Senin, 11 September 2000

Aksi Seru Ala Video Game dalam Death Race

11 September 2008,
Pada era 50 dan 60-an produser dan sineas Roger Corman dikenal melalui film-film horor serta aksi kelas B-nya hingga ia dijuluki �King of B-Movies�. Kini Corman kembali sebagai produser memproduksi Death Race (2008), yang diinspirasi dari film yang juga produksinya, Death Race 2000 (1975). Film ini diarahkan oleh Paul W.S. Anderson yang sebelumnya mengarahkan film-film �video game� populer seperti, Alien vs Predator (2004), Resident Evil (2002), hingga Mortal Kombat (1995). Film ini dibintangi aktor laga, Jason Statham, serta beberapa nama tenar, seperti Tyrese Gibson, Joan Allen, serta Ian McShane.



Cerita berlatar tahun 2012 dimana Amerika mengalami krisis ekonomi besar-besaran. Pengangguran melimpah dan menurunnya moral secara massal menyebabkan angka kriminalitas semakin tinggi. Masyarakat semakin haus akan hiburan dan lomba balap mobil brutal bernama Death Race menjadi jawabnya. Death Race digelar di sebuah penjara sekuriti maksimum, Terminal Island, dimana para napinya sendiri yang menjadi para pembalapnya. Seorang mantan juara balap, Jensen Ames (Statham) dijebak (membunuh istrinya) hingga ia masuk ke dalam penjara dan dipaksa oleh kepala sipir, Hannesey (Allen) untuk ikut dalam lomba maut tersebut. Tanpa banyak pilihan Ames harus berjuang keras mengalahkan para pembalap lain untuk memperjuangkan kebebasannya dan bertemu kembali dengan putrinya.

Dari judulnya, Death Race, sepertinya mengisyaratkan sebuah remake, namun plotnya rupanya berbeda jauh dengan film aslinya (Death Race 2000) yang juga jauh lebih brutal. Death Race hanya mengambil lokasi balapan di tempat yang sama dan untuk menjadi pemenang pembalap diperbolehkan (namun tidak harus) untuk membunuh lawan-lawan mereka. Sementara Death Race 2000 merupakan balapan lintas wilayah dan pemenangnya adalah siapa yang lebih dulu mencapai finis dan berhasil meraih poin terbanyak. Poin dihitung dari jumlah manusia (warga sipil) yang mereka tabrak hingga tewas! Satu-satunya kesamaan cerita adalah nama-nama tokoh utamanya, yakni Frankenstein dan Machine Gun Joe yang dulu diperankan David Carradine dan Silvester Stallone.

Death Race rupanya masih memiliki jiwa film-film �B-Movies� era silam dengan hanya mengandalkan aksi-aksi fisik tanpa menyajikan cerita yang bermutu. Satu hal yang begitu terasa adalah tempo plotnya yang cepat dengan adegan-adegan aksi keras dan brutal nyaris tanpa henti (sekitar 75% durasi filmnya adalah adegan aksi). Adegan balapnya sendiri padahal tercatat hanya empat sekuen saja, yakni pada pembuka film, balapan tahap satu, tahap dua, dan tahap tiga. Kita bahkan baru mendapatkan informasi rinci tentang aturan teknis lomba pada saat balapan berlangsung. Hal ini justru sangat efektif memberikan efek kejutan bagi para penonton.

Satu hal yang menjadi daya tarik film ini jelas adalah aksi balapnya yang orisinil tanpa efek visual. Sejak seri Mad Max sepertinya belum ada aksi kejar-mengejar mobil sejenis yang mampu menandingi, dan Death Race inilah tandingannya. Aksi balapannya menyajikan mobil-mobil modifikasi berlapis baja, lengkap dengan senjata mesin serta roket peluncur yang menjadi jaminan sebuah adegan aksi yang sangat menghibur. Nuansa video game begitu kental dalam aksi balapnya. Coba perhatikan, dalam setiap lap setiap pembalap dapat memilih untuk menyerang atau bertahan dengan melintasi sebuah �tombol� bersimbol pedang atau perisai. Simbol pedang mengaktifkan senapan mesin, sementara simbol perisai mengaktifkan asap atau oli. Dalam balapan tahap dua, Ames dan Joe harus berhadapan dengan �boss� raksasa, yakni sebuah truk besar dengan persenjataan ekstra lengkap. �Now that�s entertaiment�, mengutip kata-kata Coach.

