang lebih ditujukan untuk televisi, satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah Primary (1960). Film ini menggambarkan kontes politik antara John Konnedy dan Hubert Humprey di Wisconsin. Drew bersama para asistennya merekam momen demi momen secara spontan. Secara bergantian kamera mengikuti kemana pun dua politisi tersebut pergi, di tempat kerja, bertemu publik di jalanan, berpidato, dan bahkan ketika tengah bersantai di hotel. Dalam perkembangan Leacock, Pannebaker, dan Maysles meninggalkan perusahaan milik Drew dan membentuk perusahaan mereka sendiri. Beberapa diantaranya memproduksi film-film dokumenter penting, seperti What�s Happening! The Beatles in New York (1964) arahan Maysles Bersaudara yang dianggap merupakan film dokumenter Amerika pertama tanpa penggunaan narasi sama sekali.

Di Perancis, salah satu pengusung cin�ma v�rit� yang paling berpengaruh adalah Jean Rouch. Salah satu karyanya yang dianggap paling berpengaruh (bahkan di dunia) adalah Cronicle of a Summer (1961). Rouch berkolaborasi dengan sosiologis, Edgar Morin menggunakan pendekatan baru cin�ma v�rit�, yakni tidak hanya semata-mata melakukan observasi dan bersimpati namun juga provokasi. �You push these people to confess themselves� it�s very strange kind of confession in front of the camera, where the camera is, let�s say, a mirror, and also a window open to the outside� ungkap Rouch. Dalam filmnya tampak Morin berdiskusi dengan pelajar serta para pekerja di Kota Paris tentang kehidupan mereka dengan melayangkan pertanyaan kunci, �Are you happy?�. Rouch membiarkan subyeknya mendefinisikan sendiri masalah mereka secara alamiah melalui performa mereka di depan kamera.

Sejak pertengahan 60-an, pengembangan teknologi kamera 16mm dan 35 mm yang semakin canggih serta ringan makin menambah fleksibilitas para pengusung Direct Cinema. Sejak awal 60-an, hampir semua sineas dokumenter telah menggunakan teknik kamera handheld untuk merekam segala peristiwa. Direct Cinema juga berpengaruh pada perkembangan film fiksi secara estetik melalui gerakan new wave, seperti di Perancis. Para sineas new wave seringkali menggunakan kamera handheld, pencahayaan yang tersedia, kru yang minim, serta shot on location. Bahkan film-film (fiksi) mainstream pun seringkali mengadopsi teknik Direct Cinema untuk menambah unsur realisme sebuah adegan. Pendekatan Direct Cinema secara umum berpengaruh perkembangan seni film di dunia terutama pada era 60-an dan 70-an.

Warisan Direct Cinema dan Perkembangannya Hingga Kini

Dalam perkembangannya, Direct Cinema terbukti sebagai kekuatan yang berpengaruh sepanjang sejarah film dokumenter. Berbagai pengembangan serta inovasi teknik serta tema bermunculan dengan motif yang makin bervariasi. Salah satu bentuk variasi dari Direct Cinema yang paling populer adalah �rockumentaries� (dokumentasi musik rock). Rockumentaries memiliki bentuk serta jenis yang beragam. Let it Be (1970) memperlihatkan grup musik legendaris The Beatles yang tengah mempersiapkan album mereka. Woodstock: Three Days of Peace & Music (1970) garapan Michael Wadleigh merupakan dokumentasi dari festival musik tiga hari di sebuah lahan pertanian yang menampilkan beberapa musisi rock papan atas. Woodstock sering dianggap sebagai film dokumenter musik terbaik sepanjang masa dan menjadi dasar berpijak bagi film-film dokumentasi sejenis berikutnya. Pada dekade mendatang, This is Spinal Tap (1984) merupakan sebuah parodi rockumentary yang terbukti paling sukses komersil pada masanya.

Tradisi Direct Cinema juga tampak pada film-film kontroversial karya Fredrick Wiseman. Film-filmnya banyak bersinggungan dengan kontrol sosial, berkait erat dengan birokrasi dan bagaimana masyarakat dibuat frustasi olehnya. Dalam film debutnya, High School (1968) memperlihatkan bagaimana para siswa berontak melawan birokrasi di sekolah mereka. Maysles Bersaudara memproduksi film �Direct Cinema� Amerika berpengaruh, Salesman (1966) yang menggambarkan seorang salesman yang gagal. Sejak era 70-an, format film dokumenter mulai berubah melalui kombinasi pendekatan Direct Cinema, kompilasi footage, narasi, serta iringan musik. Salah satu sineas yang mempelopori format kombinasi ini adalah Emile De Antonio melalui film anti perangnya, Vietnam: In the Year�s of the Pig (1969). Dalam perkembangannya format ini mendominasi gaya film dokumenter selama beberapa dekade ke depan. Munculnya format digital juga semakin memudahkan siapa pun untuk memproduksi film dokumenter. Kritik sosial dan politik, lingkungan hidup, serta keberpihakan kaum minoritas masih menjadi menu utama tema film dokumenter beberapa dekade ke depan.

Beberapa sineas dokumenter berpengaruh muncul selama periode 70-an hingga kini. Erol Morris memproduksi film-film dokumenter unik dengan tema dan subyek yang tak lazim, seperti Gates of Heaven (1978), The Thin Blue Line (1988), serta Mr. Death (2000). Barbara Kopple dikenal melalui filmnya bertema demonstasi buruh, yakni, Harlan County, USA (1976) dan American Dream (1990). Michael Moore gemar melakukan kritik sosial dan politik melalui film-filmnya Roger and Me (1989), Bowling for Columbine (2001), Fahrenheit 9/11 (2004) serta Sicko. Kevin Rafferty dikenal melalui film-filmnya seperti The Atomic Caf� (1982) dan The Last Cigarettes (1999). Pendekatan eksotis Flaherty juga masih tampak dalam film peraih Oscar, March of the Penguins (2005) yang tercatat sebagai film dokumenter terlaris sepanjang masa. Selama sejarah perkembangannya, film dokumenter terbukti dapat lebih manipulatif ketimbang film-film fiksi komersil. Film dokumenter melalui penyajian dan subyektifitasnya seringkali cenderung menggiring kita untuk memihak. Masalah etika dan moral selalu dipertanyakan. Sineas dokumenter seyogyanya tidak hanya mampu menyajikan fakta namun juga kebenaran.

Himawan Pratista

Bowling For Columbine

Mempertanyakan Kekerasan Senjata Api


Bowling For Columbine (2002) merupakan film dokumenter yang diarahkan Michael Moore yang sekaligus merangkap sebagai penulis naskah dan produser. Film dokumenter ini sukses meraih puluhan penghargaan internasional, termasuk piala Oscar untuk film dokumenter terbaik. Film ini juga meraih penghargaan utama 55th Anniversary Prize dalam Cannes Film Festival dan merupakan film dokumenter pertama yang bersaing dalam ajang tersebut sejak 50 tahun lebih festival ini berlangsung.

