Senin, 18 September 2000

Prince of Persia: The Sands of Time, Bermain-main dengan Waktu

30 Mei 2010,
Prince of Persia: The Sands of Time merupakan film adaptasi yang diadaptasi dari game populer berjudul sama. Film ini digarap oleh Mike Newell yang sebelumnya pernah menggarap salah satu seri sukses, yakni Harry Potter and The Goblets of Fire (2005). Produser ternama Jerry Bruckheimer mencoba berjudi dengan seri petualangan baru setelah sukses seri Pirates of the Carribean. Film ini dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Genma Arterton, Ben Kingsley, serta Alfred Molina.

Dastan (Gyllenhaal) adalah seorang pangeran negeri Persia yang diadopsi oleh raja Persia setelah ia menunjukkan semangat dan keberaniannya semasa ia kecil. Tanpa sepengahuan sang raja, dua saudara Dastan atas desakan paman mereka, Nizam (Kingsley) berniat menyerang kota suci Alamut yang konon tak terkalahkan. Dastan yang semula ragu akhirnya membantu dua saudaranya dan bahkan membantu meraih kemenangan. Tanpa sengaja Dastan mendapatkan sebuah belati aneh yang ternyata memiliki kekuatan maha besar. Tanpa diduga ternyata belati ini menimbulkan masalah demi masalah bagi Dastan. Ia dituduh membunuh raja Persia dan menjadi buron. Bersama putri kota Alamut, Tamina (Arterton), Dastan berusaha mencegah terjadinya malapetaka yang lebih besar.
..

Dibandingkan dengan film-film adaptasi game lainnya, Prince of Persia terbilang yang paling serius, sebut saja seperti seri Resident Evil, Alien vs Predator, Silent Hill, hingga Max Payne. Film ini diproduksi dengan bujet lebih $150 juta dengan menggunakan efek visual, setting dan kostum wah, seperti lazimnya film-film besar musim panas lainnya. Kolaborasi produser kawakan, Jerry Bruckheimer serta sineas sekelas Mike Newell tentunya kita boleh berharap sesuatu yang berbeda dalam film ini.

Satu masalah besar dalam cerita filmnya adalah masalah �waktu�. Satu kelemahan jika cerita bermain-main dengan unsur waktu adalah plot yang mudah ditebak. Sudah terlalu banyak film yang bermain dengan plot sejenis dan film ini sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang berbeda. Karakter-karakter penting mendadak �dihilangkan� dengan cara sepele. Peristiwa demi peristiwa mengalir dengan cepat tanpa istirahat dan kadang tanpa penjelasan yang memadai. Semuanya mengarah ke sebuah penyelesaian cerita yang �sepele�, dan nyatanya benar. Dari sisi cerita juga ada yang aneh dan lucu. Nizam berniat menggunakan belati �waktu� untuk menguasai dunia. Sementara Dastan dan Tamina berusaha mencegah Nizam karena belati �waktu� tersebut akan memicu kiamat. Bagaimana pun hasilnya Nizam tua yang malang tak akan bisa menguasai dunia. Sudah sejak awal penonton yang cermat telah mengetahui hasil akhirnya.

Di luar masalah cerita, Prince of Persia adalah film yang menghibur. Sekuen-sekuen aksinya tersaji dengan seru dan menarik, sedikit berbeda dengan film-film fantasi petualangan lainnya. Seperti dalam game-nya, Dastan seringkali menyajikan aksi-aski akrobatik (mirip Parkour) yang atraktif dan mengesankan serta lincah; berlompatan dari gedung ke gedung, berayun diantara tiang, dan lainnya. Satu perkelahian apik tercatat ketika Dastan bertarung melawan satu pendekar Hasassin yang menggunakan cambuk. Sebuah aksi pertarungan yang disajikan dengan begitu dinamis, atraktif, dan orisinil. Sementara sekuen-sekuen aksi besar yang menggunakan rekayasa digital seperti pada sekuen klimaks justru tercatat biasa-biasa saja. Film ini sepertinya justru jauh lebih menarik jika lebih diperbanyak perkelahian satu lawan satu ketimbang sekuen-sekuen aksi besar yang menggunakan efek visual. Satu nilai lebih lainnya adalah sisipan unsur komedinya yang cukup segar. Satu karakter yang menarik perhatian adalah Shiek Amar yang diperankan Alfred Molina si pemilik balapan unta. Sementara Gyllenhaal dan Arterton bermain kompak dan memiliki chemistry yang cukup untuk mendukung cerita filmnya.