Selain aksi balapnya bisa dibilang tidak ada yang menonjol dalam filmnya. Setting lokasi balapan di areal gudang dan pabrik (seperti suasana pelabuhan) memang cocok dengan jenis balapannya namun sayang tidak ada alternatif trek balap lainnya. Hal yang sama juga tampak pada para kastingnya. Jason Statham sepertinya telah terjebak dalam peran sebagai seorang pengemudi handal seperti sebelumnya dalam The Italian Job serta seri The Transporter. Setelah Fast & Furious 2 dan Death Race, bisa jadi Gibson pun menyusul Statham. Sementara Joan Allen bermain dingin, Ian McShane mampu mencuri perhatian (telinga) dengan suara serak yang khas sebagai Coach, sang mekanik.

Sebelum menonton sepertinya tidak banyak yang diharapkan dari filmnya (sudah tampak dari judulnya) namun ternyata Death Race tidak seburuk yang dibayangkan. Jika anda mencari film aksi yang sarat dengan aksi tembak-menembak atau aksi kejar-mengejar mobil yang sangat seru, Death Race adalah jawabnya. Film ini mampu mengkombinasi dua jenis aksi tersebut dengan prima dan menyajikan sebuah tontonan yang menghibur. Unsur dramatik (cerita yang bermutu) memang bukan menu utama dan secara kualitas film ini juga masih dibawah film aslinya (Death Race 2000). Don�t bother� Let the race begin and enjoy the show! (B-)

Minggu, 10 September 2000

HellBoy 2, Nearly a Crap�.

10 September 2008,
Sineas berbakat, Guillermo Del Toro rupanya masih dipercaya menangani sekuel Hellboy (2004), yakni Hellboy II The Golden Army (2008), setelah belum lama ini ia juga sukses dengan Pan�s Labyrinth (2006). Seperti film pertamanya Del Toro tidak hanya mengarahkan filmnya namun juga kembali menulis naskahnya. Sebagian besar para pemain kunci juga kembali bermain dalam film sekuelnya ini, antara lain, Ron Perlman, Doug Jones, Selma Blair, serta Jeffry Tambor.


Hellboy aka �Red� (Perlman) bersama rekan-rekannya, Abe (Jones), Liz (Blair), dan Krauss (Seth Mac Farlene), kali ini harus mencegah Pengeran Nuada untuk memimpin sebuah pasukan mekanik tak terkalahkan yang dinamakan �Golden Army�. Saudari Kembar Nuada, Putri Nuala menjadi kunci karena ia membawa peta lokasi serta kepingan terakhir mahkota suci untuk menghidupkan Golden Army. Red dan kawan-kawan membawa sang putri ke markas namun Nuada tanpa kesulitan mampu menyelinap masuk dan menculik sang putri. Red kawan-kawan harus bergegas menuju sebuah pulau lokasi The Golden Army sebelum sang pangeran menghidupkan pasukan tersebut.

Plotnya secara keseluruhan tidak berbeda banyak dari seri pertamanya, masih memakai formula yang sama, intinya Hellboy dkk menghadapi kekuatan jahat (dari dunia supernatural) yang ingin menguasai dunia. Tidak seperti film pertamanya, nuansa roman kali ini terasa lebih kental, tidak hanya hubungan Red dan Liz namun juga antara Abe dan Nuala. Hubungan asmara ini pula yang banyak mempengaruhi titik perubahan plotnya. Demi cinta apapun dilakukan sekalipun dunia hancur. Satu contohnya, Abe akhirnya menyerahkan kepingan mahkota pada Nuada untuk bisa menyelamatkan sang putri. Lucu sekali, apa yang harus diselamatkan? Jika Nuada membunuh Nuala sekalipun, mereka berdua tewas (ikatan saudara kembar). Nuada jelas tak mau mati, lantas apa ruginya tidak menyerahkan kepingan tersebut? Kenapa pula kepingan tersebut tidak dihancurkan (Liz) sejak awal? Masalah pasti selesai. Satu lagi, kenapa Nuala tidak membunuh dirinya saja lebih awal? Motif bunuh diri Nuala rasanya masih lemah, beda misalnya jika nyawa Abe dalam bahaya. Ah whatever� the show must go on anyway