Bowling For Columbine diinspirasi Moore dari tragedi pembantaian Columbine High School pada tahun 1999 yang dilakukan oleh dua orang siswanya. Dua belas siswa dan guru tewas oleh senjata api semi otomatis yang digunakan dua pelakunya. Moore mempertanyakan mengapa angka kekerasan senjata api begitu tinggi di negaranya? Apa akar penyebabnya? Tragedi Columbine menjadi landasan berpijak bagi Moore untuk mencari esensi penyebab masalah yang lebih luas yang berujung pada budaya kekerasan dan rasa takut masyarakat Amerika. Moore mengawali filmnya dengan adegan singkat yang menggambarkan betapa mudah ia memperoleh senjata api secara legal hanya dengan membuat rekening baru pada sebuah bank di Michigan.

Moore menuturkan filmnya ini secara episodik dan cenderung tidak runtut (fleksibel). Sekilas filmnya tampak tidak fokus karena acap kali melompat dari satu bahasan ke bahasan lain, namun ini merupakan strategi Moore untuk memberikan kita sebuah perenungan utuh tentang satu konteks bahasan yang ia tekankan. Dalam sebuah segmen diperlihatkan pada hari dimana tragedi Columbine terjadi, Amerika tengah membombardir wilayah Serbia yang tercatat sebagai pemboman terbesar dalam satu hari. Pengungkapan fakta-fakta kontradiktif memang menjadi strategi favorit Moore. Satu contoh menarik, pernyataan seorang petinggi pabrik senjata terbesar (Lockhead Martin) yang kontradiktif dengan kebijakan politik pemerintah. Moore mengemasnya dengan ringan melalui kilasan berbagai peristiwa dengan iringan lagu It�s a Wonderful World. Moore sering pula melakukan studi komparasi untuk memperkuat pernyataannya. Dalam sebuah segmen, ia membandingkan kondisi dan situasi keamanan di Canada dengan di negaranya. Moore juga membandingkan angka-angka korban kekerasan senjata api di negara-negara maju lainnya yang juga memiliki sejarah kekerasan yang sama.

Moore tidak hanya mampu memaparkan filmnya ini secara komprehensif dan ilmiah, namun ia juga mengemasnya dalam bentuk yang sederhana, menarik, menyentuh, sekaligus menghibur. Sekalipun Moore memakai beragam teknik konvensional, seperti interview, narasi, rekaman berita, iringan lagu dan ilustrasi musik, hingga sekuen animasi, namun ia mampu memadukan semuanya itu secara fleksibel. Cuplikan banyolan komedian Chris Rock tentang senjata api pun tak luput dari tangkapan Moore. Tidak hanya sebagai narator namun Moore sendiri turun langsung ke lapangan mewawancarai para narasumbernya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lugas dan tajam, seperti interview-nya dengan ketua organisasi pro senjata api (National Riffle Association), sang aktor legendaris, Charles Heston. Dengan cara yang sederhana namun efektif, Moore juga menggambarkan kilasan tragedi Columbine melalui rekaman video pengintai serta suara rekaman telepon para pelapor 911. Sukses Bowling For Columbine menjadi bukti bahwa film merupakan medium yang sangat ampuh dan efektif untuk melakukan propaganda sosial dan politik. Kemenangan Columbine dalam berbagai ajang festival film internasional menjadi bukti keberpihakan para pelaku industri film di dunia yang muak terhadap aksi kekerasan dan teror yang kini semakin marak.

Himawan Pratista

The Conductors,

Musik sebagai Pemersatu Bangsa


The Conductors (2007) merupakan film dokumenter garapan Andybachtiar Yusuf yang juga sekaligus merangkap penulis dan produser. Sineas yang juga sebelumnya telah memproduksi film dokumenter tentang suporter sepakbola, yakni The Jak (2005). The Conductors meraih Piala Citra untuk film dokumenter terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun lalu dan ikut serta pula dalam ajang kompetisi Pusan Film Festival di Korea Selatan.

The Conductors memaparkan aktifitas tiga orang konduktor yang berbeda latar belakang. Adhie MS adalah konduktor orkestra kenamaan di negeri ini, sementara AG Sudibyo adalah konduktor paduan suara mahasiswa Universitas Indonesia, dan terakhir Yuli �Soemphil� Sugianto adalah konduktor suporter sepakbola kesebelasan Arema. Film bertutur secara bergantian menampilkan ketiganya serta menggambarkan aktifitas mereka sebagai seorang konduktor. Film juga menuturkan keseharian serta bagaimana visi mereka tentang profesi mereka lengkap dengan wawancara ketiganya.

The Conductors secara umum mampu memberikan sebuah tontonan menarik dan menghibur melalui ide cerita yang segar. Sineas secara bergantian menampilkan ketiganya dengan porsi yang relatif seimbang. Satu kelebihannya adalah kejelian sineas merekam momen-momen bernilai melalui pencapaian sinematografi yang sangat baik, seperti ketika Sudibyo memimpin paduan suara ribuan mahasiswa pada acara pamungkas, serta ketika Yuli memimpin ribuan suporter ketika timnya melawan tim asal Surabaya. Melalui wawancara dan rekaman gambar tanpa narasi, sineas juga cukup baik menangkap passion ketiga konduktor tersebut dalam menjalankan profesi mereka. Pada klimaks film, sineas mampu memberikan pukulan akhir yang begitu hebat tatkala ketiga konduktor tersebut bersama-sama memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya di tiga lokasi berbeda ruang dan waktu. Sineas secara bergantian memperlihatkan ketiganya dan tidak hanya secara visual namun audio pun berubah membahana ketika puluhan ribu suporter timnas menyanyikan lagu kebangsaan kita. Siapa pun pasti tergetar hatinya mendengar lagu kebangsaan kita begitu bergemuruh dilantunkan oleh puluhan ribu penonton di Stadion Gelora Bung Karno.

Di luar keistimewaannya, film ini juga memiliki beberapa kelemahan. Penonton rasanya kurang mendapat informasi yang cukup tentang latar-belakang ketiga konduktor tersebut. Siapa sebenarnya ketiga konduktor tersebut? Mengapa mereka yang dipilih? Apa pencapaian serta prestasi mereka? Secara sekilas memang disinggung namun masih terlalu minim dan jauh dari memuaskan. Hal yang menarik juga ketika sineas mencoba menampilkan keseharian mereka namun sayangnya lagi-lagi materinya pun sangat minim. Apa hanya itu sajakah cara mereka menghabiskan waktu senggangnya? Rasanya lebih lengkap dan menarik jika terdapat sedikit komentar orang-orang dekat mereka. Dalam sesi wawancara, pertanyaan kadang kurang fokus serta pertanyaan �tidak perlu� pun kadang terlontar, seperti ketika sineas menanyakan fungsi gerakan tangan konduktor. Sineas juga terlihat tanggung dan masih �malu-malu� untuk masuk dalam film (onscreen) sewaktu wawancara. Beberapa kelemahan kecil terkait teknis hanyalah masalah audio yang kadang kurang jelas serta beberapa shot tampak gerakan kamera sangat kasar. Di luar kelemahannya untuk produksi independen, The Conductors tergolong istimewa. Film ini juga memberi renungan bagi kita semua bahwasanya musik mampu mempersatukan serta mengangkat harkat dan martabat bangsa. Untuk sang sineas, kami sangat yakin ia masih mampu membuat karya yang lebih baik di masa mendatang.

