Kamis, 01 Mei 2008

Get Married di Tengah Serbuan Hantu

Ditengah serbuan �hantu-hantu� di bioskop-bioskop kita, Get Married datang memberikan nuansa cerah dan menghibur dengan tema komedi percintaan. Sang sutradara, Hanung Bramantyo mampu membawakan filmnya sesuai dengan realita sosial yang ada di tengah kita. Hasilnya film ini cukup mendapat sambutan hangat dan terbukti belum genap satu bulan pemutarannya, Get Married sudah ditonton lebih dari 700 ribu orang.

Get Married dibintangi Nirina Zubir yang berperan sebagai cewek tomboy bernama May serta ketiga sahabatnya sejak kecil, yakni Beni (Ringgo Agus Rahman), Guntoro (Desta Club Eighties), Eman (Aming). Mereka berempat adalah pemuda-pemudi pengangguran di pinggir kota Jakarta yang putus asa karena tidak mampu meraih apa yang mereka cita-citakan. Suatu ketika orang tua May, Pak Mardi (Jaja Mihardja) dan Istrinya (Meriam Bellina) ingin mencarikan jodoh untuk putrinya. Satu per satu calon datang untuk memperkenalkan diri namun tidak ada yang berkenan di hati May, kecuali seorang pemuda kaya bernama Randy. Namun karena kesalahpahaman Randy malah menjadi korban keroyokan teman-teman May. Mendadak ibu May sakit dan segera menginginkan putrinya untuk menikah. Karena belum mendapat calon juga maka May terpaksa memilih Beni. Saat pernikahan, Randy bersama kelompoknya menyerbu kampung bersama geng motornya. Pernikahan batal dan May pun ikut tawuran bersama warga lainnya. Ditengah situasi panas, Randy bertemu May dan mereka akhirnya sepakat menikah.

Terlepas dari adegan-adegan aksi serta dialog konyol yang mengundang tawa, cerita film ini sedikit memiliki kejanggalan. Kejanggalan pertama adalah perubahan sikap Beni, Guntoro, dan Eman terhadap May. Di awal cerita mereka bertiga berusaha merebut perhatian May saat ia sedang dirawat di rumah sakit serta saat perkelahian mereka dengan seorang pemuda bertubuh kekar. Namun justru ketika May menawarkan siapa yang ingin menjadi calonnya mereka malah berubah sikap. Sesaat sebelum pernikahan Beni sempat berujar, �Gara-gara Guntoro sama Eman sakit, jadinya gua yang ketiban sial. (menikahi May)�. Dalam cerita tak tergambar dengan jelas alasan perubahan sikap mereka, apakah atas dasar setia kawan, atau lainnya. Kejanggalan kedua terkait dengan Randy yang serta merta menyambani May hanya karena ia bosan dengan para wanita yang mengejarnya. Dan tanpa diduga May pun ternyata menyukai pemuda yang baru saja ditemuinya tersebut. Juga Randy yang konon selama ini studi di Amerika ternyata memiliki rekan-rekan pemuda kompleks (perumahan elit) yang suka tawuran dan begitu solid layaknya pemuda kampung.

Terlepas dari segala kelemahan tersebut, film ini mampu mengetengahkan realita sosial kita dengan kemasan yang lebih segar dari film-film kita sebelumnya. Film ini banyak memotret kondisi sosial masyarakat bawah ibukota yakni, masalah pengangguran, populasi penduduk, korupsi, kesenjangan ekonomi, budaya tidak tepat waktu, serta budaya hukum rimba yang selalu bertindak tanpa dipikir. Setidaknya film ini dapat menjadi cermin bagi kita agar lebih menyadari betapa buruknya moral bangsa kita. Untuk sebuah film komedi, Get Married cukup berhasil menghibur para pecinta sinema Indonesia, khususnya kalangan remaja.

Viantari

Film Bagus

Menilai sebuah film sebagai film yang bagus bukan hal yang mudah, walau sudah jamak frasa ini diucapkan atau ditulis dalam sebuah kritik film atau sekedar resensi. Seseorang bisa berkata bahwa film Opera Jawa itu bagus sedangkan seorang yang lain malah berkata sebaliknya.

