The Green Hornet
Sutradara: Michel Gondry
Produser: Neal H. Moritz
Penulis Naskah: Seth Rogen / Evan Goldberg
Pemain: Seth Rogen / Jay Chou / Cameron Diaz / Cristoph Waltz
Ilustrasi Musik: James Newton Howard
Penata Kamera: John Schwartzman
Editing: Michael Tronick
Studio: Original Film
Distributor: Columbia Pictures
Durasi: 119 menit
Bujet: $120 juta
Britt Reid (Rogen) adalah putra seorang milyuner pemilik surat kabar Sentinel di LA. Tabiat Reid yang selalu menghabiskan waktu sia-sia untuk bersenang-senang membuat kesal sang ayah. Suatu ketika sang ayah dibunuh dan Reid sangat terpukul. Segalanya berubah ketika Reid bertemu Kato (Chou), ahli mekanik dan supir ayahnya, yang ternyata juga ahli senjata serta beladiri. Reid lalu mengajak Kato untuk menjadi �superhero� dengan menjadi kriminal yang ditakuti para kriminal. Reid bahkan memanfaatkan surat kabar ayahnya untuk mem-blow up mereka ini dengan memberi nama sang jagoan �The Green Hornet�. Sepak terjang The Green Hornet ternyata membuat berang sorang mafia Rusia, Benjamin Chadnofsky (Waltz) yang membuat sayembara berhadiah $1 juta untuk menyingkirkan pemain baru ini.

Aksi komedi serta dialog konyol memang menjadi penekanan filmnya. Rogen yang juga menulis skripnya memang menyukai komedi verbal seperti ini hingga adegan dialog yang tak penting pun bisa diulur-ulur. Duo Rogen dan Chou juga tampil tidak buruk sekalipun karakter Kato lebih banyak pasif. Cameron Diaz yang bermain sebagai Lenore tampak sekali hanya berfungsi sebagai pemanis tanpa banyak peran yang berarti. Sementara Christoph Waltz yang bermain kuat dan percaya diri dalam Inglorious Basterds kali ini mendapat peran konyol yang sama sekali tidak pas dengannya.
The Green Hornet bagi penonton awam adalah film aksi komedi yang menghibur terutama karena komedi verbal serta beberapa adegan aksi konyolnya. Sentuhan Rogen tampak lebih dominan ketimbang sentuhan Gondry. Sekalipun di masa silam Gondry berkolaborasi baik bersama komedian macam Jim Carey dan Jack Black namun Rogen rasanya bukan kolaborator yang pas untuk sang sineas. Bisa jadi karena sang sineas kini tidak menulis naskahnya. Sebagai fans berat film-film bikinan Gondry sebelumnya, saya cuma mau bilang, �What the hell are u doin man (Gondry)?� (C)




Eclipse boleh dibilang adalah seri terburuk dibanding dua film sebelumnya. New Moon sendiri diluar sukses filmnya adalah film yang sangat buruk secara kualitas dan Eclipse semakin menyempurnakannya. Dua film ini adalah contoh bagaimana film bisa begitu buruk dari banyak sisi terutama cerita dan dialog. Seperti halnya New Moon, Eclipse sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Seperti laiknya sinetron, konflik tampak sekali terlalu dibuat-buat dan dilebih-lebihkan seperti konflik kekanakan antara Edward dan Jacob. Salahkan saja Bella mengapa ia memilih mencintai vampir dan werewolf. Konflik selamanya akan terus ada selama Bella masih menjadi manusia. Sungguh konyol! Film ini semata-mata hanya menjual pesona serta �fisik� Pattinson dan Lautner lalu beberapa kali adegan mesra amatiran. Satu hal lagi yang membuat film ini begitu memuakkan adalah dialog. Sepanjang film dipenuhi dialog-dialog bodoh tak bermutu yang sama sekali tak berguna dan mudah sekali diantisipasi penonton.
Setelah dua film yang sangat istimewa sebelumnya (Toy Story 1 & 2) kini apa lagi yang bisa ditawarkan seri ketiganya. Apakah melibatkan boneka atau karakter lebih banyak? Atau unsur komedi serta aksi yang lebih banyak? Ataukah kisah yang lebih dramatik? Jawabnya untuk semua adalah ya. Film ketiganya kali ini jauh lebih bervariasi dengan karakter-karakter baru yang unik, lokasi yang lebih banyak, dan tentu kombinasi ini memungkinkan lebih banyak aksi serta komedi yang lebih gila dari sebelumnya. Plot �great escape� kali ini memang bukan hal yang baru tapi bukan masalah. Tema cerita pun kurang lebih masih sama, tentang persahabatan namun yang membedakan dari dua film sebelumnya adalah cerita kali ini cenderung lebih �gelap�. Unsur cerita inilah yang membuat film ini begitu istimewa. Setelah begitu banyak pengalaman baik suka dan duka bersama, apalagi yang tidak bisa mereka hadapi? Hanya satu hal yang belum pernah mereka hadapi bersama... The greatest fear of all�kematian.