Montase pada edisi kali ini dan dua edisi ke depan akan mengambil tema Sinema Asia. Pada edisi kesepuluh kali ini kami secara khusus mengambil tema Sinema Korea yang kini tengah menikmati masa-masa jayanya. Film-film Korea kini bisa disandingkan dengan film-film dari industri film di dunia yang sudah mapan. Selain mengulas perkembangan Sinema Korea secara umum, kami juga akan membahas beberapa film Korea yang dianggap berpengaruh, yakni Shiri, The Host, serta 3 � Iron. Selain bahasan utama kami juga mengulas beberapa film Indonesia, yakni Wakil Rakyat dan Perempuan Berkalung Sorban , serta beberapa artikel menarik, salah satunya perkembangan bioskop di Kota Jogjakarta.
Tampilkan postingan dengan label Edisi 10 Sinema Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 10 Sinema Korea. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Desember 2008
Dari mOntase
Montase pada edisi kali ini dan dua edisi ke depan akan mengambil tema Sinema Asia. Pada edisi kesepuluh kali ini kami secara khusus mengambil tema Sinema Korea yang kini tengah menikmati masa-masa jayanya. Film-film Korea kini bisa disandingkan dengan film-film dari industri film di dunia yang sudah mapan. Selain mengulas perkembangan Sinema Korea secara umum, kami juga akan membahas beberapa film Korea yang dianggap berpengaruh, yakni Shiri, The Host, serta 3 � Iron. Selain bahasan utama kami juga mengulas beberapa film Indonesia, yakni Wakil Rakyat dan Perempuan Berkalung Sorban , serta beberapa artikel menarik, salah satunya perkembangan bioskop di Kota Jogjakarta.Sejarah Sinema Korea
Berbicara mengenai perfilman Asia pada dekade ini tak luput dari pembicaraan film dari negeri Ginseng, khususnya Korea selatan. Industri film Asia secara umum bergerak dinamis dalam perkembangannya. Sinema Korea adalah salah satu industri film Asia yang bergerak sangat pesat dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Berbicara mengenai sejarah film Korea, sungguh ironi, disaat perfilman mereka kini dipandang mentereng dalam peta persaingan film-film Asia, namun keberadaan sejarah dari perkembangan film-film mereka boleh dibilang nyaris musnah lantaran masa pendudukan Jepang serta perang sipil.
Berbagai usaha dilakukan Korean Film Archieve, Korean Film Council serta Pusan International Film Festival untuk terus melakukan pencarian film-film yang dianggap hilang. Lembaga-lembaga tersebut juga melakukan restorasi film-film yang rusak karena termakan oleh waktu maupun terbengkalai masa perang. Pada masa pendudukan Jepang, seluruh film-film Korea yang diproduksi harus melewati otoritas pengawasan badan sensor Jepang. Film-film yang bertema �aman� yang mampu lulus sensor, seperti film-film melodrama dan sejarah, serta film-film propaganda Jepang. Film-film yang dirasakan mengancam akan dicekal dan dimusnahkan.
Masa Pendudukan Jepang
The Righteous Revenge (Uirijeok Guto/1919) tercatat sebagai �film� Korea pertama yang diproduksi di masa pendudukan Jepang. Film ini diistilahkan �kino drama� karena film hanya berfungsi sebagai latar dalam pertunjukan. Salah satu film yang dianggap sebagai film panjang Korea pertama adalah Chunhyang-Jeon (1922), kelak menjadi cerita rakyat yang paling sering difilmkan. Salah satu sutradara paling berpengaruh pada masa ini adalah Na Un-kyu melalui film pentingnya, Arirang (1926). Film ini merupakan bentuk sikap penolakannya terhadap pendudukan Jepang yang menginspirasi para pembuat film lainnya hingga otoritas Jepang kelak semakin memperkuat sensornya.
Memasuki era film bicara, tercatat film bicara pertama adalah Chunhyang-Jeon (1935) arahan Lee Myeong-woo yang produksinya dibantu pemerintah Jepang. Selama periode ini produksi film-film Korea meningkat demikian pesat. Un-kyu pada era ini memproduksi beberapa film penting seperti Kanggeonneo maeul (1935), dan Oh Mong-nyeo (1937). Setelah Jepang menginvasi Cina pada tahun 1937, industri film Korea berubah sepenuhnya menjadi mesin propaganda Jepang. Film-film barat yang dirilis mulai berkurang dan digantikan oleh film-film Jepang. Bahkan mulai tahun 1938, film-film Korea diproduksi langsung oleh pihak Jepang, dan puncaknya tahun 1942, film berbahasa Korea dilarang diproduksi sama sekali.
Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, selama sesaat industri film Korea bersuka cita dalam era kebebasan, seperti tercermin dalam film Chayu Manse! (Viva Freedom!,1946). Namun kembali industri film Korea mengalami masa-masa sulit setelah pemisahan wilayah Utara-Selatan dan pecah perang sipil selama tahun 1950-1953. Selama tiga tahun ini tercatat hanya sedikit film Korea diproduksi dan nyaris semua film-film warisan masa silam musnah selama perang.
Era Emas Industi Film Korea
Perang sipil melumpuhkan industri film di Korea dan sebagian besar peralatan produksi yang mereka miliki musnah. Setelah gencatan senjata tahun 1953, Presiden Korea Selatan, Rhee Syngman membebaskan pajak film-film Korea yang akan diproduksi dengan harapan industri dapat kembali pulih. Pihak asing pun turut mempercepat pulihnya industri dengan memberikan bantuan teknologi serta peralatan produksi. Kebangkitan sinema Korea ditandai melalui sukses film remake, Chunhyang-jeon (1955) arahan Lee Kyu-hwan yang ditonton lebih dari 200 ribu orang. Produksi film pun meningkat sangat tajam pada periode pertengahan 50-an hingga akhir 60-an, yang dianggap sebagai era kejayaan industri perfilman Korea.
Sejak pertengahan dekade 50-an pada masa yang mulai kondusif ini bermunculan beberapa talenta berbakat, dan film-film Korea mulai mendapat perhatian internasional. Sutradara seperti Yu Hyon-mok dan Kang Dae-jin terpengaruh oleh gerakan neorealisme dan mengangkat tema sosial pasca perang serta modernisasi melalui film-film mereka, Aimless Bullet (1961) dan The Coachman (1961). The Coachman tercatat sebagai film Korea pertama yang meraih penghargaan bergengsi dalam festival film internasional. Kim Ki-young memproduksi salah satu film Korea berpengaruh, yaitu Housemaid (1960). Kemudian Shin Sang-ok dikenal melalui film-filmnya seperti A Flower in Hell (1958) dan The Houseguest and My Mother (1961). Film yang terakhir memenangkan penghargaan Film Terbaik dalam Asian Film Festival tahun 1962 dan memantapkan reputasi Sang-ong sebagai salah satu sutradara papan atas Korea.
Sejak tahun 1962, pemerintah Korea juga mulai berusaha mengontrol industri film. Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membatasi produksi film secara kuantitatif maupun substansial. Film-film yang diproduksi dan diimpor dibatasi melalui sistem kuota yang berakibat mengurangi jumlah studio produksi. Sensor film mulai bertambah ketat, terutama hal-hal yang terkait paham komunisme serta amoral. Sekalipun begitu tekanan dari kebijakan pemerintah tidak mengurangi minat penonton untuk membanjiri bioskop-bioskop dan film-film berkualitas pun secara kontinu semakin banyak diproduksi setidaknya hingga pertengahan dekade 70-an.
Era Kemunduran dan Kebangkitan
Kontrol dan sensor pemerintah Korea Selatan terhadap industri film mencapai titik puncaknya pada pertengahan dekade 70-an. Sejak tahun 1973, pemerintah bahkan mulai campur tangan dengan memaksa para pembuat film untuk memasukkan ideologi pemerintah ke dalam film-film mereka. Popularitas televisi yang meningkat sejak akhir dekade lalu ditambah munculnya film-film pro-pemerintah yang kurang disukai publik mengakibatkan jumlah penonton menurun drastis hingga akhir 70-an. Sekalipun begitu pada periode kelam ini muncul beberapa sineas muda berbakat seperti Im Kwon-taek (Deserted Widows,1973), Kim Ki-young (Insect Woman), Le Jang-ho (Hometown Stars, 1974), serta Ha Kil-jong (March of Fools, 1975).
Pada tahun 1979-1980 terjadi beberapa peristiwa penting di Korea Selatan, yakni pembunuhan presiden Park Cung-he, Kudeta Duabelas Desember, hingga Pembantaian Gwangju yang kelak mengarahkan rakyat Korea ke era demokrasi yang lebih terbuka. Pemerintah sedikit demi sedikit mulai mengurangi sensor serta kontrol terhadap industri film. Kebijakan penting dibuat oleh Presiden Roh Tae-Woo pada tahun 1988 yang menghilangkan campur tangan pemerintah terhadap tema politik di film. Para pembuat film mulai berani mengeksplorasi tema sosial dan politik dalam film-film mereka, salah satunya adalah Chilsu and Mansu (1988) arahan Park Kwang-soo yang memperlihatkan demonstrasi di jalanan pada klimaksnya.