Prince of Persia secara umum adalah film yang sangat menghibur penonton kebanyakan. Masih meragukan apakah fans game-nya juga akan menyukai filmnya. Dari sisi sang produser, film ini jelas jauh dibandingkan pencapaian seri Pirates of the Carribean. Dari sisi sang sineas, film ini jelas sangat jauh jika dibandingkan pencapaian Harry Potter and The Goblet of Fire. Kemungkinan sekuel? Jawabnya ya walau rasanya tidak mungkin film ini sukses komersil seperti seri Pirates. Rupanya kita masih menanti film adaptasi game lainnya yang bermutu tinggi. (C)

Robin Hood, Menawarkan Awal Sebuah Legenda

12 Mei 2010,
Robin Hood merupakan film epik sejarah garapan sineas top Ridley Scott yang seperti kita tahu telah memproduksi film-film kolosal berkualitas tinggi, seperti Gladiator dan Kingdom of Heaven. Untuk filmnya kali ini, Scott kembali mengkasting aktor favoritnya, Russel Crowe didampingi oleh Cate Blanchett, William Hurt, serta aktor gaek Max Von Sydow.

Robin Longstride (Crowe) adalah seorang prajurit pemanah biasa yang ikut bertempur di Perancis bersama sang raja, King Richard, The Lion Heart. Ketika sang raja tewas, Robin bersama rekan-rekannya memutuskan untuk kembali ke Inggris. Di tengah perjalanan, Robin tak sengaja menolong para ksatria Inggris yang membawa mahkota sang raja yang disergap oleh pihak musuh namun mereka terlambat. Robin dan kawan-kawannya lalu memutuskan untuk menyamar sebagai para ksatria tersebut dengan misi sederhana untuk bisa pulang ke tanah Inggris dengan lebih mudah. Sesampainya disana ternyata segalanya tidak seperti yang ia bayangkan. Tanpa disadari Robin semakin terseret ke dalam masalah yang lebih besar yang kelak akan mengubah jalan hidupnya.
..

Seperti dua film epik sejarah garapan sebelumnya, Scott masih pula menampilkan kisah heroik seorang �biasa� yang menjelma menjadi seorang pahlawan besar. Sisi baik dan buruk diperlihatkan secara jelas dan tegas. Durasi cerita yang relatif panjang juga membuat sineas mampu menuturkan kisahnya dengan rinci dari sudut beberapa karakter yang berbeda. Hanya berbeda dengan dua film epik sejarah sebelumnya, Robin Hood mampu menawarkan sebuah perspektif cerita yang berbeda. Sejak era klasik, film-film yang berkisah tentang Robin Hood selalu berkisah tentang sepak terjang bagaimana sang pahlawan membantu kaum papa dengan mencuri dari si kaya. Sementara kisah Robin Hood kali ini adalah latar belakang sang tokoh sebelum ia menjadi legenda.

Berbeda dengan Gladiator dan Kingdom, tempo film ini cenderung lambat dan membosankan. Sudut pandang dari banyak karakter justru terkadang membuat cerita tak jelas karena tujuan pokoknya sendiri pun masih kabur. Plot seringkali berubah arah secara mendadak dan pihak �jahat� pun dibuat kabur antara pihak kerajaan Inggris ataukah kerajaan Perancis. Walaupun akhirnya semua pertanyaan terjawab namun tampak sekali sosok Robin terlalu �dipaksakan� untuk menjadi seorang pahlawan besar. Berbeda dengan dua film sebelumnya dimana sang tokoh menjadi pahlawan karena memang situasi yang memaksa mereka untuk bertindak.

Dibandingkan Gladiator dan khususnya Kingdom yang memiliki segmen perang berskala besar, Robin Hood memilih pendekatan yang lebih realistik. Rekayasa digital tampak minim digunakan dengan lebih banyak memperlihatkan pertarungan satu lawan satu. Walau tidak seheboh dan seramai dua film sebelumnya namun kepiawaian Scott dalam mengolah adegan-adegan aksi perang masih terlihat terutama pada segmen klimaks di pantai. Bukan masalah besar kecilnya pertempuran namun rasanya motif naratif yang lemah membuat emosi kita tidak bisa larut dalam pertempuran.