Ron Perlman kembali bermain begitu mengesankan memerankan sosok Hellboy. �Oh Crap�� masih menjadi kata-kata favorit Red walau kini ia ucapkan tidak sebanyak di film pertama. Perlman dengan memukau dan penuh pesona memerankan sosok Red yang kasar, bertemperamental tinggi, tidak suka bertele-tele, namun juga berhati lembut. Gaya khasnya adalah ucapan serta joke-joke-nya yang spontan kadang tanpa mempedulikan orang lain. �I�m not gonna kill him, Abe, but i�m gonna kick his a** �. Aneh rasanya jika kita lebih menunggu joke-joke Red ketimbang aksi fisiknya. Satu lagi karakter �nyentrik� yang menarik perhatian, adalah Johann Krauss si �manusia gas� (gas bag istilah Red) dengan aksen Jerman yang khas. Tak disangka karakter yang tampak begitu lemah ternyata begitu kuat secara fisik. Konflik-konflik kecil antara Krauss dan Red juga banyak memicu banyolan berkualitas. �I think i can�t take u�.� ucap Krauss pada Red di ruang ganti yang memicu konflik fisik antara mereka berdua. Sementara dua karakter kunci lainnya, Abe dan Liz tidak banyak berperan seperti di film pertamanya, kesannya cuma sekedar pelengkap. Pada adegan klimaks misalnya, Liz dan Abe tidak banyak membantu Red dan Krauss untuk melawan Golden Army. Mana apinya Liz?

Seperti film-film Del Toro sebelumnya, Blade II, Hellboy, hingga Pan�s Labyrinth, Hellboy 2 juga memiliki karakter-karakter yang unik serta setting suasana gelap bergaya ekspresionis, seperti tampak dominan pada sekuen klimaks. Selain Hellboy serta Abe, Del Toro juga kembali menampilkan karakter-karakter non manusia dengan bentuk ekspresif yang ditampilkan begitu meyakinkan seperti, Johann Krauss, Wink, Goblin, serta Angel of Death. Sementara adegan-adegan aksinya rasanya masih lebih baik film pertamanya ketimbang sekuelnya ini. Adegan aksinya tampak kurang dinamis (mobil) karena hanya berlangsung di seputar lokasi yang sama. Gaya bertarung Hellboy sepertinya lebih cocok jika selalu berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Adegan aksi yang lumayan tampak pada sekuen klimaks, patut dicatat aksi pertarungan antara Krauss (merasuk ke dalam salah satu �robot�) dengan Golden Army. Bicara soal ilustrasi musik, agak mengagetkan ketika pada end tittle tercantum nama komposer Danny Elfman. Elfman yang telah mengaransemen ilustrasi musik film-film besar seperti Batman dan Spiderman seperti kehilangan sentuhannya. Sama sekali tidak ada karakter yang kuat dalam ilustrasi musiknya.

Hellboy II The Golden Army secara umum tidak lebih baik daripada film pertamanya. Plot rasanya masih bisa dieksplor lebih baik lagi sehingga karakter-karakter utama bisa mendapatkan porsi cerita yang proporsional. Kisah asmara juga bisa digali lebih dalam sehingga tidak tampak seperti tempelan semata. Satu momen yang cukup berkesan (�humanis�) terdapat pada adegan ketika Red dan Abe yang tengah dilanda asmara menyanyikan lagu Can�t Smile without You (Barry Manillow). Sebagai kata penutup, Hellboy 2 merupakan film yang cukup menghibur penonton namun rasanya sulit dinikmati jika tidak menonton film pertamanya dan sekali lagi, tanpa Ron Perlman film ini tidak bertaji sama sekali. (C+)

Minggu, 13 Agustus 2000

Dubbing Merusak Segala Keindahan Wall.E

..
14 August 2008,
Pixar rupanya melanjutkan tradisi sukses baik kritik maupun komersil melalui film animasi terbaru mereka, Wall.E. Film ini diarahkan Andrew Stanton yang sebelumnya juga terlibat dalam produksi film-film animasi istimewa Pixar seperti Finding Nemo dan Ratatoullie. Satu hal yang tak lazim ketika menonton film ini di bioskop-bioskop kita adalah penggunaan dubbing Bahasa Indonesia untuk seluruh dialog dalam filmnya.