M. Pradipta

Generasi Biru

Bermimpi Akan Pulau Biru


Generasi Biru adalah film musikal semi-dokumenter yang merupakan kolaborasi antara grup musik kondang tanah air, Slank bersama tiga sineas kita yakni, Garin Nugroho, John de Rantau, serta Dosy Omar. Film ini diproduksi untuk memperingati seperempat abad perjalanan Slank di tanah air. Film ini dibintangi oleh para personel Slank sendiri, yakni Kaka, Bimbim, Ivanka, Abdee, Ridho, serta ikut pula bermain mantan putri Indonesia, Nadine Chandrawinata. Belasan lagu hit Slank dilantunkan mengiringi filmnya.

Film ini dibagi menjadi tiga segmen utama, yakni Kisah Manusia Binatang, Kisah Una, lalu Kisah Kupu Liar yang disajikan secara bergantian. Kisah Manusia Binatang adalah kisah tentang kehidupan �manusia binatang� yang hidup berdampingan dengan manusia di sebuah perkampungan. Kisah una menceritakan tentang seorang bocah yang selalu sembunyi di kolong meja karena trauma melihat kekerasan. Sementera Kisah Kupu Liar merupakan kisah cinta antara si �kupu liar�(Nadine Candrawinata) dengan sang vokalis.

Film unik ini merupakan kombinasi antara seni musik, seni teater, seni instalasi, seni tari, serta teknik dokumentasi. Sentuhan Garin tampak begitu kental dalam filmnya, seperti setting abstrak dipadu dengan gerak tari teatrikal yang simbolik. Penonton yang tidak asing dengan film-film garapan Garin sepertinya tak terlampau sulit memaknainya. Simbol seringkali identik dengan jiwa lagu-lagu Slank sendiri yang mengangkat masalah ketidakadilan, ketertindasan, kebebasan, kesewenang-wenangan, dan sebagainya. Tak ada dialog dalam filmnya namun lagu bersama liriknya menyatu dengan alur kisahnya, dan banyak adegannya merupakan visualisasi dari lagu-lagu (lirik) yang dibawakan melalui gerak dan tari (koreografi). Sekalipun bisa diambil benang merah antar tiap adegannya (meski tidak terlalu kuat) namun film ini lebih �mudah dan enak� dinikmati adegan per adegannya.

Dominasi musik dan lagu sepanjang filmnya membuat Generasi Biru bisa disebut film musikal namun alur plot yang tak jelas menjadikan film ini lebih menyerupai kompilasi video klip ketimbang film musikal. Generasi Biru dikatakan film dokumenter pun tidak namun nyatanya film ini sering menggunakan teknik-teknik film dokumenter, seperti wawancara (interview para slankers di berbagai kota), cuplikan rekaman konser Slank, cuplikan rekaman beberapa kerusuhan dan kekerasan di tanah air, serta lainnya yang diselipkan di beberapa bagian sepanjang filmnya. Satu keunikan lain lagi filmnya adalah penggunaan teknik animasi dalam beberapa adegannya. Satu yang paling menarik adalah game animasi �membasmi tikus� yang menggambarkan dua karakter yang tengah membasmi tikus di Gedung MPR/DPR.

Generasi Biru merupakan mimpi Slank akan sebuah �Pulau Biru� yang bebas dan damai. Seperti jiwa lagu-lagu mereka film ini pula mengangkat isu dan masalah sosial, politik, moral, hingga cinta. Generasi Biru memang sebuah film unik namun apakah film ini bisa dinikmati oleh penonton awam (atau bahkan slankers)? Rasanya tidak kecuali mungkin musiknya. Lagu-lagu Slank kita kenal sangat lugas, sederhana, dan slengekan dalam menyampaikan pesannya namun film Generasi Biru justru sebaliknya. Lalu ditujukan untuk siapa film ini?

Agustinus Dwi Nugroho

Under The Tree

Tiga Kisah dalam Satu �Pohon�


Setelah sukses dengan Opera Jawa, kali ini sineas kawakan kita, Garin Nugroho memunculkan karya terbarunya yang baru saja rilis di bioskop, yakni Under The Tree. Mengekor film-film Garin lainnya, film ini juga sukses diputar di beberapa ajang festival Internasional, seperti di London, Tokyo, hingga Toronto dan banyak dipuji pengamat disana. Entah mengapa, film-film Garin tak banyak diminati oleh penonton kita. Di bioskop Jogjakarta misalnya, film ini hanya bertahan beberapa hari saja dan itu pun sepi penonton.

Dalam film ini terdapat tiga plot utama mengisahkan tiga orang wanita. Maharani (Marcella Zalianty) adalah seorang gadis Jakarta yang datang ke Bali untuk mencari asal-usulnya (ibu kandungnya). Atas petunjuk �orang pintar�, Maharani pergi ke sebuah desa dan bertemu dengan Kaler, seorang laki-laki pengajar tari. Di tengah konflik batinnya, Maharani justru terjebak di tengah percekcokan Kaler dan istrinya, serta hubungan gelapnya dengan putra Kaler (Dwi Sasono). Sementara Dewi (Ayu Laksmi) adalah seorang ibu muda yang tengah hamil. Anak dalam kandungan Dewi divonis menderita penyakit yang menyebabkan si janin cacat, dan jika lahir sekalipun tak akan hidup lama. Dewi memiliki dua pilihan, yakni menggugurkan kandungannya atau melahirkan. Terakhir, Nian (Nadia Shapira) adalah seorang aktris muda ternama yang tengah berlibur dan menenangkan diri di Bali karena cekcok dengan ayahnya. Nian yang kehilangan sosok ayahnya mendapatkan figur pengganti yaitu, Darma seorang pelukis tua. Nian selalu mengikuti kemana pun Darma pergi sekalipun sang seniman merasa terusik.

Film ini dibagi menjadi tiga segmen, yakni Tiga Benih, Benih Terjatuh, dan Berbunga. �Benih� mengacu pada tiga karakter utamanya. Kisah Maharani, Dewi, dan Nian disajikan secara urut dan bergantian dalam porsi seimbang. Inti cerita sejatinya mengisahkan ikatan batin antara orang tua dengan anak. Maharani merasa �dibuang� oleh ibunya. Dewi frustasi dengan janinnya. Nian mencari figur pengganti ayahnya, karena sang ayah tak bisa menjadi panutan. Seperti film-film sang sineas lazimnya, Garin seringkali mengekspresikan ide dan gagasannya melalui simbol. Simbol umumnya berkait erat dengan kondisi mental dan fisik tokohnya. Dalam segmen Maharani terdapat sebuah tarian yang memperlihatkan seorang karakter penari yang membuang bayinya. Dalam segmen lain terlihat saat Dewi mengupas, meremas, dan memakan kuning telur, ia melantunkan sebuah tembang tentang kehidupan dan kematian. Telur merupakan simbol janinnya. Ketika Nian melihat ayahnya tertangkap karena korupsi, sang gadis menutupi rasa malu dan sedihnya dengan menutupi wajahnya dengan kardus.