Film seperti L�avventura atau The Rules of the Game pada awal pemunculannya dicemooh oleh penonton namun bertahun-tahun kemudian film tersebut mendapat apresiasi yang luar biasa. Sepertinya sebuah film dikategorikan bagus semata hanyalah penilaian subyektifitas. Apakah memang demikian? Apa benar subyektifitaslah sebagai pemegang otoritas nilai? Seperti yang pernah diucapkan oleh chief editor sebuah majalah film beroplah besar di Indonesia, menurutnya kritik film yang disampaikan majalah mereka merupakan sebuah penilaian olah subyektif, masing-masing memiliki penilaian sendiri sehingga pembaca jangan sampai terlalu bersandar pada penilaian mereka tapi hanya sebagai panduan saja.
Pernyataan chief editor di atas bagi saya adalah sebuah penghinaan pada karya seni film, sekaligus memperlihatkan kapasitas tim redaksi majalah itu sendiri. Subyektifitas sebagai apologi yang konyol.

Dalam suara Barthes pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dibahasakan seperti ini : sutradara (auteur) telah mati setelah karya selesai. Tapi apakah dengan demikian maksud Barthes adalah pembaca (penonton) boleh semena-semena dalam mengkritisi sebuah karya film?

Film sebenarnya seni yang dinamis karena mempunyai alat kreasi yang beragam. Ada yang termasuk di dalam formnya dan ada juga yang termasuk dalam style. Dengan demikian film memiliki standar dan karakter yang dapat dinilai secara obyektif dan bisa dipertanggung jawabkan.

Contoh menarik tentang subyektifitas ada dalam film Blow Up karya Michelangelo Antonioni, yaitu ketika kenyataan (realitas) dihadapkan dengan penilaian subyektif. Si tokoh utama yang tak bernama itu meyakini bahwa dirinya telah melihat pembunuhan lewat foto. Si tokoh utama bahkan kembali ke tempat kejadian untuk meyakinkan dirinya bahwa di tempat itu benar terjadi pembunuhan, dan dia menemukan mayat di taman itu. Tapi anehnya dia masih membutuhkan temannya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa pembunuhan itu terjadi. Sampai akhirnya dia kembali lagi ke taman itu dan tidak menemukan mayatnya. Si tokoh utama malah bertemu dengan kelompok anarkis yang sedang bermain tenis lapangan tanpa bola dan raket (atau dengan bola dan raket?). Pertemuan itu menjadi kunci pemahaman film Blow Up. Si tokoh utama mengalami pencerahan. Jelas bahwa realitas tidak terdapat di pundak individu. Realitas membutuhkan afirmasi, karenanya dia tidak bisa subyektif. Realitas butuh ukuran komunitas.

Blow Up di sini juga memperlihatkan bahwa film dapat berkomunikasi dengan penonton dan bukannya sebaliknya, penonton sebagai dokter bedah yang bisa berlaku sewenang-wenang terhadap film. Seolah film adalah karya yang pasif, yang menyerah di mata penoton. Blow Up secara konsisten mengkomunikasikan idenya baik lewat form maupun style.

Melalui ukuran obyektif dalam menilai sebuah film, bukannya tidak mungkin akan terjadi perbedaan. Perbedaan penilaian itu pasti terjadi. Namun karena obyektifitas adalah sesuatu yang bisa diukur, maka masing-masing bisa ikut mengukurnya dan dengan lantang bisa menantang bahwa film itu bagus atau buruk. Obyektifitas merupakan ring tinju yang kedua petinjunya bertarung dengan aturan yang sama.

Sebaliknya seruan subyektifitas tanpa disadari telah berperan dalam pembodohan masyarakat, sehingga film punjabian merajalela. Penonton diserang tanpa punya pertahanan. Film buruk kembali diproduksi dan penonton seolah tidak bisa berkata tidak. Disinilah kritikus film berperan untuk mengkritisi film secara obyektif karena siapa tahu ini merupakan sebuah langkah lain untuk menghasilkan film bagus di Indonesia.

Homer Harianja

Denias versus �Goliath�

Pada pertengahan tahun ini Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) mengundang 95 negara untuk ikut berkompetisi ajang Academy Award yang ke-80 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik (Best Foreign Languange Film). Pada bulan Oktober lalu AMPAS mengumumkan ada 63 negara (film) yang telah diterima untuk bisa bersaing dalam ketegori tersebut. Negara kita diwakili oleh peraih film terbaik Festival Film Indonesia tahun lalu, yaitu Denias, Senandung di Atas Awan. Keputusan untuk memilih film ini ditetapkan oleh Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). PPFI adalah lembaga yang ditunjuk resmi oleh AMPAS untuk memilih satu film kita untuk dikirim ke ajang bergengsi tersebut. PPFI membentuk sebuah komite seleksi yang beranggotakan 18 orang, terdiri dari wartawan, produser, sineas, dan praktisi yang masing-masing telah berpengalaman di bidangnya. Beberapa anggotanya antara lain, Garin Nugroho, Leila Chudori, Shanty Harmain, Firman Bintang, dan Raam Punjabi.