Kisah filmnya jauh berbeda dengan film-film produksi Pixar sebelumnya dengan mengambil latar cerita ratusan tahun dari masa sekarang. Alkisah umat manusia telah merusak bumi demikian dahsyatnya hingga tidak layak lagi untuk dihuni. Ribuan manusia bumi berimigrasi dan bermukim di luar angkasa dengan sebuah pesawat angkasa super modern bernama Axiom. Ratusan tahun kemudian bumi dikisahkan kosong-melompong, dipenuhi rongsokan sampah besi, serta puing-puing bangunan tanpa menyisakan satu manusia pun. Satu-satunya dinamika kehidupan masa lalu hanyalah sebuah robot pekerja bernama Wall.E. (singkatan: Waste Allocation Load Lifter Earth-Class) Sang robot mungil ini masih saja terus bekerja mengumpulkan serta memadatkan besi-besi rongsokan dan menyusunnya yang entah telah berapa lama ia lakukan. Suatu ketika pesawat asing datang ke bumi dan meninggalkan sebuah robot observasi modern bernama Eve. Wall.E yang kesepian berusaha menjalin hubungan persahabatan dengan sang robot dan �jatuh hati� padanya.

Tidak ada kata-kata lain selain �Wow�� menikmati segala suguhan yang ada di film ini. Secara visual, gambar (CGI) sepertinya jauh lebih halus dari film-film produksi Pixar sebelumnya. Setting kota (bumi) tempat sang robot kesepian yang terlantar ratusan tahun mampu digambarkan dengan sempurna sejak awal pembuka film, sangat kontras dengan suasana interior pesawat angkasa Axiom yang penuh warna, meriah, dan super modern dimana manusia dimanjakan (diperbudak) oleh para robot. Ceritanya sendiri mengingatkan pada film fiksi-ilmiah klasik, 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick dimana robot (Artificial Intelligence) akhirnya mengambil-alih kendali dari manusia. Beberapa unsur serta banyolan dalam banyak adegannya juga banyak diambil dari Space Oddysey, seperti sang robot jahat bermata merah, ilustrasi musik klasik The Blue Danube dan Sprach Zarathustra, serta adegan melayang-layang di luar angkasa.

Seperti film-film produksi Pixar sebelumnya, film ini mampu memadukan unsur aksi, drama, roman, serta komedi dengan sangat sempurna. Semua orang dari segala usia dijamin akan mampu menikmati film yang sangat menghibur ini. Film animasi ini juga lebih dari sekedar film anak-anak. Nilai-nilai seperti rasa persahabatan, team-work, keberanian, serta semangat pantang-menyerah masih dominan, seperti halnya juga tampak dalam Toy Story, Monster Inc., Finding Nemo, The Incredible, hingga Ratatoullie. Namun sedikit berbeda, Wall.E sarat dengan pesan-pesan lingkungan hidup, �save earth for our future (children)�, betapa berharganya memelihara kehidupan walau sekecil apapun. Wall.E dan Eve juga bisa disimbolkan sebagai sosok Adam dan Hawa yang membawa awal kehidupan baru bagi umat manusia di bumi. Tidak perlu diragukan lagi, sejauh ini Wall.E merupakan kandidat terkuat peraih Oscar untuk film animasi terbaik tahun depan.

Sungguh sangat disayangkan satu hal yang merusak segala keindahan dalam film ini justru penggunaan dubbing Bahasa Indonesia. Walau nyaris tanpa dialog pada separuh cerita awal namun tidak demikian halnya pada separuh akhir cerita. Dubbing menyebabkan kita (saya setidaknya) tidak bisa �masuk� dalam dialog filmnya, karena terdapat rasa bahasa, intonasi, aksen yang berbeda dalam bahasa aslinya. Kita tidak bisa mendengar suara para aktor yang mengisi suara aslinya. Banyolan-banyolan barat yang terlontar rasanya menjadi aneh, seperti layaknya menonton kartun anak-anak di televisi. Oklah... boleh jadi film ini memang lebih ditujukan untuk anak-anak, but what about us� para pecinta film. Negara ini tidak memiliki tradisi dubbing layaknya beberapa negara di Eropa serta Asia lalu apa lantas penonton tidak memiliki hak untuk memilih. Agak sulit menilai film ini tanpa menggunakan bahasa aslinya, jujur saja, jika sejak awal tahu, saya tidak bakal menonton filmnya. Film ini begitu istimewa, alangkah baiknya jika Anda, para pecinta film, menonton dalam bahasa aslinya. (A)