Film ini begitu kental dengan nuansa budaya Bali. Dialog filmnya didominasi oleh bahasa Bali. Setting yang mengambil lokasi langsung di Bali turut memperkuat suasana magis filmnya. Film sarat dengan ritual, tari, serta keseharian masyarakat Bali yang religius. Agar lebih meyakinkan, sineas beberapa-kali menggunakan cuplikan rekaman upacara adat sesungguhnya. Gaya sang sineas yang lebih menekankan pada bahasa gambar masih dominan melalui teknik-teknik seperti, close-up, long take, serta minim penggunaan dialog. Teknik handheld camera (walau kadang terlihat kasar) juga cukup pas menggambarkan suasana batin tiap karakternya yang tidak stabil. Garin juga mampu membangkitkan potensi akting para pemainnya, sekalipun beberapa diantara mereka pemain amatir. Penampilan Ayu Laksmi tercatat adalah yang paling menonjol diantara ketiganya. Garin seperti biasa juga menyinggung masalah-masalah sosial di negeri ini, seperti aborsi, korupsi, hingga perdagangan anak. Sebagai penutup, sang sineas masih konsisten dengan gayanya baik secara tema maupun teknis. Sekalipun film ini dianggap terlalu kompleks, rumit, atau abstrak oleh penonton awam namun inilah kelebihan sang sineas.

Agustinus Dwi Nugroho

Slumdog Millionare

Perpaduan Kesederhanaan dan Keindahan


Slumdog Millionare (SM) adalah film drama roman garapan sineas Inggris, Danny Boyle yang diadaptasi dari novel Q & A karya Vikas Swarup. Uniknya, latar cerita, setting, hingga pemain semuanya bernafaskan India. Film terbukti sukses besar baik komersil maupun kritik. Puluhan penghargaan telah diraih SM di berbagai ajang bergengsi di dunia, dan baru saja dalam ajang Academy Awards film ini sukses luar biasa dengan meraih 8 Oscar termasuk film terbaik. Sedemikian hebatkah film ini?

Jamal (Dev Patel) adalah seorang pemuda miskin kota Mumbai yang kini beruntung dapat duduk di kursi panas kuis Who Wants to be Millionare yang dipandu Prem Kumar (Anil Kapoor). Tinggal selangkah lagi Jamal mendapatkan hadiah utama sebesar 20 juta Rupee, namun di masa rehat, mendadak ia digelandang dan diinterogasi polisi karena dituduh menipu dalam acara kuis tersebut. Jamal mencoba menjelaskan semua pada sang inspektur, bagaimana ia mampu menjawab tiap pertanyaan dalam kuis. Semua jawaban tak lepas dari kisah masa lalunya, hubungan dengan kakaknya, Salim (Madhut Mittaal), serta Latika (Freida Pinto), gadis yang juga sahabatnya sejak kecil.

Satu hal yang menjadi kekuatan utama film ini adalah naskahnya yang segar dan brilyan. Inti kisah yang sebenarnya sederhana memgesankan rumit akibat alur plotnya selalu bergerak maju-mundur melalui penuturan kilas-balik. Cerita yang berlangsung �kini� adalah Jamal yang tengah diinterogasi sang inspektur. Dasar pijakan alur cerita sesungguhnya adalah tiap pertanyaan dalam kuis. Jamal mampu menjawabnya dengan benar karena semua pertanyaan terkait dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Tiap pertanyaan dan jawaban secara runtut menyinggung lika-liku kehidupan Jamal sejak ia kecil yang semuanya tersusun begitu rapi. Menjelang klimaks film seluruh plotnya menyatu, dan Boyle menyuguhkan kita sebuah klimaks yang indah dan tak terlupakan. Sebuah resolusi yang amat memuaskan dengan takdir dan cinta sebagai jawaban.

Alur kisah yang bertempo cepat dan silih-berganti membuat SM sangat bertumpu pada aspek editing. Boyle memakai sentuhan yang sama dengan Trainspotting, film terdahulunya, melalui gaya editing cepat dan �kasar� dipadu dengan tata sinematografi yang dinamis. Boyle membawa kita menyusuri kawasan kumuh Kota Mumbai yang mampu disajikan dengan begitu meyakinkan. Dari sisi pemain, pencapaian mengagumkan diperlihatkan para pemain ciliknya yang mampu bermain begitu ekspresif dan natural. SM semakin sempurna melalui iringan ilustrasi musik dan lagu sentuhan komposer kenamaan India, A.R. Rahman. Di penghujung film, SM menampilkan satu sekuen musikal yang manis sebagai tribute terhadap film-film India mainstream. Satu-satunya kelemahan �kecil� SM adalah bahasa bicara yang didominasi bahasa Inggris. Rasanya film ini akan jauh lebih menarik dan meyakinkan jika banyak menggunakan bahasa aslinya (Hindi).

SM merupakan pertalian sempurna antara kultur barat dan timur, baik tema maupun estetik. SM menyorot sekilas masalah sosial dan budaya India, Kota Mumbai khususnya, seperti kemiskinan, prostitusi, kriminal, konflik antar agama, turisme, hingga Bollywood. Sulit rasanya mencari film tandingan SM dalam satu dekade ini, dan entah sudah sejak kapan, sebuah film bisa diproduksi sebaik ini. Elemen drama, roman, aksi, komedi, thriller, hingga musikal semuanya berpadu dengan sempurna menghasilkan sebuah tontonan ringan yang menghibur, menegangkan, dan menyentuh. Ah, andai semua film seperti ini�. pure and simple.. just Love.

M. Pradipta

Jumat, 02 Mei 2008

Kedalaman Riset Membawa Kemenangan


Saya seorang pembuat film dokumenter pemula yang membuat film yang berjudul �Paku Buwono XII, Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi�. Film itu saya buat sebagai tugas akhir sebagai sarjana perfilman di Fakultas Film dan Televisi � Institut Kesenian Jakarta. Seingat saya ujian akhir dilaksanakan pada bulan Oktober 2004, saat itu berhasil menempuh ujian dengan sangat memuaskan.

Gelisah

Setelah menempuh kuliah selama 3 tahun, saya lulus sebagai videografer pada tahun 2002, kemudian langsung diterima bekerja sebagai kepala studio merangkap sebagai asisten dosen videografi di IKJ. Sebagai calon pengajar saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi ke jenjang sarjana dengan bea siswa.

Kegelisahan timbul setelah lulus saat film itu saya putar di beberapa pertemuan, baik di lingkungan keluarga Karaton Surakarta, lingkungan kawan-kawan, keluarga saya sendiri, mendapatkan respon biasa-biasa saja, bahkan ada yang mengatakan film ini gak jelas, ada juga yang mengatakan seperti video kawinan. Saya menjadi ragu, apakah betul saya sudah bisa bikin film sesuai nilai A-minus saya terima? Ataukah karena posisi saya saat itu sebagai asisten dosen, sehingga para penguji memberi nilai terlalu murah?