Awalnya komite tersebut menyeleksi 40 film hingga akhirnya dipersempit lagi menjadi tiga film, yakni Denias, The Photograph, dan Opera Jawa. Setelah diputuskan melalui voting, Denias akhirnya menang mutlak. Sepuluh anggota komite memilih Denias, dua abstain, dan sisanya memilih dua film lainnya. Denias dianggap komite seleksi memiliki kelebihan dari dua film lainnya karena mengandung muatan lokal yang kuat (budaya Papua), tata fotografi serta dramaturgi yang menarik. Tidak dijelaskan secara rinci bagaimana Denias bisa lebih unggul dari kedua kompetitornya yang jauh lebih superior. Kita ambil contoh Opera Jawa. Tidak perlu kita bicara masalah tema (muatan lokal) atau estetik. Opera Jawa jelas telah mendapatkan banyak pujian dari kritikus asing karena pencapaian estetiknya yang unik. Film ini juga telah mendapatkan nominasi film terbaik di salah satu ajang festival film terbesar di Asia. Apa kriteria ini saja belum cukup.


Ikut serta dalam ajang sekelas Academy Awards bukan hal main-main. Orang-orang yang terlibat dalam ajang ini adalah para pelaku industri film dunia yang sungguh-sungguh mengerti tentang film. Kami pikir sudah sewajarnya jika kita menggunakan tolak ukur mereka dan bukan tolak ukur kita jika ingin berprestasi di ajang tersebut. Muatan budaya dalam ajang Oscar sudah tidak menjadi tolak ukur lagi. Muatan sosial serta politis yang kuat jauh lebih berpeluang untuk mendapatkan nominasi. Opera Jawa memiliki tema yang universal namun film ini dikemas dengan cara yang istimewa. Hal ini juga telah diakui beberapa kritikus asing. Tanpa mengesampingkan Denias (serta The Photograph), setidaknya Opera Jawa kami anggap lebih berpeluang mendapatkan nominasi Oscar.


Lebih jauh kami mengamati siapa saja pesaing Denias dalam ajang bergengsi ini. Dari 63 judul film yang akan bersaing di ajang tersebut tercatat lima karya sineas besar yang juga masuk dalam daftar. Kelima sineas besar tersebut pernah mendapatkan piala Oscar sebelumnya. Empat diantaranya bahkan telah meraih piala Oscar untuk Best Foreign Language. Keempat sineas besar tersebut adalah Giuseppe Tornatore (Italia), Denys Arcand (Canada), Jiri Menzel (Republik Ceska), serta Nikita Mikhalkov (Rusia). Satu orang lagi adalah sineas kawakan, Andrzej Wajda (Polandia) dengan filmnya berjudul Katyn yang konon telah ditunggu banyak pengamat film. Juga terdapat tiga sineas selain mereka berlima yang film-film mereka pernah dinominasikan dalam kategori yang sama. Nama besar memang bukan jaminan sebuah film dianggap berkualitas. Lantas bagaimana menurut anda peluang Denias? 


Himawan Pratista

Adaptasi Novel ke Film


Ketika saya melanjutkan perjalanan backpacker menuju ke bagian timur negara Perancis, tepatnya di kota Annecy, region dari Rhone Alpes. Dalam sebuah mobil tua Pugeot warna biru usang yang berhasil saya tumpangi dari kota Lyon (baca: ngoboy), dengan seorang pria separuh baya berumur 40 an dan seorang anaknya Jean yang berusia 15 tahun. Sepanjang perjalanan perhatian saya tak lepas dari keingintahuan saya akan novel yang dibaca Jean, yang lama terpekur menghayati kedalaman ceritanya. Les Trois Mousquetaires judulnya, karya Alexandre Dumas atau lebih dikenal dengan sebutan The Three Musketeers, yang pada tahun 1993 diangkat dalam sebuah Film dengan hasil yang sungguh mengecewakan. Pria separuh baya yang duduk di belakang kemudi itu juga sependapat dengan saya, sebagai pecinta D'Artagnan Romances ia kecewa sekali ketika usai menonton film tersebut, banyak sekali plot cerita yang berubah, contohnya tak ada misi D'Artagnan ke Inggris yang merupakan bagian penting dari novel itu.