Senin, 07 Agustus 2000

The X-File Sebuah Romantika Masa Lalu

...
Setelah versi layar lebarnya satu dekade silam, The X-Files (1998), Fox Mulder dan Dana Scully kembali beraksi dalam The X File: I Want to Believe. Kali ini sang creator sendiri, yakni Chris Carter yang mengarahkan filmnya. Film seri televisinya sendiri yang sangat populer juga sudah berakhir beberapa tahun silam. Mulder dan Scully masih dibintangi oleh David Duchovny dan Gillian Anderson. Film juga dibintangi oleh bintang-bintang muda seperti, Amanda Peet, Xzibit, serta Billy Connoly.

Dikisahkan Mulder dan Scully kini telah lama pensiun dari FBI. Mereka berdua tinggal serumah dan hidup tenang di sebuah kota kecil. Suatu ketika mereka berdua dimintai tolong oleh FBI untuk mengungkap kasus seorang agen FBI yang hilang secara misterius. Kasus ini juga melibatkan �teman� lama Mulder, Pendeta Joseph, yang memiliki kemampuan supernatural untuk membantu memecahkan kasus tersebut. Sementara Mulder bernostalgia dalam kenangan masa silamnya, Scully yang kini menjadi dokter bedah memiliki masalahnya sendiri dengan salah satu pasiennya yang tengah sekarat. Ketika pihak FBI mulai menyerah, Mulder tetap bersikeras mengungkap kasusnya. Penyelidikan Mulder membawanya ke sebuah sindikat asing yang melakukan uji coba mengerikan pada organ tubuh manusia.

Siapapun yang suka menonton seri televisinya atau film terdahulu pasti berpikir film ini akan lagi melibatkan makhluk asing (alien). Ternyata dugaan kita salah! Satu-satunya benang merah kasus X-File masa lalu hanyalah pada kemampuan supernatural Pendeta Joseph yang mampu berempati dengan para korban. Tidak seperti film pertamanya, ceritanya pun tidak berlebihan dan bahkan bisa dibilang terlalu sederhana seperti film-film seri televisinya. Namun kesederhanaan justru menjadi nilai lebih filmnya. Pencarian serta penyelidikan yang berimbang antara fakta ilmiah dan metafisik menjadi formula cukup efektif untuk melepas rindu para penggemar The X-File. Penulis naskah sepertinya tidak ingin terlalu terjebak dalam masalah lama Mulder (adiknya diculik Alien) namun secara sederhana hanya ingin mengajak para fans The X-File untuk bernostalgia seperti film-film seri televisinya.

Konflik fisiknya juga berimbang dengan konflik batin terutama Scully. Scully yang setelah sekian lama rupanya masih apatis terhadap hal-hal metafisik. Sikap Scully mulai goyah semenjak terlibat dalam kasus ini dan berdampak pada keputusan mediknya terhadap seorang pasiennya. Hal yang juga tentu menarik para penggemar setia film serinya tentulah hubungan asmara antara Mulder dan Scully. Walaupun dalam filmnya dikisahkan hubungan asmara mereka telah lama terjalin namun pada paruh awal film, sineas sepertinya ingin memberi kejutan pada para fansnya dengan tidak memberikan gambaran secara jelas. Terkait ini di akhir filmnya sineas memberi sebuah kejutan kecil yang tentunya dinanti para penggemarnya. Kejutan lainnya adalah munculnya bos Mulder dan Scully sewaktu mereka masih menjadi agen FBI dulu, yakni Skinner, walaupun hanya muncul beberapa saat.