Satu sutradara yang dianggap paling berpengaruh pada dekade ini adalah Im Kwon-taek. Sekalipun Im telah memproduksi puluhan judul film sebelum dekade ini namun setelah filmnya Mandala (1981), ia baru dikenal sebagai salah satu sutradara terbaik Korea. Im mencoba menggali budaya tradisional Korea yang telah lama dilupakan. Mandala berkisah tentang dua orang biksu yang mencari makna dan status ajaran Budhisme di masyarakat Korea. Setelah film ini meraih penghargaan di Hawaii Film Festival, Im menjadi sineas Korea pertama yang film-filmnya selalu dipertontonkan di festival-festival film di Eropa.
Era Baru Sinema Korea
Awal hingga pertengahan dekade 90-an, sekalipun kondisi mulai membaik bagi industri film namun film-film Korea masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebesar 80% lebih film-film yang diputar di bioskop-bioskop adalah film-film asal Hollywood dan Hongkong. Satu momen penting pada dekade ini adalah pada tahun 1992 melalui film Marriage Story yang mendapat sponsor dari perusahaan elektronik terkemuka, Samsung. Ketika terbukti sukses, perusahaan besar lainnya mengikuti jejak yang sama. Film-film mulai diproduksi dengan bujet dan promosi yang lebih besar serta peralatan studio produksi yang lebih memadai. Perlahan tapi pasti, film-film Korea mulai bersaing dengan film-film luar, seperti The Gingko Bed (1996) arahan Kang Je-gyu, hingga puncaknya tahun 1999, ketika Samsung mendanai produksi film aksi thriller, Shiri (1999) arahan Kang yang memecahkan rekor sebagai film terlaris Korea pada masanya. Film ini pun juga laris di luar Korea sehingga para produser lokal mulai melirik pasar internasional.
Fenomena Shiri ternyata hanyalah awal dari segalanya. Film-film domestik silih berganti menempati posisi pemuncak box office. Film tentang persahabatan empat anak, Friend garapan Kwak Kyung-taek memecahkan rekor Shiri di tahun 2001. Berlanjut film garapan Park Chan-wook berjudul Joint Security Area (JSA, 2000), lalu Silmido (2003) garapan Kang Woo-suk, disusul lagi oleh film perang Korea garapan Kang Je-gyu, Tae Guk Gi (2004), hingga terakhir film monster unik, The Host (2006) menjadi film terlaris sepanjang masa (sejauh ini) dengan rekor mencapai 13 juta penonton lebih! Beberapa film, seperti drama komedi remaja, My Sassy Girl (2001) selain sukses domestik merupakan film Korea yang paling sukses di pasar internasional. Film-film Korea bahkan juga mulai dirilis di Amerika, seperti Chunhyang (2000) dan Chihwaseon (Painted Fire, 2002) keduanya garapan sineas kawakan, Im Kwon-taek.
Sukses-sukses tersebut rupanya juga menarik perhatian Hollywood. Beberapa film-film populer mulai dibeli (hak remake) beberapa studio besar Hollywood untuk dibuat versi Amerika-nya. Film-film Korea seperti Il Mare (The Lake House/AS) serta My Sassy Girl beberapa waktu lalu remake-nya telah dirilis. Film-film laris lainnya yang telah dibeli hak remake-nya oleh Hollwood antara lain, JSA, My Wife is a Gangster, Oldboy, hingga film horor psikologis, A Tale of Two Sister yang konon dibeli Dreamworks sebesar $2 juta.
Di sisi lain juga bermunculan sineas-sineas berbakat yang film-film mereka sukses di berbagai ajang kompetisi internasional. Dipelopori oleh Oasis (2002) karya Lee Chang-dong yang sukses di Venice Film Festival. Kim Ki-duk dengan film-filmnya yang kontroversial mendapatkan perhatian internasional melalui Spring, summer, fall, winter... and spring (2002), Samaritan Girl (2004), serta 3-Iron (2004). Park Chan-wook dikenal melalui trilogi Vengeance-nya yang berjudul, Symphati for Mrs. Vengeance (2002), Old Boy (2003), dan Lady Vegeance (2005). Film Kontroversial, Old Boy selain sukses komersil juga sukses dalam Festival film Cannes serta mendapatkan banyak pujian dari kritikus dimana-dimana.
Hingga kini sineas-sineas berbakat dan film-film Korea berkualitas terus bermunculan yang berangkat dari pahit getir zaman dan tensi perpolitikan negaranya. Tak bisa dipungkiri, kini Korea menjadi salah satu industri perfilman terdepan dalam kancah perfilman Asia. Penghargaan tinggi atas usaha yang dilakukan Korean film Council, Korean Film Archive, dan Pusan International Film Festival yang terus merestorasi film-film klasik Korea hingga para sejarawan dan pengamat film mampu mengapresiasi karya-karya terbaik di era silam.
Andrei Budiman
Himawan Pratista
Shiri
Film Aksi Thriller Korea Ala Hongkong
Shiri (Swiri/1999) merupakan aksi thriller arahan sineas Kang Je-gyu. Film ini pada masa rilisnya merupakan film terlaris di Korea Selatan yang memecahkan rekor box-office film terlaris sepanjang masa, Titanic (1997). Film ini juga pada masanya merupakan film termahal dengan bujet produksi sebesar $8,5 juta yang sebagian disponsori perusahaan elektronik raksasa Korea, Samsung.
Dua agen terbaik Korsel, Yu Jung-won (Han Suk Kyu) dan Lee Jang-gil (Song Kang-ho) mendapat tugas menguak kasus terbunuhnya beberapa pejabat penting negara dalam satu dekade terakhir. Yu dan Lee menduga pelaku dibalik semua ini adalah Lee Bang-hee, seorang wanita penembak jitu yang juga anggota tim militer elit Korut pimpinan Park Mu-young (Choi Min-sik). Di sisi lain, Yu bertunangan dengan seorang wanita muda, Yi Myung-hyun (Kim Yoon-jin), pemilik toko penjual ikan dan akuarium yang dalam waktu dekat akan ia nikahi. Masalah semakin serius ketika Park dan timnya berhasil merampas CTX, sebuah bahan peledak berkekuatan tinggi yang dikembangkan pemerintah Korsel. Yu dan Lee menduga ada penyusup diantara mereka dan merancang sebuah perangkap. Dalam sebuah baku tembak, Park dapat lolos namun Yu berhasil membuntuti seorang wanita yang diduga adalah Bang-hee. Alangkah terkejutnya Yu, mengetahui wanita tersebut ternyata adalah Myung-Hun.Walau terlihat rumit namun sebenarnya plot filmnya sangat sederhana, bahkan terlalu ringan untuk film jenis ini. Sejak awal penonton rasanya tak sulit menduga jika Bang-hee adalah Myung-hun. Plot filmnya sendiri sebenarnya memiliki potensi namun ada beberapa hal yang mengganjal. Layaknya film-film aksi hongkong, logika sering kali dikesampingkan untuk memaksakan aksi. Masak sih anggota polisi begitu banyaknya tak mampu melumpuhkan Park dan dua rekannya ketika dijebak di gedung opera? Jika CTX adalah senjata mutakhir yang maha-hebat (ibarat bom atom), aneh sekali, jika dalam pengiriman hanya dikawal satu kompi pasukan. Sedikit saja cairan CTX dikisahkan mampu menghancurkan apapun dalam radius satu kilometer. Dalam sekuen klimaks, apa sebenarnya fungsi keberadaan Myung-hun di stadion jika memang bom tersebut nantinya meledak. Bukankah seluruh stadion akan hancur?
Adegan aksinya sendiri banyak memiliki kemiripan dengan film-film aksi Hongkong yang cepat. Namun dalam beberapa sekuen, seperti ketika Park dijebak di gedung opera, gerakan kamera serta transisi gambar tampak sangat kasar sepanjang sekuennya. Dalam sekuen klimaks patut diacungi jempol bagaimana sineas mampu memanfaatkan setting (stadion), ribuan figuran (penonton), serta teknik editing sehingga sekuen dalam filmnya tampak seperti benar-benar terjadi pada saat even besar tersebut dilangsungkan. Cuplikan rekaman pertandingan sepakbola serta ribuan penonton sangat membantu menghidupkan sekuen ini. Dalam satu shot jika Anda cermat tampak lapangan kosong sama sekali padahal pertandingan bola tengah berlangsung.
Ketegangan antara Korsel dan Korut telah berlangsung sejak lama dan bahkan hingga kini. Film ini mencoba untuk melihat dari dua sisi yang berbeda walau porsinya sedikit tak imbang. Kata Shiri sendiri mengacu pada satu jenis ikan yang hidup di sungai-sungai wilayah Korea baik wilayah Utara maupun Selatan. Yu dan Mung-hyun sekalipun berbeda namun mereka saling mencintai dan akhirnya ideologi pula yang memisahkan mereka. Film ini mencoba menggugah semangat kebersamaan dan persatuan antara kubu Utara dan Selatan yang selama beberapa dekade terakhir banyak merugikan kedua belah pihak.