Robin Hood jelas bukan tandingan Gladiator atau Kingdom dari sisi mana pun. Adegan perang kolosal jelas kalah kelas jika dibandingkan dua film sebelumnya. Performa Crowe pun juga tidak banyak membantu terutama karena aksen Inggris yang lemah serta sosok Robin yang lebih mirip Maximus (Gladiator). Nilai lebih film ini hanyalah menawarkan perspektif cerita yang berbeda serta menyajikan panorama alam Inggris Raya nan Indah. Sekuen penutup filmnya yang manis juga sedikit menyelamatkan film ini. �Rise rise rise��. This movie will not rise for sure. (B-)

Iron Man 2, Sekuel yang Membosankan

30 April 2010,
Iron Man 2 adalah salah satu film unggulan musim panas tahun ini yang merupakan sekuel dari film pertamanya, Iron Man yang sukses besar di tahun 2008. Film superhero ini masih digarap sineas yang sama yakni John Favreau. Sekuel kedua ini juga masih dibintangi beberapa bintang terdahulu, yakni Robert Downey Jr. dan Gwyneth Paltrow. Karakter Jenderal Rhodes kini diganti oleh aktor Don Cheadle. Bintang-bintang ternama lain yang baru tampil yakni, Mickey Rourke, Samuel L. Jackson, Sam Rockwell, serta Scarlett Johannson.

Kisah filmnya dimulai sekitar enam bulan setelah cerita film pertamanya. Sosok Iron Man yang tanpa tanding dikisahkan menjadi simbol pemersatu dan penjaga perdamaian dunia. Namun Stark mendapat tekanan dari pesaing bisnisnya, Justin Hammer (Rockwell) serta pemerintah AS yang menganggap Iron Man sebagai senjata berbahaya. Di lain pihak arc reactor yang menjadi �nyawa� Tony Stark (Downey Jr.) ternyata memiliki efek samping, yakni meracuni darahnya yang lambat laun mengancam jiwanya. Masalah demi masalah membuat Stark frustasi dan ia mulai bertindak semaunya sendiri yang membuat prihatin dua teman dekatnya, Pepper (Paltrow) dan Rhodes (Cheadle). Di lain tempat, Ivan Vanko (Rourke), putra dari mantan rekan kerja ayah Stark berupaya membalas dendam dengan membuat duplikat arc reactor milik Stark. Vanko berupaya membunuh Stark di hadapan ribuan massa ketika sang milyuner tengah membalap di sirkuit jalanan Monaco.


Iron Man merupakan salah satu film superhero terbaik, baik dari segi cerita maupun estetik. Kisahnya dituturkan secara unik dengan tingkat kedalaman cerita yang jarang disajikan dalam film-film superhero lainnya. Pencapaian estetiknya juga tidak kalah menawannya. Adegan-adegan aksi yang kaya efek visual mampu disajikan begitu meyakinkan dan amat menghibur penonton. Robert Downey Jr. sendiri bermain sempurna sebagai sosok Tony Stark dan seolah terlahir untuk peran ini. Lalu bagaimana film sekuelnya?

Dari sisi cerita, Iron Man 2 bisa dibilang sangat menyedihkan dan membosankan. Konflik baik internal maupun eksternal tampak sekali terlalu mengada-ada. Aneh sekali setelah mengalami penderitaan yang demikian hebat serta bangkit di film pertamanya, Tony Stark seperti kehilangan ruhnya. Tidak bisa dibayangkan Stark sampai bisa mabuk dengan kostum Iron Man. Apa-apaan ini? Stark takut mati? Stark sudah mengalami proses �kematian�, bagaimana mungkin ia menghadapi konflik batin serupa yang semestinya sudah bukan menjadi masalah baginya. Terlalu banyak konflik yang sama kekuatannya juga membuat plot filmnya tidak bisa fokus pada satu masalah saja. Konflik batin Stark sendiri, Pepper, Rhodes, Hammer, Vanko, pemerintah AS, hingga SHIELDS. Terlampau banyak masalah sederhana yang sengaja dibuat rumit membuat kisahnya terlalu lelah untuk diikuti sehingga tidak heran bakal membuat penonton mengantuk.

Dari sisi estetik, naskah yang buruk menjadikan performa prima Robert Downey Jr. menjadi sia-sia. Paltrow, Cheadle, serta Rourke juga bernasib sama. Sungguh menyebalkan, karakter antagonis, Ivan Vanko digambarkan cenderung terlalu santai dan kurang ambius, singkat kata �kurang jahat�. Kostumnya pun sama sekali tidak menarik dan sama sekali tidak elegan. Ok, bicara adegan aksi, sama sekali tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua adegan aksinya sama sekali tidak menghibur bahkan hingga adegan klimaksnya. Bisa jadi karena sebagian besar aksinya berlangsung pada malam hari.