Tidak seperti film pertamanya film ini sama sekali tidak menggunakan efek visual yang spektakuler. Hal ini pasti banyak mengecewakan penonton masa kini. Titik berat memang lebih pada cerita ketimbang adegan aksinya namun hal ini tidak mengurangi unsur ketegangan dalam filmnya. Satu lagi yang cukup unik adalah musik tema khas The X-File pada end credit yang disajikan lebih nge-�pop� dengan tempo cepat. Secara umum film ini tidak akan menarik bagi penonton masa kini terlebih yang bukan penggemar setia film serinya. Jujur saja, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam film ini. Film ini juga mustahil untuk bisa mengulangi sukses komersil film pertamanya, mungkin akan lain hasilnya jika diproduksi beberapa tahun silam. Namun penggunaan formula cerita lawas, kematangan akting Duchovny dan Anderson (sebagai Mulder dan Scully), serta musik tema yang khas cukup untuk melepas rindu bagi para fans lama The X-File. Satu-satunya yang menganggu mungkin cuma pilihan judul filmnya, �The X-File: I Want to Believe�, setelah sekian lama kapan percayanya? (B)

Kamis, 03 Agustus 2000

The Mummy 3, Not �Here We Go Again��

4 Augt 2008


Satu lagi film unggulan musim panas yang diharapkan mampu mendulang sukses adalah The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor. Film ini merupakan sekuel dari dua film sebelumnya yang sukses luar biasa yakni The Mummy (1999) dan The Mummy Returns (2001). Untuk sekuelnya kali ini diarahkan oleh Rob Cohen, sementara sineas sekaligus penulis naskah dua film sebelumnya Stephen Sommers bertindak sebagai produser. The Mummy 3 nyaris ditinggal semua pemain lamanya dan tinggal menyisakan Brendan Fraser dan John Hannah. Karakter Evelyn yang dulu diperankan Rachel Weisz digantikan oleh Mario Bello. Hanya saja bintang-bintang baru yang tampil kali ini lebih besar dari sebelumnya, yakni Jet Li dan Michelle Yeoh, serta dua bintang muda Luke Ford dan Isabella Leong.



Belasan tahun setelah peristiwa Imhotep (Mummy 2), kehidupan Rick O�Connel (Fraser) dan Evelyn (Bello) terasa hambar karena tidak ada sesuatu yang memotivasi gairah hidup mereka, hingga suatu kali mereka menerima tawaran untuk mengantarkan sebuah artefak berharga ke Cina. Sementara putra mereka Alex, yang kini menjadi arkeolog berhasil menemukan makam bersejarah Raja Han (Jet Li) dan seluruh pasukannya. Di lain tempat Jendral Yang berniat mengembalikan kejayaan kekaisaran Cina dengan menghidupkan kembali Raja Han dengan menggunakan artefak yang dibawa Rick dan Evelyn. Dalam sebuah aksi baku tembak, tanpa sengaja Raja Han akhirnya bangkit kembali dan seperti sebelumnya� here we go again. Rick, Evelyn, Jonathan (Hannah), Alex dengan dibantu Lin (Leong) dan ibunya Zi Juan (Yeoh), harus mencegah rencana jahat Raja Han untuk menguasai dunia.

Sama sekali tidak ada sesuatu yang baru dalam plot The Mummy 3. Film ini hanya menggunakan formula cerita yang sama dengan dua film sebelumnya bahkan digarap lebih buruk. Alur plot tampak sekali begitu dipaksakan tanpa motif yang kuat dan terlalu banyak lubang didalamnya. Sejak sekuen pembuka penggambaran sosok Raja Han rasanya masih kurang meyakinkan dan terlalu minim untuk memberikan background cerita dan karakter. Raja Han dalam film ini seolah tampak seperti sosok yang kurang penting dan berpengaruh. Hal ini jauh berbeda dengan sekuen pembuka dua film sebelumnya (latar kisah Imhotep dan Scorpion King) yang memberikan latar penokohan yang begitu kuat sehingga mampu membuat kita bergidik ketika karakter bersangkutan muncul.