Himawan Pratista
The Host
Film Monster Unik Bernuansa Politis
The Host (Gwoemul/2003) merupakan film drama-fiksi ilmiah arahan sutradara Bong Joon-Ho. Pada masa rilisnya, The Host tercatat sebagai film Korea Selatan terlaris sepanjang masa yang ditonton lebih dari 13 juta orang. Selain sukses komersil film ini juga mendapat pujian dari banyak pengamat film di Eropa dan Amerika serta meraih belasan penghargaan di beberapa ajang festival film di Asia.
Park Gang-du (Song Kang-Ho) tinggal bersama ayahnya, Hee-bong (Byeon Hee-bong), dan putri ciliknya, Hyun Seo (Ko-ah Seong), mengelola kedai makanan ringan pada sebuah trailer di pinggir Sungai Han. Suatu ketika saat Gang-du mengantar pesanan mendadak seekor monster besar keluar dari Sungai Han dan memangsa orang-orang disekitarnya. Malangnya, Hyun Seo tertangkap dan dibawa oleh sang monster dan Gang-du tak mampu menyelamatkannya. Gang-du bersama ayahnya, kakaknya, Nam-il (Park Hae-il), dan adiknya, Nam-jo (Bae Doona) hanya bisa meratapi kepergian Hyun Seo. Di malam harinya, Gang-du secara mengejutkan mendapatkan telepon dari putrinya yang ternyata masih hidup. Gang-du dan keluarganya yang tengah dikarantina bertekad untuk menyelamatkan Hyun Seo namun masalah mereka ternyata bukan hanya sang monster namun juga otoritas yang berwenang. The Host merupakan film monster unik yang menggunakan pendekatan berbeda dengan film-film Hollywood lazimnya. Jika mengira film monster ini adalah film yang penuh dengan sekuen aksi, Anda salah besar. Secara umum film ini bisa dikatakan adalah film drama keluarga dalam kemasan fiksi-ilmiah serta sedikit bumbu komedi. Film-film monster Hollywood umumnya menyajikan aksi-aksi seru dengan tokoh utama seorang jagoan anggota sebuah tim militer elit atau seorang ilmuwan cerdas, namun kali ini monster harus berhadapan dengan keluarga biasa yang kurang harmonis. Tidak seperti lazimnya film-film monster sejenis, film ini bertutur dengan tempo lambat dengan lebih banyak menekankan pada adegan dialog ketimbang aksi.
Dari sisi pencapaian teknis, film ini juga tak kalah dengan film-film monster versi Hollywood. Monster digambarkan cukup meyakinkan, berukuran raksasa (seukuran truk) dengan wujud unik (mirip kadal), dan suka bergantungan bak kelelawar dengan ekornya yang panjang. Aksi paling seru tercatat pada sekuen awal ketika sang monster menyerang warga kota yang tengah bersantai di siang bolong. Satu shot mengesankan tampak ketika kamera mengambil posisi dari dalam kereta (trem) memperlihatkan warga yang berlarian panik diteror sang monster. Bumbu-bumbu komedi konyol khas film Korea seringkali terlontar melalui dialog ketimbang aksi. �Kita harus merekam ini untuk Hyun Seo� canda Gang-du ketika melihat berita di televisi yang memperlihatkan foto-foto wajahnya dan keluarganya yang kini menjadi buronan polisi.
Satu hal yang paling menarik dalam The Host adalah muatan politisnya. Kisah film ini konon diambil dari kejadian nyata tindakan militer AS yang membuang bahan kimia ke Sungai Han secara tidak bertanggung jawab. Sang monster sendiri merupakan metafora dari keberadaan militer AS di Korsel. Dalam sekuen klimaks yang kebetulan pula terjadi di tempat demonstrasi, sang monster dilempari Nam-il dengan bom molotov, senjata yang biasa dipakai para demonstran. Namun bom molotov saja tak cukup, dengan bantuan anak panah Nam-jo serta tikaman dari Gang-du, sang monster akhirnya tewas. Sineas mengisyaratkan berdemo saja tak cukup namun seluruh rakyat harus bersatu untuk bisa mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Himawan Pratista
3 � Iron
Antara Mimpi dan Realita
3 � Iron (2004) adalah film drama roman unik garapan sineas Kim Ki-duk. Film ini dipuji banyak pengamat dan meraih beberapa penghargaan internasional, termasuk diantaranya empat penghargaan dalam Venice Film festival. Naskah filmnya ditulis oleh Kim Ki-duk sendiri dan konon ia hanya menghabiskan waktu kurang dari sebulan untuk merampungkan film ini.
Alkisah Tae Suk (Hyun Kyun-lee) adalah seorang pemuda penyendiri yang memiliki kebiasaan menyelinap masuk ke rumah-rumah yang ditinggal penghuninya. Sekalipun begitu Tae Suk tidak pernah mencuri apapun di rumah yang disinggahinya, ia hanya mandi, mencuci, menonton tv, tidur, bahkan memperbaiki barang-barang yang rusak. Para pemilik rumah tidak pernah menyadari jika rumah mereka telah dimasuki orang. Suatu ketika, Tae Suk masuk ke sebuah rumah yang tanpa disadarinya sang pemilik rumah ada didalamnya. Sun Hwa (Seung Yeon-lee), istri pemilik rumah, hanya membiarkan Tae Suk, ketika mengetahui sang pemuda tidak berniat jahat. Belakangan Tae Suk memergoki Sun Hwa tengah dianiaya suaminya. Sun Hwa lalu memutuskan untuk lari bersama Tae Suk. Kali ini bersama Sun Hwa, Tae Suk kembali menyelinap ke rumah-rumah seperti yang ia lakukan sebelumnya. 3 - Iron bukanlah film yang mudah dinikmati penonton awam. Tidak seperti film drama roman kebanyakan, film ini bertutur lambat dan sangat minim dialog. Dua tokoh utama nyaris tidak pernah berdialog. Karakter Tae Suk bahkan sama sekali tidak pernah berbicara, sementara karakter Sun Hwa hanya berbicara beberapa patah kata, itu pun di akhir film. Sekalipun tanpa dialog namun penonton masih mampu memahami cerita melalui ekspresi dan gerak tubuh para pemainnya. Penampilan Hyun Kyun-lee dan Seung Yeon-lee yang menawan sangat mendukung hal ini. Pencapaian sinematografi juga menjadi kunci keberhasilan filmnya. Hampir semua shot tertata dengan rapi menghasilkan komposisi visual yang begitu kuat. Sineas juga menyukai penggunaan kamera statis, close-up, serta menahan shot-nya beberapa lama. Satu adegan berkesan adalah ketika Tae Suk memberi pelajaran pada suami Sun Hwa, dan sang istri pun pergi bersama si pemuda, seluruh tragedi ini diiringi dengan pas oleh alunan lagu timur tengah.
Di akhir filmnya sebagai kesimpulan Kim memberi petikan teks, �it�s hard to tell that the world we live in is either a reality or a dream�. Jelas, film ini mengarah ke sebuah maksud atau makna tertentu melalui simbol-simbol yang divisualisasikan dalam filmnya. Judul film 3 Iron mengacu pada tongkat pemukul golf besi bernomor tiga yang jarang digunakan dalam permainan (golf). Judulnya semakna dengan dua tokoh utamanya yang hidup terasing (�tersia-sia�) di lingkungannya. Tae Suk yang mampu �menghilang� bisa jadi adalah simbol mimpi (ilusi). Sun Hwa adalah seorang istri muda yang kecewa dengan hidupnya dan bermimpi akan keharmonisan. Sementara tongkat pemukul 3 iron adalah simbol realita yang pahit. Setiap kali Tae Suk akan memukul dengan tongkat golf tersebut, Sun Hwa selalu menghalangi karena ia tidak ingin kembali ke realitanya. Di akhir film, Tae Suk dan Sun Hwa seolah terbang, sehingga berat tubuh mereka menjadi nol. Di tengah realita yang menyakitkan, Sun Hwa akhirnya mampu menemukan kebahagiaan dalam dirinya, atau bisa pula diartikan Sun Hwa terjebak dalam kebahagiaan yang semu.
M. Pradipta
Wakil Rakyat
Komedi Satir yang Gagal
Turut meramaikan pesta demokrasi di Indonesia, sutradara Monty Tiwa mencoba menghadirkan sebuah film bertema pemilu berjudul Wakil Rakyat. Film ini dibintangi sederet nama-nama top seperti Tora sudiro, Revalina S Temat, Vincent, dan beberapa aktor komedi seperti Tarzan, Jaja Mihardja, Nunung, hingga Yati pesek.