Untungnya di saat kegundahan itu seorang teman menyarankan untuk mengirimkan film saya untuk mengikuti Festival Film Indonesia 2005, katanya bila saja nanti film itu berhasil masuk nominasi, itu akan sangat berarti bagi film maker-nya. Saya ikuti saran teman itu walau saat pengirimannya pada saat yang sudah sangat mepet dead line.

Ternyata Bisa Bikin Film

Kegundahan akan penilaian para dosen penguji terjawab saat saya mendapat kabar bahwa film saya masuk nominasi. Menjadi salah satu dari 9 nominator yang dipilih dari 90 film yang masuk saya merasa sudah cukup puas. Saya merasa sudah bisa membuat film dokumenter... saya sudah merasa menang. Saya mengadiri upacara pesta Festival Film Indonesia 2005 di JCC saat itu dengan langkah yang sangat ringan tanpa beban dan berharap apapun, karena saya sudah merasa cukup puas sebagai nominator.

Saya merasa jantung saya hampir meledak saat film Paku Buwono XII dibacakan sebagai peraih citra 2005. Tak bisa saya ungkapkan bagaimana perasaan saya saat itu...saya merasa hadiah ini mukjizat Tuhan...Saya bersyukur kepada Tuhan, hanya karena Beliaulah ini terjadi...dan juga restu dari seorang Raja Jawa yang menjadi subyek film ini.

Mengapa Paku Buwono XII ?

Saya mengenal beliau sejak tahun 1993 pada saat saya bekerja di Solo, jauh sebelum saya kuliah di IKJ (tidak pernah menyangka kalau pada tahun 1998 akan terjadi krisis moneter yang menyebabkan saya kehilangan pekerjaan). Pada saat itu pimpinan saya membantu perbaikan beberapa kereta yang sudah berusia ratusan tahun di Karaton Surakarta, dan membantu pelaksanaan berbagai upacara di Karaton. Dengan perantaraan itulah saya saya masuk kedalam keluarga kerajaan, mulai berurusan dengan putra-putri beliau sampai dengan suatu saat saya berhubungan dengan sangat dekat dengan Sinuhun.

Dalam perjalanan persahabatan saya dengan PBXII saya menangkap karakter beliau sebagai pribadi yang sangat unik. Kehidupan sebagai seorang raja yang bertahta pada jaman kemerdekaan mengalami suka duka hidup yang amat kompleks.

Selama mengenal beliau banyak saya dengar di masyarakat tentang siapa dan bagaimana seorang PBXII yang cenderung negatif. Antara lain masyarakat umum mengatakan bahwa PBXII seorang raja yang pro Belanda, bebeda dengan Sultan. Namun anehnya Sinuhun tidak pernah mencoba membela diri atas apa yang dibicarakan orang yang cenderung mencibirkan beliau. Pada kesempatan lain, hampir setiap hari saya masuk Karaton. Pada saat saya berteduh di depan Sasana Wilapa (kantor PBXII) yang jarang dikunjungi Sinuhun, saya sering ditemani Kanjeng Pangeran Wirodiningrat. Pada suatu saat dengan menunjukkan sebuah map yang penuh dengan surat-surat penting KP Wirodingirat berkata: �Mas Wie, apa yang dikatakan orang di luar sana tidak semuanya benar...lihat surat-surat ini...ini sebagai bukti bahwa PBXII juga punya andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia�.

Dalam map itu saya melihat berbagai surat serah terima berbagai sumbangan PBXII untuk kepentingan NKRI, itu sudah cukup bagi saya bahwa beliau juga punya andil dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Seorang raja tidak harus ikut berjuang mengangkat senjata berperang meninggalkan keratonnya.

Rasa prihatin atas nasib beliau itulah yang mendorong saya untuk menjadikan PBXII sebagai subyek film saya, film ini saya dedikasikan sebagai tanda kasih dan bhakti saya atas bimbingannya kepada saya selama menjadi sahabat beliau.

Riset yang Matang

Seorang sahabat, sutradara dokumenter dari Amerika Michael Sheridan berkomentar �It�s all about access� sambil memuji kedekatan saya sama PBXII sesaat setelah dia menonton film saya. Memang hal itulah yang menurut saya yang merupakan faktor penting dalam membuat film dokumenter. Kedekatan dengan subyek menyebabkan kita leluasa dalam mengakses informasi, ruang, dan waktu. Persahabatan saya selama sepuluh tahun dengan PBXII sebelum saya membuat film tentang beliau merupakan perjalanan riset yang panjang dan dalam, yang tidak saya sadari sebelumnya. Semakin dalam dan lama kita berinteraksi dengan subyek, semakin banyak informasi dan berbagai permasalahan tentang subyek yang kita pahami. Dengan bekal pemahaman yang dalam tentang narasumber dan berbagai persoalannya akan menghantarkan film kita dapat bertutur dengan tepat tentang siapa dan bagaimana subyek kita. Disamping itu dengan kedalaman riset, kita bisa lebih jeli memilih bagian mana dari subyek yang sangat menarik, yang mengandung informasi penting, yang sedih, yang lucu, kemudian tepat meletakkan dalam alur film kita.

Salah satu tujuan riset juga membangun rasa saling percaya antar film maker dan subyek, kepercayaan seorang subyek sangat penting dalam film dokumenter tanpa ada rasa saling percaya mustahil bisa membuat film yang bagus, yang jujur, yang merepresentasikan sebuah kebenaran

Rasa saling percaya menyebabkan subyek kita siap saat menghadapi wawancara, maksud siap disini subyek tidak demam kamera, tampil sebagai dirinya sendirinya sendiri (tidak acting).
Salah satu cara untuk mempersiapkan subyek kita selama riset adalah secara perlahan memperkenalkan alat-alat elektronik sejak proses riset. Bila sudah mulai agak dekat dengan subyek, mintalah ijin untuk boleh merekamnya dengan handycam atau audio recorder sepanjang proses riset. Manfaat dari perekaman itu adalah, pertama: agar narasumber kita siap pada saat shooting /tahap produksi nantinya, karena sudah terbiasa berhadapan dengan peralatan elektronik saat riset. Kedua: sebagai back-up bila pada tahap produksi gagal mendapatkan intonasi wawancara dan ekspresi yang bagus seperti pada saat riset, rekaman suara maupun video handycam dapat dipergunakan untuk menjadi bagian dari film dokumenter kita, walau kualitas gambar dan suaranya tidak sebaik pada tahap produksi. Ekspresi dan intonasi yang bagus/sesuai sangat diutamakan, karena dalam film dokumenter kesedihan, kelucuan, harus nampak wajar tidak boleh direkayasa, film maker harus menangkapnya secara spontan. Rekaman seperti itulah yang harus kita tata untuk memberi nafas film kita.