Saya mencoba mengamati tentang apa yang dinamakan dengan adaptasi novel atas film.Entah berapa novel yang telah diadaptasi menjadi Film, sebutlah karya Mario Puzo dengan Godfather 1, 2, 3-nya, Ernest Hemingway dengan The Old Man and the Sea-nya, sampai Tolkien dengan trilogi Lord of the Ring.

Mencermati proses ekranisasi tersebut sungguhlah bukan pekerjaan yang mudah, ketika novel sebagai �dunia kata� yang diinterpretasikan dalam khayalan pembaca, ditransformasikan menjadi media audio visual yang dibangun oleh para pekerja film yang juga memiliki interpretasi sendiri. Disinilah kepiawaian pekerja film diuji. Karena secara harafiah, konteks yang diimajikan pada tataran film tentu tidak akan berbeda jauh dengan imaji sang penulis novel itu sendiri, para pekerja film akan berada pada sekat ruang berekpresi sehingga terjadilah apa yang dinamakan block creativity. Disinilah para pekerja film dituntut untuk lebih mengekplorasi kedalaman novel yang berlapis-lapis sehingga dapat mencapai tingkatan filmis yang mencitra tinggi.

Tidak heran bila J. K. Rowling pernah mengatakan tidak akan menjual hak patennya novelnya untuk dijadikan sebuah film, mengingat hal tersebut di atas. Dalam sejarah sinema Indonesia banyak mencatat karya novel yang difilmkan, sebutlah karya Achdiat Kartamihardja dengan Atheis, ataupun Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis oleh Ahmad Tohari.

Pada masa kebangkitan sinema Indonesia, diawali oleh novel karya Remy syladoy yang berjudul Ca Bau Kan, juga tak lepas diadaptasi oleh sineas Nia Dinata. Kini kecenderungan mengadaptasi novel ke dalam sinema sungguh-sungguh mengalami peningkatan intensitas. Sayang kecenderungan membuat film yang berdasarkan novel tersebut hanya berdasar pada permintaan pasar semata sehingga tidak memperhatikan kualitas. Dalam hal ini kita dapat melihat kecenderungan tersebut melalui beberapa aspek:

a. Film tersebut dibuat berdasarkan novel yang terjual laris (best seller), yang diharapkan dapat ikut memacu apresiasi film tersebut, contohnya: Eifel I�m in Love diangkat dari novel karya Rahma Arunita yang filmnya mampu menyedot penonton terbanyak yaitu 4 juta penonton, akhirnya budaya latah pun terjadi, para pekerja film berduyun-duyun mengekranisasi novel-novel, khususnya novel remaja, yang pada akhirnya memasifkan sinema pada konten yang serupa.

b. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pekerja film kita, betapa sulitnya mencari naskah-naskah yang baik untuk menghasilkan kualitas film yang baik pula, tidak heran jika film berkelas festival jarang sekali lahir dari tangan sineas kita karena minimnya kreator-kreator naskah yang handal. Sementara pasar menginginkan karya-karya tanah air. Akhirnya produser film memilih jalan aman demi memenuhi tuntutan pasar (baca: mengeruk keuntungan) dengan jalan mengekranisasi novel-novel remaja.


Dalam poin awal (1) sudah menjadi hal yang biasa, bahkan di Hollywood sekalipun novel laris seringkali diangkat dalam sebuah film. Tak jarang dalam prosesnya mengalami banyak kegagalan visualisasi yang tak serupa atau melebihi imajinasi kata dalam novelnya. Sebutlah The Da Vinci Code, tahun lalu dalam Cannes Film Festival dimana film yang diangkat dari novel laris karya Dan Brown tersebut, yang didaulat sebagai film screening opening banyak mendapat cemooh para penontonnya, itu yang saya dengar dari panitia perhelatan tersebut. Disinilah pembuatan film berdasar atas novel laris acapkali bagai pedang dengan sisi tajam bermata dua.


Saya sedikit was-was bercampur gembira ketika mendengar novel favorit saya, Laskar Pelangi akan segera difilmkan oleh Riri Riza dalam bendera Miles Production berkerja sama dengan penerbit Mizan. Novel pertama dalam tetralogi Andrea Hirata tersebut memiliki pendekatan yang bertabur metafora yang cerdas, saya penasaran pendekatan visualisasi apa yang akan dipakai nanti? Novel fenomenal lainnya yang dalam waktu dekat akan difilmkan adalah Ayat-Ayat Cinta yang akan dibesut oleh sutradara Hanung Bramantyo.