Alkisah Bagyo (Tora Sudiro) dipecat dari pekerjaannya sebagai Office Boy karena tanpa sengaja mencelakai seorang tokoh politik Zaenudin (Joe P. Project). Rencana pernikahannya dengan pacarnya, Ani (Revalina) pun juga terancam batal. Suatu hari, Bagyo menyelamatkan seorang wanita muda dari perampokan. Wanita tersebut tanpa diduga ternyata adalah seorang selebriti bernama Atika (Wiwid Gunawan). Bagyo sontak dikenal banyak orang hingga membuat seorang pimpinan partai bernama Wibowo (Tarzan) tertarik untuk menjadikannya calon legislatif bagi partainya. Bagyo kemudian ditempatkan di wilayah terpencil dimana tak satu pun penduduk daerah tersebut mengenalnya.Sebagai tontonan komedi, Wakil Rakyat terhitung gagal karena nyaris semua dagelan yang disajikan terasa hambar dan terlalu mudah ditebak. Dagelan melalui dialog maupun aksi sudah terlalu sering kita temui dalam film-film komedi kita tanpa sedikit pun memberikan suatu hal yang baru. Aksen jawa yang �medhok� sepertinya masih saja identik dengan hal yang lucu. Nuwun pangapunten (sori)� sampai kapan formula ini mau dipakai, pun kuno mas... Satu lagi, trik menjerengkan mata yang dilakukan seorang karakter dalam sebuah adegan. Apa iya penonton sekarang masih tertawa melihat hal ini.
Sebagai sebuah sajian komedi memang wajar jika hubungan kausalitas melonggar tetapi dalam film ini terkesan terlalu dipaksakan. Bagyo dipecat kerja, menolong selebriti papan bawah, diekspos media, dan wuzz.. mendadak jadi caleg. Naskah cerita juga menjadi salah satu kunci kegagalan filmnya. Kisah perjalanan karir bagyo sebagai wakil rakyat mestinya mendapatkan porsi lebih ketimbang konflik asmara. Konflik antara Bagyo dan Ani pun juga sangat dangkal, tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron yang sering ditayangkan di TV. Penyelesaian konfliknya terlalu mudah tanpa sebuah proses pembelajaran atau pun usaha yang berarti. Naskah yang buruk lebih diperburuk oleh pencapaian akting para pemainnya.
Kritik politik yang disajikan dalam film ini hanyalah setengah-setengah serta lebih berupa tempelan tanpa usaha untuk menggali substansinya lebih dalam. Intrik politik yang tersaji dalam film ini juga terlalu dangkal. Rasanya akan lebih baik jika intrik politik yang ditampilkan lebih berbobot sehingga parodi-parodi yang dihasilkan pun pasti akan lebih menarik. Secara keseluruhan film ini tidak mampu menunjukkan sosok wakil rakyat bagaimana yang sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat kita. Sosok wakil rakyat seolah hanya bisa dipilih secara asal. Asal ganteng, tenar, bisa bagi-bagi duit sudah bisa jadi wakil rakyat. Pesan yang hendak dikemas secara satir tidak mampu tersampaikan dengan baik melalui filmnya. Wakil Rakyat semata-mata hanya sebuah usaha untuk mengambil kesempatan ditengah momen dan suasana politik kita yang tengah hangat-hangatnya.
Febrian Andhika
Agustinus Dwi nugroho
Perempuan Berkalung Sorban
Hanya Film Religi Biasa
Perempuan Berkalung Sorban adalah film drama religi besutan sutradara Hanung Bramantyo yang didasarkan atas novel berjudul sama karya Abidah Elkhalieqy. Film ini dibintangi oleh Revalina S. Temat, Oka Antara, Reza Rahadian, Joshua Pandelaky, Widyawati, Francine Roosenda, dan Cici Tegal. Pada awal rilisnya, film ini memicu kontroversi terkait kekerasan yang dimunculkan dalam filmnya.
Cerita berkutat seputar kehidupan seorang gadis muda, Anisa (Revalina) di lingkungan santri yang menggunakan norma agama untuk mengekang kebebasan wanita. Dalam perkembangan, Anisa dipaksa menikah dengan Samsudin (Reza Rahadian) yang teryata malah memperlakukan Anisa layaknya binatang. Anisa lalu difitnah berzina dengan seorang pemuda bernama, Khudori (Oka Antara). Ia akhirnya bercerai dengan suaminya dan menikah dengan Khudori. Cerita lalu berkembang pada usaha Anisa untuk memperjuangkan kebebasan para santri wanita di pesantren Al Huda. Tidak ubahnya film-film religi kita yang kini marak, keseluruhan cerita layaknya seri sinetron, terlalu datar dan mudah untuk ditebak. Banyak adegan tampak dipaksakan dan seringkali logika dikesampingkan sehingga terlihat mengada-ada. Satu contoh ketika adegan pemilihan ketua kelas. Setelah Anisa dinyatakan menang secara demokratis mendadak keputusan dianulir dengan argumen Anisa adalah seorang wanita. Jika memang hanya laki-laki saja yang boleh jadi pemimpin, mengapa sejak awal Anisa dicalonkan?? Ending cerita juga terlihat dipaksakan. Agak janggal melihat para kiai yang telah mumpuni ilmu agamanya bisa dengan mudahnya dipengaruhi oleh omongan Anisa yang sebelumnya selalu dianggap angin lalu oleh mereka. Lalu masalah hutang kakak Anisa juga masih belum jelas? Lalu bagaimana nasib pesantren? Setelah sadar mengapa pula kakak Anisa masih memilih jalan kekerasan (memukuli Samsudin) untuk menyelesaikan masalah??
Para santri lelaki secara umum digambarkan sebagai sosok ortodoks yang keras seolah tanpa memiliki rasa welas asih terhadap sesama. Benar dan salah secara gamblang hanya diukur semata-mata melalui norma-norma agama. Unsur-unsur kekerasan yang diperlihatkan dalam filmnya juga tampak berlebihan sehingga tidak heran jika film ini mengundang banyak kontroversi dari kaum ulama di negeri ini. Seperti contohnya, kain sorban yang digunakan sebagai alat untuk melakukan tindak kekerasan juga ketika Samsudin memaksakan Anisa untuk berhubungan badan saat istrinya datang bulan. Walau semua bisa saja terjadi namun penggambaran dalam filmnya memang sedikit berlebihan.
Dari segi estetik pencapaian paling menonjol adalah visualisasi panorama alam yang indah. Narasi berbentuk puisi seperti di awal film sebenarnya cukup baik mendukung mood filmnya namun sayang setelahnya tidak lagi digunakan. Pemilihan atau rancangan setting filmnya juga sangat buruk sehingga tidak mampu memberi kesan waktu yang menjadi latar cerita filmnya. Para pemain yang sering menggunakan dialek �kota� jelas tidak mendukung latar pedesaan dalam cerita filmnya. Pesan yang ingin disampaikan adalah kaum perempuan harus memperjuangkan kebebasannya tanpa harus selalu bergantung pada kaum laki-laki. Setiap orang termasuk juga film ini berhak atas kebebasan tapi bukan berarti tanpa batasan. Lalu tolak ukur apa yang bisa menjadi batasan kebebasan? Norma agama adalah salah satunya.
Febrian Andhika
Raja Reymon
All About Eve
Tidak ada yang baru di bawah matahari. �Keaslian� hanyalah keahlian untuk memanipulasi dan mengemas. Ungkapan, ide-ide dan gagasan dibungkus ulang menjadi sesuatu yang segar agar tidak tampak seperti usang. Itu sebabnya apa yang klise tidak selalu menjadi buruk dan terlihat tidak penting.
Eve (Anne Baxter) adalah kisah klise itu. Ia datang dari kampung untuk menjadi aktris teater terkenal seperti Margo Channing (Bette Davis), aktris idolanya. Untuk mencapai ambisi besarnya ini, Eve dengan cerdik dan cenderung licik menciptakan jalan dan skenario agar bisa masuk dalam lingkungan elit Broadway. Eve bermain piawai. Ia memainkan perannya di luar panggung dengan luar biasa. Margo Channing yang tadinya memandang remeh, jatuh hati kepadanya. Ia lalu menjadikan Eve sebagai asistennya. Bill Sampson ( Gary Merrill) yang merupakan kekasih Margo sekaligus sutradara teater pun ikut simpati dan kagum dengan Eve. Begitu juga dengan lingkungan elit teater yang lain seperti penulis, produser bahkan kritikus. Sorot lampu pun berpindah dari Margo kepada Eve. Eve mulai ditunjuk sebagai aktris pengganti bagi Margo. Margo yang sudah terlihat tua mulai terancam. Margo gusar. Eksistensinya sebagai aktris teater papan atas meneror dirinya. Karena Margo adalah teater, jika bukan itu, apa lagi yang tersisa dari dirinya?
Cerita yang ditulis oleh Joseph L. Mankiewicz ini adalah sebuah contoh bagaimana skenario dibuat dengan baik. Sebagai tradisi khas Hollywood, plot berkembang dengan model naratif pembagian secara umum dengan gerak linear walaupun ada kilas balik di dalamnya. Tapi bukan ini yang istimewa. Yang istimewa adalah bagaimana karakter-karakter yang diciptakan oleh Mankiewicz begitu sangat meyakinkan, mereka hadir tidak sebagai stereotip yang sedang mengantarkan cerita. Mereka adalah karakter-karakter yang hidup dalam ruang dan waktu film tersebut.