Kamera Sederhana

Film Paku Buwono XII, hampir sebagian besar menggunakan handycam sederhana. Selama kita tahu bagaimana menggunakan kamera dengan tepat, bisa mengatur, balance, eksposur, focus yang tepat pasti dapat menghasilkan gambar yang baik. Jadi pada dasarnya handycam dapat digunakan sebagai alat untuk membuat karya yang baik selama menguasai aspek teknis dan aspek kreatif dalam membuat film antara lain, type of shot, camera angle, dan menguasai bahasa film.

Terima Kasih untuk PBXII

Piala Citra itu merupakan anugrah yang tak pernah saya bayangkan dalam hidup. Saya merasa film ini menang bukan semata-mata karena kemampuan seni film saya, saya yakin semua itu adalah karena Sinuhun, beliau yang sudah di alam lain mendorong saya untuk memperoleh semua ini.

Seminggu setelah mendapat Piala Citra, saya bersama seluruh keluarga nyekar ke makam Sinuhun di Imogiri dengan membawa serta piala dan paigam saya. Dengan meletakkan piagam dan piala itu di sisi makam beliau saya sungkem menyampaikan terima kasih saya atas segala dorongan beliau sejak saat beliau masih sugeng sampai beliau tiada sehingga saya memperoleh prestasi seperti ini.

Kalau saja saya bisa berkomunikasi dengan Suwagi Dalem PBXII, saya ingin menyanyakan apa yang beliau ingin saya lakukan untuk menyampaikan rasa terima kasih saya kepada beliau dan Karaton Surakarta Hadiningrat.

Kebahagiaan lain yang saya dapatkan adalah kesempatan memutar film PBXII di TA-tv Solo pada bulan Juni 2006, sehingga pesan yang saya tanamkan dalam film itu sampai ke masyarakat Solo yang merupakan wilayah kekuasaan Karaton Surakarta Hadiningrat. Setelah penayangan ada talk show interaktif dengan penonton. Saya sangat terharu saat beberapa orang menghubungi via telepon menyatakan rasa terima kasihnya karena setelah menonton film itu kini mereka tahu siapa dan bagaimana PBXII, Raja mereka.

I.G.P. Wiranegara

Kamis, 01 Mei 2008

The Trap - What Happened to Our Dreams of Freedom


YouTube really is a great medium in which to rewatch Adam Curtis 2007 masterpiece �The Trap�. You know the way that Youtube stops and starts every 3 or 4 seconds as it buffers? And how annoying this usually is? Well, it is still annoying when you want to watch the whole film so that you can write an article about it by the following day, but one thing that the inconvenience does illustrate is the huge number of images that Curtis packs into his films. Often you get to see two or three wildly different images before that rotating flower tells you YouTube is doing its work again. The overload of information contained in the images and the confusing effect that they can have, mirrors how I feel through every day contact with the modern world. In a world where seemingly limitless information is available at the touch of a button, we remain confused and ignorant of it�s relevance to a larger vision.
..
The film is an entertaining and yet incredibly dense, investigation into the dangers of over-simplifying a complex, multi-dimensional world. The world Curtis describes is familiar one; a huge system in which absolute knowledge is impossible, yet individuals and governments continue to presume that they have found the patterns in the chaos that will allow them to predict and influence the future for humans everywhere. The most destructive form this simplification takes in Curtis� film, is an excessive trust in the infallibility of �numbers� as measure and predictors of human behaviour. This obsession with the power of numbers is �The Trap� of the film�s title. The film investigates thoughts, movements and influences from across a broad spectrum of academic pursuits, within some 60 years of history and from around the entire globe.

You can imagine the complexity of the resulting story. These thoughts are often non-linear in their relationships to each other, and thereby not very conducive to the simple, linearity of time favoured by many filmmakers and especially those less sophisticated documentary makers intent on presenting information in its most unambiguous state. Part of Curtis� genius in being able to communicate these complex ideas through the medium of documentary film, is that he is able to guide his audience where he wants by borrowing liberally from other branches of film and communication.

There were some rules devised by a chap called Aristotle in the fourth century BC, and noted down in a book called Poetics, concerning the theory of drama. In this book Aristotle noted that the effect of drama is felt most strongly when the audience identifies with the characters, and the way that they engage with a struggle culminating in an understanding of an earlier mistake that they have made (hamartia in the original Greek). Most often occurring because of human imperfection and arrogance this error will, in spite of their eventual realisation (anagnorosis), sadness and remorse (pathos) inevitably lead to a reversal of fortunes and the downfall (peripeteia) of the main actor in the tragedy (protagonist).

Curtis� film almost perfectly follows Aristotle�s model, thereby creating a story of a �real tragedy�. His primary audience is the population of Great Britain, but it can be extended to include everyone on the planet, as we have all become enmeshed in the system of globalisation. The audience is thus exactly the same ignorant protagonist in the tragedy. We were helpless at the time, existing in the context of imperfect knowledge articulated by far removed governments and intellectuals. It is impossible to create a protagonist that the audience can identify and sympathise with more than that same audience themselves. We know how easy it was to fall into this particular trap. We know how it was to exist believing what we thought to be the truth, until we began watching the film (I certainly believed that psychiatrists were knowledgeable professionals and our policemen are more effective when they�re rewarded for their work) and as such, we feel sorry for ourselves as the victim of the tragedy. It is only when divine knowledge (in the form of Curtis� expose) illuminates the reality of where we are, of what we have done in the name of misguided beliefs, that we realise the full horror and tragedy of the situation.

If you look at horror movies, I�ll bet that you find yourselves getting more scared by the monsters that could exist within your everyday life. Those ones that send you to bed thinking that there really could be a psychopath in the cupboard or that the TV could be possessed. Using these techniques is something that Curtis latches onto again and again throughout his films. By placing the images of the everyday that are recognizable to all, illuminated within a different light (in this case the context of the tragedy Curtis� story is unraveling for us); Curtis is able to encourage a sense of fear and horror within the audience.

But Curtis� skills are not only as a merchant of fear, he also uses moments of comedy or sadness with equal flair, even that strange dreamlike state, a combination of knowledge and confusion, in which unconnected images seem to make sense in spite of the absence of a logical link between them. He is a masterful filmmaker, and whilst some of Curtis� image and music choices may seem non-sensical, each is selected and edited into the film with the utmost care. Their use may be to create an atmosphere, or emotion in the viewer merely through their suggestive power. His sophisticated uses of images of the mundane and the everyday, illustrate not only his keen eye as an artist but also the depth in which he understands the fears, vanities and ideals of his audience. Through the use of this knowledge he is able to provide us not only with a fascinating source of information, a deep and adult investigation into a topic that affects us all without our knowledge, but also a dramatic and entertaining viewing experience.

Curtis� skill as a filmmaker and his ability to use his audience�s familiarity with the styles and forms of western culture allow him to communicate, not merely using spoken language (which for the sake of argument, here I will consider to be fairly neutral) but also to influence and guide our thoughts by using images and music. This is the role that we are often happy to assign to the artist, illuminating our world by providing a new and unique perspective, a way of seeing and communicating that is unfamiliar to the rest of us. But considering the subject matter of Curtis�s film, there is an added level of irony in this position. Just as science, economics, politics and the public blinded themselves and each other through acceptance of what appeared to be the reality of everyday, so the process is repeated when we unthinkingly buy into the collective conceptions of images and their meanings, upon which much of the power of Curtis� work relies. So even in �reading� Curtis� films we are perpetuating many of the same faults that have brought us into the tragedy. Yet the tragedy Curtis shows to Britain is not a horror of ultimate proportions, the UK has not fallen into a Balkan style civil war, we haven�t become the theological island of Iran and not quite the paranoid monster that is the USA. So you may look at the situation and consider it unavoidable, it happened and will happen again, so why worry about it?