Iron Man 2 jika kita bandingkan dengan seri pertamanya bagaikan bumi dan langit. Baik dari sisi plot maupun pencapaian estetik sama-sama menyedihkan. Secara umum filmnya sangat membosankan dan mudah membuat penonton lelah. Entahlah bisa jadi film ini hanya sekedar �formalitas� belaka untuk mengantarkan proyek film besar beberapa tahun mendatang yakni, The Avenger. Kita lihat saja apakah film ini bisa sukses seperti film pertamanya tapi rasanya tidak. Meminjam kata-kata Ivan Vanko pada Stark rasanya merupakan frase yang tepat untuk film ini, �u loose� u loose�. Damn right! (D)

How to Train Your Dragon, Finally, A Dreamworks Masterpiece!

5 Mei 2010,
How to Train Your Dragon adalah film animasi fantasi produksi Dreamworks Animation. Naskahnya filmnya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Cressida Cowell. Film berformat 3D ini digarap oleh Chris Sanders dan Dean DeBlois. Film berbujet $165 juta ini diisi suara oleh bintang-bintang seperti Gerard Butler, Jay Baruchel, Craig Ferguson, America Ferrera.

Pada suatu masa di kepulauan Berk terdapat sebuah desa Viking yang setiap-kali diserang oleh hewan-hewan naga. Membantai hewan-hewan tersebut adalah tujuan hidup para pejuang Viking disana. Hiccup (Baruchel) adalah seorang putera kepala suku Stoick the Vast (Butler) yang kurang bisa membanggakan ayahnya karena ia bukan sosok pejuang Viking yang tangguh. Sekalipun berhati baik dan pintar namun ia selalu menjadi bahan olok-olok warga kampung karena polah dan alat temuannya. Suatu ketika Hiccup secara tidak sengaja berhasil menangkap seekor naga, Nigth Fury, yang sangat ditakuti warga kampungnya. Hiccup tidak membunuh hewan tersebut namun ia justru menolongnya. Semakin dekat ia dengan sang naga membuatnya sadar jika hewan ini ternyata tidak seganas seperti apa yang orang-orang katakan.
..

Satu yang menjadi kelebihan filmnya adalah kisahnya yang unik dan segar. Plotnya bisa dibilang orisinil dengan kedalaman cerita yang mampu menggugah emosi kita. Uniknya tidak seperti film animasi sejenis lazimnya, film ini tidak memiliki karakter antagonis (jahat). Tidak ada sisi baik melawan sisi jahat. Kisah filmnya adalah murni konflik batin Hiccup serta bagaimana ia menghadapi tekanan lingkungannya. Hubungan Hiccup dengan Toothless terbangun dengan manis sedikit demi sedikit hingga terbentuk ikatan batin yang sangat kuat diantara mereka. Harmonis dengan ini konflik antara Hiccup dengan Astrid, lingkungan, serta ayahnya pun juga dituturkan secara perlahan dan sabar hingga secara keseluruhan membangun sebuah kisah yang begitu emosional, romantik, dan indah.

Tidak hanya kisah yang begitu kuat dan emosional namun film ini merupakan tontonan yang amat sangat menghibur. Unsur komedi disisipkan dengan efektif tanpa memaksa terutama dalam banyak adegan aksinya. Karakter dan bentuk hewan-hewan naga yang bervariasi dan lucu seringkali mengundang kelucuan karena aksi-aksi mereka. Satu sekuen menarik disajikan begitu efektif adalah ketika Hiccup bermain-main dengan Toothless dan tanpa sengaja ia menemukan kelemahan-kelemahan hewan naga. Sontak pelatih serta teman-teman Hiccup terkejut karena ia mampu menjinakkan hewan-hewan ganas ini tanpa kekerasan dengan cara-caranya yang unik. Kemampuan para naga yang lincah, cepat, mampu menyemburkan api dan terbang juga memungkinkan adegan-adegan aksi yang disajikan begitu seru dan dinamis seperti tampak pada sekuen pembuka. Adegan aksi tidak diumbar begitu saja dan bahkan tidak hingga sekuen klimaks terjadi lagi pertempuran antara manusia dan naga.