Mankiewicz juga berhasil membuat struktur naratif yang intens, berkelok dan akhir yang menyenangkan, yang dihadirkan dalam bentuk ironi. Kepiawaian Mankiewicz dalam mengatur plot membuat film tersebut menjadi sebuah drama yang tidak membosankan. Atas skenario yang dibuatnya ini, Joseph L. Mankiewicz dianugerahi sebagai penulis skenario terbaik.
Lengkapnya dalam Academy Awards di tahun 1950, Film ini mendapat 14 nominasi dan memenangkan 6 piala Oscar termasuk film terbaik menyisihkan Sunset Boulevard (Billy Wilder), King Solomon�s Mine (Compton Bennett), Father of the Bride (Vincente Minnelli), dan Born Yesterday (George Cukor).
Pada akhirnya semua tahu tentang Eve dan bagaimana Eve berakhir. Inilah yang klise itu. Eve bersama keberhasilannya dan Margo bersama keberhasilan yang baru. Sebuah ide yang dihadirkan secara berulang namun masih punya tenaga untuk mencerahkan, bahwa kebahagian jaraknya hanya satu jengkal dari hati.
Homer Harianja
Bioskop Jogja, Dari Empire 21 Hingga Empire XXI
Mungkin tidak banyak kawula muda Jogja kini yang tahu jika di lokasi bangunan Empire XXI dulunya pernah berdiri bangunan bioskop Empire 21. Saat ini di Kota Jogja terdapat dua bioskop besar namun jika kita kembali ke era silam, sebenarnya jumlahnya cukup banyak. Sejak dekade 60-an hingga 70-an di Jogja telah berdiri bioskop-bioskop ternama, sebut saja Permata (Pakualaman), Indra (depan Pasar Beringharjo), Senopati (sekarang Taman Pintar), Rahayu (Jl. Solo), Ratih (Jl. Mangkubumi), Soboharsono (Alun-alun Utara), Arjuna (Samsat), dan lain-lainnya. Pada dekade 80-an di Jogja mulai dibangun bioskop-bioskop besar yang menggunakan fasilitas pendingin ruangan serta tata suara mutakhir, seperti bioskop Mataram, President (sekarang Hotel Novotel), Regent (Jl. Solo), Mitra, (Jl. Solo), hingga Galaxy (Jl. Magelang). Regent tercatat sebagai cineplex pertama di Jogja yang memiliki 4 buah studio.
Perkembangan bioskop di Kota Jogja mulai berubah ketika di awal 90-an dibuka bioskop Empire 21. Bioskop ini tercatat sebagai bioskop jaringan 21 pertama di Jogja yang memiliki total 8 studio. Melalui konsep yang lebih modern, jumlah studio yang banyak, tata suara yang oke, serta memutar film-film yang relatif baru, Empire 21 dalam waktu singkat menjadi tempat menonton kawula muda Jogja paling populer selama hampir satu dekade ke depan. Bioskop ini pada masanya juga mematok harga tiket paling mahal yakni, sekitar 4000 perak! Dalam perkembangannya beberapa bioskop lama pun diambil-alih oleh Grup 21, seperti Regent, Ratih, dan Galaxy. Sekalipun terdapat tiga bioskop 21 lainnya namun tetap saja Empire 21 adalah tempat menonton yang paling diminati pada saat itu. Bioskop Mataram pada era ini juga menjadi satu-satunya bioskop non 21 yang memutar film-film relatif baru. Sementara bioskop-bioskop lawas seperti Permata, Indra, Senopati, Widya, dan lainnya jelas kalah bersaing dan lebih memilih memutar film-film kelas dua atau film-film lama. Beberapa di antara bioskop-bioskop lawas tersebut bahkan juga banyak yang menutup usahanya.
Bicara soal film-film yang diputar, di awal 90-an bioskop-bioskop Jogja sedikit terlambat (selisih beberapa minggu) dalam merilis film-film baru dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta dan Surabaya. Namun sejak tahun 1996 hingga tahun 1998 (sebelum krisis moneter) bioskop-bioskop di Jogja mencapai puncak kejayaannya dengan merilis film-film baru yang sama waktu rilisnya dengan bioskop di kota-kota besar lainnya, sebut saja film-film laris macam The Lost World, The Independence Day, hingga Titanic. Hampir setiap malam bioskop-bioskop tersebut nyaris tidak pernah sepi penonton. Midnight Show (tengah malam) di akhir pekan menjadi favorit kawula muda karena pada waktu pemutaran inilah film-film baru biasanya pertama kali diputar. Tradisi Old & New (malam tahun baru) juga selalu ramai penonton karena bioskop biasanya memutar film-film baru hingga dua pemutaran sekaligus.
Krisis moneter di tahun 1997 rupanya berdampak besar bagi perkembangan bioskop-bioskop di Jogja. Film-film baru pun mulai jarang diputar. Akibatnya, penonton mulai sepi dan lebih memilih menonton VCD bajakan yang saat itu mulai marak. Satu demi satu bioskop-bioskop di Jogja mulai rontok. Bioskop-bioskop 21 seperti Regent, Ratih, dan Galaxy hanya bertahan beberapa tahun sebelum akhirnya menutup usaha, kecuali Regent yang terbakar. Bioskop-bioskop kelas dua, seperti Widya, Rahayu, dan Senopati pun akhirnya tutup. Empire 21 masih mampu bertahan dengan strategi merilis ulang film-film lama namun akhirnya bangunan bioskop ini pun terbakar pada tahun 1999 dan dibongkar rata dengan tanah. Bioskop Mataram setelahnya menjadi satu-satunya bioskop kelas satu di Jogja yang mampu bertahan hingga dekade mendatang.
Setelah tidak adanya Empire 21, praktis anak-anak muda Jogja kehilangan tempat menonton yang memadai. Boleh dibilang kegiatan menonton di Kota Jogja �mati suri� selama lebih dari separuh dekade. Bioskop Mataram tidak pernah lagi merilis film-film baru, namun di awal milenium baru, sukses gila-gilaan dicapai melalui film-film produksi dalam negri yang akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Film-film fenomenal seperti Jelangkung dan Ada Apa dengan Cinta selama beberapa bulan mampu menyedot ribuan penonton seolah tanpa henti masuk ke bioskop ini. Sayangnya, sukses film-film ini tidak diikuti dengan pengembangan dan peningkatan sarana dan fasilitas bioskop ini, seperti tata suara (masih stereo), bangku penonton, proyektor, dan lainnya sehingga menjadikan bioskop ini layaknya bioskop kelas dua. Walaupun begitu setiap kali film-film Indonesia diputar, tetap saja bioskop ini nyaris selalu dibanjiri penonton. Bioskop Mataram baru pada tahun 2008 lalu berhenti beroperasi akibat bencana badai yang merusak bangunannya. Sementara bioskop-bioskop kelas dua lainnya, seperti Permata dan Indra, praktis tidak mampu bersaing namun masih bertahan bahkan hingga kini.
Kondisi mulai berubah ketika Studio 21 di Ambarukmo Plaza akhirnya dibuka pada tahun 2006. Bioskop cineplex yang terletak di lantai paling atas ini memiliki lima studio dengan kapasitas penonton yang cukup besar. Meskipun tata suara hanya standar Dolby Digital, namun tergolong lumayan ketimbang tidak sama sekali. Film-film baru baik barat maupun lokal yang dirilis pun relatif sama dengan kota-kota besar lainnya. Uniknya, film-film lokal rupanya lebih banyak diminati ketimbang film-film asing. Penonton era lama satu dekade lalu, bisa jadi kini hanya tersisa beberapa persen saja. Penonton kini didominasi oleh anak-anak remaja yang tumbuh di saat film-film kita tengah panas-panasnya. Tak heran jika remaja dan mahasiswa Jogja lebih mengandrungi film-film kita ketimbang film-film asing. Satu hal yang positif tentunya bagi perkembangan industri film Indonesia.
Pada awal tahun 2009 ini, satu bioskop lagi dibuka di Jogja, yakni Empire XXI yang dibangun di lokasi yang sama dengan Empire 21. Bentuk massa bangunannya pun nyaris sama dengan bangunan Empire 21 dulu. Seluruh bangunan kali ini sepenuhnya diperuntukkan untuk bioskop, tidak seperti bangunan Empire 21 pada waktu itu yang merupakan bangunan berlantai dua, yakni Hero Supermarket di lantai bawah dan cineplex di lantai dua. Jumlah studio kali ini justru lebih sedikit daripada Empire 21, yakni hanya 6 studio. Seperti bioskop-bioskop XXI di kota-kota besar lainnya, Empire XXI juga menawarkan fasilitas yang lebih mewah, eksklusif, serta nyaman ketimbang bioskop 21. Tata suara sayangnya masih saja standar Dolby Digital, dan belum menggunakan tata suara DTS yang tentunya jauh lebih memadai. Dari film-film yang diputar sejauh ini, sepertinya Empire XXI lebih memilih merilis film-film barat ketimbang film-film lokal.