But in reaching this point, we have compromised some of the things that we that we most treasure. Or at least the things that we tell ourselves we most treasure. At various points in the films, Curtis mentions how much we say we value individualism, yet this ideal is in opposition to many of the other ideals we hold for ourselves. In my opinion, it is the confusion that arises from these contradictions that show the value of Curtis� work to his audience. The film is a great dramatic story, yet its real triumph is that it encourages all those who watch and enjoy it to start questioning the axiomatic principles of their lives. By extension the engaged viewer is led to a questioning of everything that uses these principles as a foundation, and this is surely intellectual investigation in its purest form.

The range of sources quoted in Curtis� films begins to suggest to us how important holistic knowledge is if we are to even begin to explain things in our complex world. The film acts as a call to action for the audience by showing that intellectuals are humans too and (I certainly agree with Aristotle on this point), humans make mistakes. So Intellectuals are not infallible and nor do they hold a monopoly on truth or its explanation. Questioning of the world is shown to be something not just for academics and those whose role it is to be a big thinker, but rather it is for everybody to explore. People with different histories, different training, and different ideas need to contribute them to a global discussion. So although he never explicitly says it, I believe Curtis� film holds the message that to save the world from further disaster, we don�t need to wear bright red tights or have super human strength. We just need to get engaged with the world, start thinking and questioning even those things that seem so clear. But most of all we just need to not believe �Them� when �They� tell us �They are� right. Whoever, �They� are, they might be wrong, they might be right, mostly likely they hold a little bit of both. But we all have to work together towards understanding the world and to start believing something I consider to be true, that �Nobody is smarter than all of us�.


Charlie Sutherland 
from Newcastle for Montase Readers

Rabu, 30 April 2008

Dokumenter dan �Pembungkusnya�


Melakukan perjalanan dengan mencatat berbagai peristiwa melalui berbagai cara tentunya memiliki keasyikan tersendiri, Seperti yang dilakukan oleh Christopher Columbus sampai Ibnu Batuta, mereka memiliki jurnal perjalanan yang pada akhirnya menjadi bukti kehebatan sejarah kehidupan mereka, yaitu tentang filosofi dan keinginan mereka untuk menceritakan apa yang mereka lihat dan rasakan.

Perkembangan teknologi saat ini semakin memudahkan kita untuk saling berhubungan satu sama lain. Melalui foto atau video, kita dapat membuat catatan perjalanan dalam sebuah web log atau lebih dikenal dengan sebutan blogger, hingga catatan perjalanan itu bisa dibaca dan dilihat oleh banyak orang di seluruh dunia.

Kita tidak perlu melalukan perjalanan menuju Timbuktu atau Papua New Guinea seperti yang dilakukan Kira Salak seorang penulis traveling yang mendapatkan penghargaan dari National Geographic Emerging Explorer dan PEN Award, karena mendokumentasikan kisah perjalanan baik melalui tulisan, foto, ataupun video merupakan pengalaman personal masing-masing orang. Sekalipun kita sama-sama menuliskan perjalanan dari Jakarta ke Bandung, tentu saja gaya mengemas tulisan akan berbeda satu sama lain.

Mengapa orang melakukan catatan perjalanan baik dalam bentuk tulisan (blog), foto, maupun video, karena itu semua merupakan suatu usaha untuk �membungkus� kenangan atau menyimpan sejarah dari apa yang kita alami. Sewaktu melakukan perjalanan berkeliling Asia dan Eropa, selain melakukan penulisan dalam blog, saya juga melakukan dokumentasi dalam bentuk video untuk merekam setiap perjalanan yang saya tempuh. Membuat film dokumenter boleh dibilang gampang-gampang susah. Membuat film dokumenter diperlukan kepekaan insting yang kuat karena si pembuat film tidak mengolah set dan adegan. Semua kembali kepada sang sineas bagaimana ia mampu mengolah apa yang ia lihat melalui teknik-teknik bahasa visual yang bisa mewujudkan apa yang ia rasakan dan lihat.

Film dokumenter boleh jadi tidak semurni yang kita tonton. Entah banyak atau sedikit, selalu ada faktor �tangan-tangan� sineas yang mengolah rupa �adegan� sesuai tuntutan yang ada. Ide untuk membuat film dokumenter yang mendekati realitas bisa kita ambil contoh dari karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq semasa perang berlangsung, lalu dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri tanpa campur tangan dari sineas.

Cara yang unik dalam kasus diatas juga dilakukan stasiun TV Hongkong (RHTK). Saat mereka mengolah sebuah traveling show di kota-kota menarik di Asia, cara yang mereka lakukan agar lebih masuk ke kultur bersangkutan adalah dengan memakai host (pembawa acara) setempat. Dan ketika saya yang saat itu menjadi host mereka di Yogyakarta mengenalkan kota ini lewat acara tersebut, saya tidak menyangka melihat hasilnya yang berlawanan sekali dengan prinsip dokumenter yang menuntut realisme, lantaran film tersebut seluruh dialognya tidak memakai bahasa setempat. Bisa anda saksikan tayangan tersebut di streaming internet (http://www.rthk.org.hk/rthk/tv/journey/20081227.html) bagaimana saya dan tukang angkringan berbahasa cantonese dengan fasihnya. Ah...ada-ada saja.

Andrei Budiman

Selasa, 29 April 2008

Miniatur


Sinema dokumenter kerap diperlawankan dengan sinema fiktif, tersebab ambisinya yang ingin menghadirkan realita tanpa tipu-daya. Setiap citra optik maupun akustik yang muncul di depan kamera dikekalkan hadirnya. Demikian ini turut memberikan anggapan: tiadanya campur tangan sineas untuk membangun realita ke dalam sebuah cerita. Daya ungkapnya menyaran pengungkapan sesuatu sebagaimana rupanya, �les choses telles qu�elles sont� atau �cin�ma verit��, atau sinema yang sebenarnya.

Sebagai suatu yang nonfiktif, hakikat sinema dokumenter bersifat hablur manakala seseorang membandingkannya dengan dokumentasi dalam bentuk reportase � la televisi. Kenyataan ini turut menjauhkan posisinya yang nonfiksi dari sinema fiksi. Guna menepis pandangan tersebut kemudian diyakini: keduanya disandingkan sebagai ekspresi seni yang menyaran adanya kode naratif yang spesifik, bukan sekedar sekumpulan informasi. Melalui tangan sineas, obyek tangkapan kamera tidak mesti suatu materi terpilih. Ia berbentuk apa saja dan berasal bukan dari dirinya.