Sedang dalam poin ke dua saya melihat kecenderungan yang terjadi dalam sinema kita yang mengadaptasi novel ke dalam film tak lepas dari minimnya kreator skenario yang handal. Memang tidak ada yang salah dalam proses sebuah adaptasi dalam sinema kita, hanya saja permasalahannya novel tersebut memiliki karakteristik yang serupa dengan kebanyakan novel-novel cinta remaja (baca: teenlit) padahal mutu novel-novel kita juga tak kalah mentereng, sebutlah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer atau Saman karya Ayu Utami, yang entah sudah berapa kali naik cetak. Jika berbicara tentang masalah pasar dan strategi-strateginya dalam dunia bisnis tentulah pertaruhan yang berat dalam adaptasi novel tersebut, selain segmented juga perlu kalkulasi royalti penulis atas hak kekayaan dan intelektual mereka yang harus dikeluakan, sayangnya produser kita belum berani berada pada pertaruhan itu karena mereka punya �Tuhan� yang bernama Cash Flow.

Tak terasa perjalanan saya berakhir, saya menginjakkan kaki di kota indah di selatan Perancis. Kota yang dikelilingi pegunungan dan danau jernih di tengah kota, kala itu matahari yang hampir jatuh di balik gunung masih memantulkan cahaya-cahaya kristal ke danau Lac d� Annecy. Angin lembab yang bertiup menambah keanggunan wanita setengah baya dengan anjing Golden Retriever-nya duduk di bangku pinggir danau, seolah bercakap sarat makna. Nah, adakah yang mampu memfilmiskan memvisualisasikan keindahan di mata saya?

Andrei Budiman

The Trap - What Happened to Our Dreams of Freedom


YouTube really is a great medium in which to rewatch Adam Curtis 2007 masterpiece �The Trap�. You know the way that Youtube stops and starts every 3 or 4 seconds as it buffers? And how annoying this usually is? Well, it is still annoying when you want to watch the whole film so that you can write an article about it by the following day, but one thing that the inconvenience does illustrate is the huge number of images that Curtis packs into his films. Often you get to see two or three wildly different images before that rotating flower tells you YouTube is doing its work again. The overload of information contained in the images and the confusing effect that they can have, mirrors how I feel through every day contact with the modern world. In a world where seemingly limitless information is available at the touch of a button, we remain confused and ignorant of it�s relevance to a larger vision.
..
The film is an entertaining and yet incredibly dense, investigation into the dangers of over-simplifying a complex, multi-dimensional world. The world Curtis describes is familiar one; a huge system in which absolute knowledge is impossible, yet individuals and governments continue to presume that they have found the patterns in the chaos that will allow them to predict and influence the future for humans everywhere. The most destructive form this simplification takes in Curtis� film, is an excessive trust in the infallibility of �numbers� as measure and predictors of human behaviour. This obsession with the power of numbers is �The Trap� of the film�s title. The film investigates thoughts, movements and influences from across a broad spectrum of academic pursuits, within some 60 years of history and from around the entire globe.

You can imagine the complexity of the resulting story. These thoughts are often non-linear in their relationships to each other, and thereby not very conducive to the simple, linearity of time favoured by many filmmakers and especially those less sophisticated documentary makers intent on presenting information in its most unambiguous state. Part of Curtis� genius in being able to communicate these complex ideas through the medium of documentary film, is that he is able to guide his audience where he wants by borrowing liberally from other branches of film and communication.

There were some rules devised by a chap called Aristotle in the fourth century BC, and noted down in a book called Poetics, concerning the theory of drama. In this book Aristotle noted that the effect of drama is felt most strongly when the audience identifies with the characters, and the way that they engage with a struggle culminating in an understanding of an earlier mistake that they have made (hamartia in the original Greek). Most often occurring because of human imperfection and arrogance this error will, in spite of their eventual realisation (anagnorosis), sadness and remorse (pathos) inevitably lead to a reversal of fortunes and the downfall (peripeteia) of the main actor in the tragedy (protagonist).

Curtis� film almost perfectly follows Aristotle�s model, thereby creating a story of a �real tragedy�. His primary audience is the population of Great Britain, but it can be extended to include everyone on the planet, as we have all become enmeshed in the system of globalisation. The audience is thus exactly the same ignorant protagonist in the tragedy. We were helpless at the time, existing in the context of imperfect knowledge articulated by far removed governments and intellectuals. It is impossible to create a protagonist that the audience can identify and sympathise with more than that same audience themselves. We know how easy it was to fall into this particular trap. We know how it was to exist believing what we thought to be the truth, until we began watching the film (I certainly believed that psychiatrists were knowledgeable professionals and our policemen are more effective when they�re rewarded for their work) and as such, we feel sorry for ourselves as the victim of the tragedy. It is only when divine knowledge (in the form of Curtis� expose) illuminates the reality of where we are, of what we have done in the name of misguided beliefs, that we realise the full horror and tragedy of the situation.