Dengan munculnya bioskop-bioskop tersebut rasanya dalam waktu dekat bakal mampu mengembalikan budaya menonton masyarakat Jogja yang kuat seperti pada pertengahan dekade 90-an. Kita tunggu saja apakah jaringan bioskop Blitz akan hadir pula di Jogja? Industri film kita juga harus semakin berbenah mengingat penonton, penonton Jogja khususnya, makin lama makin dewasa dan cerdas dalam memilih film yang akan mereka tonton.
Himawan Pratista
Keranjang Keluh Penikmat Film Tanah Air
Sudah berulang kali saya mendengar bahwa sinema merupakan salah satu wujud representasi budaya suatu bangsa, ketika film-film luar menampakkan citranya pada kekuatan genre tertentu, seperti pada perfilman Asia, film hongkong yang terkenal akan film aksinya, film Jepang yang populer sekali dengan film Anime nya, film Korea yang tak kalah dengan drama televisi berserinya yang menyajikan drama penuh air mata, atau film India yang terkenal akan koreografi tari dalam hampir tiap filmnya, sampai negara Asia tenggara macam Thailand pun mentereng dengan film-film horror-nya.
Nah marilah kita ijinkan saya meminta Anda untuk berpikir jenak tentang pencapaian sinema kita. Bukan lagi membicarakan tentang unsur keseragaman tema yang ada di pasaran dan terpolanya trend tematik yang ada, dari cinta remaja, horror, religi, hingga komedi atas nama syahwat, namun tentang rasionalitas akan efek tersebut di atas, penonton kita yang selalu disuguhi tema serupa (lagi-lagi atas nama keinginan pasar). Tidak sedikit uang yang dikeluarkan demi membuat sebuah film, bisa dikatakan hal ini adalah sebuah pertaruhan. Tidak heran mengapa akhirnya seorang produser mencari jalan aman dengan mengikuti tren pasar, sayangnya mereka tidak sadar dengan hukum gossen, yaitu adanya titik jenuh ketika konsumen selalu disuapi film-film bertema seragam (namun tidak pula memberikan peningkatan kualitas).
Sementara itu film-film Hollywood bukan lagi sebagai pemain tunggal yang membanjiri pasar perfilman tanah air sehingga penikmat film kini dapat dengan mudah menikmati film-film Asia yang beragam dengan pencapaian mutu yang baik. Sadarkah mereka (pembuat film negeri kita) dengan fenomena melimpahnya film-film non Hollywood yang mau tak mau kini menjadi standar perbandingan bagi penikmat film tanah air? Oke lah jika dahulu mereka akan berpaling untuk membandingkan film Indonesia dengan film-film Hollywood tapi kini membandingkan film-film kita dengan film-film negara macam Thailand saja kita sudah ketinggalan jauh.
"Kenapa ya Mas, film Indonesia nggak sebagus pencapaian film-film Thailand? Yang notabene masih sama-sama negara berkembang?" Pertanyaan ini sempat dilontarkan penikmat film yang masih duduk di kelas 3 SMP. "Menurut kamu?" Saya balik bertanya. "Film Indonesia ceritanya gampang ditebak, pemainnya juga gak maksimal ketika berperan, jadi kita seperti nonton film serius tapi malah jatuhnya ngelucu," itulah ungkapan polos anak SMP yang bersekolah di Jakarta, sehabis terhibur dengan film laga Thailand yang baru saja ia tonton berjudul Chocolate. Ya, Film Indonesia memang lemah sekali dalam cerita, unsur plot maupun sub plot yang dibangun terlalu dangkal. Penggalian emosi pemain pun tiarap ala kadarnya, artifisial.
Kalau sudah begini, kami (penikmat film) sampai kapan harus terus berharap film Indonesia bakal mentereng dalam kancah perfilman Internasional? Bisa bangga jika salah satu film kita dibicarakan dalam obrolan santai ketika traveling ke negara-negara lain? Saya jadi ingat pengalaman sewaktu traveling ke Jerman dimana saya menjumpai sekelompok penikmat film yang tengah membicarakan film-film Asia, dengan semangatnya membicarakan film-film Korea berjudul Old Boy dengan antusiasme tak terkira, hingga beberapa yang lain dengan bangganya mengatakan bahwa ia berada dalam barisan pengagum Wong Kar Wai. Anda bisa bayangkan jika ada salah satu saja film Indonesia yang "unforgotten" dalam tiap bahasan sinema Asia? Bangga sekali bukan?.
"Film Indonesia itu kurang Fight!", itu salah satu komentar ringan seorang kawan dalam percakapan di sebuah angkringan sudut kota Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa film kita dibuat ala kadarnya, asal jadi, dan terburu-buru. Tanpa mengindahkan kinerja dari Kru film produksi, bisa diamini jika film kita memang kurang "berdarah-darah" mewujudkan film atas nama masterpiece bukan atas nama asal film tayang. Produser film fiksi Parama Wirasmo menyatakan sesuatu yang valid mengenai film perdana dari rumah produksinya Cinesurya Production, ketika film fiksi yang merupakan film dengan tema psikologi thriller melawan arus tren saat itu, baginya lebih baik membuat film yang Idealis (sesuai keinginan atas apa yang ingin film maker apresiasikan) ketimbang membuat film yang mengikuti selera pasar namun tidak menjanjikan pasti akan box office. "Lebih baik membuat film apa yang kami mau, atas nama film bermutu" pungkasnya. Yang kemudian film tersebut menjadi film terbaik sekaligus penyutradaraan terbaik (mouly Surya) pada FFI 2008.
Saya salut sekali dengan film maker Korea Lee Man-hee ketika tengah menyelesaikan editing akhir untuk filmnya ia di vonis mengidap kerusakan liver yang berat sampai ia batuk darah dan kolaps saat menyelesaikan film akhirnya, hingga ia memohon pada dokter yang merawatnya agar ia bisa terus hidup sampai ia menyelesaikan filmnya. Sampai saat ini masyarakat Korea menyebutnya sebagai pembuat film patriotik yang paling diingat sepanjang sejarah. (Lee meninggal di usia 45, pada tahun 1975).
Jika film maker kita tidak berkaca pada banyaknya kritikan ataupun keluhan-keluhan yang datang dari para penikmat film, dan tetap saja memproduksi film tanpa mengindahkan kualitas, maka bisa dipastikan dalam kurun waktu yang tak lebih dari tahunan, film kita akan kehilangan momentum untuk menjadi raja di negara sendiri, penikmat film akan meninggalkan film-film kita. Sungguh.
Ini bukan hanya keranjang penuh keluhan dari para pecinta film untuk kemajuan perfilman kita, ini pun bukan hanya keberatan tanpa dasar yang ingin disampaikan, namun ini lebih memaknai sesuatu yang kami (penikmat film) ingin titipkan kepada pembuat film tanah air, tentang mimpi-mimpi kami melihat film Indonesia ada di sana, di tempat orang menyebutnya impian besar insan pecinta film, dengan simbol patung emas bernama Oscar. Anda yang nanti kelak ada di sana, dan kami yang akan menyebutnya Pahlawan Nasional. Maka untuk sekarang ini hanya keranjang keluh yang bisa kami berikan. Untuk harapan film Indonesia yang gemilang.
Andrei Budiman
Busur
Sebuah kapal kecil. Seorang tua tinggal di atasnya; bersama seorang gadis muda. Dua anak manusia hidup di tengah laut lepas; yang tanpa nama. Latar daratan demikian juga tidak ada. Si orang tua memiliki sebuah busur yang beroleh fungsi ganda: sebagai senjata sekaligus alat musik gesek yang dimainkan oleh keduanya di waktu sela. Si gadis diadopsi oleh si orang tua semenjak ia berumur tujuh tahun. Ia tidak pernah menginjak daratan. Sepuluh tahun berselang, si gadis beranjak dewasa. Si orang tua ingin segera menikahinya. Ia telah melingkari hari baik di penanggalan. Relasi intrapersonal di antara mereka berdua, terganggu oleh kehadiran orang lain: para pemancing yang singgah. Relasi intrapersonal berubah menjadi relasi interpersonal yang menyertakan suatu konflik di atas kapal.
Latar serupa dipilih Kim Ki Duk dalam The Isle (2000); namun The Bow (2005) beroleh apresiasi yang sedikit berbeda; tanpa sadisme dan sedikit cipratan darah. Tata minimalis yang digagas oleh Kim selaras dengan minimnya dialog antartokoh; yang kemudian dikelindankan dengan sebentuk ruang intim: sebuah kapal kecil yang terapung di laut bebas. Konsep cinta dan kepemilikan demikian banyak dibincangkan dalam The Bow. Ia berwujud relasi personal antara seorang gadis dan seorang tua. Konsep cinta dan kepemilikan menyaran upaya penundukkan seseorang atas yang lain. Upaya tersebut menemukan bentuknya sewaktu seseorang berusaha untuk memiliki seseorang yang lain, baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dimiliki orang tadi. Orang lain yang turut mencampuri relasi si gadis dan si orang tua tersebut ditimbang serupa kerikil dalam sepatu: para pemancing yang menyewa kapal. Si orang tua berupaya menegasikan kehadiran orang lain tersebut; sembari mengancamnya dengan busur dan anak panahnya jika mereka masih mengganggu gadisnya.