Pelbagai obyek yang tertangkap oleh kamera kemudian direkonstruksi untuk membangun sebuah cerita. Terkadang obyek yang dihadirkannya pun merupakan suatu yang biasa, seperti dalam �Les Glaneurs et la Glaneuse� (2000) besutan Agnes Varda. Obyek perhatiannya tidak memenuhi standar estetik galibnya: para pengais sisa palawija usai panen, pengais sisa makanan di tempat sampah dan seniman yang memanfaatkan sampah sebagai medium ekspresinya. Tentu saja pemilihan obyek tersebut tidak menyaran apa yang menjadi perhatian orang banyak; namun bagaimana memerlakukan obyek yang tidak berharga tersebut dapat diringkus ke dalam sebuah cerita.

Realita yang ditangkap oleh Varda hanyalah seklumit cerita yang ingin ia hadirkan selama dalam perjalanannya mengunjungi kota-kota di Prancis. Realita yang terekam tersebut kemudian disunting sedemikian rupa. Sesuatu yang remeh pun bisa juga mengisi ruang kosong cerita. Goyangan tali kamera yang tidak sengaja tertangkap oleh Varda bisa pula dimampatkan ke dalam cerita.

Perjalanan Timothy Treadwell yang terangkum dalam �Grizzly Man� (2005) awalnya cuma kisahnya mengarungi alam liar Alaska. Sampai dia dan teman wanitanya tewas tercabik oleh cakar tajam beruang Grizzly, sekumpulan informasi tersebut kemudian disusun oleh Herzog sebagai dokumentasi yang berharga. Herzog karuan tidak turun terlibat sebagai pengarah adegan atau penyusun skenarionya. Perannya di situ cuma mereka ulang apa yang didapat oleh Treadwell selama 5 tahun menjelajahi Alaska lewat 100 jam dokumen-gambar yang dibuatnya. Herzog kemudian menyunting dokumen tersebut menjadi sebuah struktur yang baru. Saksi hidup juga ia tampilkan untuk menyambung struktur yang terputus, baik dari sanak-familinya, pilot heli yang kerap mengantarnya, sampai dokter yang melakukan visum atas diri Treadwell. Herzog barangkali sadar: sinema dokumenter tidak terlahir dari rencana matang. Ia bisa dibikin dari dokumen-gambar milik orang lain yang tidak pernah ia kenal sebelumnya juga dari pelihatan singkat Varda selama perjalanannya. Dan mereka ingin mengabadikannya.

Sinema dokumenter terbangun dari anggapan awal untuk menghadirkan realita sebagaimana rupanya; namun hal ini kemudian bersifat cair sewaktu realita dan fiksi bergabung membentuk struktur baru dalam �Hiroshima Mon Amour� (1959), besutan Alain Resnais. Keduanya hadir seolah tidak menyisakan ruang kosong untuk bisa dibedakan secara terang. Kilas balik yang digunakan Resnais dalam penceritaan menyaran kilatan ingatan atas peristiwa yang menewaskan ratusan ribu orang itu; dengan memadukan antara fiksi dan realita. Tidak pelak teknik Resnais ini untuk menyuguhkan kedua hal yang berlawanan tadi menyaran sebentuk isyarat untuk berjarak terhadap realita yang terserak di depan kamera: antara kehancuran Hiroshima pascaperang Dunia II dan beban psikologis orang-orang yang mengalaminya, terwakilkan oleh potret buram para korban. Penceritaan kemudian beralih pada percintaan sepasang sejoli yang sedang kasmaran. Kombinasi demikian turut menggulirkan pertanyaan sewaktu suatu yang bersifat universal (penderitaan) bercampur dengan suatu yang partikular (percintaan).

Untuk yang kesekian kali Resnais berkesempatan mengadaptasi novel bergenre �nouveau roman�, karya Marguerite Duras yang bertajuk sama. Yang dibincangkan kemudian tidak menyaran proses adaptasi dari teks ke citra; namun hanya sedikit struktur metabahasa yang akan dicerabut perlahan, melalui hadirnya tokoh yang anonim �Elle� (dia, persona kedua wanita-tunggal) dan �Lui� (dia, persona kedua pria-tunggal) dan ruang intim (kamar) sebagai manifestasi dari sikap keberjarakan.

Tokoh anonim �Elle� dan �Lui� secara tidak langsung bermakna ia-dan-bukan-ia. Persona tersebut bisa menunjuk siapa saja. �Elle� memang seorang perawat asal Navers, Prancis yang diperbantukan pascaperang dan �Lui� seorang Jepang yang kemudian jatuh cinta kepadanya, �Elle�. Tokoh anonim tadi seakan menetap dalam narasi untuk sekedar menunjuk sepenggal drama eksistensial manusia sewaktu berhadapan dengan derita yang tidak bernama. Ia bisa menimpa siapa saja. Kehadiran derita di antara puing-puing eksistensi tadi (Elle dan Lui) bukan merupakan suatu yang bersifat negatif maupun positif bagi keduanya; namun sikap mereka terhadap derita selalu bersitegang. Simbolisasi linguistik atas dua tokoh anonim tadi menunjuk posisi manusia di hadapan sesuatu (derita), yang bermakna pula tidak memihak. Oposisi cinta dan derita merupakan suatu yang serius, seperti halnya kata kerja mengingat dan melupakan. Dua tokoh anonim tadi kemudian simbolisasi dari ketidakberdayaan manusia di hadapan derita yang menyaran semacam sikap keberjarakan.

Resepsi kita terhadap kilas balik singkat yang memperlihatkan kondisi para korban pada waktu prolog, kemudian runtuh sewaktu penceritaan mengambil posisi kedua tokoh anonim tadi. Keberjarakan yang disarankan oleh kedua tokoh anonim tadi menyaran suatu ruang yang intim; di mana segala sesuatu bermula: sebuah kamar. Latar yang tadinya merujuk suatu ruang luas bertransformasi menjadi sebuah ruang sempit yang bisa memengaruhi orang untuk berpikir kembali mengenai tempat. Potret para korban Hiroshima yang memilukan bertukar posisi dengan potret dua sejoli di sebuah kamar.

Kamar merupakan ruang intim ketika kedua tokoh anonim yang dilanda cinta tadi saling berujar dan bertanya baik melalui dialog maupun monolog tanpa rupa, mengenai derita yang mereka ingin hayati bersama. Citra jendela dan daun pintu kemudian muncul. Kedua citra tersebut merupakan bagian elemen kamar. Keduanya menjalin relasi keberjarakan, antara kata kerja mengingat dan melupakan. Jendela menyaran pelihatan terhadap suatu yang jauh, sedangkan pintu menyaran jalan untuk pergi dan meninggalkan. Kedua sikap yang terwakilkan oleh elemen rumah tadi terus bersitegang. Hanya �Elle� sempat berujar pada �Lui�: �Seperti halnya dirimu, aku pun berjerih payah untuk melupakan semua dengan segenap kekuatanku. Seperti halnya dirimu, aku telah melupakan. Seperti halnya dirimu, kucoba rengkuh kembali ingatan yang mengganggu itu, ingatan akan bayang-bayang dan serak batu�.

F. Taftazani