If you look at horror movies, I�ll bet that you find yourselves getting more scared by the monsters that could exist within your everyday life. Those ones that send you to bed thinking that there really could be a psychopath in the cupboard or that the TV could be possessed. Using these techniques is something that Curtis latches onto again and again throughout his films. By placing the images of the everyday that are recognizable to all, illuminated within a different light (in this case the context of the tragedy Curtis� story is unraveling for us); Curtis is able to encourage a sense of fear and horror within the audience.

But Curtis� skills are not only as a merchant of fear, he also uses moments of comedy or sadness with equal flair, even that strange dreamlike state, a combination of knowledge and confusion, in which unconnected images seem to make sense in spite of the absence of a logical link between them. He is a masterful filmmaker, and whilst some of Curtis� image and music choices may seem non-sensical, each is selected and edited into the film with the utmost care. Their use may be to create an atmosphere, or emotion in the viewer merely through their suggestive power. His sophisticated uses of images of the mundane and the everyday, illustrate not only his keen eye as an artist but also the depth in which he understands the fears, vanities and ideals of his audience. Through the use of this knowledge he is able to provide us not only with a fascinating source of information, a deep and adult investigation into a topic that affects us all without our knowledge, but also a dramatic and entertaining viewing experience.

Curtis� skill as a filmmaker and his ability to use his audience�s familiarity with the styles and forms of western culture allow him to communicate, not merely using spoken language (which for the sake of argument, here I will consider to be fairly neutral) but also to influence and guide our thoughts by using images and music. This is the role that we are often happy to assign to the artist, illuminating our world by providing a new and unique perspective, a way of seeing and communicating that is unfamiliar to the rest of us. But considering the subject matter of Curtis�s film, there is an added level of irony in this position. Just as science, economics, politics and the public blinded themselves and each other through acceptance of what appeared to be the reality of everyday, so the process is repeated when we unthinkingly buy into the collective conceptions of images and their meanings, upon which much of the power of Curtis� work relies. So even in �reading� Curtis� films we are perpetuating many of the same faults that have brought us into the tragedy. Yet the tragedy Curtis shows to Britain is not a horror of ultimate proportions, the UK has not fallen into a Balkan style civil war, we haven�t become the theological island of Iran and not quite the paranoid monster that is the USA. So you may look at the situation and consider it unavoidable, it happened and will happen again, so why worry about it?

But in reaching this point, we have compromised some of the things that we that we most treasure. Or at least the things that we tell ourselves we most treasure. At various points in the films, Curtis mentions how much we say we value individualism, yet this ideal is in opposition to many of the other ideals we hold for ourselves. In my opinion, it is the confusion that arises from these contradictions that show the value of Curtis� work to his audience. The film is a great dramatic story, yet its real triumph is that it encourages all those who watch and enjoy it to start questioning the axiomatic principles of their lives. By extension the engaged viewer is led to a questioning of everything that uses these principles as a foundation, and this is surely intellectual investigation in its purest form.

The range of sources quoted in Curtis� films begins to suggest to us how important holistic knowledge is if we are to even begin to explain things in our complex world. The film acts as a call to action for the audience by showing that intellectuals are humans too and (I certainly agree with Aristotle on this point), humans make mistakes. So Intellectuals are not infallible and nor do they hold a monopoly on truth or its explanation. Questioning of the world is shown to be something not just for academics and those whose role it is to be a big thinker, but rather it is for everybody to explore. People with different histories, different training, and different ideas need to contribute them to a global discussion. So although he never explicitly says it, I believe Curtis� film holds the message that to save the world from further disaster, we don�t need to wear bright red tights or have super human strength. We just need to get engaged with the world, start thinking and questioning even those things that seem so clear. But most of all we just need to not believe �Them� when �They� tell us �They are� right. Whoever, �They� are, they might be wrong, they might be right, mostly likely they hold a little bit of both. But we all have to work together towards understanding the world and to start believing something I consider to be true, that �Nobody is smarter than all of us�.


Charlie Sutherland 
from Newcastle for Montase Readers