Sebuah busur kemudian tidak hanya menyaran sebentuk benda galibnya; namun ia berupa sebentuk benda diskursif: ia tidak hanya memiliki fungsi sebagaimana rupanya, sebagai pertahanan diri maupun penghibur hati. Sebuah busur bisa saja mengambil sedikit peran simbolis, yang menyaran perluasan makna yang menunjuk suatu yang lain. Tentu saja pemaknaan tetap berpijak pada definisi awal sebuah busur. Pemaknaan lalu beranjak pada perluasan makna dari sebentuk benda tadi.
Sebuah busur beroleh fungsi primer sebagai pelindung dari ancaman. Busur dalam konteks ini beroleh fungsi sebagaimana galibnya. Tentu anak panah adalah pelengkap dari fungsi busur itu. Tanpanya, busur akan kehilangan fungsi sebagai senjata. Si orang tua sempat mengintimidasi para pemancing yang usil terhadap si gadis dengan busur dan anak panah yang siap dilepaskan. Kedua benda tadi dalam pengertian ini: sesuatu yang menyaran pertahanan diri. Seseorang yang dianggap sebagai suatu ancaman, akan mendapat semacam tanggapan dari pihak yang terancam, seperti halnya konflik antara para pemancing dan si orang tua.
Sebuah busur dapat beralihfungsi juga sebagai alat musik gesek; dengan menambahkannya sebentuk gendang kecil sebagai wadah resonansi suara. Busur dalam pengertian ini menduduki fungsi sekunder sebagai penghibur lara dan sedih. Tanpa gendang kecil, busur tidak dapat difungsikan sebagai alat musik. Kedua benda tadi bersifat saling melengkapi satu sama lain; seperti halnya dengan konsep busur dan anak panah sebelumnya.
Busur dalam pengertian ini barangkali semacam antitesis dari konsep busur sebelumnya. Konsep busur sebelumnya yang menekankan segi kekerasan (busur sebagai senjata) tersamarkan oleh konsep busur yang menyaran segi kelembutan (busur sebagai alat musik). Permainan konsep keras-lembut memang mewarnai film-film Kim sebelumnya; di mana kedua segi tersebut bukan merupakan suatu yang bertolak belakang satu sama lain. Antitesis bukanlah lawan dari tesis.; namun hadirnya antitesis merupakan bagian lain yang tidak terpisahkan dari tesis. Berpucuk duri bunga mawar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bunga itu sendiri, misalnya. Hal ini selaras dengan konsep Yin dan Yang dalam filsafat timur, misalnya. Pada bagian gelap tetap menyimpan sebagian kecil terang; pada bagian terang tetap menyimpan sebagian kecil gelap. Sebentuk dialektika atas gelap-terang ini bukan mencari ketegasan dalam setiap hal; namun pergulatan aktif terhadap satu hal yang belum selesai merupakan pokok persoalan.
Sebagai pembaca nasib seseorang, sebuah busur tidak lagi beroleh fungsi sebagaimana mestinya. Busur dalam pengertian ini memiliki fungsi antara; bukan sebagai alat pertahanan diri maupun alat musik. Fungsinya kemudian menyaran hal yang sublim: bagaimana satu nasib seseorang direka melalui pertaruhan nyawa si gadis dan lukisan Buddha sebagai citra simbolis keilahian. Upaya si orang tua untuk membaca nasib lewat pelepasan anak panah ke arah lukisan buram Buddha sementara si gadis berayun di sepanjang lambung kapal, menyaran nasib bergayut di antara pertaruhan nyawa dan lukisan Buddha sebagai representasi suatu yang gaib.
Sebuah busur dan anak panah dalam konteks ini beroleh perluasan fungsi sebagai pembaca nasib seseorang. Seorang pemancing meminta pada si orang tua untuk direka nasibnya. Si orang tua menyanggupi permintaannya; namun ia mewujudkan permintaannya tersebut lewat cara yang tidak biasa. Si gadis diminta oleh si orang tua itu agar berayun di sepanjang lambung kapal. Sementara si orang tua membidik sasaran Buddha yang terlukis buram di lambung tersebut. Anak panah kemudian dilepaskan oleh si orang tua sebanyak tiga kali; sehingga nasib seseorang dapat direka melalui lubang bekas anak panah yang tertancap di lambung itu. Si gadis kemudian membisikkan pelihatannya kepada si orang tua yang lalu dibisikkannya kembali pada si pemancing.
Si orang tua kemudian dihadapkan pada masalah yang sama: apakah nasib juga berpihak padanya. Seorang pemuda yang menyukai gadis itu menantang si orang tua: siapakah pemilik nasib. Si orang tua menyanggupinya; walaupun ia enggan menerima ramalan yang ia buat sendiri. Si orang tua mesti kehilangan gadisnya yang ikut pergi ke daratan bersama si pemancing muda tadi. Upaya si orang tua untuk memercepat hari pernikahan dengan melingkari sampai merobek penanggalan pada narasi sebelumnya, akhirnya sia-sia. Dengan kapal kecil, kemudian si gadis pergi bersama si pemuda tadi.
Upaya si orang tua untuk melawan buruknya nasib yang ia terima terlihat dari pertaruhan hidup yang ia berikan untuk diri gadis itu; dengan mengikat lehernya sendiri dengan tali dari kapal yang sedang melaju itu. Si gadis tersadar akan pengorbanan yang diberikan oleh si orang tua itu. Padahal sebelumnya, nyawa si gadis menjadi taruhan bagi terkuaknya nasib seseorang. Sebaliknya, kini nyawa si orang tua menjadi pertaruhan bagi batalnya nasib yang direkanya sendiri. Si gadis akhirnya terharu atas pengorbanan si orang tua yang rela mati deminya.
Demikian mereka menuju kapal pelaminan, teriring oleh sorak sorai ombak. Si gadis tertidur di atas kapal. Si orang tua melepaskan anak panahnya ke langit. Lalu ia terjun ke laut; lenyap tanpa bekas. Entah. Hari pertama pernikahan. Anak panah turun dari langit mengarah ke selangkangan gadis itu. Ia mendesah. Mengalir darah pertama; yang barangkali tidak menyaran kepemilikan atas diri seseorang secara utuh; namun ia hadir dalam keberjarakan seseorang atas orang lain dengan sikap yang seluruh.
F. Taftazani
Sekali Lagi tentang Film Horor Indonesia
Pembicaraan seputar film horor seolah tak ada habisnya. Di satu sisi, film-film sejenis ini ditonton rata-rata sekitar 300 ribu jiwa, bahkan ada yang menembus angka satu juta. Namun, tak sedikit yang mendengar judul-judulnya saja sudah alergi dan cenderung meremehkannya. Sayangnya, karena dipandang bermutu rendah, mereka tidak sekadar meremehkan film-filmnya, tapi genrenya. �Film horor itu jelek�, generalisasi terjadi. Padahal genre ini melahirkan banyak mahakarya semacam, sebut saja, The Exorcist, The Omen, dan Psycho.
Menjamurnya film-film horor di Indonesia dewasa ini, menurut saya kebanyakan adalah tiru-tempel (copy-paste) dari film-film sejenis dari Korea, Jepang, dan Thailand. Walhasil, judul yang rata-rata berawalan kata �hantu�, �kuntilanak�, atau �pocong� (belakangan: �terowongan�) itu gampang ditebak dan tidak menawarkan sesuatu yang baru baik dari segi cerita atau pun eksplorasi sinematografi. Persis seperti template bekerja. Dari segi ketegangan, kebanyakan juga, seperti pernah saya tulis pada Menanti Film Horor yang Sebenarnya (Koran Tempo, 15/7 2007), mengagetkan dan bukan menakutkan. Tentu saja ada beberapa pengecualian seperti sang pelopor Jelangkung (Jose Purnomo/Rizal Mantovani, 2001), Legenda Sundel Bolong (Hanung Bramantyo, 2007), Hantu (Adrianto Sinaga, 2007), Mirror (Hanny Saputra, 2005), Pocong 2 (Rudi Sudjarwo, 2006), dan Takut Faces of Fears (omnibus 7 sutradara, 2008).
Di lain pihak, kita menyaksikan film-film klasik yang umumnya bergenre eksploitasi (film �murahan� yang umumnya mengumbar kesadisan dan keseksian karakternya) hingga sekarang masih dinikmati. Film-film yang dibintangi Suzanna, misalnya, masih saja dijual di beberapa tempat dalam bentuk VCD, bersamaan dengan film-film Warkop, Benyamin Sueb, Barry Prima, seri Lupus, dan banyak lagi. Suzanna (juga Barry Prima dan beberapa tokoh lagi) menjadi ikon. Dalam ajang layar tancap, film-film semacam itu juga acap diputar. Sementara, seperti yang sering saya putar, beberapa judul diedarkan di luar negeri oleh Mondomacabro DVD dan Troma Entertainment (soal ini, silahkan baca Pete Tombs, Penjaga Taman Film Eksploitasi Indonesia pada Trax edisi Maret 2009 dan Cult Boys Fan Bertemu Leak dan Jaka Sembung di Media Indonesia Siang, 3 Juli 2008). Masih diproduksinya VCD dan DVD adalah tanda adanya permintaan dari penonton.