How to Train Your Dragon merupakan film animasi istimewa segala usia yang tidak hanya sangat menghibur namun juga sarat dengan pesan-pesan moral yang mendalam. Film ini mengajarkan bahwa kekerasan adalah bukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah. �Mengapa aku tidak membunuhnya (Toothless) sejak dulu?� tanya Hiccup pada dirinya sendiri ketika hewan kesayangannya itu ditangkap. �Ya, mengapa kamu tidak membunuhnya?� tanya Astrid. �Karena aku melihat ia sama takutnya dengan aku.. aku melihat diriku dalam dirinya� jawab Hiccup. Jika Anda ingin menjadi ksatria (manusia) sejati seperti Hiccup tidak hanya butuh keberanian, otak, dan kesabaran semata namun diatas segalanya harus memiliki �hati�. (A)

Cop Out, Komedi Detektif ala Kevin Smith

21 April 2010,
Cop Out merupakan film komedi detektif garapan Kevin Smith yang kita kenal dengan film-film komedi verbalnya yang �vulgar� seperti Clerks (1994), Mallrats (1995), Chasing Amy (1997), serta Dogma (1999). Film ini juga merupakan film pertama garapan Smith yang dirilis studio besar (Warner Bros.). Film ini dibintangi oleh aktor papan atas, Bruce Willis didampingi oleh Tracy Morgans dan Sean William Scott.

Jimmy (Willis) dan Paul (Morgans) adalah dua detektif New York yang telah sembilan tahun lamanya menjadi partner. Setelah mengacaukan sebuah penyelidikan kasus narkoba dengan cara mereka yang tak lazim, mereka diskors tanpa gaji oleh atasan mereka. Di lain pihak, Jimmy sangat membutuhkan uang untuk menikahkan putrinya dan ia menolak jika ayah tiri sang putri yang membiayainya. Jimmy yang putus asa akhirnya berniat menjual kartu baseball miliknya yang sangat berharga. Di luar dugaan mendadak toko tersebut dirampok dan kartu baseball Jimmy ikut dibawa. Jimmy dan Paul berusaha melacak kartu baseball miliknya yang ternyata juga membawa mereka ke kelompok jaringan narkoba yang membuat mereka diskors.
..

Bisa dipastikan sebagian besar penonton pasti kecewa karena film ini adalah komedi murni bukan aksi seperti yang diharapkan. Penggunaan bintang yang identik dengan film laga, Bruce Willis serta posternya sungguh-sungguh menyiratkan Cop Out adalah film aksi. Bagi penonton yang telah mengenal sineas Kevin Smith pasti tidak akan heran dengan film ini. Smith memang kita kenal dengan film-film komedi verbal yang sarat makian-makian kasar dengan tema obrolan yang tak karuan (kesana-kemari). Nyaris sepanjang filmnya berisi lelucon-lelucon serta polah konyol dari tokoh-tokoh utamanya. Namun leluconnya kali ini tak ada yang istimewa. Jika dibandingkan film-film garapan Smith sebelumnya tampak komedi verbalnya lebih �diperhalus�. Makian-makian kasar dalam dialog kadang kala juga �dihilangkan� oleh tokoh-tokohnya. Lelucon-lelucon yang diambil dari film-film populer juga sering ditampilkan, but then again, nothing special. Singkat kata, komedi verbal Smith kali ini terlalu memaksa.

Tracy Morgan dan Sean William Scott boleh jadi cocok dengan karakter komedi jenis ini namun tidak untuk Bruce Willis. Sosok Willis yang kita kenal bertipikal keras, dingin, serta cenderung diam rasanya kurang pantas untuk komedi verbal jenis ini. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal dan salah. Dalam film-film bernuansa komedi yang dibintanginya seperti A Whole Nine Yards serta sekuelnya, dan The Fifth Element, karakter yang diperankan Willis selalu bertipikal keras sehingga tampak pantas untuknya. Dalam Cop Out, Willis tampak sekali terlalu memaksa sekalipun ia pantas berduet dengan Morgan. Karakter Morgan dari satu sisi juga bisa dikatakan memaksa, masak sih, detektif yang sudah bekerja sembilan tahun lamanya di wilayah keras seperti New York tampak seperti amatiran, mampu melakukan kebodohan-kebodohan luar biasa yang tidak termaafkan.

Cop Out adalah film komedi yang bisa jadi menghibur penonton yang tidak akrab dengan karya-karya sang sineas. Sang sineas sendiri berkomentar, � Ini bukan film saya, saya hanya disewa untuk mengarahkan.� Mau omong apa lagi. Obrolan serta polah konyol Morgan tampaknya sudah cukup membuat penonton satu bioskop tertawa terbahak-bahak. Bagi saya leluconnya tidak ada yang baru dan terlalu memaksa. Anda mau tahu satu-satunya lelucon yang membuat saya tertawa lepas. �Yippee-kai-yay mother f****r!!� (C-)