Dalam beberapa adegannya juga tampak banyak kejanggalan. Pada sebuah adegan dikisahkan Han menuju Shangri La untuk dapat menyempurnakan kekuatan magisnya. Aneh sekali, kenapa sejak awal Rick dkk tidak meledakkan saja menara tempat dudukan berlian (untuk menunjukkan lokasi Shangri La). Toh sepertinya tidak ada efek jika menara tersebut dirusak atau dihancurkan. Lebih aneh lagi ketika adegan di Shangri La. Jika mata air �keabadian� memang menjadi kunci kekuatan Han, kenapa mata air tersebut tidak dijaga mati-matian, kenapa Han begitu mudah masuk kesana, kemana makhluk-makhluk salju lucu (yeti) yang sebelumnya muncul. Shangri La dalam sebuah shot digambarkan sebagai suatu wilayah �kota� yang besar tapi aneh kenapa sama sekali tidak tampak penghuninya (masak sih cuma Lin dan ibunya?).

Plot yang begitu buruk merambat pula ke sekuen aksinya. Sekuen-sekuen aksi memesona dan spektakuler penuh efek visual yang terdapat pada dua film sebelumnya sama sekali tidak tampak dalam film ini. Sekuen-sekuen aksinya nyaris semua kurang menggigit, tercatat hanya sekuen aksi kejar-mengejar di kota Shanghay yang boleh dibilang sedikit menghibur, itupun minim efek visual. Gelagat buruk sebenarnya telah tampak pada sekuen pembuka yang sama sekali tidak ada gregetnya dan minim efek visual. Tidak ada pertempuran kolosal dan spektakuler seperti pada sekuen pembuka dua film sebelumnya. Padahal ini akan sangat membantu memperkuat karakter Han sebagai sosok yang ditakuti di seluruh daratan Cina. Penggunaan aktor sekelas Jet Li sepertinya menjanjikan sebuah aksi pertarungan yang seru dan menawan namun kenyataanya tidak. Anda masih ingat laga trisula antara Evelyn dan Anck Su Namun dalam The Mummy Returns. Pertarungan ini rasanya masih jauh lebih baik daripada seluruh pertarungan pedang atau tangan kosong yang ada dalam Mummy 3. Pertarungan klimaks yang mestinya berlangsung seru justru berdurasi begitu singkat. Potensi Jet Li sebagai jago Kung fu sama sekali tidak dioptimalkan. What a waste�

Pencapaian para pemainnya juga sama buruknya. Fraser telah berusaha semaksimal mungkin membentuk karakter Rick O�Connel seperti sebelumnya namun tampak kurang berhasil karena lemahnya hubungan chemistry dengan Evelyn yang diperankan Maria Bello. Bello dengan aksen Inggrisnya sepertinya telah berusaha mati-matian agar mirip dengan karakter Evelyn di dua film sebelumnya namun hasilnya masih jauh dari harapan. Karakter Evelyn yang pada dua film sebelumnya begitu lugu, enerjik, serta intelek sama sekali tidak tampak. Evelyn malah justru tampak sebagai sidekick ketimbang karakter utama karena fungsi perannya yang minim. Satu-satunya peran yang sama kuatnya dengan dua film sebelumnya adalah karakter Jonathan yang diperankan Hannah dengan joke-jokenya khas yang mampu mengundang gelak tawa. Seperti ketika Raja Han mematikan api pada dinamit dengan ilmu magisnya, ia mengeluh, �saya benci mumi.. mereka tidak pernah sportif�. Seperti halnya Jet Li, tidak ada yang istimewa dari para pemain lainnya, termasuk Yeoh serta Ford. Sedangkan aktris muda cantik Isabella Leong lebih hanya sekedar pemanis belaka.

Mummy 3 dilihat dari aspek manapun sangat mengecewakan dan sangat jauh jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Ada sesuatu yang hilang dalam film ini, entah sentuhan Sommers, naskah yang buruk, absennya Weisz, entah minimnya efek visual, (bujet?) atau bisa jadi kombinasi semuanya. Jika berharap film ini sukses komersil seperti dua film sebelumnya rasanya mustahil. Mummy 3 sejauh ini merupakan film unggulan musim panas terburuk yang dirilis tahun ini. Peluang �Mummy 4�? Lebih baik judulnya diubah menjadi �Imhotep� (nama bar milik Jonathan), �semoga dia mati jangan hidup lagi�, guraunya. (D+).