Mengapa film horor lawas umumnya masih ditonton dan menjadi semacam collector�s item, sedangkan sepertinya film horor kiwari hanya ditonton sekali dua dan kemudian terlupakan?
Pertama, sekali lagi: variasi tema. Dari tiga subgenre, (horror-of-personality, horror-of-Armageddon, dan horror-of-the-demonic dalam teori Charles Derry), kita hanya fokus pada yang pertama: setan-setanan. Akmal Nasery Basral dalam Trenggale, Hantu Mobil dari Wasur Merauke (Koran Tempo 5/3) menegaskan bahwa itu pun setan di sekitar pulau Jawa saja. Padahal, dalam demonic horror pun ada banyak variasi semacam teen horror, kerasukan setan, dukun, dan ilmu hitam. Pada film klasik, ada Ratu Ilmu Hitam, Ratu Ular, Beranak dalam kubur (film Indonesia bergaya Barat pertama), Kemasukan Setan (meniru Exorcist), Ranjang Setan (diedarkan di Barat dengan judul Satan�s Bed, adaptasi dari Nightmare on Elm Streets). Ada horror-of-Armageddon yang apocaliptis seperti Pengabdi Setan (zombie, terinspirasi Phantasm). Dari segi psychologic horror, ada Primitif (bertema kanibalisme, film pertama Barry Prima)�dan kita pernah ada film pendek slasher berjudul (Dara), yang film fiturnya (Macabre) sedang digarap. Bahkan, banyak pendapat yang menyatakan bahwa genre ini adalah yang memulai film horor di Indonesia, lewat Lisa (1971, M. Shariefuddin), dan disusul oleh Pemburu Mayat (Kurnaen Suhardiman, 1972, tentang seorang psikopat pengidap nekrofilia)�seperti diungkap dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005�dan bukan Tengkorak Hidoep (1941, Tan Tjoei Hock) yang saat itu masih mengeksplorasi bentuk dibandingkan narasi. Ada juga horor komedi semacam Drakula Mantu dan Mayat Cemburu (skenario dibuat Teguh Srimulat). Juga biographic horror (film Kisah Nyata Dukun AS (Misteri Kebun Tebu), 1997, Eddie SS.) dan socio-historical horror seperti film Misteri Banyuwangi (Dukun Santet), 1998, Walmer Sihotang). Dulu variatif. Sekarang? Untunglah ada anomali, khususnya TAKUT: Faces of Fears yang menandakan banyak ragamnya film horor
Kedua, adalah status cult dari film itu. Secara sederhana, film cult adalah film yang mempunyai penonton yang militan dan setengah menghamba, walau pun kelompok kecil. Mereka ini selalu menonton berulang-ulang sebuah film yang berstatus cult, dan terus berburu film-film sejenis ini. Pendek kata, menurut cultographies.com, ciri khas film cult adalah adalah para pengikutnya yang aktif merayakan film-film yang cenderung melawan konvensi budaya karena memilih topik yang tidak umum. Dan walau pun aksesnya terbatas, tetapi selalu hadir nilai pemasaran yang berkesinambunggan dan publik merasakan kehadirannya film-film ini dalam waktu panjang.
Apakah penonton kita memutar ulang film-film horor kita sekarang terus menerus? Apakah ada grup atau mailing list di internet yang khusus membahasnya? Perlu riset khusus soal ini, tapi saya meragukannya. Yang saya temukan, banyak diskusi popular tentang film horor jadul. Salah satu ukurannya adalah: apakah ada yang terkesan atau terngiang-ngiang sebuah adegan film? Seperti saat Suzanna yang menjadi Sundel Bolong membeli sate 200 tusuk dan meminum soto dari kualinya? Atau karakter yang sama membaya seorang pedagang dengan uang yang kemudian menjadi daun? Atau adegan tangan yang keluar dari kloset duduk dalam Bayi Ajaib, yang membuat saya takut ke kamar mandi selama beberapa hari itu?
Cult status itu juga melahirkan ikon cult. Sebut saja Suzanna, Barry prima, WD Mochtar, dan Sofia WD. Saat film Malaysia, Susuk, diputar di Jiffest Desember lalu, sang tokoh bernama Suzanna dan saya konfirmasi ke Amir Muhammad (salah satu sutradaranya), ternyata nama itu diambil dari aktris Suzanna. Bagaimana dengan masa kini? Adakah ikon cult kita? Jian Batari, mungkin? Mungkinkah, misalnya Dewi Persik nantinya menjadi ikon cult di masa depan?
Di masa sebelum Jelangkung, ada sutradara yang salah satu spesialisasinya adalah memproduksi film Horor. Sebut saja Sisworo Gautama Putra, Imam Tantowi, Tjut Djalil, dan Lili Sudjio. Apakah ini salah satu faktornya? Belum tentu juga, mengingat sutradara seperti Peter Jackson (Bad Taste, The Frighteners), Francis Ford Coppola (Dracula), Brian de Palma (Carrie) atau Stanley Kubrick (The Shining) yang sukses menggarap horor tapi mengerjakan genre lain. Dan toh, sekarang ada Koya Pagayo alias Nayato Fio Nuala.
Faktor lainnya adalah lokalitas. Kalau diperhatikan, yang dilirik distributor asing adalah film seperti Gondoruwo (judul Baratnya: the Haunted House) atau yang bernuansa black magic, mistis, dukun semacam Ratu Ilmu Hitam, Leak, Pembalasan Ratu Pantai Selatan, dan Nyi Blorong, artinya, ada nuansa lokalitas. Judul-judul lain yang masih beredar di negeri ini adalah Calonarang dan Telaga Angker. Konsumen Barat mencari sesuatu yang berbeda, yang eksotis dan tak dijumpai di Negara atau benua mereka, sebagaimana diungkapkan Pete Tombs-- pendiri Mondomacabro DVD dan penulis buku Mondomacabro: Weird and Wonderful Cinema around the World--dalam surat-enya. Tombs dalam emailnya menyatakan bahwa secara umum, sinema eksploitasi Indonesia yang mereka edarkan umumnya tak bisa diprediksi dan lebih eksotis dari film Jepang atau Hong Kong, dan cara bertuturnya solid. �mereka tidak mencoba sok cerdas or posmo, tapi cuma ingin menghibur�.
Kini, walau pun ada, tapi bahasa audio visualnya adalah template dari film Korea-Jepang-Thailand. Coba saja bandingkan efek suara, ritme penyuntingan, look & feel-nya. Hanya sekadar pemindahan lokasi, aktor, dan bahasa. Tentu saja, tidak harus berlokasi di pedesaan semacam film-film klasik itu. urban legend sesungguhnya merupakan satu tema menarik, seandainya diekplorasi.
Ada pun tentang peranan orang suci, keduanya berada dalam titik ekstrem. Dalam film jaman dulu, ulama atau pandita �hanya� sebagai pengusir setan dengan mantra dan doa, sedangkan dalam film pasca-Jelangkung nyaris tidak ada satu pun ulama atau tokoh agama�bahkan tidak ada tokoh yang membaca, katakan saja, ayat Kursi atau al Fatihah, saat ketakutan, sebagaimana kebanyakan masyarakat (Muslim) Indonesia.
Tentang asumsi template atau copy-paste dari Negara-negara Asia itu, perlu saya jelaskan sedikit. Pendeknya begini: film Indonesia sekarang lebih kepada visual horror (yang seram adalah yang tampak di dalam layar, penampakan atau hantu), sedangkan jaman dulu condong pada narrative horror (yang seram adalah ceritanya, hantu adalah bagian dari cerita). Jadi, walau jiplak, sangat banal, hanya permukaan semata yang diambil dari film-film luar itu. Brian Yuzna, tokoh genre fantasi yang juga produser Takut, menyatakan bahwa penonton non-Indonesia perlu dijelaskan agar paham dengan konsep-konsep khas Indonesia. Pete Tombs menyatakan hal yang sama. Ini penting mengingat definisi �apa yang menakutkan� (sebagaimana apa yang lucu) berbeda di tiap budaya, tempat, dan masa.
Dengan banyaknya jumlah produksi film horor kita yang mendominasi bioskop kota-kota di Indonesia, dengan warna dan gaya yang nyaris sama, tentu lambat laun akan terjadi efek bumerang: penonton akan jenuh dan capek sendiri, dan akhirnya meninggalkan bahkan alergi dengan istilah �film horor�. Mungkin saat itu terjadi, para produser film-film itu baru sadar bahwa mereka harus berbenah diri. Atau, mungkin juga, saat itu sudah terlambat.
Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org
Langganan:
Postingan (Atom)
